Mag-log inRavyan tampak menikmati ekspresiku yang mulai salah tingkah.
Sedangkan aku sibuk menunduk, berpura-pura fokus pada sisa nasi di piring meski sebenarnya sudah kenyang.Ravyan tampak menurunkan kakinya, lalu dengan cekatan membereskan peralatan makan yang kotor. Bahkan turut mengambil piring yang akhirnya kosong dari tanganku."Mau ngapain?" tanyaku."Cuci piring," jawabnya santai. Ia juga membereskan semuanya ke atas nampan dan membawanya menuju dapur.Hari demi hari berlalu dan Lyra masih menjalani perawatan di rumah sakit tanpa perubahan berarti. Aku yang masih aktif di militer tidak bisa menjaga dan memantaunya, sehingga hanya mengandalkan penjagaan dari suster jaga di sana. Serta Bu Neva yang masih terus mendampingi.Sudah satu Minggu Lyra dirawat. Dan selama itu juga, keadaannya masih sama. Lyra tidak mau bicara. Lyra takut dengan sentuhan sekecil apapun. Ia juga masih sering menangis.Rasanya aku benar-benar putus asa karena Lyra masih saja seperti itu.Bu Neva akan datang setiap sore seperti permintaanku sehingga aku bisa ikut tahu perkembangan kondisi Lyra.Seperti sore ini, aku mengintip dari celah pintu.Lyra duduk di ujung ranjang besi dengan pandangan kosong. Lingkar matanya pun tampak menghitam. Bu Neva dengan sabar selalu mengajaknya bicara dengan pelan."Kalau Mba Lyra sudah merasa percaya dengan Ibu, Mba Lyra bisa cerita apa saja, ya," ucap Bu Neva yang duduk di ujung ranjang. Berhadapan dengan Lyra."A ... Arland ..
Aku hanya bisa menyetujui saat Dokter Wirawan menyarankan hal demikian.Tak berselang lama, rekan psikiater yang dihubunginya pun datang. Seorang perempuan paruh baya yang begitu ramah pada pertemuan pertama ini.Aku diminta meninggalkan ruangan hingga hanya psikiatri dan Lyra yang mengisi ruang rawat."Tenang, Mayor. Istrimu pasti sembuh," ucap Dokter Wirawan saat aku baru saja menyandarkan punggung pada dinding di luar ruangan.Aku hanya mengangguk lemah. Dokter Wirawan lantas pergi menyusuri, langkahnya terdengar saat lorong rumah sakit. Meninggalkanku sendiri dengan rasa gelisah yang membelit.Desahan napasku yang berat terasa begitu jelas di antara udara kosong di sekitar.Aku menoleh pada daun pintu yang sudah tertutup. Berharap di dalam sana Lyra bisa tenang dan masalah ini menemukan titik terang.Aku masih menyandarkan kepala. Memejamkan mata bersama hati yang terus berharap. Hingga rasanya terlalu sulit menahan
Aku masih di tempatku. Menatap Lyra yang akhirnya tenang meski di bawah pengaruh obat. Menit demi menit berlalu dan aku masih hanya bisa menatapnya. Tanpa mampu menyentuhnya sedikit saja. Padahal aku amat sangat merindukannya. Tujuh hari jauh darinya, rinduku sesak memenuhi dada. Dan kenyataannya, rindu ini tidak dapat berlabuh seperti yang kubayangkan."Sayang ...." Aku mencoba memanggilnya. Masih berharap Lyra akan bersuara. Namun harapanku lagi-lagi harus pupus, karena Lyra hanya mengedipkan mata dan bulir bening kembali jatuh dari sudut matanya.Aku menghela napas lalu mengusap wajah kasar.Aku tidak boleh memaksanya atau Lyra akan mengamuk.Aku pun harus menahan diri dan berhenti bertanya, meski ribuan pertanyaan yang memenuhi kepalaku tak satupun mendapatkan jawaban.Lewat tengah malam, perlahan-lahan Lyra pun memejamkan kedua matanya. Deru napasnya tampak makin tenang. Lyra tertidur di bawah pengaruh obat. Dan kuharap efeknya akan lama. Karena aku sendiri tidak sanggup kalau ha
Aku pun gamang.Tapi tidak ada jalan lain. Lyra harus diperiksa dan aku harus tahu apa yang terjadi dengannya. Aku harus tahu kondisinya.Akhirnya aku setuju.Dokter menyiapkan suntikan berisi obat. Kemudian memintaku memegangi kedua kaki dan satu tangan Lyra.Tentu saja Lyra berontak dan berteriak. Tenaganya pun besar sehingga aku harus mengerahkan tenagaku juga untuk menahannya.Lyra terus berteriak. Kaki serta tangannya terus meronta. Sampai dokter berhasil menyuntik lengannya. Karena dosisnya rendah, Lyra masih terus berteriak dan histeris. Dia mengamuk di atas tempat tidur. Melempar apa yang ada di dekatnya hingga kasur itu berantakan.Lima belas menit berselang, tubuh Lyra perlahan melemah. Dia berbaring tanpa teriakan dan gerakan lagi. Tatapan matanya kembali kosong dan saat itu, dokter pun melakukan pemeriksaan dengan telaten.Dokter melepas stetoskop di daun telinganya lalu menghela napas."Mayor, istri
Hatiku berdebar hebat sekaligus nyeri. Ribuan ton batu seolah ditimpakan tanpa ampun. "Bau ini ...." Aku bergumam. Tanganku meremas selimut tersebut hingga urat-urat tampak menonjol. Sebagai lelaki, aku sangat hafal bau khas yang tertinggal di atas selimutnya. Itu ... bau sperma dari seorang lelaki. Aku lalu menatap Lyra yang terbaring lemah dan masih terpejam. "Apa yang sudah terjadi?" tanyaku dengan gemeletuk gigi yang terdengar. Setelah mencium aroma sperma yang tertinggal, pikiranku kacau. Hatiku marah. Darahku tersirap naik sampai ubun-ubun. Aku tidak bisa berpikir positif. "Siapa yang berani Lyra bawa ke kamar ini?" gumamku dengan rasa sakit yang makin mengoyak hati. Tapi satu sisi hatiku pun bertanya, kalau memang Lyra mengkhianatiku, kenapa kondisinya justru seperti ini? "Enggak mungkin...?" Air mataku tumpah ruah. Ah, terlalu
Aku berjalan lunglai menuju kamar mandi. Mendorong daun pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Begitu masuk, aku langsung mendengar suara gemericik air.Dan Lyra ada di sana.Di bawah kran shower yang mengalir deras.Lyra menangis.Pelan, lalu histeris.Tangannya tak diam saja. Setelah meremas rambut, kemudian ia memukul-mukul pahanya lalu mencakarnya juga."Lyra ...." Suaraku lirih memanggilnya. Namun ia seperti tidak mendengarku.Ia terus saja menangis.Tergugu sambil memeluk lututnya. Berselang detik, ia kemudian berteriak. Dan hal itu terus berulang.Aku ingin mendekat, tapi tadi saja Lyra tak bisa didekati.Akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Kemudian menghubungi Mami meski jam di layar ponsel menunjukkan sudah setengah sebelas malam.Panggilan terhubung cukup lama sampai Mami menerimanya."Halo ...?" Suara Mami terdengar parau di ujung telpon."Mi, maaf saya me
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







