MasukKeesokan pagi, Ravyan langsung membuktikan ucapannya.
Ia membawaku pergi untuk membeli laptop baru. Meski laptop lamaku masih bagus dan awet, tapi memang sudah terlalu banyak file yang pasti akan bercampur jika dipakai untuk jasa konsultasi nantinya. Sehingga Ravyan yang dengan kesadaran penuh mengajakku untuk membeli laptop baru.Tidak hanya laptop, Ravyan juga memintaku membeli keperluan lagi yang dibutuhkan nantinya. Jujur saja aku belum bisa meraba apa-apa saja yang perKeesokan pagi, Ravyan langsung membuktikan ucapannya. Ia membawaku pergi untuk membeli laptop baru. Meski laptop lamaku masih bagus dan awet, tapi memang sudah terlalu banyak file yang pasti akan bercampur jika dipakai untuk jasa konsultasi nantinya. Sehingga Ravyan yang dengan kesadaran penuh mengajakku untuk membeli laptop baru.Tidak hanya laptop, Ravyan juga memintaku membeli keperluan lagi yang dibutuhkan nantinya. Jujur saja aku belum bisa meraba apa-apa saja yang perlu dibeli. Jasa konsultasi itu masih sebatas rencana dalam otakku, tidak pernah terbayangkan akan terealisasi secepat ini."Ini terlalu cepat, Pak Mayor!" Aku protes setelah kembali ke dalam mobil.Satu unit laptop keluaran terbaru dengan spek paling tinggi sudah deal dibeli dan berada di pangkuan Ravyan sekarang. Mesin mobil sudah dinyalakan, bahkan sudah mulai bergerak meninggalkan parkiran basement gedung pusat penjualan elektronik."Saya justru gak mau kamu merasa
"Mulai kebayang 'kan?" Suara Ravyan terdengar dari belakang.Aku segera menggeleng. "Belum.""Bohong. Saya bisa lihat senyum kamu." Ia mencolek ujung hidungku membuatku mendengkus.Pengelola ruko kemudian menjelaskan harga sewa untuk satu tahun, termasuk beberapa ketentuan mengenai renovasi dan fasilitas yang diperbolehkan.Aku seketika terdiam dan tercengang.Jumlahnya tidak sedikit.Keraguan dan ketakutan langsung menyergapku lagi. Pekerjaan ini bahkan belum terbentuk, tapi Ravyan sudah harus menggelontorkan dana puluhan juta untuk memfasilitasi."Pak Mayor!" Aku menarik lengan Ravyan begitu pengelola itu memberi kami waktu untuk berdiskusi. "Kita gak perlu yang seperti ini."Ravyan menoleh. "Kenapa?""Karena mahal.""Masih masuk akal.""Buat kamu mungkin masuk akal. Tapi buat aku, ini investasi besar sementara jasanya bahkan belum punya satu klien pun."Ravyan tidak langsun
Hari pertama memulai kembali lembaran hidup di rumah yang sama dan masih dengan orang yang sama. Bahkan dengan perasaan yang juga tetap sama.Udara pagi di halaman belakang terasa sangat asri. Aku dan Ravyan memutuskan menikmati teh hangat di sana. Menempati gazebo ditemani kicauan burung yang sesekali terbang melewati langit di atas kami."Kamu gak kerja hari ini?" tanyaku pada Ravyan di hadapan.Ia tengah bersandar pada tiang gazebo sambil membaca buku di tangannya.Helaan napas berat pun terdengar. "Saya mengajukan cuti. Lusa baru masuk lagi."Aku pun hanya mengangguk mendengar jawabannya.Tak berapa lama, Ravyan tampak menutup halaman buku yang sedang ia baca. Lalu membiarkan buku itu di atas pangkuannya.Tiba-tiba, ia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kamu sendiri gimana?"Keningku sempat mengernyit. "Gimana ... apanya?"Ravyan mengembus napas pelan. "Gimana rencana kamu ke depan setelah resign
Selesai sarapan, kami pun segera menuju parkiran hotel. Mobilku masih terparkir di tempat yang sama. Tidak bergeser satu inchi pun, karena aku memang tak menggunakannya selama menginap di hotel. Kendaraan roda empat itu pun terlihat sedikit berdebu."Kamu ke sini naik apa?" tanyaku pada Ravyan yang sudah sibuk memasukkan koper-koper milikku ke dalam bagasi."Motor saya di parkiran khusus motor," jawabnya tanpa menghentikan aktivitas. Hingga pintu bagasi mobil akhirnya ia tutup."Terus sekarang kita pulang masing-masing?" tanyaku kembali.Ravyan menggeleng cepat. "No! Mana mungkin saya membiarkan kamu nyetir sendirian.""Jadi?""Saya yang bawa mobil. Motor saya biar nanti diambil anak buah."Aku mengangguk patah-patah."Kamu tunggu di sini. Saya titip kunci ke resepsionis sebentar."Lelaki itu bergegas pergi dan aku langsung masuk ke mobil. Mengisi kursi di sebelah kemudi.Aku mengangguk patah-p
Kami sudah duduk di meja cafetaria hotel. Sarapan telah dihidangkan. Pelayan baru saja meletakkan dua piring sarapan di hadapan kami ketika ponsel Ravyan yang berada di atas meja bergetar.Aku dan Ravyan sama-sama menoleh.Nama Mami terpampang jelas di layar.Aku langsung menghela napas. "Apa kubilang. Mami pasti nelpon lagi.Ravyan mengangkat kedua alis. "Kali ini gak bisa dihindari."Aku menatapnya lalu mengangguk pelan. "Coba aja abaikan."Ravyan mendecak seraya menggeleng. "Definisi menggali lubang kubur sendiri."Ponsel itu masih terus bergetar. Akhirnya aku yang mengambil dan menerima panggilan videonya.Layar langsung berubah menjadi wajah Mami yang tampak cemas."Lyra!"Aku tersenyum kaku. "Iya, Mi.""Ini beneran kamu?""Iya, Mi. Ini Lyra. Anak Mami."Mami mengembuskan napas lega. "Ya Allah, Nak. Mami sampai gak bisa tidur beberapa malam. Kamu pergi tanpa kaba
Aku dan Ravyan seketika beradu tatap. Aku dapat melihat jelas raut wajahnya yang panik dan merasa terdesak. Dengan kesadaran penuh aku merebut ponsel dari tangan Ravyan."Ini Lyra, Mi," ucapku kemudian."Lyra? Nak? Ini benar kamu, Sayang?" Suara Mami terdengar antusias bercampur kaget."Benar, Mi. Aku ... aku sudah bertemu dengan Ravyan sekarang."Hembusan napas lega Mami pun terdengar. "Ya Allah, Nak. Akhirnya ... Mami cemas sekali. Kamu ke mana saja, Sayang? Kenapa kamu pergi dari rumah?""Emm ... maaf, Mi. Aku gak bermaksud buat Mami cemas. Aku ... cuma gak tahu lagi harus apa. Sekarang, Mami jangan cemas lagi. Aku sudah bersama Ravyan." Aku coba menenangkan Mami."Setelah mendengar suara kamu, mami bisa sedikit tenang sekarang. Tapi, belum benar-benar lega. Coba kita video call, Nak."Aku langsung menoleh pada Ravyan hingga kami bertatapan lagi. Kemudian aku menunduk, menatap keadaan diriku yang hanya terbalut selimu
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







