Share

Dua Insan

Author: Sity Mariah
last update publish date: 2026-09-10 19:08:03

Kami akhirnya kembali ke hotel setelah makan malam.

Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung mengembuskan napas panjang.

"Capek?"

Aku mengangguk. "Lumayan."

Ravyan tersenyum. "Padahal tadi kamu yang paling banyak tertawa."

"Itu karena kamu lucu."

"Saya?"

"Iya."

"Sejak kapan saya jadi lucu?"

"Sejak kamu hampir menginjak kaki aku waktu dansa."

Ravyan menggeleng sambil terkekeh.

Kami kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman.

Tidak ada lagi pakaian formal.

Tidak ada lagi s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yeaayyy semoga dedek bayi segera hadir di rahim Lyra yaaa
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bahagia selalu ya lyra dan Ravyan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Mayor Mesum!

    Aku langsung menutup majalah di tangan. "Tugas di luar pulau? Satu Minggu?" tanyaku kaget.Ravyan mengangguk. "Kamu mau ikut?"Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Bisa saja aku ikut, tapi bagaimana dengan jasa konsultasi yang sedang kubangun dan mulai mendapat tempat di hati klien ini?Tapi kalau aku tidak ikut, artinya kami harus menjalani LDR kembali.Aku menatap Ravyan cukup lama.Lelaki itu tidak mendesakku untuk menjawab. Dia hanya bersandar di sofa sambil menungguku berpikir."Kalau aku ikut, artinya aku harus meninggalkan studio selama seminggu."Ravyan tak menyela. Masih hanya menatapku."Klienku sedang banyak. Tapu kalau aku nggak ikut ...." Aku menghela napas. "Kita bakal LDR lagi."Ravyan tersenyum tipis. "Memangnya kamu takut?"Aku langsung menggeleng. "Bukan takut.""Lalu?""Aku nggak suka."Ravyan tertawa kecil.Aku memelototinya. "Apan

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Tugas Dinas

    Satu Minggu di Pulau Dewata dengan agenda bulan madu terasa begitu cepat. Satu Minggu yang penuh kenangan serta kebersamaan romantis dengan Ravyan nyatanya telah selesai.Satu Minggu yang tanpa satu malam berlalu dengan sia-sia. Satu Minggu yang setiap malamnya selalu memiliki cerita.Agenda itu kini selesai.Aku dan Ravyan sudah kembali pada rutinitas masing-masing. Ravyan sibuk di markas bersama para anak buahnya, dan aku kembali sibuk dengan jasa konsultasi yang makin ramai.Hampir beberapa hari setelah cutinya selesai dan kembali bekerja, Ravyan selalu pulang malam. Kami hanya bertemu dan berbincang sebentar di meja makan lalu setelah itu tidur. Kemudian pagi hari, kami kembali menjalani rutinitas masing-masing.Meski begitu, semuanya tetap kujalani.Aku sadar dengan kewajiban pada pekerjaan yang harus kami tunaikan.Seperti biasa, aku meninggalkan studio setiap pukul empat sore.Aku pulang ke rumah, members

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Kenangan yang Ingin Kusimpan

    Motor terus melaju meninggalkan kawasan yang semakin ramai.Jalan yang kami lewati perlahan berubah menjadi lebih sepi.Pepohonan tumbuh semakin rapat di kanan dan kiri jalan.Udara pun terasa berbeda. Lebih dingin dan segar.Aku yang sejak tadi memeluk pinggang Ravyan akhirnya mengangkat kepala."Pak Mayor.""Hm?""Kita sebenarnya mau ke mana?""Sebentar lagi sampai."Aku terkekeh. "Jawabanmu dari tadi itu terus.""Karena memang sebentar lagi."Aku memilih diam.Beberapa menit kemudian, Ravyan akhirnya memperlambat laju motor.Di depan kami terbentang kawasan hutan pinus.Pohon-pohon tinggi menjulang dengan batang lurus dan kokoh.Cahaya matahari menembus sela-sela dahan, menciptakan garis-garis cahaya di antara pepohonan.Aku langsung terpukau. "Wah ...."Ravyan menoleh sebentar. "Suka?"Aku mengangguk cepat. "Suka banget."Dia tersenyum lalu membawa motor menuju area yang lebih lapang.Setelah memarkir motor, kami turun.Aku melepas helm dan menghirup udara dalam-dalam.Aroma khas

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Masih Rahasia

    Setelah sarapan selesai, aku kembali dibuat penasaran oleh Ravyan.Namun lelaki itu tetap tidak mau memberitahuku ke mana kami akan pergi.Bahkan ketika kami kembali ke kamar untuk mengambil barang, dia masih bungkam."Pak Mayor.""Hm?""Serius gak mau kasih tahu?""Enggak.""Sedikit aja.""Enggak.""Ayo, dong."Ravyan malah tertawa.Sedangkan aku mendengkus kesal. "Suami macam apa ini? Istrinya dibuat penasaran.""Memangnya kenapa kalau penasaran?""Enggak enak. Dan kamu berdosa tahu!"Ravyan malah terkekeh.Aku hanya bisa menggeleng.Beberapa menit kemudian, kami turun kembali ke lobi.Aku sempat mengira Ravyan akan mengajakku naik mobil hotel.Ternyata tidak.Begitu keluar dari pintu utama, aku melihat sebuah motor sudah terparkir di area depan hotel.Aku langsung menatap Ravyan. "Jangan bilang ...."Ravyan tersenyum. "Betul.""Kita naik motor?""Iya."Aku langsung tertawa. "Ini kejutannya?""Bagian dari kejutan."Aku memperhatikan motor itu. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat ny

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Suami Misterius

    Jam digital hotel di meja nakas menunjuk pada angka tujuh pagi hari dan aku sudah duduk di meja rias, sibuk mengoles foundation di sekitar leher.Bagaimana tidak?Leherku penuh bercak kemerahan karena perbuatan Ravyan semalam.Sedangkan lelaki itu, justru terlihat sedang duduk santai di ujung tempat tidur sambil menikmati kopinya.Udara di dalam kamar terasa sejuk karena pendingin ruangan masih menyala.Sinar matahari sudah menyusup melalui celah tirai jendela yang terbuka sempurna.Kasur empuk, bantal yang lembut, aroma khas kamar hotel yang bersih, serta suara deburan ombak yang samar-samar terdengar dari kejauhan membuat suasana pagi ini terasa begitu nyaman.Namun, tetap saja secuil rasa kesal menggelayut di dadaku.Bruk.Aku menaruh kasar botol foundation di atas meja rias."Foundation-ku bisa cepet abis kalau begini!" Aku menggerutu sambil menyisir rambut lalu menguncirnya.Dari pantulan cermin rias, aku bisa melihat Ravyan yang juga tengah menatap ke arah cermin."Ini namanya b

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Dua Insan

    Kami akhirnya kembali ke hotel setelah makan malam.Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung mengembuskan napas panjang."Capek?"Aku mengangguk. "Lumayan."Ravyan tersenyum. "Padahal tadi kamu yang paling banyak tertawa.""Itu karena kamu lucu.""Saya?""Iya.""Sejak kapan saya jadi lucu?""Sejak kamu hampir menginjak kaki aku waktu dansa."Ravyan menggeleng sambil terkekeh.Kami kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman.Tidak ada lagi pakaian formal.Tidak ada lagi suasana restoran mewah.Aku mengenakan pakaian tidur sederhana, sementara Ravyan juga sudah berganti dengan kaus dan celana santai.Setelah itu, kami keluar menuju balkon.Udara malam pulau Dewata terasa sejuk.Aku berjalan ke pagar balkon lalu menyandarkan kedua tangan di sana.Di hadapan kami, lautan terbentang gelap.Hanya suara ombak yang terdengar sesekali.Langit malam begitu luas.Bintang-bintang bertaburan di antara awan tipis.Aku mendongak. "Indah banget."Ravyan berdiri di sampingku. "

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   5. Surprise!

    “Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   4. Pantang Melanggar Janji

    Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   3. Misi Rahasia

    Aku masih menatap laki-laki di atas ranjang itu dengan perasaan campur aduk. Namun lelaki yang mengaku sebagai seorang mayor itu justru terlihat tenang meski perban melingkar di kepalanya dan pelipisnya masih kemerahan akibat benturan tadi. Sedangkan aku? Belum selesai mencerna pengkhianatan Mas

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   2. Tawaran

    Aku terpaku cukup lama di dalam mobil. Sampai beberapa menit terlewati dan korban yang kutabrak tak menunjukkan gerakan. “Ya Tuhan ... satu masalahku belum selesai, kenapa harus ditambah masalah baru?” gumamku panik. Akhirnya aku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang masih terkapar di ata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status