Share

Ilusi dan Luka

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2025-10-09 08:57:52

Apa kamu masih perawan?" Suara itu berat, menusuk indra pendengaran Nana yang tengah terbuai dalam ciuman.

Nana mendecih, senyum sinis terukir di bibirnya. "Kau yang belum mengenal sentuhan wanita, kurasa," desisnya, matanya menantang pria asing di hadapannya.

Pria itu menyipitkan mata, jemarinya yang kasar mengusap lembut lekuk wajah Nana. "Meragukan kemampuanku, Nona?" bisiknya, nada suaranya rendah dan mengancam.

"Ciumanmu saja kaku, tak membangkitkan bara asmara," ejek Nana, menusuk tepat di egonya.

"Kau yakin berani berkata demikian?" tantang pria itu, matanya berkilat penuh nafsu.

"Terlalu banyak bicara!" balas Nana, hatinya berdebar menantang bahaya.

Pria itu menyeringai, seringai predator yang siap menerkam mangsanya. "Kau akan memohon ampun, Nona. Ingatlah itu," ancamnya, suaranya berbisik di telinga Nana.

"Cih... buktikan saja!" Nana menarik leher pria itu, bibirnya menyambar bibir sang pria dalam ciuman yang membara. Ciuman yang awalnya lembut, kini berubah me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Beruang Lucu

    “Beruang lucu?” Aku mengulanginya pelan. Ya, aku baru saja memimpikannya. Tapi kenapa tiba-tiba Kak Hansen membahasnya? Terlalu kebetulan. Ingatan itu kembali begitu saja, menyerbu tanpa izin. Beruang lucu adalah sahabat dekat Kak Hansen. Tubuhnya besar dan bulat, pipinya chubby, wajahnya selalu tampak polos patut dikasihani dan anehnya, justru menggemaskan. Dan yang paling kuingat, dia sangat baik padaku. Terlalu baik, malah. Sayangnya, dia penakut. Sering ditindas, tapi hanya diam. Aku masih ingat jelas hari itu Kak Hansen dan teman-temannya main futsal. Beruang lucu juga ikut. Aku yang menunggu di tribun melihat jelas salah satu teman sengaja menjegalnya sampai jatuh. Saat mereka menertawakannya, dia hanya menunduk, tak membalas apa pun. Kak Hansen yang pertama berdiri membelanya. Dan aku… aku ikut. Aku bahkan pernah memukuli seorang anak laki-laki hanya karena dia mengejek beruang lucu, memanggilnya babi gemuk turbo. Aku benar-benar tidak terima. Waktu itu aku masih

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Yang Berbeda

    “Kak, jangan tinggalin aku…” Aku melihat diriku sendiri kecil, berseragam SD berjalan terseok menguntit di belakang Kak Hansen. “Ayo, jalan lebih cepat,” ucap Kak Hansen tanpa menoleh, sama sekali tak peduli. Menyebalkan. Selalu begitu. Tiba-tiba seorang pria bertubuh gendut berjongkok tepat di depanku. Wajahnya bulat, senyumnya lebar. Pipinya seperti Bapau isi daging yang penuh. “Ayo naik. Biar aku yang gendong.” Tanpa ragu aku memanjat punggungnya, melingkarkan tangan di lehernya. “Kok bukan kamu saja yang jadi kakakku?” tanyaku polos. Pria itu tertawa kecil. “Anggap saja aku juga kakakmu.” Aku menggeleng kuat. “Nggak. Aku mau kamu jadi suamiku saja.” Dia kembali tertawa. “Dasar bocah. Emangnya kamu tahu apa itu suami?” “Aku tahu,” jawabku yakin. “Orang yang nemenin sampai mati. Melindungi dan menjaga. Aku mau kamu yang lakuin itu buat aku.” Langkah pria itu terhenti sesaat. Lalu suaranya terdengar lebih pelan, lebih dalam. “Baik. Kalau begitu aku akan memant

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Melewati Masa Kritis

    Suara itu, suaraku membuat Andreas menoleh. Wajahnya langsung memucat. “Nadira?” katanya kaget. “Kenapa kamu di sini?” Aku mendekat dengan langkah gemetar. “Apa yang aku dengar barusan… Kak Hansen?” Andreas diam. Aku mencengkeram kerah kemejanya. “Katakan apa yang terjadi!” Dia tetap diam. Tanganku gemetar, lalu... Plak! Tamparan itu mendarat di pipinya. Dia tidak melawan. “Katakan, bajingan!” teriakku. Plak! Tamparan kedua. “Nadira, tenang,” katanya akhirnya, mencoba meraih tanganku. “Kamu lagi hamil...” “Tenang?” aku menjerit. “Kamu bilang Kak Hansen ke luar negeri! Sekarang dia kritis di rumah sakit?! Apa sebenarnya ini?!” Aku menepis tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung. Perawat itu mendekat dengan wajah cemas. “Mohon maaf, jangan membuat keributan. Pasien butuh istirahat.” Aku terisak. Andreas akhirnya memelukku erat. “Baik,” katanya pelan di dekat telingaku. “Aku akan ceritakan semuanya. Tapi kamu harus tenang.” Ia membawaku duduk. Dan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Terungkap

    Wajah Andreas seketika berubah pucat. Tidak ada lagi ketenangan, tidak ada lagi sikap dingin. Panik murni. “Aku panggil ambulans. Jangan bergerak,” ucapnya cepat sambil meraih ponsel. “Apa aku… pendarahan?” bisikku dengan suara nyaris tak terdengar. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku, lebih menyakitkan dari kram itu sendiri. Andreas kembali ke sisiku, menggenggam tanganku erat. “Tatap aku. Kamu nggak kenapa-kenapa. Dengar? Aku di sini.” Namun di balik genggaman tangannya yang kuat, aku bisa merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan... ketakutan yang luar biasa. Di dalam ambulans aku terus merintih kesakitan. Rasa nyerinya luar biasa, membuat tubuhku gemetar tak terkendali. Napasku tersengal, keringat dingin membasahi pelipisku. “Bertahanlah,” suara Andreas terdengar cemas, hampir bergetar. “Sakit… sakit banget…” Tanpa sadar kuku-kukuku menancap di punggung tangannya. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, justru menggenggamku lebih erat. Pikiranku melayang pada

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   A-aku Berdarah!

    Saat kami melangkah keluar dari restoran, semua terjadi begitu cepat. Entah dari mana, Maudy tiba-tiba muncul dan langsung mendorongku. “Aa...!” Aku memekik kaget. Tubuhku hampir terjungkal kalau saja Andreas tidak sigap menangkapku dan menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya refleks melindungi perutku. Napasku tersengal. Bayi ini… pikiranku langsung kacau. “Hey, Maudy! Kamu gila, ya?!” bentakku marah. Maudy menatapku dengan mata merah dan napas berbau alkohol. “Kamu yang gila! Kakak macam apa ninggalin aku begitu aja?!” “Dasar nggak tahu malu,” balasku tajam. Dia tertawa sinis. “Kebanyakan omong. Aku butuh uang.” Aku langsung menggeleng. “Mimpi.” Namun Andreas justru melangkah maju. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan kartu hitam dan menyodorkannya ke arah Maudy. “Di dalamnya ada sepuluh juta. Ambil. Dan jangan ganggu Nadira lagi.” Aku menoleh cepat. “Andreas...” “Nggak apa-apa,” katanya singkat, tanpa menatapku. Maudy merebut kartu itu, lalu mencibir. “Cuma se

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Memilih Menu Untuk Pesta

    Aku sedang makan mi instan saat Andreas datang. Langkahnya terhenti begitu melihat mangkuk di hadapanku. Alisnya langsung berkerut. Tanpa aba-aba, dia mengambil mangkuk mi itu dari tanganku, lalu meletakkannya jauh. Sebagai gantinya, dia mendorong sepotong roti dan segelas susu ke hadapanku. “Kamu lagi hamil,” ucapnya tegas. Aku mendengus. “Aku baru makan dua suap.” “Lain kali satu suap pun nggak boleh,” balasnya dingin, tanpa nada bercanda. Aku memutar bola mata. “So perhatian banget.” Tiba-tiba Andreas menggeser kursiku hingga tubuhku menghadap langsung ke arahnya. Dia setengah berjongkok, wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tatapannya tajam, menusuk. “Aku beneran perhatian,” katanya rendah. Aku menelan ludah. Kata-kata itu membuatku kehilangan suara. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Aneh, padahal kami sudah tidur bersama, akan menikah, bahkan punya anak. Tapi setiap kali dia sedekat ini, jantungku tetap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status