Share

Dikhianati di Rumah Sendiri

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-09 08:34:20

Senja merayap masuk, mewarnai dinding rumah dengan nuansa kelabu. Nana kembali dari terapi, tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai. Setiap selnya berdenyut nyeri, bukan hanya karena latihan fisik yang berat, tetapi juga karena beban emosi yang tak tertahankan. Rumah menyambutnya dengan keheningan yang menyesakkan, seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam.

Ia mengarahkan kursi rodanya menuju kamar, satu-satunya tempat yang dulu ia anggap sebagai pelabuhan aman. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu. Ada suara-suara yang membuatnya membeku, suara yang menusuk jantungnya seperti ribuan jarum.

"Aku suka sensasi ini, Dikta. Rasanya seperti bermain api," bisik sebuah suara, yang sangat dikenalnya. Suara Maudy, adik yang kini menjelma menjadi pengkhianat.

Napas Nana tercekat. Ia mematung, mencoba mencerna kenyataan pahit yang mulai terkuak. Firasat buruk mencengkeramnya, membuatnya sulit bernapas.

"Apa kamu nggak takut ketahuan kak Nana? Dia kan istrimu," tanya Maudy, nada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Melewati Masa Kritis

    Suara itu, suaraku membuat Andreas menoleh. Wajahnya langsung memucat. “Nadira?” katanya kaget. “Kenapa kamu di sini?” Aku mendekat dengan langkah gemetar. “Apa yang aku dengar barusan… Kak Hansen?” Andreas diam. Aku mencengkeram kerah kemejanya. “Katakan apa yang terjadi!” Dia tetap diam. Tanganku gemetar, lalu... Plak! Tamparan itu mendarat di pipinya. Dia tidak melawan. “Katakan, bajingan!” teriakku. Plak! Tamparan kedua. “Nadira, tenang,” katanya akhirnya, mencoba meraih tanganku. “Kamu lagi hamil...” “Tenang?” aku menjerit. “Kamu bilang Kak Hansen ke luar negeri! Sekarang dia kritis di rumah sakit?! Apa sebenarnya ini?!” Aku menepis tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung. Perawat itu mendekat dengan wajah cemas. “Mohon maaf, jangan membuat keributan. Pasien butuh istirahat.” Aku terisak. Andreas akhirnya memelukku erat. “Baik,” katanya pelan di dekat telingaku. “Aku akan ceritakan semuanya. Tapi kamu harus tenang.” Ia membawaku duduk. Dan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Terungkap

    Wajah Andreas seketika berubah pucat. Tidak ada lagi ketenangan, tidak ada lagi sikap dingin. Panik murni. “Aku panggil ambulans. Jangan bergerak,” ucapnya cepat sambil meraih ponsel. “Apa aku… pendarahan?” bisikku dengan suara nyaris tak terdengar. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku, lebih menyakitkan dari kram itu sendiri. Andreas kembali ke sisiku, menggenggam tanganku erat. “Tatap aku. Kamu nggak kenapa-kenapa. Dengar? Aku di sini.” Namun di balik genggaman tangannya yang kuat, aku bisa merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan... ketakutan yang luar biasa. Di dalam ambulans aku terus merintih kesakitan. Rasa nyerinya luar biasa, membuat tubuhku gemetar tak terkendali. Napasku tersengal, keringat dingin membasahi pelipisku. “Bertahanlah,” suara Andreas terdengar cemas, hampir bergetar. “Sakit… sakit banget…” Tanpa sadar kuku-kukuku menancap di punggung tangannya. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, justru menggenggamku lebih erat. Pikiranku melayang pada

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   A-aku Berdarah!

    Saat kami melangkah keluar dari restoran, semua terjadi begitu cepat. Entah dari mana, Maudy tiba-tiba muncul dan langsung mendorongku. “Aa...!” Aku memekik kaget. Tubuhku hampir terjungkal kalau saja Andreas tidak sigap menangkapku dan menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya refleks melindungi perutku. Napasku tersengal. Bayi ini… pikiranku langsung kacau. “Hey, Maudy! Kamu gila, ya?!” bentakku marah. Maudy menatapku dengan mata merah dan napas berbau alkohol. “Kamu yang gila! Kakak macam apa ninggalin aku begitu aja?!” “Dasar nggak tahu malu,” balasku tajam. Dia tertawa sinis. “Kebanyakan omong. Aku butuh uang.” Aku langsung menggeleng. “Mimpi.” Namun Andreas justru melangkah maju. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan kartu hitam dan menyodorkannya ke arah Maudy. “Di dalamnya ada sepuluh juta. Ambil. Dan jangan ganggu Nadira lagi.” Aku menoleh cepat. “Andreas...” “Nggak apa-apa,” katanya singkat, tanpa menatapku. Maudy merebut kartu itu, lalu mencibir. “Cuma se

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Memilih Menu Untuk Pesta

    Aku sedang makan mi instan saat Andreas datang. Langkahnya terhenti begitu melihat mangkuk di hadapanku. Alisnya langsung berkerut. Tanpa aba-aba, dia mengambil mangkuk mi itu dari tanganku, lalu meletakkannya jauh. Sebagai gantinya, dia mendorong sepotong roti dan segelas susu ke hadapanku. “Kamu lagi hamil,” ucapnya tegas. Aku mendengus. “Aku baru makan dua suap.” “Lain kali satu suap pun nggak boleh,” balasnya dingin, tanpa nada bercanda. Aku memutar bola mata. “So perhatian banget.” Tiba-tiba Andreas menggeser kursiku hingga tubuhku menghadap langsung ke arahnya. Dia setengah berjongkok, wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tatapannya tajam, menusuk. “Aku beneran perhatian,” katanya rendah. Aku menelan ludah. Kata-kata itu membuatku kehilangan suara. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Aneh, padahal kami sudah tidur bersama, akan menikah, bahkan punya anak. Tapi setiap kali dia sedekat ini, jantungku tetap

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Buruk Lagi

    Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status