Share

Kabur Dari Hansen

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2026-01-18 13:55:42

Aku dan Andreas duduk berhadapan di ruang tengah apartemen. Suasananya serius, jauh dari canda atau godaan seperti biasanya. Andreas menyandarkan punggungnya ke sofa, kedua lengannya terlipat di dada.

“Kita harus segera pindah,” katanya akhirnya, lugas tanpa basa-basi.

Aku mengernyit. “Pindah? Sekarang?”

“Iya,” jawabnya tegas. “Aku suamimu. Kita butuh waktu berdua.”

Aku menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Aku ngerti. Tapi kak Hansen masih sakit. Dia belum stabil. Aku gak tega ninggalin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Pembalasan

    Lorong rumah sakit masih dipenuhi sisa tangis ketika Dirga datang dengan wajah tegang. Di tangannya ada tablet. “Tuan,” suaranya berat. “Rekaman sudah kami pulihkan.” Andreas menoleh perlahan. Dirga menyerahkan tablet itu. Video diputar. Tampilan pantry. Aku membantu Cleo berdiri. Lalu terlihat jelas galon yang licin itu. Terlihat aku terjatuh. Terlihat darah mulai mengalir. Dan... Cleo tidak menolongku. Ia menjambak rambutku. Menendangku. Bibirnya bergerak marah saat aku sudah hampir tak bergerak. Wajah Nadine memucat. “Eliza… matikan itu…” bisiknya gemetar. Tapi Andreas tak mengalihkan pandangan. Tatapannya berubah kosong. Lalu gelap. Dirga menjelaskan pelan, “Sebelumnya file ini sudah dihapus. Ia tahu titik kamera mati. Gerakannya rapi. Tapi cadangan server luar tidak ia ketahui.” Eliza menangis pelan. “Dia… dia sengaja…” Nadine menutup mata. “Ya Tuhan…” Andreas akhirnya berbicara. “Di mana wanita itu sekarang?” Suaranya rendah. Terlalu tenang. Dirga menatapny

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Kehilangan Masa Depan

    Dokter melepas masker, wajahnya serius. “Kami berhasil menyelamatkan istri Anda.” Andreas mengembuskan napas seperti baru kembali hidup. “Bagaimana dengan bayi kami?” Hening sepersekian detik. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi karena perdarahan hebat dan trauma benturan… kehamilannya tidak dapat dipertahankan.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Liza menangis keras. Nadine memejamkan mata, menahan air mata. Andreas tidak langsung bereaksi. Wajahnya kosong. Seolah otaknya menolak memproses. “Tidak…” bisiknya pelan. “Dia mengalami perdarahan hebat. Jika terlambat sedikit saja, kami mungkin tidak bisa menyelamatkannya,” lanjut dokter. “Punggung kaki kanannya juga mengalami fraktur serius. Kami sudah menstabilkan sementara. Ia akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi.” Andreas mengangguk pelan. Matanya memerah. “Aku gagal…” bisiknya serak. “Aku tidak bisa melindungi kalian…” Namun perlahan, ekspresinya berubah. Kesedihan itu membeku. Menjadi ses

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Ruang Tindakan

    Andreas baru saja menutup panggilan dari kliennya. Kalimat terakhir masih menggantung di udara ketika perasaan aneh itu kembali datang tidak nyaman. Gelisah. Seperti ada sesuatu yang salah. Ia berdiri tiba-tiba. Langkahnya cepat menuju ruang kerjaku. Lampu mejaku masih menyala. Tapi kursinya kosong. Alisnya berkerut. “Nadira?” Tak ada jawaban. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia melangkah menuju pantry. Dari kejauhan tak terlihat apa-apa. “Di mana dia…” gumamnya, suaranya mulai serak. Lalu, Langkahnya terhenti. Di lantai, ada garis merah. Tipis. Terseret. Darah. Napas Andreas langsung tercekat. Jantungnya seperti dihantam palu. Pandangan matanya mengikuti jejak itu, Dan dunia seolah berhenti berputar. Aku tergeletak di lantai.Bersimbah darah. Tubuhku tak bergerak. Wajahku pucat. “NADIRA!” Suara Andreas pecah. Benar-benar pecah. Ia berlari, berlutut di sampingku. Tangannya gemetar saat mengangkat tubuhku ke pangkuannya. “Sayang… buka matamu… lihat aku…” Tidak ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Sakit

    Cleo mengpalkan tangannya begitu aku keluar dari ruangan Andreas. “Dasar murahan,” desisnya pelan, nyaris tak terdengar. “Lihat saja sampai mana kamu bisa menggoda lelakiku.” Tumitnya menghentak lantai marmer sebelum ia melangkah pergi dengan wajah yang dipenuhi amarah dan iri. Aku tak menyadari tatapan itu. Aku kembali duduk di mejaku. Tubuhku memang lelah. Perutku terasa berat. Aku menarik napas panjang, mencoba fokus pada layar komputer. Mita menarik kursinya mendekat. Ia melirikku sekilas lalu matanya membulat. “Astaga… apa itu?” bisiknya sambil menunjuk leherku. Aku spontan menutupinya dengan rambut. “Diamlah.” Mita menahan tawa. “Ternyata CEO ganas juga.” Aku memutar bola mata. “Bukannya pria dingin memang seperti itu?” “Ya ampun, aku sering nonton drama. Cowok dingin kalau sudah nemu pawang ya begitu,” godanya. Kami tertawa kecil, mencoba mengusir tegang yang tak jelas sebabnya. Jam pulang tiba. Satu per satu karyawan meninggalkan lantai itu. Lampu-lampu mulai dire

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Ciuman Dikantor

    Aku kembali ke perusahaan dengan tubuh yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Entah karena emosi yang terkuras atau karena kehidupan kecil yang kini tumbuh di rahimku. Aku duduk di kursi kerjaku, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang belum sepenuhnya stabil. Mita mendekat, pura-pura merapikan berkas di mejaku lalu berbisik pelan di telingaku. “Na… kantor akan mendatangkan ahli. Semua CCTV akan dipulihkan. Katanya datanya masih bisa diselamatkan.” Aku menoleh sedikit, menatapnya. “Itu sangat bagus.” Senyumku tipis. Akhirnya. Sebenarnya aku sudah mencurigai seseorang. Gerak-gerik, tatapan, kepanikan kecil yang terlalu jelas. Tapi aku bukan hakim. Tanpa bukti, tuduhan hanyalah fitnah. Tanpa sadar, mataku melirik ke arah Cleo. Dia tampak gelisah. Tangannya menggenggam ponsel terlalu erat. Tatapannya sesekali menyapu ruangan, berhenti sepersekian detik ke arahku. Lalu cepat-cepat berpaling. Semakin membuatku yakin. Tak lama kemudian, Dirga datang d

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mengusik Orang Yang Salah

    Kami bahkan belum benar-benar masuk ke inti pembahasan ketika kursi di sebelahku bergeser kasar. Seseorang duduk terlalu dekat. Terlalu mempet. Bahkan kepalanya sengaja dicondongkan ke arahku. Sial. Yohanes. Aroma parfum menyengatnya langsung memenuhi ruang privat itu. Aku bisa merasakan perubahan udara di sekitarku dan yang paling terasa adalah perubahan ekspresi Andreas. Rahangan suamiku mengeras. Yohanes menyandarkan siku di sandaran sofa, seolah ia bagian dari pertemuan penting ini. “Nadira,” katanya santai namun penuh ejekan, “kamu berani ya jual mahal denganku. Kamu gak tahu siapa aku?” Aku tak menjawab. Tapi Andreas sudah berhenti bergerak sama sekali. Yohanes melirik pria di seberang kami Sean, pemilik perusahaan tekstil itu lalu tertawa kecil. “Eh, Tuan Muda Sean?” katanya sok akrab. Sean hanya menatap datar. Ia melirikku, lalu melirik Andreas. Situasi mulai terasa tidak nyaman. “Wanita ini teman kuliahku dulu,” lanjut Yohanes. “Dia...” Belum selesai.T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status