Share

Tiga Bulan yang Menggantung

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 14:35:54

Di lantai atas gedung pencakar langit Alvaro Corporation, suasana kontras.

Ruang kerja itu luas dan dingin—dinding kaca tinggi, interior serba hitam abu, dan aroma kopi pahit yang mulai mendingin di atas meja kerja.

Andreas Leonard Alvaro duduk di balik meja besar dari marmer hitam, wajahnya tanpa ekspresi. Kemeja putihnya terlipat rapi, dasinya longgar, namun aura wibawanya terlalu kuat untuk diabaikan.

Tangannya mengetuk meja berulang, iramanya pelan tapi tajam—tanda ia sedang menahan amarah.

“Sudah tiga bulan,” ucap Andreas datar, tanpa menatap siapa pun. “Dan kau masih belum bisa menemukan satu gadis?”

Dirga yang berdiri di depan meja hanya bisa nyengir kaku. “Eh, jadi gini, Bos—eh maksud gue, Andre—gue udah cari ke mana-mana, bahkan CCTV bar di seluruh pusat kota gue sikat satu-satu. Tapi hasilnya… nihil.”

Andreas mengangkat pandangan, tatapan matanya dingin seperti baja. “Nihil?”

Dirga langsung menelan ludah. “Iya. Nihil banget.”

“Luar biasa,” ujar Andreas sarkastis sambil bersandar ke kursi, menatap Dirga seolah melihat kesalahan hidupnya sendiri. “Aku menggajimu lebih mahal dari direktur marketing, tapi yang kau bawa hanya laporan kosong?”

“Kalau begitu, mungkin saya harus minta naik gaji biar semangatnya dobel, Bos,” seloroh Dirga, mencoba mencairkan suasana.

Tatapan Andreas menusuknya. Dingin. Mematikan.

Dirga langsung terbatuk, “Hehe… bercanda. Cuma bercanda, Bos.”

Andreas berdiri perlahan. Suara sepatunya berat saat melangkah mendekati jendela besar. Ia menatap ke luar, menatap gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti barisan prajurit tanpa jiwa.

“Dia bukan sembarang gadis, Dirga,” ucapnya rendah, nyaris seperti gumaman, tapi penuh tekanan. “Dia… sesuatu yang berbeda.”

Dirga menatap punggung sahabat sekaligus bosnya itu. Meski sudah lama mengenal Andreas, ia tahu, ada batas yang tak boleh dilewati ketika pria itu bicara seperti ini.

“Lo yakin gadis itu nyata, Ndre?” tanya Dirga pelan, setengah bercanda. “Jangan-jangan cuma bayangan di antara mabuk lo malam itu?”

Andreas berbalik dengan tatapan tajam. “Aku tidak pernah salah mengenali seseorang.”

Senyum Dirga langsung lenyap. “Oke, oke. Gue percaya. Tapi kalau gadis itu sampai bisa bikin lo kehilangan fokus selama tiga bulan, berarti dia bukan gadis biasa.”

Andreas kembali duduk, nada suaranya berat. “Cari dia, Dirga. Aku tak peduli berapa banyak uang yang kau bakar. Temukan dia.”

Dirga menghela napas panjang. “Baik, Bos. Tapi kalau nanti ternyata dia udah nikah, gue nggak tanggung jawab kalau lo patah hati, ya?”

Andreas melirik sekilas, bibirnya terangkat setipis silet. “Dirga…”

“Iya?”

“Kalau kau bicara lagi seperti itu, aku potong gajimu tiga bulan ke depan.”

Dirga mengangkat tangan menyerah. “Baiklah, Bos. Mulai sekarang mode serius aktif.”

Andreas hanya menatap kosong ke arah jendela lagi, pikirannya melayang ke wajah samar gadis yang terus menghantuinya malam demi malam.

Dia tahu, gadis itu bukan sekadar kenangan mabuk.

Dia adalah luka… dan obsesi.

Dan Andreas Leonard Alvaro tidak pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.

***

Hujan turun rintik-rintik, membasahi tanah merah di pemakaman keluarga Phine.

Hansen berdiri di depan dua nisan yang berjejer rapi—milik ayah dan ibunya.

Tangannya gemetar saat menyentuh batu nisan yang lembap.

Udara dingin, tapi dada Hansen terasa jauh lebih dingin dari itu.

Ia berjongkok perlahan, menatap nama kedua orangtuanya dengan mata sembab.

Sudah lama ia tidak menangis, tapi hari ini tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.

“Ma ... Pa... kalau saja kalian masih di sini,”

suaranya parau, hampir tak terdengar di antara rinai hujan.

“Mungkin semua ini nggak akan terjadi. Nana nggak akan setengah mati berjuang di rumah sakit...”

Air mata jatuh, bercampur dengan air hujan di pipinya.

Tangannya mengepal di atas tanah basah itu.

“Aku udah berusaha jadi kakak yang kuat, seperti yang Ayah mau. Tapi jujur, aku capek. Setiap hari lihat Nana terbaring tanpa sadar... rasanya aku juga ikut mati perlahan.”

Hansen menarik napas panjang, menatap langit kelabu.

“Tapi... ada harapan kecil, Ma... Pa... Jari Nana sempat bergerak kemarin. Dokter bilang itu tanda bagus. Aku yakin dia akan sadar.”

Senyumnya samar, getir, tapi hangat.

“Kalian dengar, kan? Adik kecil kita berjuang keras buat hidup.”

Hening sejenak. Hanya suara hujan yang menjawab.

Hansen berdiri perlahan, mengusap air mata dengan punggung tangannya.

Saat ia hendak pergi, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan baru masuk.

Dari Andreas Leonard Alvaro.

“Aku kembali ke Selvara. Kalau ada apa-apa, kamu tahu harus cari siapa.”

Hansen menatap pesan itu lama, lalu tersenyum kecil.

Andreas memang bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi setiap kalimatnya punya makna dalam.

Selama tiga bulan terakhir, pria itu sering datang ke rumah sakit, menemani Hansen melewati malam-malam panjang di bangku ruang tunggu.

Diam, tapi kehadirannya selalu memberi tenang.

Namun satu hal aneh—Andreas tak pernah benar-benar melihat wajah adiknya.

Ia tahu nama “Nadira Seraphine,” tapi Hansen selalu memanggilnya Nana, dan Andreas tak pernah mengira gadis itu adalah gadis yang ia cari selama ini.

Baginya, Nana adik Hansen adalah gadis lembut dan pemalu.

Sementara gadis di malam itu—

adalah badai yang berani menantang langit.

Andreas berpikir, itu tak mungkin orang yang sama.

Langit sore tampak muram, seakan ikut menahan kepergian.

Mobil hitam meluncur menuju bandara, meninggalkan kota yang penuh kenangan.

Di kursi depan, Dirga menyetir sambil melirik bosnya lewat kaca spion.

“Bos,” katanya santai, tapi ragu. “Yakin banget nih mau balik ke Selvara?”

Andreas duduk tenang di kursi belakang, menatap keluar jendela.

Matanya dingin, tapi ada sesuatu yang samar di balik tatapan itu.

“Ya,” jawabnya singkat, suaranya dalam dan mantap. “Sudah saatnya aku kembali.”

Dirga mendengus pelan. “Padahal baru tadi pagi, lo masih nyuruh gue cari tuh cewek misterius. Sekarang malah ninggalin semua?”

Andreas menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kalau memang takdir mengizinkan, aku akan bertemu lagi dengannya,” katanya pelan tapi pasti.

Dirga mendecak kecil. “Halah, ngomongnya kayak di drama Korea. Tapi serius, Bos, udah tiga bulan lo bolos dari kantor di Selvara. Kayaknya saham lo udah kangen.”

Andreas menatap Dirga dengan ekspresi datar, tapi matanya tajam seperti biasa.

“Saham tidak akan ke mana, Dir. Tapi waktu, kalau sudah lewat, tidak bisa diulang.”

Dirga mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

“Oke deh, Bos. Tapi kalau nanti gadis itu nongol tiba-tiba dan lo lagi di Selvara, jangan nyesel gue nggak kasih tahu.”

Andreas hanya menghela napas panjang. “Kalau dia benar-benar untukku, dunia sekecil apa pun akan mempertemukan kami lagi.”

Dirga tersenyum kecil, menatap ke depan.

“Lo romantis juga ya ternyata. Kirain hati lo udah beku kayak lemari es kantor.”

Andreas menatap lurus, wajahnya tetap tanpa ekspresi.

“Kadang... yang tampak beku justru menyimpan api paling panas.”

Dirga terkekeh. “Nah, itu dia! Mulai puitis! Gue catet, nanti gue jadiin status W******p.”

Andreas hanya menggeleng, tapi ada senyum tipis yang muncul di bibirnya—senyum langka yang hanya muncul di hadapan Dirga.

Mobil mereka melaju pelan ke arah bandara.

Sementara di sisi lain kota, di ruang ICU, jari Nadira Seraphine kembali bergerak pelan.

Seolah alam sedang menulis takdir baru untuk mempertemukan dua jiwa yang pernah bersinggungan di malam tanpa nama.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Pembalasan

    Lorong rumah sakit masih dipenuhi sisa tangis ketika Dirga datang dengan wajah tegang. Di tangannya ada tablet. “Tuan,” suaranya berat. “Rekaman sudah kami pulihkan.” Andreas menoleh perlahan. Dirga menyerahkan tablet itu. Video diputar. Tampilan pantry. Aku membantu Cleo berdiri. Lalu terlihat jelas galon yang licin itu. Terlihat aku terjatuh. Terlihat darah mulai mengalir. Dan... Cleo tidak menolongku. Ia menjambak rambutku. Menendangku. Bibirnya bergerak marah saat aku sudah hampir tak bergerak. Wajah Nadine memucat. “Eliza… matikan itu…” bisiknya gemetar. Tapi Andreas tak mengalihkan pandangan. Tatapannya berubah kosong. Lalu gelap. Dirga menjelaskan pelan, “Sebelumnya file ini sudah dihapus. Ia tahu titik kamera mati. Gerakannya rapi. Tapi cadangan server luar tidak ia ketahui.” Eliza menangis pelan. “Dia… dia sengaja…” Nadine menutup mata. “Ya Tuhan…” Andreas akhirnya berbicara. “Di mana wanita itu sekarang?” Suaranya rendah. Terlalu tenang. Dirga menatapny

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Kehilangan Masa Depan

    Dokter melepas masker, wajahnya serius. “Kami berhasil menyelamatkan istri Anda.” Andreas mengembuskan napas seperti baru kembali hidup. “Bagaimana dengan bayi kami?” Hening sepersekian detik. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi karena perdarahan hebat dan trauma benturan… kehamilannya tidak dapat dipertahankan.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Liza menangis keras. Nadine memejamkan mata, menahan air mata. Andreas tidak langsung bereaksi. Wajahnya kosong. Seolah otaknya menolak memproses. “Tidak…” bisiknya pelan. “Dia mengalami perdarahan hebat. Jika terlambat sedikit saja, kami mungkin tidak bisa menyelamatkannya,” lanjut dokter. “Punggung kaki kanannya juga mengalami fraktur serius. Kami sudah menstabilkan sementara. Ia akan dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi.” Andreas mengangguk pelan. Matanya memerah. “Aku gagal…” bisiknya serak. “Aku tidak bisa melindungi kalian…” Namun perlahan, ekspresinya berubah. Kesedihan itu membeku. Menjadi ses

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Ruang Tindakan

    Andreas baru saja menutup panggilan dari kliennya. Kalimat terakhir masih menggantung di udara ketika perasaan aneh itu kembali datang tidak nyaman. Gelisah. Seperti ada sesuatu yang salah. Ia berdiri tiba-tiba. Langkahnya cepat menuju ruang kerjaku. Lampu mejaku masih menyala. Tapi kursinya kosong. Alisnya berkerut. “Nadira?” Tak ada jawaban. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia melangkah menuju pantry. Dari kejauhan tak terlihat apa-apa. “Di mana dia…” gumamnya, suaranya mulai serak. Lalu, Langkahnya terhenti. Di lantai, ada garis merah. Tipis. Terseret. Darah. Napas Andreas langsung tercekat. Jantungnya seperti dihantam palu. Pandangan matanya mengikuti jejak itu, Dan dunia seolah berhenti berputar. Aku tergeletak di lantai.Bersimbah darah. Tubuhku tak bergerak. Wajahku pucat. “NADIRA!” Suara Andreas pecah. Benar-benar pecah. Ia berlari, berlutut di sampingku. Tangannya gemetar saat mengangkat tubuhku ke pangkuannya. “Sayang… buka matamu… lihat aku…” Tidak ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Sakit

    Cleo mengpalkan tangannya begitu aku keluar dari ruangan Andreas. “Dasar murahan,” desisnya pelan, nyaris tak terdengar. “Lihat saja sampai mana kamu bisa menggoda lelakiku.” Tumitnya menghentak lantai marmer sebelum ia melangkah pergi dengan wajah yang dipenuhi amarah dan iri. Aku tak menyadari tatapan itu. Aku kembali duduk di mejaku. Tubuhku memang lelah. Perutku terasa berat. Aku menarik napas panjang, mencoba fokus pada layar komputer. Mita menarik kursinya mendekat. Ia melirikku sekilas lalu matanya membulat. “Astaga… apa itu?” bisiknya sambil menunjuk leherku. Aku spontan menutupinya dengan rambut. “Diamlah.” Mita menahan tawa. “Ternyata CEO ganas juga.” Aku memutar bola mata. “Bukannya pria dingin memang seperti itu?” “Ya ampun, aku sering nonton drama. Cowok dingin kalau sudah nemu pawang ya begitu,” godanya. Kami tertawa kecil, mencoba mengusir tegang yang tak jelas sebabnya. Jam pulang tiba. Satu per satu karyawan meninggalkan lantai itu. Lampu-lampu mulai dire

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Ciuman Dikantor

    Aku kembali ke perusahaan dengan tubuh yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. Entah karena emosi yang terkuras atau karena kehidupan kecil yang kini tumbuh di rahimku. Aku duduk di kursi kerjaku, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang belum sepenuhnya stabil. Mita mendekat, pura-pura merapikan berkas di mejaku lalu berbisik pelan di telingaku. “Na… kantor akan mendatangkan ahli. Semua CCTV akan dipulihkan. Katanya datanya masih bisa diselamatkan.” Aku menoleh sedikit, menatapnya. “Itu sangat bagus.” Senyumku tipis. Akhirnya. Sebenarnya aku sudah mencurigai seseorang. Gerak-gerik, tatapan, kepanikan kecil yang terlalu jelas. Tapi aku bukan hakim. Tanpa bukti, tuduhan hanyalah fitnah. Tanpa sadar, mataku melirik ke arah Cleo. Dia tampak gelisah. Tangannya menggenggam ponsel terlalu erat. Tatapannya sesekali menyapu ruangan, berhenti sepersekian detik ke arahku. Lalu cepat-cepat berpaling. Semakin membuatku yakin. Tak lama kemudian, Dirga datang d

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mengusik Orang Yang Salah

    Kami bahkan belum benar-benar masuk ke inti pembahasan ketika kursi di sebelahku bergeser kasar. Seseorang duduk terlalu dekat. Terlalu mempet. Bahkan kepalanya sengaja dicondongkan ke arahku. Sial. Yohanes. Aroma parfum menyengatnya langsung memenuhi ruang privat itu. Aku bisa merasakan perubahan udara di sekitarku dan yang paling terasa adalah perubahan ekspresi Andreas. Rahangan suamiku mengeras. Yohanes menyandarkan siku di sandaran sofa, seolah ia bagian dari pertemuan penting ini. “Nadira,” katanya santai namun penuh ejekan, “kamu berani ya jual mahal denganku. Kamu gak tahu siapa aku?” Aku tak menjawab. Tapi Andreas sudah berhenti bergerak sama sekali. Yohanes melirik pria di seberang kami Sean, pemilik perusahaan tekstil itu lalu tertawa kecil. “Eh, Tuan Muda Sean?” katanya sok akrab. Sean hanya menatap datar. Ia melirikku, lalu melirik Andreas. Situasi mulai terasa tidak nyaman. “Wanita ini teman kuliahku dulu,” lanjut Yohanes. “Dia...” Belum selesai.T

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status