แชร์

Setelah Nana Sadar

ผู้เขียน: Senjaaaaa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-08 15:03:13

Suara ketukan pelan terdengar di pintu ruangan berpelat nama Dr. Bram Wiranata, Sp.S.

“Silakan masuk,” terdengar suara dari dalam.

Hansen membuka pintu perlahan. Wajahnya lelah, namun matanya menyala penuh harap. “Dok, perawat bilang Anda memanggil saya. Ada kabar tentang adik saya?”

Dokter Bram melepas kacamatanya dan menatap Hansen dengan senyum tipis. “Silakan duduk dulu, Hans.”

Hansen duduk, tubuhnya sedikit menegang. “Ada apa, Dok? Jangan buat saya tegang begini.”

Bram menarik napas dalam. “Tadi pagi, Nana sudah sadar.”

Hansen langsung terlonjak. “Apa?! Dok, serius? Dia sadar?” suaranya bergetar antara haru dan tak percaya.

Dokter Bram mengangguk. “Ya. Ia membuka matanya beberapa menit lalu. Kondisinya memang masih lemah, tapi kesadarannya mulai pulih. Saat pertama kali sadar, dia sempat memanggil nama seseorang.”

“Nama siapa, Dok?” tanya Hansen, menatap tajam.

“Nama… Dikta.”

Sejenak, udara di ruangan terasa menegang. Hansen menunduk, rahangnya mengeras. “Dia… masih memikirkan ba
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Tangis Rindu

    “Apa ini?” katanya dengan suara tegas. “Kamu mau bakar rumah ini, ya?” Aku masih terbatuk sambil menatapnya. Punggung tanganku terasa nyeri dan panas. “Ak-aku cuma mau bikin sarapan…” jawabku lirih, antara malu dan kesal pada diri sendiri. Andreas mendesah pelan. Setelah ia mematikan kompor, lalu menarik lenganku dengan hati-hati. Tatapannya jatuh pada kulit tanganku yang memerah. “Dasar,” gumamnya. “Kamu benar-benar berbahaya kalau ditinggal sebentar.” Nada suaranya terdengar kesal, tapi genggamannya justru sangat hati-hati. Ia menuntunku duduk di kursi meja makan, lalu bergegas mengambil kotak P3K. Tanpa banyak bicara, ia mengoleskan salep ke lukaku dengan gerakan perlahan. “Lain kali hati-hati,” ucapnya singkat. “Gak usah maksain diri.” Aku hanya diam, memperhatikan wajahnya yang fokus pada tanganku. Setelah selesai, ia mengambil ponselnya dan memesan makanan. Tak sampa

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Menahan Diri

    Perjalanan pulang terasa sangat canggung sunyi dan mencekam. Andreas memilih diam. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan yang gelap. Aku tak tahu apa yang berputar di kepalanya, tapi aku yakin isinya tak kalah kacau dari pikiranku sendiri. Sejak aku sadar dari pingsan, Kak Hansen memaksaku pulang dan beristirahat. Katanya kondisiku belum stabil. Aku beberapa kali melirik Andreas dari sudut mata. Pria itu tetap dingin, seperti biasa. Tidak ada ekspresi berlebihan, tidak ada penjelasan. Tangannya mantap di kemudi, kecepatannya sedang tenang, terkendali. Dulu, ia juga seperti ini. Tenang dalam kondisi apa pun. Bedanya, dulu ia terlalu cupu. Terlalu pendiam. Terlalu sering menjadi sasaran perundungan. Aku mengingat jelas bagaimana tubuhnya besar, pipinya bulat, wajahnya polos dan menggemaskan. Beruang lucu yang selalu diam, selalu menahan diri. Sekarang?

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Titik Terang Mimpi Itu

    Aku terbelalak. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong, tepat saat matahari sedang terik-teriknya. Otakku menolak menerima kenyataan itu. Kakiku bergerak sendiri, aku berdiri lalu melangkah ke arah Andreas. Aku mendekat. Mengelilinginya. Menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Hey, kamu ngapain?” tanya Andreas heran. Aku tidak menjawab. Di kepalaku hanya ada satu bayangan: beruang lucu dengan pipi gembul, tubuh bulat, wajah menggemaskan, senyum polos. Sosok yang selalu terlihat baik dan hangat. Lalu aku menatap pria di depanku sekarang. Tinggi. Bahu lebar. Otot jelas. Mata tajam. Wajah dingin dengan aura yang bikin orang segan mendekat. Sama sekali nggak lucu. “Penipu,” makiku pelan tapi penuh emosi. Andreas menghela napas. “Aku bukan penipu.” Lalu dia menatapku lurus. “Aku juga ingat waktu kamu nangis karena kaget pertama kali menstruasi.” “STOP!” Aku refleks berteriak. Wajahku panas luar biasa. “Itu memalukan!” bentakku. Ruangan mendadak s

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Beruang Lucu

    “Beruang lucu?” Aku mengulanginya pelan. Ya, aku baru saja memimpikannya. Tapi kenapa tiba-tiba Kak Hansen membahasnya? Terlalu kebetulan. Ingatan itu kembali begitu saja, menyerbu tanpa izin. Beruang lucu adalah sahabat dekat Kak Hansen. Tubuhnya besar dan bulat, pipinya chubby, wajahnya selalu tampak polos patut dikasihani dan anehnya, justru menggemaskan. Dan yang paling kuingat, dia sangat baik padaku. Terlalu baik, malah. Sayangnya, dia penakut. Sering ditindas, tapi hanya diam. Aku masih ingat jelas hari itu Kak Hansen dan teman-temannya main futsal. Beruang lucu juga ikut. Aku yang menunggu di tribun melihat jelas salah satu teman sengaja menjegalnya sampai jatuh. Saat mereka menertawakannya, dia hanya menunduk, tak membalas apa pun. Kak Hansen yang pertama berdiri membelanya. Dan aku… aku ikut. Aku bahkan pernah memukuli seorang anak laki-laki hanya karena dia mengejek beruang lucu, memanggilnya babi gemuk turbo. Aku benar-benar tidak terima. Waktu itu aku masih

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Yang Berbeda

    “Kak, jangan tinggalin aku…” Aku melihat diriku sendiri kecil, berseragam SD berjalan terseok menguntit di belakang Kak Hansen. “Ayo, jalan lebih cepat,” ucap Kak Hansen tanpa menoleh, sama sekali tak peduli. Menyebalkan. Selalu begitu. Tiba-tiba seorang pria bertubuh gendut berjongkok tepat di depanku. Wajahnya bulat, senyumnya lebar. Pipinya seperti Bapau isi daging yang penuh. “Ayo naik. Biar aku yang gendong.” Tanpa ragu aku memanjat punggungnya, melingkarkan tangan di lehernya. “Kok bukan kamu saja yang jadi kakakku?” tanyaku polos. Pria itu tertawa kecil. “Anggap saja aku juga kakakmu.” Aku menggeleng kuat. “Nggak. Aku mau kamu jadi suamiku saja.” Dia kembali tertawa. “Dasar bocah. Emangnya kamu tahu apa itu suami?” “Aku tahu,” jawabku yakin. “Orang yang nemenin sampai mati. Melindungi dan menjaga. Aku mau kamu yang lakuin itu buat aku.” Langkah pria itu terhenti sesaat. Lalu suaranya terdengar lebih pelan, lebih dalam. “Baik. Kalau begitu aku akan memant

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Melewati Masa Kritis

    Suara itu, suaraku membuat Andreas menoleh. Wajahnya langsung memucat. “Nadira?” katanya kaget. “Kenapa kamu di sini?” Aku mendekat dengan langkah gemetar. “Apa yang aku dengar barusan… Kak Hansen?” Andreas diam. Aku mencengkeram kerah kemejanya. “Katakan apa yang terjadi!” Dia tetap diam. Tanganku gemetar, lalu... Plak! Tamparan itu mendarat di pipinya. Dia tidak melawan. “Katakan, bajingan!” teriakku. Plak! Tamparan kedua. “Nadira, tenang,” katanya akhirnya, mencoba meraih tanganku. “Kamu lagi hamil...” “Tenang?” aku menjerit. “Kamu bilang Kak Hansen ke luar negeri! Sekarang dia kritis di rumah sakit?! Apa sebenarnya ini?!” Aku menepis tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung. Perawat itu mendekat dengan wajah cemas. “Mohon maaf, jangan membuat keributan. Pasien butuh istirahat.” Aku terisak. Andreas akhirnya memelukku erat. “Baik,” katanya pelan di dekat telingaku. “Aku akan ceritakan semuanya. Tapi kamu harus tenang.” Ia membawaku duduk. Dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status