登入Setelah dikhianati oleh tunangannya, Seruni memutuskan menjadi kekasih gelap Catra, manajernya yang sudah beristri. Berulang kali dikhianati membuatnya tak percaya lagi pada cinta dan kesetiaan. Hubungan yang dijalaninya dengan Catra hanya untuk kesenangan semata dan pelampiasan kekecewaannya. Seruni tanpa sengaja bertemu dengan Bagas, mantan tetangga yang pernah dia tolak cintanya. Tanpa diduga, manajer hotel itu masih menyimpan rasa dan menawarkan cinta padanya. Karena Seruni sudah trauma dikhianati, dia kembali menolaknya. Namun, Bagas pantang menyerah. Dia terus mendekati dan meyakinkan Seruni kalau cintanya benar-benar tulus. Apakah Seruni bisa lepas dari Catra dan menerima Bagas? Atau justru memanfaatkan Bagas sebagai pelampiasan?
查看更多IVY
My sleep paralysis demon always came around just before the first light of dawn. Grabbing me by the chest, and choking until I was completely paralyzed and under the mercy of the unknown. Because of her strength, yes, my demon is a girl, I call her Millicent. Millicent was absent tonight. She was so absent, I freely dreamt of my hatred for men with a smile on my face. Grandma taught me from age five when she took me in that men were useless. It was a lesson that had literally raised me to the woman I was now. So as I dreamt of the world I presently lived in where not a single man played a role in, my physical body was elevated into an euphoric state— until it wasn't. Boom! The cataclysmic sound jolted me up from sleep. So many alarming thoughts ran through my head, only made worse by a resonant male voice. A male voice! My grandma hated men. She had only one rule for me, "Never trust a man, princess. You're better off without them." I ate that rule, digested it, and lived by it. When I heard that voice, I pushed aside my fear, and bolted out. As I ran down the stairs into the living room, I discovered my beloved grandmother, chinned up defiantly, whilst a gun was pressed to her temple by a man. My system regurgitated that rule, and I grabbed my stomach, instantly feeling nauseous. “Princess,” Grandma called to me. Slowly, I lifted my head, my eyes staring straight into her eyes. “I'm sorry,” she said. I tried to speak, but the words were stuck somewhere in my throat. “I'm sorry that after everything, you have to leave.” That did it. “Leave?” I blurted out through trembling lips. “What do you mean, leave?” She swallowed hard. It looked like a painful swallow because she was about to hit me with a painful truth. “The gentleman with a gun pressed to my head–” “Gentleman?” I played with the irony in my head, damn near scoffing out. “He's a representative of the Bratva family. You are betrothed to the head of the Bratva family, and the time has come for him to take you as his wife.” Reflexively, I burst out laughing. It was such a ridiculous thing to say, I thought surely grandma was playing tricks on me. Like I would ever be betrothed to a man, knowing damn near how much we both hated them. “This isn't a joke, princess,” she said, and my laughter ceased abruptly. “Wait you're serious? How is that possible? Why would I be–” “Enough questions,” the man who had been silently observing spoke in a stern tone that shifted my gaze to him. If eyes were windows, his eyes were showing me a dark heart and soul. Then again, weren't all men the same way? “You've said enough. She comes with me now,” he continued in his Russian accent. “Oh God,” I held my chest, realising this was really happening. “Princess, please forgive me. We will meet again.” “What do you mean we'll meet again, Grandma? What do you– oh my God! You're not coming with me? You're going to le–lea– you're going to–” As I was trying to get the words out of my lips, another man was coming towards me with a determined look in his eyes. Grandma wasn't meeting my gaze anymore. She was releasing me to the wolves. How could she do that? We were two peas in an inseparable pod. It was too much. My brain grew so fuzzy, I couldn't breathe, and it even affected my vision. Before the determined man could get a hold of me, I swayed behind. In a blink, I was unconscious. **** My eyes flickered open, and in a second, my memories aligned. Strange men, living room, Grandma, Bratva, betrothed. I gasped, and jolted into a sitting position. My head spun around in search of where the hell I was. A room, twice the size of my large bedroom, greeted me. “Where am I?” My voice echoed in a hush whisper, returning back to my ears. One moment, I was enjoying Millicent's time away, and the next, I was here. My fingers dug into whatever surface it was resting on, and it sank. I looked down to see satin sheets, notifying me I was on a bed. Absolutely disgusted, because I didn't know who could have laid on these strange sheets before me, I jumped out of the bed, and landed directly in the center of the room. My head shot up, and the first thing my eyes caught was my reflection in the large mirror. “Oh my God!” I let out a subdued shout. This wasn't happening. How could it happen? When did it happen? My hand touched my face that was absolutely dolled up to the heavens. Trailing down to see I was in a wedding gown, sealed my horror. “No God. Please no!” I was on the verge of bursting into tears. Yet, nothing compared to the twist in my stomach when I saw the note plastered to the side of the mirror. One slow, cautious step after the other, I drew closer to the mirror to read what was written on the note. “Hello Princess, when you awake, walk through the door, and you'll find a gentleman stationed outside. He'll bring you into the hall where the guests are seated and waiting for your arrival. Sincerely, Vladimir Bratva.” A Mirthless chuckle escaped my parted lips. It was bad enough when grandma said I was betrothed to the head of the Bratva family, I pictured a bald aging predatory man. This note pretty much confirmed it. I wasn't just marrying any man, but the worst kind of man. An old, creepy, balding man. “Some luck you have, Ivy. Some luck.” I was about to turn towards the door when I paused, and reflected. No one knew I was awake. What if I just continued to pretend I wasn't? A smile formed on my face, as I finally saw a silver lining in the middle of this unwelcomed chaos. Turning right around, I walked back to the bed I had violently flown from before, and sat on it. “Hello, I'm Ivy Greene. Sorry for fleeing from you before,” I apologized sincerely. “Hopefully, we can be friends now.” That felt good. Everything was fine again. I would just sit still, and if I heard someone approaching, I'd pretend I was still asleep. Or even dead. Because I'd rather die than to marry an old, creepy– My thoughts had barely finished forming when the door pushed open, and someone stormed in. I gasped, and tried to lay on my back, but my cover had been blown already. “Hello princess,” the voice of the intruder said. A voice so strangely alluring, I was compelled to straighten up, and look.Runi terkesiap mendengar pertanyaan Bagas. Dia tidak menduga manajer hotel itu akan menanyakan hal itu padanya. "Maksud Mas Bagas pacarku?" Bagas menggeleng. "Ga harus pacar, siapa pun yang sekarang sedang dekat denganmu."Seruni diam sejenak sebelum menanggapi Bagas. "Aku ga punya pacar, Mas. Aku ga mau berkomitmen lagi, Mas. Aku trauma dikhianati," akunya."Maaf karena sudah mengingatkanmu pada hal yang menyakitkan." Bagas jadi merasa bersalah. Seruni tersenyum ke arah Bagas. "Tidak ada yang perlu dimaafkan karena Mas Bagas tidak salah," ucapnya.Setelah itu tak ada lagi yang berbicara. Hening menguasai saat mobil Bagas melaju dengan kecepatan sedang. Seruni yang duduk di samping Bagas, memilih menatap keluar jendela, sementara manajer hotel itu fokus mengendarai mobil sambil sesekali melirik ke samping kirinya."Runi, kamu marah sama aku?" tanya Bagas tiba-tiba. Memecah kesunyian di antara mereka.Seruni menoleh dengan kening mengerut. "Marah? Enggak kok. Memangnya aku kelihatan
Seruni menatap Intan lekat. Dia seolah bertanya pada sahabatnya itu lewat tatapan mata, apakah mau menemani Bagas mencari sepatu atau pulang saja seperti niat mereka sebelumnya. Intan memandang Bagas dengan senyum menyeringai. "Nanti kita dapat apa kalau nemenin Mas Bagas?" Dia tidak mau kalau tidak mendapatkan apa-apa dari kakak sepupunya itu. "Kalian bisa beli apa pun yang kalian mau. Sepatu, tas, baju, atau apa saja terserah," timpal Bagas dengan santai. Dia terus menampakkan senyum di wajah tampannya. Intan mengangguk. "Oke kalau begitu. Ayo, kita temani Mas Bagas, Run," ucapnya dengan penuh antusias. Ketiga orang itu akhirnya masuk ke salah satu toko yang menjual sepatu impor. Bagas melihat-lihat model sepatu olahraga, tapi tak ada yang cocok di hatinya. Mereka pun masuk dan keluar toko beberapa kali karena lagi-lagi Bagas belum menemukan yang sesuai keinginannya. "Mas, sebenarnya model kaya apa sih yang pengen dibeli. Masa sudah lima toko kita masuki tapi belum ada yan
Seruni menutup matanya sambil menghela napas panjang. “Aku tahu, In, tapi aku ga bisa berhenti begitu saja. Jujur, aku nyaman saat bersama dia. Baru kali ini aku merasa dihargai.”"Apa dia pernah menyatakan cinta dan bilang mau berpisah dengan istrinya kalau kamu menerimanya?" tanya Intan dengan nada sinis.Seruni mengangguk. "Pernah. Tapi aku ga mau, In. Aku ga mau jatuh cinta dan berkomitmen lagi. Aku benar-benar trauma."“Terus hubunganmu sama dia itu apa kalau tidak ada komitmen, Run?” desak Intan yang merasa gemas pada sahabatnya.“Kami tidak ada komitmen apa pun, In. Hanya saling memberi kenyamanan satu sama lain,” aku Seruni.Intan membelalakkan mata mendengar pengakuan sahabatnya. Dia tak percaya sahabatnya yang dulu sangat lugu, benar-benar berubah 180 derajat dalam waktu sebentar. Tak bertemu dua bulan saja, Intan sudah merasa asing dengan perubahan Seruni.“Jadi hubungan kalian tanpa status?” tanya Intan memastikan.Seruni mengangguk. “Iya, In. Aku sudah trauma dikhianati.
Pertanyaan Intan sontak membuat Seruni terkejut. Bukannya bercerita tentang keseharian mereka malah menanyakan pria yang sudah mengkhianati cintanya. Namun dia juga bisa mengerti kenapa sahabatnya itu bertanya, mengingat betapa hancur hatinya saat mengetahui perselingkuhan sang mantan tunangan. Dan setelah peristiwa tersebut, baru hari ini mereka bertemu.Seruni mengulum senyum. “Buang-buang waktu dan energi saja kalau aku tidak langsung move on dari dia, In. Buat apa mengingat-ingat pria yang sudah mengkhianati cinta tulus kita,” tukasnya.Intan tampak menghela napas lega. “Syukurlah kalau kamu sudah move on. Apa itu berarti sekarang kamu lagi dekat sama seseorang?” tanyanya sambil menatap san
"Seruni, balas dendam pertamamu sudah berhasil," ucap Catra saat Panca sudah pergi meninggalkan rumah makan."Terima kasih atas bantuannya, Pak," sahut Seruni dengan mata berbinar-binar. Rasa sakit hati yang dirasakan akibat pengkhianatan Panca setidaknya sedikit terbayar melihat mantan tu
Seruni dan Catra seketika menoleh ke arah Panca. Keduanya tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Sungguh hal itu sama sekali tak diduga.Catra kemudian berdiri. Manajer pemasaran itu terlihat lebih tinggi dari Panca saat mereka berdiri berhadapan."Maaf, Anda siapa? Kenapa ti
Seruni seketika menoleh pada Catra. “Pak Catra mau mengajak saya makan di sana? Kenapa tidak di warung makan biasa saja, Pak?” cecarnya.“Kita pasti ga akan nyaman ngobrol kalau di warung makan biasa. Orang lain bisa dengar apa yang kita bicarakan. Gimana kalau di hotel saja biar lebih privat?” sah
Seruni menggeleng. “Bukannya saya tidak mau, Pak. Tapi saya tidak enak dengan teman-teman yang lain. Masa cuma saya yang makan siang dengan Pak Catra,” ungkapnya.Pria berkacamata itu tersenyum. “Kamu tenang saja. Besok aku cari alasan biar kita bisa keluar bersama.”“Apa tidak akan jadi masalah, P






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.