FAZER LOGINBab 100: Rencana Besar
Suasana sunyi akhirnya kembali memeluk kamar asrama Raka Nightfall setelah badai tangisan bombay dan perebutan sapu tangan yang ugal-ugalan mereda. Di sudut ruangan, dua buah keranjang bayi kayu kini berdiri berdampingan. Di dalam crib pertama, Duke Valerian Isabella tertidur pulas sembari memeluk botol susu kosongnya dengan pasrah. Sementara di crib kedua, Bima Ironheart dalam kostum ulat bulu hijaunya mendengkur halus dengan tangan kekar yang masih menggenggam eBab 154: Uang MukaPintu Momo Cafe kembali tertutup.Veronica beserta dayangnya akhirnya meninggalkan cafe.Suasana yang sempat hening perlahan kembali ramai."Kring..."Bel pintu kembali berbunyi.Seorang pelanggan baru masuk."Aku mau Banana Smoothies!""Strawberry Cake dua!""Cookies Pisang lima!"Viper langsung membelah dirinya menjadi empat klon."Klon pertama.""Mengantar pesanan.""Klon kedua.""Membersihkan meja.""Klon ketiga.""Melayani pelanggan.""Klon keempat.""Membantu dapur.""Baik."Keempat klon itu bergerak ke arah berbeda.Whoosh!Whoosh!Whoosh!Whoosh!Di meja kasir...Jari Mantis bergerak cepat."Cookies Pisang lima.""Strawberry Cake dua.""Lemonade satu.""Total delapan puluh lima koin emas.""Terima kasih."Tak jauh darinya...Crow keluar masuk bayangan.Whoosh!Pesanan tiba.Whoosh!Piring kotor menghilang.Whoosh!Banana Smoothies sampai ke meja pelanggan.Di dekat pintu...Lullaby tetap menyambut setiap tamu dengan senyum lembut."Selamat datang.""Silakan
Bab 153: CookiesKereta kuda Serikat Dagang Aethelgard melaju perlahan meninggalkan Distrik Satu.Di dalam kabin...Veronica duduk diam.Di pangkuannya terdapat sebuah stoples berisi Banana Cookies.Ia terus menatapnya."..."Mira, dayang pribadinya, akhirnya membuka suara."Nona.""Hm?""Boleh saya mencicipi satu?"Veronica langsung memeluk stoples itu."Tidak."Mira berkedip."...Eh?""Ini tidak boleh dibuka.""Tapi... bukankah ini sampel gratis?""...Benar.""Lalu kenapa tidak boleh dimakan?"Veronica terdiam.Beberapa saat kemudian..."...Ini harga diriku.""...""..."Mira memiringkan kepala."Hah?"Veronica memalingkan wajah."Aku...""...baru pertama kali ditolak."Mira membeku."...Nona.""Ini urusan
Bab 152: Pelanggan ke-100Mentari pagi menyinari jalan utama Distrik Satu.Embun masih menempel di dedaunan pot bunga yang berjajar rapi di depan bangunan kayu dua lantai bertuliskan Momo Cafe.Di depan pintu masih tergantung sebuah papan kayu kecil.CLOSERaka keluar sambil membawa sapu.Seperti biasa, ia menyapu halaman depan dengan ekspresi datarnya.Namun kali ini suasananya berbeda.Di depan cafe sudah terbentuk antrean pelanggan sejak pagi."Bos! Cepat buka cafenya!""Aku kehabisan Kue Strawberry kemarin!""Aku mau Banana Smoothies!"Raka hanya melirik sekilas."...Ramai."Di dalam cafe, Anna sibuk menyusun loyang-loyang cookies yang baru matang ke dalam etalase.Aroma mentega, pisang, dan vanila memenuhi seluruh ruangan.Tak jauh darinya, Chiki berlari kecil sambil membawa sebutir telur hangat."Ciii!"Anna tersenyum
Bab 151 – PulangSuasana halaman Mansion Gold Glave kembali ramai setelah seluruh kekacauan hari itu berakhir.Para pelayan sibuk membuka gerbang, sementara kereta keluarga yang sedari tadi menunggu mulai bersiap berangkat.Raka, Marco, Bima, Elena, Amanda, dan Kael keluar dari ruang ganti dengan pakaian sehari-hari. Mereka tampak jauh lebih santai dibanding saat memakai pakaian pesta sebelumnya.Raka tersenyum."Ayo pulang."Di depan gerbang, Richard Ironheart sudah berdiri di samping keretanya sambil melambaikan tangan.Bima langsung berlari kecil."Ayah!"Richard tersenyum lebar."Ayo naik. Ayah sengaja menjemputmu. Daripada anakku pulang jalan kaki."Bima tertawa kecil sebelum naik ke dalam kereta.Elena ikut mendekat."Om Richard... boleh nebeng sampai Menara Sihir?""Boleh. Naik saja."Belum sempat Elena melangkah..."Hmph! Hmph!"
Bab 150: Curhatan Dede IanKereta perang keluarga Gold Glave berhenti tepat di depan gerbang mansion.Alaric Gold Glave turun lebih dulu, masih mengenakan mantel Panglima Perang yang dipenuhi debu perjalanan.Di belakangnya, Richard Ironheart ikut turun sambil meregangkan bahunya."Capek juga. Sekalian saja aku jemput Bima. Daripada anak itu pulang sendiri," gumam Richard.Alaric mengangguk singkat."Aku juga ingin melihat keadaan Kael."Keduanya berjalan memasuki aula utama mansion.Belum sempat seorang pelayan menyambut...Langkah mereka mendadak berhenti."...""..."Di ruang tamu...Rose Gold Glave sedang menikmati teh dengan anggun.Kael duduk menunggu teman-temannya ganti baju.Dan di sofa panjang...Seorang pria tampan berwajah muda mengenakan onesie panda hitam putih sedang duduk memeluk boneka panda besar.Empeng masih meng
Bab 149 – FittingKereta milik Putri Amanda perlahan memasuki kawasan keluarga Goldglave.Semakin jauh mereka masuk, pemandangan di sekitar berubah drastis.Jalanan batu yang tertata rapi.Deretan taman mawar bermekaran di kedua sisi jalan.Air mancur marmer menghiasi halaman depan.Tak lama kemudian...Gerbang besi hitam perlahan terbuka.Di baliknya berdiri mansion megah tiga lantai dengan pilar-pilar putih menjulang tinggi. Dindingnya dihiasi ukiran emas yang elegan, sementara jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari sore.Di sisi kiri mansion berdiri butik keluarga Goldglave yang terkenal di seluruh Kerajaan Aethelgard.Raka menghentikan langkahnya."...""Wow..."Kael tersenyum kecil."Selamat datang di rumahku, Kak."Raka masih menatap bangunan itu."Kael...""Ini rumahmu?""Iya."Raka menganggu
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 78: Harga Sultan Di tengah himpitan tekanan aura emas [Royal Dragon Pressure] yang membuat paving blok pelataran arena retak halus, Raka Nightfall tetap berdiri tegak. Dengan celemek beruang kesayangannya yang berkibar pelan, ia justru melipat kedua lengannya dengan santai, memancarkan
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh
Bab 1: Anugerah Di Aula Besar Akademi Aethelgard, sebuah monolit kristal kuno berdiri tegak, siap memancarkan takdir bagi setiap orang berusia 20 tahun. Hari ini adalah Upacara Manifestasi. Hari di mana para murid akademi akan diberikan "Anugerah”. Di barisan paling depan, tiga sahabat karib b







