LOGINBab 177: Raja yang Tumbang
Di dalam Istana Kerajaan Aethelgard...Pintu kamar utama kerajaan perlahan terbuka.KREEEK...Putri Amanda berlari masuk dengan napas memburu."Ayahanda!"Di atas ranjang kerajaan...Raja Aethelgard terbaring tak sadarkan diri.Wajahnya pucat pasi.Napasnya terdengar sangat lemah.Beberapa tabib kerajaan berdiri mengelilingi ranjang dengan raut wajah muram.Amanda segera berlutut di samping ranjang ayahnya.Bab 246: Guardian Sayap selatan istana. Sulur-sulur Jack membelit tubuh Selene — leher, lengan, pinggang. Duri-duri kecil menancap di kulitnya. Darahnya menetes. Selene tidak bisa bergerak. Belum. Jack berdiri di tengah taman yang hancur. Tangan kanannya terangkat — mengendalikan sulur dari jarak jauh. Wajahnya tenang. "Kak Lulla, Bagaimana kondisi Elena?" Lullaby sudah berlutut di samping Elena. Tangannya menyentuh dahi gadis itu. Matanya berubah — iris kuning keemasan berpendar. [Clairvoyance.] Dalam sekejap, Lullaby membaca seluruh kondisi Elena. Bukan hanya luka fisik — tapi jalur mana, titik kelelahan, kerusakan internal. "Mana tersisa 4%. Jalur sihir kelelahan. Tiga tulang rusuk retak. Luka dalam di bahu kiri." Lullaby membuka matanya. "Tapi tidak ada kerusakan permanen." Elena tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja..." "Bohong." Lullaby men
Bab 245: AyahEnergi hitam meledak dari tubuh Gareth.Bukan seperti sebelumnya.Ini berbeda.Dark Blade tidak lagi berdenyut seperti jantung — sekarang ia berdetak. Keras. Cepat. Seperti sesuatu yang meronta ingin keluar.Gareth berlutut. Kedua tangannya mencengkeram gagang pedang. Urat-urat hitam menjalar dari tangannya — naik ke lengan, bahu, leher."AAAARGH!!!"Gareth berteriak.Bukan teriakan bertarung.Teriakan kesakitan.Kael dan Seraphina berdiri di tempatnya. Tidak menyerang.Karena apa yang mereka lihat — bukan musuh yang sedang power-up.Tapi seorang pria yang sedang dimakan senjatanya sendiri."Gareth."Suara itu datang dari dalam Dark Blade.Bukan suara manusia. Lebih dalam. Lebih tua."Lepaskan kendalimu."Gareth mengeratkan genggamannya."Tidak...""Kau sudah kalah. Tubuhmu hancur. Manamu habis."Urat hitam menjalar ke pipi kirinya."Serahkan tubuhmu padaku — dan aku akan menghancurkan mereka."Gareth memejamkan matanya.Wajah Aldhelm muncul.Senyum di panti asuhan.Seli
Bab 244: Full BlackEnergi gelap meledak dari Dark Blade.Udara di halaman memberat. Rumput menghitam. Retakan menjalar di tanah seperti pembuluh darah gelap.Gareth berdiri tegak. Luka di tubuhnya berhenti mengeluarkan darah — digantikan uap hitam yang mengepul dari kulitnya.Dark Blade berubah. Bilah yang tadinya hitam legam kini berdenyut — seperti jantung. Garis-garis merah darah menjalar di permukaannya, berkedut setiap detik.Kael mengeratkan genggaman pedangnya."Apa itu..."Gareth menatap Dark Blade di tangannya."Kau tahu, Tuan Muda..."Ia mengayunkan pedang itu pelan. Udara terbelah — meninggalkan jejak hitam yang tidak menghilang."Aku tidak selalu seperti ini."---Gareth mengingat.Panti asuhan di pinggiran kerajaan. Bangunan tua dengan atap bocor. Dinding retak. Lantai kayu yang berderit.Tiga puluh anak. Satu pria dewasa.Aldhelm.Bukan — saat itu dia belum jadi Perdana Menteri. Hanya seorang pria berjas lusuh yang datang setiap pagi. Membawa roti. Membawa buku. Membawa
Bab 243: Tunangan Halaman samping istana. Es menjalar di tubuh Gareth — dari lutut hingga pinggang lalu dada.. Kristal-kristal biru berkilau di bawah cahaya bulan. Gareth tidak bergerak. Belum. Seraphina berdiri di ujung halaman. Frostveil terentang. Kristal es melayang di sekelilingnya. Napasnya tenang — tapi matanya tajam. "Jangan sentuh tunanganku." Kael terbaring di tanah. Pedang cahayanya redup. kakinya tidak bisa bergerak. Tubuhnya penuh luka. Darah mengalir dari pelipisnya. Tapi telinganya masih berfungsi. Sangat berfungsi. "T-tunangan...?" Kael menatap Seraphina. "Sejak kapan?!" Seraphina tidak menoleh. Matanya tetap pada Gareth yang membeku. "Sejak aku bilang begitu." "Itu bukan cara kerja pertunangan—" "Kenapa?" Seraphina akhirnya melirik. Mata birunya dingin — tapi ada sesuatu di dalamnya. "Kau tidak mau?"
Bab 242: Kelahiran HeliosRuang tahta membeku.Bukan karena es Valerian. Bukan karena sihir siapa pun.Tapi karena kata-kata itu."Aku tidak—"Raja Aldric tidak melanjutkan kalimatnya.Karena Helios sudah lebih dulu bicara."Tidak apa?" Helios memiringkan kepalanya. Api hitam di sekelilingnya bergerak pelan — seperti ular yang menunggu perintah. "Tidak bohong? Tidak menyembunyikan sesuatu?""Helios—""DIAM!"FWOOOOM!!!Api hitam meledak. Pilar-pilar api menghantam sisi kiri dan kanan ruangan. Puing berjatuhan. Amanda hampir kehilangan konsentrasi — Holy Blessing berkedip lagi.Richard mengangkat perisainya — melindungi Raja dari pecahan batu.Tapi Raja Aldric tidak bergerak.Ia tetap berdiri. Menatap Helios."Kau mau tahu kenapa aku mengatakan kau bukan ayahku?"Helios mengangkat tangannya. Api hitam membentuk lingkaran di sekelilingnya."Karena aku sudah tahu semuanya.""Tentang ibuku."Amanda tersentak.Ibu Kak Helios...?Amanda hampir tidak pernah mendengar tentangnya. Yang ia tahu
Bab 241: Ruang Tahta yang Terkepung Ruang tahta Istana Aethelgard. Api hitam merambat di dinding. Di pilar. Di lantai marmer yang sudah meleleh setengahnya. Udara panas — bukan panas biasa, tapi panas yang membakar dari dalam. Fire Hell. Helios berdiri di tengah kobaran. Tenang. Seperti api itu adalah bagian dari tubuhnya. Karena memang begitu. [True Class: Fire Hell Manipulator — Rank SSS] Gelombang api hitam menyapu ruangan lagi. FWOOOOOSH!!! Richard Ironheart menancapkan perisainya. [Skill Active : Holy Sanctuary] Tiga lapis barrier pelindung dari cahaya muncul di udara — dinding pelindung di depan Raja Aldric. Api hitam menghantam perisai. KRAAANG!!! Perisai bergetar. Retak menjalar di permukaan baja. Richard menggertakkan giginya. Kakinya terdorong mundur. Api ini makin panas... Perisaiku tidak akan bertahan la
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh
Bab 1: Anugerah Di Aula Besar Akademi Aethelgard, sebuah monolit kristal kuno berdiri tegak, siap memancarkan takdir bagi setiap orang berusia 20 tahun. Hari ini adalah Upacara Manifestasi. Hari di mana para murid akademi akan diberikan "Anugerah”. Di barisan paling depan, tiga sahabat karib b







