LOGINBab 71 Adik
Viper, yang baru saja terbangun di sudut ruangan dengan kepala yang masih agak pusing akibat ramuan antidot, mengucek matanya berkali-kali menatap pemandangan absurd di depannya."Kak Marco..." bisik Viper dengan suara parau yang gemetar. "Apa... apa aku sedang mengalami halusinasi pasca-keracunan? Kenapa... kenapa kita punya adik baru lagi?"Marco van Deimos menghela napas panjang, menepuk pundak Viper dengan pandangan lempeng penuh simpati. "Iya, Viper. Kau tidak sBab 277: TargetGelombang kegelapan menerjang Raka.Bukan serangan area. Bukan ledakan acak. Ini TOMBAK — kegelapan terkompresi menjadi satu titik, melesat lurus ke dada Raka.[Frozen Shell]Levi bergerak lebih dulu. Es membentuk kubah di sekeliling Raka.KRAKKKK.Tombak kegelapan menghantam kubah es. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba. Levi menggeram — cakarnya mencengkeram tanah, menahan tekanan."Tuan Muda — TURUN dari Nox!" Levi berteriak."Tidak." Raka menjawab datar. "Kalau aku turun, dia menang."[Demon's Insight — Phase 2]Raja Iblis memiringkan kepalanya. Matanya menyala lebih terang."Menarik. Kau tahu aku mengincarmu — tapi kau tidak lari." Seringai lebar. "Bodoh. Atau berani. Atau... kau BUTUH tetap di atas."Raka tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.Dia membaca strategiku.Raja Iblis mengangkat tangannya.[Shadow Fist — Barrage]PULUHAN tinju kegelapan melesat dari segala arah. Bukan ke Nox. Bukan ke Levi.Semua menuju RAKA."NOX!" Raka berteriak.[Hellfire Bre
Bab 276: Pertarungan Langit dan LautRaja Iblis terhuyung.Satu langkah mundur. Langkah PERTAMA yang dia ambil sejak muncul di dunia ini — bukan untuk maju.Tapi dia tidak jatuh."...Menarik." Dia mengusap sudut bibirnya. Menatap bekas Hellfire yang masih membakar tanah di sekelilingnya. Lalu mendongak — ke Nox yang mengepakkan sayap di atas. Ke Levi yang berdiri kokoh di darat. "Dua Calamity sekaligus. Dan kalian memilih pihak MANUSIA?"Nox mendesis dari atas. "Banyak bicara kau." "Ayo kita bertarung." "Cakarku sudah gatal dari tadi."Raja Iblis menyeringai.[Abyssal Pulse]Kegelapan MELEDAK dari tubuhnya — gelombang hitam menyapu segala arah. Levi menghentak bumi.[Tidal Stomp]Es membentuk dinding pelindung di belakangnya — menutupi Amanda, Alaric, Helios, dan semua yang tersisa."Kalau begitu..." Raja Iblis merenggangkan lehernya. "Rasakan ini."[Dark Blink]Dia MENGHILANG.Nox membelalak. "Di mana—"DUAKKK.[Shadow Fist]Tinju kegelapan menghantam rahang Nox DARI BAWAH. Kepala na
Bab 275: Dua Bencana yang Melindungi[Nox dan Levi meminta persetujuan anda kembali ke wujud asli ?][yes] [No]"Tuan muda cepatlah!""Tidak ada cara lain.""Cakarku sudah gatal ingin memukul Raja Iblis"Raka menekan [Yes]'Baiklah."Nox bergerak duluan.Tubuh kecilnya terangkat ke udara. Sisik hitamnya BERKILAT — lalu RETAK. Bukan rusak. MELEPASKAN sesuatu yang tersegel di dalamnya.Cahaya hitam MELEDAK.Gelombang energi menyapu padang rumput. Rumput menghitam. Udara bergetar. Amanda, Alaric, Helios — semua terdorong mundur.Tubuh Nox MEMBESAR. Satu meter. Tiga meter. Sepuluh. Tiga puluh. Lima puluh — tidak berhenti.Sisik-sisik hitam tumbuh — setiap sisik sebesar perisai knight. Sayap membentang menutupi setengah langit. Tanduk melengkung dari kepalanya. Ekor memanjang — ujungnya berduri seperti morning star raksasa.Cakar menancap ke tanah. BUMI RETAK.Calamity of Dragon — Nox.Lalu Levi.Kura-kura kecil itu menutup matanya. Cangkangnya bersinar biru — retak — PECAH. Air muncul dar
Bab 273: Raksasa di Atas Reruntuhan Langit-langit ruang tahta RUNTUH. Batu, besi, kayu — semuanya jatuh seperti hujan kematian. Raja Iblis terus MEMBESAR. Tubuhnya yang sudah raksasa menembus lantai demi lantai. Dinding istana RETAK — lalu ROBOH. "SEMUA KELUAR!" Alaric berteriak. Kekacauan. Richard mengangkat Valerian yang kakinya terluka. Bima menggendong Elena di punggungnya. Kael menarik Seraphina ke arah pintu darurat. Viper, Mantis, dan Crow membentuk formasi melindungi yang lain dari puing. Helios berdiri di sisi Amanda — yang menopang Raja Aldric. "Ayah, bisa jalan?" "Jangan bodoh." Aldric mendorong tubuhnya. "Aku masih raja. Aku bisa—" Kakinya GOYAH. Amanda menangkap lengannya. "Diam dan biarkan kami membantu, Ayah." Mereka berlari. Raka berlari paling belakang — matanya tidak pernah meninggalkan Raja Iblis. Makhluk itu TERUS MEMBESAR. Sekarang tingginya me
Bab 272: Raja Iblis Portal berkedip. Tangan raksasa itu mencengkeram tepi portal — jari-jari hitam sepanjang tubuh manusia menancap ke lantai batu. Retakan menyebar seperti sarang laba-laba. Lalu KEPALA muncul. Tengkorak. Bukan tulang — kegelapan padat yang membentuk wujud tengkorak dengan dua lubang mata yang menyala merah. Tanduk melengkung ke belakang seperti mahkota. Rahangnya terbuka — dan napasnya saja membuat udara di ruang tahta MEMBUSUK. Tubuh Raja Iblis menarik dirinya keluar dari portal. Perlahan. Seperti monster yang baru bangun tidur setelah seribu tahun. Tingginya menembus langit-langit. Batu di atasnya RETAK — puing-puing jatuh. Sayap hitam — robek, berlubang, seperti kain kematian — terbentang di belakang punggungnya. Aldhelm berdiri di depan makhluk itu. Tersenyum. "Raja Iblis." Dia mengangkat tangannya. "Aku yang memanggilmu. Lima jiwa sudah kuberikan sebagai tumbal. Sekarang — PATUHI a
Bab 271: Ritual TerlarangRaja Aldric berdiri.Tubuhnya gemetar. Luka bakar dari Hellfire masih membekas di dadanya. Darah mengalir dari pelipisnya. Amanda berlari menopangnya — tapi Raja mengangkat tangannya."Aku bisa berdiri sendiri."Matanya menatap Aldhelm. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan kebencian.Kesedihan."Bertaubatlah, Aldhelm." Suara Raja serak. "Kau sudah terlalu jauh."Aldhelm tidak bergerak."Aku mengenalmu sejak kita masih muda. Kau cerdas. Kau berbakti. Kau perdana menteri terbaik yang pernah kerajaan ini miliki." Aldric maju selangkah. "Tapi ini... ini bukan kau."Hening.Aldhelm menatap lantai. Bayangan menutupi wajahnya.Lalu dia tertawa.Pelan. Pahit. Seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu yang MEMBUSUK di dalam dadanya."Bukan aku?" Aldhelm mengangkat wajahnya. Matanya basah — tapi bukan karena penyesalan. "Kau ingin bicara tentang SIAPA AKU, Aldric?"Suaranya bergetar."Kau merebut SEGALANYA dariku."Aldric membeku."Tahta? Aku tidak peduli." Aldhe
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh







