MasukBab 71 Adik
Viper, yang baru saja terbangun di sudut ruangan dengan kepala yang masih agak pusing akibat ramuan antidot, mengucek matanya berkali-kali menatap pemandangan absurd di depannya."Kak Marco..." bisik Viper dengan suara parau yang gemetar. "Apa... apa aku sedang mengalami halusinasi pasca-keracunan? Kenapa... kenapa kita punya adik baru lagi?"Marco van Deimos menghela napas panjang, menepuk pundak Viper dengan pandangan lempeng penuh simpati. "Iya, Viper. Kau tidak sBab 221: Mantan BawahanBOOOOOOOOOOM!!!Ledakan mengguncang Istana Aethelgard.Alaric Goldglave langsung bergerak.Rose yang berada di sampingnya hampir kehilangan keseimbangan."Rose!"Alaric menarik istrinya ke dalam pelukan dan memutar tubuhnya.CRASH!Pecahan kaca beterbangan.Namun semuanya menghantam punggung Alaric.Rose menatapnya cemas."Alaric!""Aku tidak apa-apa."Alaric segera membawa Rose keluar melalui pintu samping istana.Begitu sampai di halaman, Rose langsung menoleh ke belakang."Kael...""Dia masih di dalam."Alaric mengangguk."Kael bisa menjaga dirinya sendiri.""Dia seorang ksatria."Rose menghela napas."Aku percaya padanya."Alaric tersenyum."Dia anak kita."Ia kemudian membuka pintu kereta kuda."Masuk."Rose masih ragu."Bagaimana denganmu?""Aku akan kembali."Alaric menatap istana yang dipenuhi asap."Aku akan membantu melindungi Yang Mulia."Rose menggenggam tangannya."Sayang...""Jaga dirimu."Alaric tersenyum."Kau juga."Kereta pun bergerak meningga
Bab 220: Ledakan di IstanaRaja masih menatap Jack dengan ekspresi penuh kenangan."Erick Carpenter..."Ia tersenyum tipis."Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu."Jack mengangkat wajah."Yang Mulia benar-benar mengenal kakek saya?"Raja mengangguk."Ketika aku masih muda..."Tatapannya menerawang."Aku pernah berburu di hutan bersama beberapa pengawal.""Namun kami diserang monster."Jack membelalak."Monster?""Ya.""Seekor monster yang jauh lebih kuat daripada yang kami perkirakan."Raja tertawa kecil."Para pengawalku sudah terluka. Aku sendiri hampir tidak bisa bergerak."Raja menatap tangannya sendiri.Seolah masih mengingat bagaimana rasanya tidak berdaya."Lalu...""Erick muncul."Jack terdiam."Ia mengalahkan monster itu dan menyelamatkanku."Raja menghela napas."Sebagai seorang raja muda, tentu saja aku ingin memberinya hadiah.""Tapi kakekmu menolak.""Dia hanya berkata..."Raja tersenyum."Yang Mulia tidak perlu membayar nyawa dengan harta."Jack terdiam.Raja m
Bab 219: Mantan BawahanPesta ulang tahun masih berlangsung di dalam aula.Musik, tawa, dan suara percakapan para bangsawan terdengar hingga lorong-lorong Istana Aethelgard.Namun di bagian belakang istana...Pangeran Helios berjalan sendirian.Langkahnya tenang.Tidak ada pengawal yang mengikutinya.Ia memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya sebelum memasuki sebuah taman belakang yang gelap.Helios berhenti di balik sebuah bangunan kecil.Tangannya masuk ke dalam saku jas.Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam.Bentuknya menyerupai batu kristal, tetapi permukaannya dipenuhi garis-garis merah tipis.Helios menggenggam benda itu."memanggil."TING!Kristal hitam itu menyala.Sebuah suara samar terdengar dari dalamnya."Yang Mulia."Helios melihat sekeliling."Rencana A gagal.""Ramuan sudah diberikan.""Namun tidak ada satu pun bangsawan yang keracunan."Suara dari kristal terdiam.Helios melanjutkan."Aku ingin Rencana B dimulai.""Target?"Helios tersenyum dingin
Bab 218: Nama yang Dikenal RajaMusik dansa masih mengalun memenuhi aula.Namun Raka tidak lagi benar-benar menikmati pesta.Peringatan Levi terus terngiang di kepalanya.Banyak aura hitam mendekati istana.Raka menoleh kepada Veronika.Wajahnya berubah serius."Veronika."Veronika berkedip."Ya?""Dengarkan perkataanku."Raka menatapnya tegas."Jangan pergi terlalu jauh dariku."Veronika terdiam.Entah kenapa...jantungnya berdetak lebih cepat.Veronika menyentuh dadanya."Tidak.""Ini pasti karena steak tadi terlalu berat."Ia melirik Raka lagi."...Bukan.""Ini memang karena dia."Jas hitam Raka terlihat begitu rapi. Tatapan mata merah mudanya begitu tajam. Sikapnya yang biasanya santai kini berubah menjadi sangat serius.Veronika menyentuh dadanya kembali.Apa-apaan jantungku ini?Kenapa pria menyebalkan ini...Terlihat begitu keren?"Veronika?"Veronika tersadar."A-Apa?"Raka mengerutkan kening."Kau baik-baik saja?""Kau melamun ?""Aku baik."Veronika buru-buru memalingkan waj
Bab 217: Ramalan LullabyValerian masih memegangi tubuh Lullaby yang terlihat pucat."Lulla...""Ayo duduk dulu."Ia membawanya menjauh dari lantai dansa menuju sebuah sofa di sisi aula.Valerian mengambil segelas air dari meja terdekat."Minum dulu."Lullaby meneguk air. Namun tangannya masih gemetar hingga gelas itu bergetar pelan. Suara musik terasa sangat jauh. Seperti ada lapisan kaca antara dirinya dan dunia. Dan di balik lapisan itu... ia masih mendengar ledakan.Ia meneguk beberapa kali.Valerian duduk di sampingnya."Napas pelan."Lullaby menarik napas panjang.Beberapa detik kemudian, wajahnya sedikit membaik.Valerian menatapnya serius."Sekarang...""Ceritakan apa yang barusan kau lihat."Lullaby menundukkan kepala."Aku melihat aula ini.""Awalnya semuanya seperti sekarang.""Para bangsawan berdansa.""Musik masih terdengar.""Kemudian..."Matanya kembali bergetar."Tiba-tiba...""BOOM!""Ledakan besar menghancurkan aula.""Pilar-pilar runtuh.""Kaca jendela pecah.""Api
Bab 216: Tarian yang Salah OrangMusik dansa masih mengalun di aula.Para bangsawan bergerak berpasangan di atas lantai marmer.Namun perhatian Seraphina justru tertuju pada satu pasangan.Bima dan Elena.Mereka sedang berdansa di tengah aula.Bima tersenyum.Elena juga tersenyum kecil.Seraphina menggenggam kipas kecilnya lebih erat.Dadanya terasa sesak.Kenapa aku masih memikirkan mereka...?Ia mencoba mengalihkan pandangan.Namun matanya kembali tertuju kepada Bima.Dan ingatan lama kembali muncul.Beberapa waktu sebelumnya...Di Colosseum.Seraphina berdiri di balik pilar.Matanya terpaku pada Bima.Di hadapannya, Elena baru saja menyerahkan sesuatu kepada Bima.Sapu tangan rajutan.Bima menerimanya dengan senyum bahagia.Kemudian menyimpannya di dekat dadanya.Seraphina membeku."..."Dadanya terasa sakit.Ia menggigit bibir.Air mata mulai memenuhi matanya.Jadi... selama ini...Bima telah memilih Elena.Seraphina tidak sanggup melihat lebih lama.Ia berbalik.Air mata langsung
Bab 78: Harga Sultan Di tengah himpitan tekanan aura emas [Royal Dragon Pressure] yang membuat paving blok pelataran arena retak halus, Raka Nightfall tetap berdiri tegak. Dengan celemek beruang kesayangannya yang berkibar pelan, ia justru melipat kedua lengannya dengan santai, memancarkan
Bab 64: Resonansi Sang Naga "Di sudut kiri, Cahaya Aethelgard, BIMA IRONHEART! Dan di sudut kanan, Matahari Solaris, PRINCE LEONIDAS!" suara penyiar menggelegar ke seluruh penjuru stadion. Sorak-sorai penonton kembali pecah, Jika pada pertandingan Elena melawan Seraphina tribun dikuas
Bab 61: Tenang Sebelum Badai Ribuan penonton telah dievakuasi dengan pengawasan ketat, meninggalkan kursi-kursi kosong yang tampak membisu menyaksikan kawah kehancuran di pusat arena. Di tengah kawah itu, Duke Valerian Isabella berdiri dengan jubah Archmage-nya yang berkibar pelan. Wa
Bab 38: Kesalahpahaman Aroma dupa herbal yang menenangkan memenuhi udara di kamar utama kediaman Gold Glave. Tabib Tertinggi Istana baru saja merapikan peralatan medisnya setelah selesai memeriksa nadi Alaric van Gold Glave. Sang tabib tua itu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah pemandang







