Share

Bab 5 Anak Asuh

Penulis: R.yan
last update Tanggal publikasi: 2026-04-20 21:30:43

Bab 5: Anak Asuh

Sore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.

> [System Update: Management List]

> Anak Asuh Aktif: 1 Orang

> Nama: Marco van Deimos (Status: Butuh Pengawasan Khusus)

> Kondisi Popok: 85% Penuh (Kuning: Segera Ganti!)

> Status Hubungan: Takut/Patuh

Raka hampir tersedak air mineralnya. "Sistem ini benar-benar menganggap Marco sebagai bayi?" gumamnya tak percaya. Penjelasan di bawahnya lebih gila lagi: Jika indikator mencapai 100%, popok akan bocor, memicu aroma bedak bayi dan 'kejutan' yang akan merembes keluar dari zirah.

Di sisi lain akademi, di dalam toilet eksklusif asrama putra, suara teriakan tertahan terdengar dari dalam bilik Marco.

"DEMI DEWA PEDANG! KENAPA BENDA INI MASIH ADA?!"

Marco gemetar hebat. Di balik zirah Berserker-nya yang gagah, ia merasakan sesuatu yang kenyal, tebal, dan sangat tidak nyaman. Ia mencoba menariknya, tapi popok itu seolah memiliki pelindung sihir tingkat tinggi yang menolak disentuh oleh siapapun kecuali pemilik skill-nya. Lebih parah lagi, ia mulai merasakan sensasi mulas yang menandakan "bencana" Akan tiba.

Tanpa mempedulikan harga dirinya, Marco berlari keluar toilet. Dia berlari melewati lorong-lorong akademi dengan gaya lari yang aneh-sedikit mengangkang-menuju taman tempat Raka berada.

"KAK RAKAA! TOLONG!"

Elena dan Bima yang sedang asyik berbincang dengan Raka langsung melompat berdiri, mengira ada serangan monster. Namun, yang mereka lihat adalah Marco van Deimos, sang Berserker Rank B, jatuh berlutut di depan kaki Raka dengan mata berkaca-kaca.

"Kak Raka, tolong... lepaskan kutukan ini! Aku janji akan jadi anak baik! Ini... ini sudah mulai terasa berat!" bisik Marco dengan wajah merah padam, melirik ke arah selangkangannya yang tampak sedikit lebih buncit dari biasanya.

Bima menelan ludah, menatap Raka dengan ngeri. "Ka... jangan bilang popok itu benar-benar masih ada di sana?"

Raka menutup jendela sistemnya dengan tenang. Ia menatap Marco dengan tatapan "babysitter" yang sangat berwibawa.

"Marco, sudah kubilang kan di ruangan ayahmu? Pakaian orang dewasa hanya untuk mereka yang punya tanggung jawab. Kau ingin aku melepasnya?"

"Iya! Tolong! Aku tidak kuat dengan bunyi kresek-kresek ini setiap kali aku berjalan!" rengek Marco.

Raka menyilangkan tangan di dada. "Sederhana. Perjanjian kita di ruang Kepala Sekolah tadi bukan cuma hiasan. Sekarang, berdiri. Pergi ke tengah lapangan atau kantin, temukan setiap orang yang pernah kau rundung, minta maaf secara tulus di depan umum, dan kembalikan semua barang yang kau ambil dari mereka."

Wajah Marco memucat. "Tapi... itu akan menghancurkan reputasiku!"

Raka mengangkat bahu, lalu pura-pura melihat jam di pergelangan tangannya. "Oh, kurasa indikatornya sudah mencapai 90%. Dalam sepuluh menit, popok itu akan mencapai kapasitas maksimal. Kau tahu apa artinya 'bocor' dalam dunia bayi, kan?"

Mendengar kata 'bocor', Marco langsung berdiri tegak seolah disengat listrik. Bayangan zirah bajanya mengeluarkan aroma pesing dan kotoran bayi di tengah kerumunan siswa adalah kiamat baginya.

"BAIK! AKU LAKUKAN! AKU LAKUKAN SEKARANG!"

Marco berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kerumunan siswa, berteriak memanggil nama-nama junior yang pernah ia ganggu.

Elena menatap punggung Marco, lalu menatap Raka dengan ngeri. "Raka... kau benar-benar gila. Kau baru saja menyuruh seorang Berserker minta maaf"

Raka hanya tersenyum sambil meminum airnya. "Itu namanya pendidikan karakter, Elena. Lagipula, kalau dia tidak cepat, sistemku bilang popoknya benar-benar sudah di ambang batas."

Menit-menit berlalu dengan penuh ketegangan bagi Marco. Di tengah lapangan akademi, pemandangan langka terjadi:

seorang Berserker Rank B membungkuk dalam-dalam di depan para juniornya, mengembalikan koin emas hasil palakan, dan meminta maaf dengan wajah yang bercucuran keringat dingin-setengah karena malu, setengah lagi karena menahan "beban" yang kian berat di selangkangannya.

Sepuluh menit kemudian, Marco kembali ke taman dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap Raka.

"Sudah... Hah... Hah... Aku sudah melakukannya, Kak Raka! Semuanya! Aku bahkan minta maaf pada kucing penjaga sekolah yang pernah kupukul!" seru Marco histeris. Ia bisa merasakan popok di balik zirahnya sudah berada di titik nadir. "Tolong... sekarang! Cepat!"

Raka melihat jendela sistemnya.

> [Notification]

> Kondisi Popok Marco: 99.9% (Critical Hazard!)

> Tindakan Disarankan: Ganti Segera atau Evakuasi Area!

Raka menghela napas, lalu berdiri dengan tenang. "Bagus. Sepertinya kau sudah mulai belajar arti pertobatan."

Raka menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Marco.

POOF!

Kepulan asap putih beraroma lavender dan bedak bayi menyelimuti Marco. Detik itu juga, ketegangan di wajah Marco mengendur. Ia menghela napas panjang yang terdengar sangat lega, seolah seluruh beban dunia baru saja diangkat dari bahunya. Perasaan lembap dan berat yang menyiksanya lenyap seketika, digantikan oleh sensasi kering dan segar yang luar biasa.

"Ahhh... Akhirnya..." gumam Marco, hampir terjatuh karena lemas. Ia meraba-raba pinggang zirahnya. "Terima kasih, Kak Raka. Akhirnya kutukan ini hilang..."

Namun, saat Marco mencoba melangkah, ia mematung. Wajahnya yang baru saja cerah kembali mendung. Ia meraba bagian belakang zirahnya lagi, lalu menatap Raka dengan tatapan ngeri.

"Tunggu... Kak Raka... Kenapa aku masih merasakan ada sesuatu yang lembut dan empuk di balik celana bajaku?" tanya Marco dengan suara bergetar. "Kau... kau tidak menghilangkannya?! Kau cuma menggantinya?!"

Raka tersenyum sangat manis-senyum yang membuat Bima merinding di tempat duduknya.

"Tentu saja aku cuma menggantinya, Marco," jawab Raka enteng. "Dalam dunia pengasuhan, kalau bayinya sudah bersih, ya dipakaikan popok baru yang bersih juga. Kau pikir aku akan membiarkanmu 'bebas' begitu saja tanpa pengawasan?"

Marco melongo. "Tapi... tapi sampai kapan?!"

"Tergantung nilaimu di sistemku," Raka menunjuk ke arah udara kosong (tempat layar sistemnya berada). "Kalau kau terus berlaku baik, jadi anak pintar, dan tidak merundung orang lagi, mungkin suatu hari nanti aku akan mencabut 'pakaian dalam' spesialmu itu secara permanen. Tapi untuk sekarang... anggap saja itu pengingat agar kau tidak 'nakal' lagi."

Marco lemas. Ia menyadari hidupnya sekarang berada di ujung jari Raka. Ia tidak lagi memiliki harga diri sebagai Berserker yang garang; ia sekarang hanyalah seorang "bayi besar" yang harus selalu bersikap manis agar tidak mengalami insiden "bocor" di tengah misi.

"B-baik, Kak Raka... aku mengerti," bisik Marco pasrah, lalu berjalan pergi dengan langkah yang sangat hati-hati agar popok barunya tidak bergeser.

Bima, yang sejak tadi menonton adegan itu, perlahan-lahan menggeser kursinya menjauh dari Raka hingga hampir terjatuh dari bangku taman. Ia menatap Raka seolah-olah sahabatnya itu adalah Dewa Kematian.

"Raka..." panggil Bima dengan suara gagap.

"Ya, Bim?" Raka menoleh sambil tersenyum ramah.

"Aku... aku tadi sudah menghabiskan semua brokoliku. Benar-benar habis! Sampai piringnya licin!" Bima menunjukkan piring makan siangnya yang ia bawa dengan tangan gemetar. "Aku anak baik, kan? Aku tidak perlu 'pakaian dalam' tambahan seperti Marco, kan?"

Elena tertawa terbahak-bahak melihat ksatria suci legendaris itu ketakutan setengah mati. "Lihat dirimu, Bima! Mana aura Holy Knight-mu yang gagah itu?"

"Persetan dengan aura!" seru Bima sambil berdiri dan memberikan hormat militer pada Raka. "Mulai hari ini, Raka adalah ketua tim kita! Apa pun katanya, aku ikut! Makan sayur? Siap! Tidur jam sembilan malam? Siap! Asal jangan popok... kumohon, jangan popok beruang itu..."

Raka hanya terkekeh, melihat reaksi bima yang memastikan dia tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun yang bisa memicu Instant Diaper Change dari Raka.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
R.yan
Marco: 'Horeee, akhirnya kutukan popoknya hilang!' ...... Raka: 'Siapa bilang hilang? Cuma diganti yang baru dan bersih kok.' ...... ​Resmi ya, Marco van Deimos sah jadi anak asuh pertama Raka di sistem! Gimana menurut kalian hukuman 'edukasi karakter' dari Kak Raka? Yuk, klik vote dan tulis komen kalian
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)

    Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 299 — Gotong Royong

    Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 298 — Kabar Baik

    Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 297 — Permintaan

    Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 296 — Rumah

    Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 295 — Terlambat

    Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 4 Negosiasi

    Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 3 Aura

    Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 2 Kekuatan

    Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 1 Anugrah

    Bab 1: Anugerah Di Aula Besar Akademi Aethelgard, sebuah monolit kristal kuno berdiri tegak, siap memancarkan takdir bagi setiap orang berusia 20 tahun. Hari ini adalah Upacara Manifestasi. Hari di mana para murid akademi akan diberikan "Anugerah”. Di barisan paling depan, tiga sahabat karib b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status