LOGINBab 275: Dua Bencana yang Melindungi[Nox dan Levi meminta persetujuan anda kembali ke wujud asli ?][yes] [No]"Tuan muda cepatlah!""Tidak ada cara lain.""Cakarku sudah gatal ingin memukul Raja Iblis"Raka menekan [Yes]'Baiklah."Nox bergerak duluan.Tubuh kecilnya terangkat ke udara. Sisik hitamnya BERKILAT — lalu RETAK. Bukan rusak. MELEPASKAN sesuatu yang tersegel di dalamnya.Cahaya hitam MELEDAK.Gelombang energi menyapu padang rumput. Rumput menghitam. Udara bergetar. Amanda, Alaric, Helios — semua terdorong mundur.Tubuh Nox MEMBESAR. Satu meter. Tiga meter. Sepuluh. Tiga puluh. Lima puluh — tidak berhenti.Sisik-sisik hitam tumbuh — setiap sisik sebesar perisai knight. Sayap membentang menutupi setengah langit. Tanduk melengkung dari kepalanya. Ekor memanjang — ujungnya berduri seperti morning star raksasa.Cakar menancap ke tanah. BUMI RETAK.Calamity of Dragon — Nox.Lalu Levi.Kura-kura kecil itu menutup matanya. Cangkangnya bersinar biru — retak — PECAH. Air muncul dar
Bab 273: Raksasa di Atas Reruntuhan Langit-langit ruang tahta RUNTUH. Batu, besi, kayu — semuanya jatuh seperti hujan kematian. Raja Iblis terus MEMBESAR. Tubuhnya yang sudah raksasa menembus lantai demi lantai. Dinding istana RETAK — lalu ROBOH. "SEMUA KELUAR!" Alaric berteriak. Kekacauan. Richard mengangkat Valerian yang kakinya terluka. Bima menggendong Elena di punggungnya. Kael menarik Seraphina ke arah pintu darurat. Viper, Mantis, dan Crow membentuk formasi melindungi yang lain dari puing. Helios berdiri di sisi Amanda — yang menopang Raja Aldric. "Ayah, bisa jalan?" "Jangan bodoh." Aldric mendorong tubuhnya. "Aku masih raja. Aku bisa—" Kakinya GOYAH. Amanda menangkap lengannya. "Diam dan biarkan kami membantu, Ayah." Mereka berlari. Raka berlari paling belakang — matanya tidak pernah meninggalkan Raja Iblis. Makhluk itu TERUS MEMBESAR. Sekarang tingginya me
Bab 272: Raja Iblis Portal berkedip. Tangan raksasa itu mencengkeram tepi portal — jari-jari hitam sepanjang tubuh manusia menancap ke lantai batu. Retakan menyebar seperti sarang laba-laba. Lalu KEPALA muncul. Tengkorak. Bukan tulang — kegelapan padat yang membentuk wujud tengkorak dengan dua lubang mata yang menyala merah. Tanduk melengkung ke belakang seperti mahkota. Rahangnya terbuka — dan napasnya saja membuat udara di ruang tahta MEMBUSUK. Tubuh Raja Iblis menarik dirinya keluar dari portal. Perlahan. Seperti monster yang baru bangun tidur setelah seribu tahun. Tingginya menembus langit-langit. Batu di atasnya RETAK — puing-puing jatuh. Sayap hitam — robek, berlubang, seperti kain kematian — terbentang di belakang punggungnya. Aldhelm berdiri di depan makhluk itu. Tersenyum. "Raja Iblis." Dia mengangkat tangannya. "Aku yang memanggilmu. Lima jiwa sudah kuberikan sebagai tumbal. Sekarang — PATUHI a
Bab 271: Ritual TerlarangRaja Aldric berdiri.Tubuhnya gemetar. Luka bakar dari Hellfire masih membekas di dadanya. Darah mengalir dari pelipisnya. Amanda berlari menopangnya — tapi Raja mengangkat tangannya."Aku bisa berdiri sendiri."Matanya menatap Aldhelm. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan kebencian.Kesedihan."Bertaubatlah, Aldhelm." Suara Raja serak. "Kau sudah terlalu jauh."Aldhelm tidak bergerak."Aku mengenalmu sejak kita masih muda. Kau cerdas. Kau berbakti. Kau perdana menteri terbaik yang pernah kerajaan ini miliki." Aldric maju selangkah. "Tapi ini... ini bukan kau."Hening.Aldhelm menatap lantai. Bayangan menutupi wajahnya.Lalu dia tertawa.Pelan. Pahit. Seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu yang MEMBUSUK di dalam dadanya."Bukan aku?" Aldhelm mengangkat wajahnya. Matanya basah — tapi bukan karena penyesalan. "Kau ingin bicara tentang SIAPA AKU, Aldric?"Suaranya bergetar."Kau merebut SEGALANYA dariku."Aldric membeku."Tahta? Aku tidak peduli." Aldhe
Bab 270: Time StasisKegelapan MELEDAK.Black Hole kedua muncul di antara telapak tangan Aldhelm. Lebih besar dari yang pertama. Diameter selebar meja — hitam absolut yang memutar udara di sekelilingnya.Tarikan gravitasinya LANGSUNG terasa.Tubuh Alaric tergeser. Pedangnya bergetar di genggaman. Richard menancapkan perisainya ke lantai — menahan Amanda dan Helios di belakangnya. Leonidas mencengkeram pilar terdekat.Bima menapak kuat — tapi kakinya BERGESER dua inci."YANG INI LEBIH KUAT!" Valerian berteriak. Tubuhnya yang sudah terkuras hampir TERANGKAT.Raka merasakan tarikannya. Kuat. Rakus. Menyedot segalanya tanpa pandang bulu.Tapi kali ini — Raka tidak panik.Karena dia sudah melihat polanya.Black Hole butuh energi besar untuk aktif. Aldhelm sudah kehilangan koneksi ke Helios. Kristalnya — bukan, bungkusannya — sudah hancur. Dia bertarung dengan cadangan energinya sendiri sekarang.Dan dia memilih menggunakan sebagian besar cadangan itu untuk Black Hole.Kalau aku bisa membua
Bab 269: Koneksi Valerian menatap Raka. Napasnya berat. Darah menetes dari sudut bibirnya. "Kita harus menghancurkan koneksinya. Bukan apinya. Bukan Helios. Tapi TALI yang menghubungkan mereka." Raka mengangguk. Tapi bagaimana? Koneksi itu tidak terlihat. Tidak berwujud. Dari bahu Raka — Nox mengangkat kepalanya. Naga kecil hitam itu menatap Helios yang berlutut di dalam es. Pria itu — kakak Amanda — yang sejak pertama kali Nox melihatnya selalu membuatnya TIDAK NYAMAN. Bukan takut. Bukan benci. Mual. Aura di sekitar Helios selalu terasa... salah. Seperti sesuatu yang busuk dibungkus sesuatu yang murni. Nox selalu mengira itu efek dari Hellfire — kekuatan terkutuk yang tidak seharusnya ada di tubuh manusia. Tapi sekarang — setelah melihat Aldhelm mengendalikan Helios seperti boneka — Nox MENGERTI. Bukan Hellfire. Aura menjijikan itu... adalah KONEKSI. Tali kegelapan Aldhelm
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh







