LOGINBab 277: TargetGelombang kegelapan menerjang Raka.Bukan serangan area. Bukan ledakan acak. Ini TOMBAK — kegelapan terkompresi menjadi satu titik, melesat lurus ke dada Raka.[Frozen Shell]Levi bergerak lebih dulu. Es membentuk kubah di sekeliling Raka.KRAKKKK.Tombak kegelapan menghantam kubah es. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba. Levi menggeram — cakarnya mencengkeram tanah, menahan tekanan."Tuan Muda — TURUN dari Nox!" Levi berteriak."Tidak." Raka menjawab datar. "Kalau aku turun, dia menang."[Demon's Insight — Phase 2]Raja Iblis memiringkan kepalanya. Matanya menyala lebih terang."Menarik. Kau tahu aku mengincarmu — tapi kau tidak lari." Seringai lebar. "Bodoh. Atau berani. Atau... kau BUTUH tetap di atas."Raka tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.Dia membaca strategiku.Raja Iblis mengangkat tangannya.[Shadow Fist — Barrage]PULUHAN tinju kegelapan melesat dari segala arah. Bukan ke Nox. Bukan ke Levi.Semua menuju RAKA."NOX!" Raka berteriak.[Hellfire Bre
Bab 276: Pertarungan Langit dan LautRaja Iblis terhuyung.Satu langkah mundur. Langkah PERTAMA yang dia ambil sejak muncul di dunia ini — bukan untuk maju.Tapi dia tidak jatuh."...Menarik." Dia mengusap sudut bibirnya. Menatap bekas Hellfire yang masih membakar tanah di sekelilingnya. Lalu mendongak — ke Nox yang mengepakkan sayap di atas. Ke Levi yang berdiri kokoh di darat. "Dua Calamity sekaligus. Dan kalian memilih pihak MANUSIA?"Nox mendesis dari atas. "Banyak bicara kau." "Ayo kita bertarung." "Cakarku sudah gatal dari tadi."Raja Iblis menyeringai.[Abyssal Pulse]Kegelapan MELEDAK dari tubuhnya — gelombang hitam menyapu segala arah. Levi menghentak bumi.[Tidal Stomp]Es membentuk dinding pelindung di belakangnya — menutupi Amanda, Alaric, Helios, dan semua yang tersisa."Kalau begitu..." Raja Iblis merenggangkan lehernya. "Rasakan ini."[Dark Blink]Dia MENGHILANG.Nox membelalak. "Di mana—"DUAKKK.[Shadow Fist]Tinju kegelapan menghantam rahang Nox DARI BAWAH. Kepala na
Bab 275: Dua Bencana yang Melindungi[Nox dan Levi meminta persetujuan anda kembali ke wujud asli ?][yes] [No]"Tuan muda cepatlah!""Tidak ada cara lain.""Cakarku sudah gatal ingin memukul Raja Iblis"Raka menekan [Yes]'Baiklah."Nox bergerak duluan.Tubuh kecilnya terangkat ke udara. Sisik hitamnya BERKILAT — lalu RETAK. Bukan rusak. MELEPASKAN sesuatu yang tersegel di dalamnya.Cahaya hitam MELEDAK.Gelombang energi menyapu padang rumput. Rumput menghitam. Udara bergetar. Amanda, Alaric, Helios — semua terdorong mundur.Tubuh Nox MEMBESAR. Satu meter. Tiga meter. Sepuluh. Tiga puluh. Lima puluh — tidak berhenti.Sisik-sisik hitam tumbuh — setiap sisik sebesar perisai knight. Sayap membentang menutupi setengah langit. Tanduk melengkung dari kepalanya. Ekor memanjang — ujungnya berduri seperti morning star raksasa.Cakar menancap ke tanah. BUMI RETAK.Calamity of Dragon — Nox.Lalu Levi.Kura-kura kecil itu menutup matanya. Cangkangnya bersinar biru — retak — PECAH. Air muncul dar
Bab 273: Raksasa di Atas Reruntuhan Langit-langit ruang tahta RUNTUH. Batu, besi, kayu — semuanya jatuh seperti hujan kematian. Raja Iblis terus MEMBESAR. Tubuhnya yang sudah raksasa menembus lantai demi lantai. Dinding istana RETAK — lalu ROBOH. "SEMUA KELUAR!" Alaric berteriak. Kekacauan. Richard mengangkat Valerian yang kakinya terluka. Bima menggendong Elena di punggungnya. Kael menarik Seraphina ke arah pintu darurat. Viper, Mantis, dan Crow membentuk formasi melindungi yang lain dari puing. Helios berdiri di sisi Amanda — yang menopang Raja Aldric. "Ayah, bisa jalan?" "Jangan bodoh." Aldric mendorong tubuhnya. "Aku masih raja. Aku bisa—" Kakinya GOYAH. Amanda menangkap lengannya. "Diam dan biarkan kami membantu, Ayah." Mereka berlari. Raka berlari paling belakang — matanya tidak pernah meninggalkan Raja Iblis. Makhluk itu TERUS MEMBESAR. Sekarang tingginya me
Bab 272: Raja Iblis Portal berkedip. Tangan raksasa itu mencengkeram tepi portal — jari-jari hitam sepanjang tubuh manusia menancap ke lantai batu. Retakan menyebar seperti sarang laba-laba. Lalu KEPALA muncul. Tengkorak. Bukan tulang — kegelapan padat yang membentuk wujud tengkorak dengan dua lubang mata yang menyala merah. Tanduk melengkung ke belakang seperti mahkota. Rahangnya terbuka — dan napasnya saja membuat udara di ruang tahta MEMBUSUK. Tubuh Raja Iblis menarik dirinya keluar dari portal. Perlahan. Seperti monster yang baru bangun tidur setelah seribu tahun. Tingginya menembus langit-langit. Batu di atasnya RETAK — puing-puing jatuh. Sayap hitam — robek, berlubang, seperti kain kematian — terbentang di belakang punggungnya. Aldhelm berdiri di depan makhluk itu. Tersenyum. "Raja Iblis." Dia mengangkat tangannya. "Aku yang memanggilmu. Lima jiwa sudah kuberikan sebagai tumbal. Sekarang — PATUHI a
Bab 271: Ritual TerlarangRaja Aldric berdiri.Tubuhnya gemetar. Luka bakar dari Hellfire masih membekas di dadanya. Darah mengalir dari pelipisnya. Amanda berlari menopangnya — tapi Raja mengangkat tangannya."Aku bisa berdiri sendiri."Matanya menatap Aldhelm. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan kebencian.Kesedihan."Bertaubatlah, Aldhelm." Suara Raja serak. "Kau sudah terlalu jauh."Aldhelm tidak bergerak."Aku mengenalmu sejak kita masih muda. Kau cerdas. Kau berbakti. Kau perdana menteri terbaik yang pernah kerajaan ini miliki." Aldric maju selangkah. "Tapi ini... ini bukan kau."Hening.Aldhelm menatap lantai. Bayangan menutupi wajahnya.Lalu dia tertawa.Pelan. Pahit. Seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu yang MEMBUSUK di dalam dadanya."Bukan aku?" Aldhelm mengangkat wajahnya. Matanya basah — tapi bukan karena penyesalan. "Kau ingin bicara tentang SIAPA AKU, Aldric?"Suaranya bergetar."Kau merebut SEGALANYA dariku."Aldric membeku."Tahta? Aku tidak peduli." Aldhe
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,







