Share

Dihempas Setelah Melambung

Author: Young Lady
last update Last Updated: 2025-09-12 09:30:36

Janin Tanisha baik-baik saja. Tanisha tidak tahu harus bersyukur atau malah sedih. Wanita itu belum bisa menerima calon anaknya. Namun, tak tega juga menyingkirkannya secara sengaja. Sepertinya, ia memang harus merawat anak ini dengan baik.

Menyakiti janinnya sama saja seperti menyakiti dirinya sendiri. Tanisha mengalami pendarahan hebat karena didorong oleh Fabiola. Pendarahannya telah berhenti, janinnya pun baik-baik saja. Namun, hingga saat ini, tubuhnya masih nyeri luar biasa.

Nyeri itu menjalar bukan hanya di area perutnya. Namun, menyebar ke seluruh tubuhnya. Kepalanya pun seperti akan pecah sejak dirinya siuman, tak berkurang sampai sekarang. Bukan itu saja, Tanisha pun kesulitan menggerakkan tubuhnya. Padahal tak ada yang patah.

“Masih sakit? Perlu saya panggilkan dokter lagi?” tawar Langit yang memperhatikan Tanisha sedari tadi. Wanita itu tampak kesulitan bergerak dan beberapa kali meringis.

Langit yang semula duduk di sofa kontan berdiri dan melangkah ke bangsal Tanisha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Dibayar dengan Hidup

    Kurang dari dua bulan.Itu waktu yang dibutuhkan Langit untuk mengumpulkan potongan-potongan kebenaran yang selama ini tercerai-berai. Bukan waktu yang panjang untuk sebuah perkara besar, tapi cukup untuk membuat banyak orang menyadari satu hal: Langit tidak sedang bermain aman.Di ruang kerjanya, map-map berwarna cokelat tersusun rapi di atas meja. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada kertas tergeletak sembarangan. Semuanya sudah melalui penyaringan berlapis—dokumen aliran dana, kesaksian tersumpah, rekaman komunikasi, hingga laporan investigasi independen yang disusun ulang oleh tim hukum yang ia percaya.Ramdan berdiri di seberang meja, menatap berkas-berkas itu dengan sorot waspada. “Bapak yakin?” tanyanya pelan. “Begitu ini diajukan… kita nggak bisa mundur.”Langit menutup map terakhir, lalu mengangkat pandangan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan menantang arus besar. “Saya nggak berniat mundur dari awal.”Ramdan menghela napas. “Kalau banding ini gagal—”

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Menyingkirkan Seluruh Benalu

    Kebenaran jarang datang sekaligus. Ia hadir sedikit demi sedikit, seperti potongan kaca yang awalnya tampak kecil, tapi semakin lama semakin melukai siapa pun yang menggenggamnya terlalu erat.Pagi itu, ruang kerja Langit terasa lebih sunyi dari biasanya. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya pucat masuk dan jatuh tepat di meja kerja yang kini dipenuhi berkas baru. Tidak menumpuk—justru tersusun rapi, seolah setiap lembar sudah menunggu untuk dibaca dengan kepala dingin.Tanisha duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat, tapi isinya nyaris tak tersentuh. Perasaannya tidak tenang sejak Ramdan mengirim pesan singkat pagi tadi: “Pak, datanya makin mengerucut. Kita perlu bicara serius hari ini.”Ketika pintu terbuka dan Ramdan masuk, ekspresinya cukup untuk membuat Tanisha menegakkan punggung.“Apa sudah sejauh itu?” tanya Langit tanpa basa-basi.Ramdan mengangguk. Ia menutup pintu, memastikan ruangan itu benar-benar aman. “Lebih jauh da

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Keterlibatan Ayah Senja

    Kepercayaan adalah sesuatu yang rapuh.Sekali retak, ia tidak pernah benar-benar kembali utuh. Ia mungkin bisa direkatkan, dipoles agar tampak sama, tapi bagi mereka yang pernah dikhianati, retakan itu akan selalu terlihat—setidaknya oleh mata yang tahu ke mana harus memandang.Langit berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap kota yang masih sibuk meski hari belum sepenuhnya terang. Pagi datang seperti biasa, membawa rutinitas yang seolah tak terpengaruh oleh kekacauan hidup seseorang. Tapi di dalam ruangan itu, suasana jauh dari kata normal.Di meja panjang yang biasanya dipenuhi berkas politik dan agenda partai, kini hanya ada satu laptop terbuka dan beberapa map tipis. Tidak banyak. Justru terlalu sedikit.Tanisha duduk di kursi seberang, tangannya terlipat di atas perutnya yang semakin membesar. Wajahnya tenang, tapi matanya awas—seperti seseorang yang sudah terlalu sering dikejutkan oleh kenyataan pahit hingga belajar mengantisipasi luka berikutnya.“Ini sisanya?” tanya Ta

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Rival Langit

    Waktu berjalan dengan cara yang aneh.Ia bisa terasa lambat ketika dihabiskan dalam penantian, namun juga bisa berlalu terlalu cepat saat diisi dengan ketegangan yang tak pernah benar-benar reda. Dalam hitungan minggu, hidup Tanisha dan Langit berubah menjadi rangkaian hari yang dipenuhi bisikan, catatan kecil, dan percakapan setengah berbisik di balik pintu tertutup.Tidak ada lagi langkah ceroboh. Tidak ada lagi keputusan spontan. Setiap gerak dipikirkan dua kali. Setiap informasi disaring, dicocokkan, lalu disimpan rapat-rapat.Hanya mereka bertiga yang tahu. Langit. Tanisha. Dan Ramdan.Di ruang kerja kecil yang kini mereka gunakan sebagai pusat pengumpulan bukti—bukan kantor resmi, bukan rumah utama, melainkan ruang netral yang aman—tumpukan map mulai memenuhi meja. Tidak mencolok. Tidak berlabel besar. Semua terlihat seperti berkas biasa bagi mata awam.Namun Tanisha tahu, di dalamnya tersimpan kebenaran yang selama ini dikubur paksa.“Ini laporan transfer tambahan,” ujar Ramdan

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kamu Pikir Kemampuanmu Cukup?

    “Kamu belum kasih tahu Mama tentang apa yang kamu temukan di rumah lama kalian, kan?”Suara Langit terdengar pelan, tapi serius. Mereka sudah berada di kamar. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Tirai tertutup rapat. Dunia di luar kamar seolah dipisahkan oleh batas tak kasatmata.Tanisha yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang, menoleh perlahan. “Nggak,” jawabnya lirih. “Bahkan Mama nggak tahu aku sempat jenguk Papa di penjara.”Langit menghela napas tipis, lalu duduk di sisi ranjang, berhadapan dengannya. Ia menyandarkan siku di paha, menautkan jemari, sikap khasnya ketika sedang berpikir serius.“Mama masih terguncang,” lanjut Tanisha. “Aku nggak mau bikin Mama makin tertekan. Rasanya… beliau belum siap dengar apa pun lagi.”Langit mengangguk pelan. “Bagus,” katanya akhirnya. “Memang sebaiknya Mama jangan tahu dulu.”Tanisha mengangkat wajahnya, menatap Langit dengan sorot ragu. “Mas yakin?”“Yakin,” jawab Langit tanpa ragu. “Ma

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kebahagian Tak Berlangsung Lama

    Dapur kecil itu biasanya hanya diisi suara detak jam dan langkah Tanisha yang pelan. Namun pagi ini berbeda.Ada Langit. Berdiri kaku di dekat meja dapur, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung asal-asalan. Ekspresinya datar, nyaris serius—seolah ia sedang menghadiri rapat penting, bukan membantu membuat kue kering.Tanisha memperhatikannya sekilas sambil mengaduk adonan di mangkuk besar. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.“Mas,” katanya akhirnya, menahan senyum. “Kamu kelihatan kayak mau tandatangan kontrak, bukan bikin kue.”Langit melirik ke arah mangkuk. “Saya memang nggak pernah menyentuh hal-hal seperti ini.”“Itu kelihatan,” balas Tanisha ringan. “Sendoknya kebalik.”Langit menatap sendok kayu di tangannya, lalu membaliknya tanpa komentar. Gerakannya kaku, tapi serius. Terlalu serius untuk sesuatu yang seharusnya santai.Adinda sejak pagi belum keluar kamar. Demam ringan membuatnya memilih beristirahat, dan pesanan kue yang sudah terlanjur masuk tak mungkin dit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status