LOGIN“Saya akan terima anak itu.”
“Kita baru menikah. Perceraian hanya akan membuat nama kita menjadi buruk “ Hingga kini, ucapan Langit masih terngiang-ngiang di benak Tanisha. Bukannya senang, mendengarnya malah membuat dada Tanisha semakin terasa terimpit. Ia tidak berharap Langit sudi menerima anaknya. Wanita itu ingin Langit menceraikannya. Sejak awal, pernikahannya dengan Langit adalah kesalahan. Langit hanya menikahinya sebagai bentuk pertanggungjawaban dan menjaga nama baik keluarga mereka. Lalu, sekarang lelaki itu juga ingin bertanggungjawab atas janin dalam kandungannya. Mungkin, Tanisha akan merasa tersanjung jika Langit benar-benar tulus. Sayangnya, tak ada yang tahu rencana lelaki itu sebenarnya. Dan yang paling penting, Langit memiliki seseorang yang lelaki itu jaga. Walaupun mereka tak lagi menjadi sepasang kekasih. Ah, Tanisha tidak yakin hubungan keduanya benar-benar berakhir. Tak ada yang tahu. Apalagi setelah Langit menganggapnya wanita murahan. “Aku pikir kamu bener-bener sibuk,” gumam Tanisha sembari menatap layar televisi yang menayangkan sosok sang suami. Langit sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan mengenai pendapat lelaki itu tentang demonstrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Lelaki itu tidak sendirian. Ada seorang wanita yang juga merupakan salah satu staff inti DPP. Wanita itu bukanlah perempuan sembarangan. Segelintir orang mengenal wanita itu sebagai mantan kekasih Langit Akasa Mahadewa. Namanya Senja Kinara Atmaja. Nama keduanya pun begitu serasi. Sayangnya, Tanisha menjadi penghalang di antara keduanya. “Ternyata sekalian liburan bareng ya?” Tanisha kembali bergumam sebelum mengambil remote dan mematikan televisinya. Tanisha memang istri sah Langit. Namun, apa gunanya jika di hati lelaki itu hanya nama Senja yang tertanam. Oleh karena itu, lebih baik mereka berpisah saja. Cepat atau lambat, semua orang akan mengetahui kehamilannya akan terendus pihak luar. Tanisha bangkit dari sofa yang ia duduki sejak satu jam lalu. Tadinya ia hendak membunuh kebosanan dengan menonton televisi. Namun, tak ada tayangan yang menarik minatnya. Sekarang dirinya malah kelaparan. Sayangnya, ia sedang tidak memiliki stok makanan. “Kamu mau makan apa? Kita makan di luar aja. Aku nggak punya stok bahan makanan,” monolog Tanisha sembari menyentuh perutnya. Kini, Tanisha berada di apartemen pribadinya. Ia berhasil melarikan diri sejenak dari kediaman Langit dengan alasan pekerjaan. Seharian ini Tanisha berada di sini dan dirinya merasa lebih tenang. Lagipula, cepat atau lambat Langit akan mengusirnya. Lebih baik, ia pergi lebih awal. Karena sudah lama tidak berkunjung kemari, stok bahan makanan Tanisha benar-benar kosong. Tadi ia memang sempat mampir ke supermarket di bawah untuk membeli cemilan dan sekarang sudah habis. Namun, dirinya masih lapar. “M-mas Langit?!” pekik Tanisha dengan mata membola melihat Langit berdiri tepat di belakang pintu apartemennya. Langit berdecak pelan “Kamu kabur? Jangan seperti anak kecil!” “Untuk apa Mas ke sini? Darimana Mas tau alamat apartemenku?” Bukannya merasa bersalah atas aksinya, Tanisha malah berbalik mencerca sang suami. Apartemen ini Tanisha beli diam-diam tanpa sepengetahuan papanya. Biasanya ia hanya berkunjung kemari untuk menenangkan pikiran sebelum akhirnya tetap pulang ke rumah orang tuanya. Hanya segelintir orang yang mengetahui apartemennya. Tanisha juga sengaja mematikan ponselnya sejak berada di sini. Seharusnya, Langit tak akan menemukannya semudah ini. Lagipula, tak ada gunanya Langit repot-repot datang kemari. Lelaki itu tidak memiliki kewajiban untuk menemuinya. “Apa itu penting? Kamu nggak mengizinkan saya masuk?” Langit berbalik mencerca Tanisha dengan tangan terlipat di depan dada. “Aku mau pergi. Lagi nggak nerima tamu,” usir Tanisha tanpa basa-basi. Sayangnya, Langit adalah sosok yang keras kepala. Lelaki itu hanya perlu mendorong Tanisha pelan untuk bisa menerobos masuk. Menulikan pendengaran terhadap protesan-protesan yang wanita itu lontarkan dan langsung melangkah ke dalam seperti di rumah sendiri. “Mas mau apa lagi sih?” sembur Tanisha kesal. Sedangkan yang membuatnya tersulut emosinya malah bersikap santai. Kini, lelaki itu sedang mengeluarkan beberapa bungkusan makanan di atas meja di ruang makannya. Kemudian, mengambil beberapa peralatan makan di dapur tanpa permisi dan kembali ke meja makan. “Kamu lapar? Makan dulu. Marah-marah juga butuh tenaga. Kita bicara setelah makan,” ucap Langit yang masih sibuk dengan makanan bawaannya. Tadinya, Tanisha ingin mengusir Langit, tentunya hingga lelaki itu pergi. Akan tetapi, godaan makanan yang membuat perutnya semakin keroncongan menyebabkan Tanisha turut bergabung dengan Langit di meja makan. Menepikan gengsi, ia memang lapar dan anaknya juga memerlukan nutrisi. Hanya denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang mengisi keheningan di antara mereka. Keduanya fokus makan tanpa membuka suara. Bahkan, saling menatap pun tidak. Namun, Langit tetap bersikap santai, sedangkan Tanisha tampak menguarkan aura permusuhan. “Kenapa kamu bohong? Kalo ada apa-apa gimana? Kamu baru keluar dari rumah sakit!” sembur Langit setelah Tanisha selesai makan. “Buat apa Mas peduliin aku? Aku baik-baik aja. Harusnya Mas senang aku pergi tanpa diusir,” jawab Tanisha santai. “Saya nggak pernah mengusir kamu. Kamu istri saya. Jadi, kamu harus tinggal di rumah yang saya tempati. Sudah saya tegaskan kalau saya nggak akan menceraikan kamu!” balas Langit tajam. Tanisha tertawa sinis. “Mas nggak perlu ngasihanin aku. Dan aku juga nggak mau jadi orang ketiga. Lebih baik kita pisah.” Perubahan ekspresi Langit tampak cukup signifikan. Sebelum akhirnya lelaki itu kembali mengubah ekspresi menjadi datar. Sebelah sudut bibir Tanisha terangkat. Langit memang tak pernah mengatakan apa pun. Namun, perubahan ekspresi lelaki itu menunjukkan segalanya. “Kamu bisa ganti baju dulu. Kita pulang setelah ini,” cetus Langit seraya bangkit dari tempat duduknya dan membawa bekas makan mereka ke dapur. “Aku nggak mau pulang sama Mas! Aku mau di sini!” tegas Tanisha menolak titah Langit. Lelaki itu tidak bisa seenaknya memerintahnya. Langit berbalik seraya bertanya, “Kamu mau saya telepon papa kamu?” Ancaman itu cukup untuk membuat Tanisha mengalah. Pada akhirnya, ia tetap ikut pulang bersama Langit. Walaupun hatinya enggan. Dalam perjalanan pulang, Tanisha baru tahu kalau ternyata Langit baru pulang dari bandara setelah melihat koper besar milik lelaki itu. Tanisha pun tak melayangkan protes lagi ketika Langit menggiringnya menuju kamar milik lelaki itu. Hari ini sudah sangat melelahkan. Tanisha hanya ingin beristirahat. Tanpa gangguan. Namun, hari ini Langit sudah cukup mengganggunya. Pagi-pagi sekali Langit sudah pergi dan itu membuat Tanisha cukup lega. Sayangnya, ketenangannya tak berlangsung lama karena morning sickness kembali menghampirinya. Padahal ia belum sempat mengonsumsi apa pun. Namun, mual itu seolah-olah akan mengosongkan isi perutnya. “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Wulan—ibu mertua Tanisha yang melipir masuk ke toilet dengan mendengar suara aneh dari sana. Deg! Tanisha terkejut bukan main dan spontan menegakkan tubuhnya setelah membersihkan mulutnya. Wajahnya yang memang sudah pucat pun kian memucat. Ia tak tahu mertuanya akan berkunjung kemari dan malah menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya. “Kenapa panik begitu? Kalo kamu kurang enak badan, istirahat aja.” Wulan memapah Tanisha dan membantu wanita itu keluar dari toilet. “Udah sarapan belum? Mau nyicip masakan Ibu? Kamu pasti masuk angin. Habis nikah kok nggak mau cuti. Langit juga sama,” tawar Wulan diselingi gerutuan. Tanisha meringis dalam hati. Apa yang terjadi padanya bukan karena masuk angin. Gejala ini mungkin akan terus terjadi dan menimbulkan banyak kecurigaan. Namun, Tanisha belum siap menjelaskan apa pun pada siapa pun. Karena dirinya pun tak tahu harus mengatakan apa. Tanisha yang sudah berusaha berhati-hati malah tak sengaja menyenggol sebuah amplop di atas nakasnya. Ia tak sempat mencegah Wulan mengambil dan membuka isi amplop tersebut. “Kamu ha-hamil?”“Besok kita ke Bali.”Langit menyampaikan rencananya dengan cara yang sangat khas dirinya. Tenang. Singkat. Tanpa drama.Kalimat itu meluncur begitu saja, di antara suara kain yang dilipat Tanisha dan gumaman kecil Aksara yang sedang duduk di lantai dengan mainannya. Tidak ada intonasi khusus, tidak ada pengantar. Seolah Langit baru saja memberi tahu menu makan malam, bukan sebuah perjalanan yang—tanpa ia sadari—akan menjadi penutup dari seluruh luka yang pernah mereka bawa.Tanisha berhenti bergerak.Tangannya yang semula melipat kaus kecil Aksara terdiam di udara. Ia menoleh perlahan, menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit didefinisikan—antara tidak percaya, terkejut, dan sedikit curiga.“Ke… Bali?” ulangnya, pelan.Langit mengangguk santai. Ia sedang duduk di tepi ranjang, membuka kancing manset kemejanya, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru saja menjatuhkan sebuah bom kecil dalam rutinitas Tanisha.“Saya sudah ambil cuti,” katanya. “Seminggu.”Tanisha menutup
“Sebenarnya… awalnya saya ingin menerima perjodohan kita.”Kalimat itu meluncur begitu saja, tenang, nyaris tanpa penekanan—seolah Langit sedang membicarakan sesuatu yang ringan. Padahal, bagi Tanisha, kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan tepat ke tengah danau tenang.Tanisha yang baru saja menutup pintu box bayi, langsung menoleh. “Apa?” sahutnya, refleks, dengan nada tak percaya.Aksara sudah terlelap. Napas kecilnya teratur, wajahnya damai, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang bergerak mundur ke masa lalu yang selama ini mereka kubur rapat-rapat.Langit masih berdiri. Ia bersandar pada meja rias Tanisha, kedua tangannya bertumpu santai, namun sorot matanya serius—jenis keseriusan yang jarang ia perlihatkan, kecuali saat ia benar-benar ingin jujur.“Iya,” ulangnya pelan. “Awalnya begitu.”Tanisha melangkah menjauh dari box bayi, mendekat ke arah ranjang. Ia duduk perlahan, seolah lututnya tiba-tiba kehilangan kekuatan.“Tapi…,” Langit melanjutkan, “kamu selalu terlihat ketaku
Beberapa hari setelah malam pengenalan Aksara secara resmi, Tanisha bangun dengan perasaan yang belum pernah ia kenali sebelumnya—bukan lega sepenuhnya, bukan juga cemas sepenuhnya. Lebih tepatnya, ia seperti berdiri di ambang pintu yang selama ini ia takuti untuk dibuka.Ia menunggu badai. Ia menunggu hujatan, penghakiman, dan suara-suara sumbang yang selama ini selalu datang lebih dulu sebelum kebenaran sempat bernapas. Namun badai itu tidak datang. Setidaknya, tidak seperti yang ia bayangkan.Sejak pagi hari, Tanisha duduk di ruang keluarga dengan Aksara di pangkuannya. Televisi menyala pelan, menampilkan tayangan berita politik yang biasanya ia hindari. Tapi kali ini, tangannya tidak refleks meraih remote.Nama Langit disebut. Berkali-kali. Bukan dengan nada menyerang. Bukan dengan ekspresi sinis.“…langkah Langit Akasa Mahadewa malam itu dinilai sebagai keputusan berani,” ucap seorang analis politik di layar kaca.“Di tengah budaya politik yang sering menutupi aib, ia justru memi
Tanisha baru saja menidurkan Aksara setelah sesi menyusu yang cukup panjang. Anak itu sempat rewel, mungkin karena suasana rumah yang terasa lebih ramai sejak pagi. Tanisha sendiri belum sempat benar-benar beristirahat, sebab pikirannya masih dipenuhi berbagai hal kecil yang ingin ia lakukan untuk Langit.Ia bahkan belum mengganti pakaian rumahnya ketika suara pintu depan terbuka.Tanisha mendongak refleks. Langit sudah pulang. Terlalu cepat.Pria itu melangkah masuk dengan jas masih melekat rapi di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan karena angin sore. Tatapannya langsung mencari Tanisha, dan ketika mata mereka bertemu, ada senyum kecil yang muncul di wajahnya.“Kamu belum siap-siap?” tanya Langit sambil mendekat.Tanisha mengernyit. “Siap-siap apa?”Langit mengangkat satu alis. “Makan malam.”Tanisha refleks berdiri dari sofa. “Oh—aku belum masak apa-apa. Aku nggak tahu Mas pulang secepat ini. Mas mau makan apa? Aku
Tanisha tersenyum, senyum yang pelan, hangat, dan sedikit gugup. “Selamat ulang tahun, Mas,” ucapnya lirih.Langit mengerjap lagi sembari mengumpulkan nyawanya. Pandangannya bergeser ke kue, ke lilin-lilin kecil yang menyala, lalu kembali ke wajah istrinya.“Kamu…” Ia mengangkat tubuhnya setengah duduk. “Kamu ngapain jam segini?”Tanisha terkekeh pelan. “Aku takut Mas keburu bangun duluan dan buka kulkas.”Tanisha sudah menyusun kata-kata yang indah sebagai ucapan selamat ulang tahun untuk sang suami. Namun, yang meluncur dari mulutnya malah ini. Walaupun hanya memberi kejutan sederhana, ia sangat gugup. Dadanya pun masih berdebar keras sampai sekarang. Langit terdiam sesaat, lalu tertawa kecil—tawa rendah yang jarang keluar akhir-akhir ini. “Kulkas?” ulangnya, masih setengah bingung.“Iya.” Tanisha mengangguk kecil. “Makanya aku simpan baik-baik.”Tanisha melangkah lebih dekat ke sisi ranjang. Cahaya lilin memantul di
Tanisha berdiri di dapur sejak matahari belum sepenuhnya naik. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih polos tanpa riasan, tapi matanya berbinar—bukan karena kurang tidur, melainkan karena satu rencana kecil yang diam-diam ia simpan rapat di dalam dada.Hari ini, ia ingin membuat kejutan. Bukan sesuatu yang besar. Bukan pula yang mewah. Hanya sebuah kue sederhana, hasil tangannya sendiri.Kue yang ia harap bisa menyampaikan sesuatu yang tak selalu mampu ia ucapkan dengan kata-kata: terima kasih—karena Langit telah bertahan, karena ia tidak menyerah, karena ia tetap memilih mereka bahkan ketika dunia seolah memaksa sebaliknya.Di sudut dapur, sebuah stroller berdiri. Di dalamnya, Aksara terbaring dengan mata bulat yang sibuk mengamati langit-langit. Bocah itu belum bisa bicara, tentu saja. Tapi ocehannya sudah cukup membuat rumah terasa hidup.“Ah… itu suara apa, hm?” gumam Tanisha sambil menuang tepung ke dalam mangkuk besar.Aksara menjawab dengan suara tak beraturan—campuran antara ta







