Share

Hanya Mimpi

Penulis: Reina Putri
last update Terakhir Diperbarui: 2024-04-19 15:08:12

"Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan, ya!" ucap Mas Adnan setelah sekian lama ia terdiam. Pandangannya beralih dari wajahku, tatapannya lurus ke jendela kamar namun terlihat kosong. Akupun langsung meraih tangannya hingga membuat ia kembali menatap wajahku, seketika aku tersenyum padanya.

"Iya mas, aku tau itu hanya mimpi. Dan aku yakin, kamu adalah pria yang paling setia," ucapku untuk kembali mencairkan suasana.

Kurasa, ucapanku barusan sudah merubah mood nya. Sedari dulu, kami memang paling sensitif jika membahas soal orang ketiga. Aku yang sensitif dan sangat cemburuan selalu saja memasukan ucapan ibu mertua yang sengaja memanas-manasiku ke dalam hati, ujungnya, aku selalu curiga pada Mas Adnan bahkan hingga terbawa mimpi. Sedangkan, Mas Adnan sendiri tipe orang yang tak mau terus-terusan membahas masalah yang sama. Karena ia punya prinsip sekali tidak tetap tidak, dan sudah beberapa kali Mas Adnan mengatakan padaku kalau dia tidak akan pernah mengkhianatiku untuk selamanya.

Mas Adnan mengusap rambutku dengan lembut, tapi pandangannya kembali menatap ke arah yang lain. Biasanya, jika seperti itu, ia sedang ada masalah atau sesuatu yang sedang ia pikirkan. Dengan perlahan, akupun meraih tangannya, lalu berusaha untuk duduk. Mas Adnan dengan sigap langsung membantuku.

"Sayang, apa perutmu tidak sakit jika duduk seperti ini?" tanyanya setelah aku berhasil duduk bersila dengan bantuannya.

Aku meraba perutku pelan, memang aneh, rasanya tidak sakit sama sekali. Tapi, setelah kuingat lagi, katanya aku sudah tertidur selama satu tahun, itu artinya mungkin lukaku memang sudah sembuh. Dengan cepat, akupun langsung menggeleng pada Mas Adnan hingga Mas Adnan tersenyum lalu duduk di sampingku.

"Sepertinya, kamu sedang memikirkan sesuatu, mas?" tanyaku membuka kembali pembicaraan diantara kami.

Mas Adnan langsung menoleh, entah kaget atau apa, aku tak bisa menebak raut wajahnya. Aku hanya mengangkat sebelah alisku dan menunggu jawaban darinya, namun Mas Adnan malah mengalihkan pandangannya seraya mengusap wajah.

"Mas?" tanyaku lagi sambil memegang bahunya hingga membuat Mas Adnan kembali menoleh. Ia menggenggam kedua tanganku lalu menatap kedua mataku dengan lekat.

"Inara, maaf!" ucapnya pelan serta terdengar menggantung. Ia menundukkan wajahnya hingga membuatku memicingkan mata seraya menunggu kata selanjutnya, namun sepertinya Mas Adnan enggan melanjutkan.

"Maaf? Untuk apa, mas?" tanyaku kemudian.

Mas Adnan mengangkat kembali wajahnya, entah mengapa melihat tingkahnya yang seperti itu membuat hatiku tak tenang.

"Maaf karena aku telah mengingkari janjiku," sahutnya membuatku langsung terkejut.

Janji apa yang Mas Adnan maksud?

Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati dan mencoba untuk menepis semua kemungkinan buruk yang kupikirkan.

"Mas, bicara yang jelas! Jangan buat aku berpikir yang tidak-tidak!" ucapku setelah sekian lama aku membisu.

"Maaf, karena hari ini aku tidak menyiapkan apapun untuk aniversary kita," sahutnya setelah sekian lama aku menunggu. Jawaban itu membuatku akhirnya menghembuskan nafas lega.

Aku tersenyum seraya balas menggenggam tangannya.

"Tanggal berapa ini, mas?" tanyaku.

"Lima Februari. Ini aniversary kita yang ke tiga, sayang," sahutnya. "Tapi aku malah tak membuatkan apa-apa untukmu," sambungnya kemudian tertunduk lesu.

Aku mengusap bahunya seraya tersenyum, jika ia meminta maaf hanya untuk hal sekecil itu, aku sungguh tak merasa masalah. Lagi pula, jika aku koma, siapa juga yang tau dan bisa menjamin kapan aku terbangun, makanya aku memaklumi jika Mas Adnan sama sekali tak menyiapkan surprise untukku seperti tahun-tahun yang lalu.

"Itu tidak masalah, mas. Justru aku sangat senang karena pada saat aku membuka mata, kamu adalah orang pertama yang aku lihat. Itu artinya, kamu selalu setia menemaniku di sini 'kan?" ucapku membuat Mas Adnan mengangguk, ia meraih kepalaku lalu membenamkan wajahku di dadanya.

"Ayo, lebih baik sekarang kamu tidur, ini sudah malam," bisiknya seraya melepas pelukan. Aku menengok ke arah jendela, di luar semua lampu sudah menyala, nampaknya hari memang sudah berganti malam.

"Mas akan pulang?" tanyaku seraya menatapnya, berharap ia akan tetap di sini dan menemaniku, tapi aku juga teringat pada Dara, ia pasti sedang menunggu ayahnya pulang.

"Tidak, aku akan tidur di sini," sahut Mas Adnan seraya mengusap rambutku.

"Lalu Dara?"

"Aku akan menelpon pengasuhnya, dan menyuruhnya menginap untuk menemani Dara," jelas Mas Adnan membuatku sedikit tenang.

Aku segera membaringkan kembali tubuhku di atas tempat tidur. Namun seketika aku terkejut saat Mas Adnan juga ikut membaringkan tubuhnya seraya mengulum senyum, ia terus memandangku hingga membuatku merasa salah tingkah.

"Aku sangat merindukan momen seperti ini, sayang," bisiknya.

"Mas, ini rumah sakit!" ucapku untuk mengingatkannya, namun Mas Adnan malah terkekeh seraya memeluk tubuhku.

"Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu, boleh 'kan?" tanyanya membuatku mau tak mau hanya mengangguk, meski sebenarnya aku merasa risih, takut tiba-tiba ada dokter atau perawat yang masuk.

Namun tak bisa di pungkiri, tidur dalam dekapan Mas Adnan membuatku langsung terlelap ke alam mimpi.

"Sekali tidak, tetap tidak!"

Suara yang terdengar begitu lantang itu langsung membuatku terkejut dan terjaga. Namun, kurasa ada yang aneh dengan tubuhku saat aku tiba-tiba tak bisa menggerakkannya sama sekali.

"Dia itu pasti sudah mati! Untuk apa kamu membuang waktumu untuk menemani mayat hidup itu?!"

Lagi, suara yang terdengar tak asing ditelinga ku itu kembali menggema di ruangan ini.

"Cukup, Bu! Dia masih hidup, baru saja kami mengobrol, Inara hanya sedang tidur, mungkin dia lelah."

Kali ini aku begitu yakin kalau itu adalah suara Mas Adnan. Ia pasti sedang berbicara dengan ibu. Tapi, aku sangat heran kenapa aku tak bisa menggerakan tubuhku sama sekali.

"Pulang, Adnan! Karin pasti sedang menunggumu!

Kali ini suara ibu terdengar penuh penekanan. Namun, seketika aku terheran saat mendengar nama Karin.

Siapa dia?

Bukankah anakku bernama Dara?

Sederet pertanyaan itu terus berputar dikepalaku seraya aku juga terus berusaha untuk membuka mata dan menggerakan tubuh. Atau setidaknya, aku ingin berbicara untuk bertanya, siapa Karin.

"Cukup, Bu! Untuk kali ini, tolong biarkan aku berdua saja dengan Inara."

Terdengar suara Mas Adnan melemah seolah memelas, hingga tak lama terdengar langkah kaki yang dihentakan dan mulai menjauh. Aku yakin, ibu pasti sudah pergi dari kamar ini.

Aku kembali mencoba untuk menggerakkan tubuhku dan berbicara, namun sayangnya usahaku sia-sia. Semuanya terasa berat dan lidah terasa kelu, bahkan kedua mataku juga terasa rapat dan tak bisa dibuka.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan diriku?" desahku dalam hati. Hingga beberapa kali aku terus berusaha dan aku benar-benar merasa lelah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimadu Saat Koma   Tamat

    Setelah mendengar apa yang Selvia tuduhkan, sepertinya itu hanya sebuah kesalahpahaman karena mungkin semasa hidupnya Karin mengadukan sesuatu yang tidak-tidak padanya. Tapi, meski begitu, aku perlu meluruskan semuanya. Aku tak ingin hidupku terus dibayang-bayangi oleh Karin ataupun Selvia.Untungnya, Selvia tidak terlalu keras kepala, ia mau mendengarkan apa yang hendak kujelaskan tentang masalalu Karin dan Mas Adnan. Beruntungnya saja aku kenal Lila dan sempat mendengar ceritanya. Kuharap, dengan keterangan dari Lila dan bukti nyata itu Selvia bisa percaya bahwa tidak sepenuhnya yang Karin ceritakan itu selalu benar.Tak membuang waktu terlalu banyak, akupun segera mengajak Selvia untuk bertemu Lila sekalian kami makan siang bareng. Aku menghubungi Lila untuk bertemu di restoran terdekat dari toko Mas Adnan.Pertemuan dimulai, aku menceritakan kesalahpahaman Selvia, kemudian meminta Lila untuk kembali menceritakan Karin saat berada di keluarga mereka."Maaf, ya mbak. Tapi, sejak ken

  • Dimadu Saat Koma   Tuduhan Selvia

    Namun keterkejutan diwajahnya tak berlangsung lama. Selvia tersenyum sinis padaku. Ia melipat kedua tangannya didada seraya membuang muka."Kebetulan kamu sudah mendengar semuanya. Biar sekalian saja kamu tau, semoga kamu lebih kuat dari apa yang Adnan khawatirkan, ya!" ucapnya dengan nada mengejek.Mas Adnan menatapku dengan penuh ke khawatiran. Mungkin ia sedang mengkhawatirkan kondisiku, atau justru ia sedang mengkhawatirkan aku akan kembali salah paham padanya. Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum hangat, semoga hal itu membuatnya mengerti bahwa aku akan baik-baik saja.Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Selvia. Dengan tenang aku bertanya padanya, "Kenapa kamu mau menuntut kami?" Aku sedikit menarik bahunya agar ia menatapku."Cih, tentu saja karena aku yakin Karin sengaja kalian singkirkan!" sahutnya dengan tatapan tajam."Ini semua kecelakaan. Kami gak sekejam itu!" tekanku.Mas Adnan menarikku untuk duduk, beberapa kali ia mengusap-usap bahuku, ia juga menyuru

  • Dimadu Saat Koma   Masalah Baru

    Saat memasuki ruang makan, aroma lezat yang menggugah selera langsung memenuhi udara, membuat perutku keroncongan dengan keras. Bau masakan yang harum dan menggoda membuatku tak sabar untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan. Aku sangat terkesan dengan kemampuan memasak ibu yang ternyata sangat handal.Selama menjadi istri Mas Adnan, aku yang selalu bertanggung jawab atas urusan dapur dan rumah. Namun, hari ini aku merasa sedang di ratukan oleh ibu karena ibu telah melakukan semua pekerjaan rumah. Tak hanya makanan yang lezat dan tersaji dengan rapi, rumah pun nampak sudah bersih dan tertata, serta pakaian kotor nampak sedang dicuci dalam mesin cuci.Kuhampiri ibu yang sedang menata piring di atas meja, dan kupegang tangannya hingga ia menghentikan aktivitasnya. "Ibu, kenapa ibu melakukan semuanya sendiri?" tanyaku pelan, sambil memandang ibu dengan penuh haru dan rasa terima kasih.Ibu tersenyum seraya menggenggam tanganku, "Gak papa, selama kamu jadi istrinya Adnan, ibu gak pe

  • Dimadu Saat Koma   Sentuhan Pagi

    Aku sedikit terkejut saat sinar mentari yang menyilaukan menembus tirai-tirai di kamarku, membangunkan ku dari tidur lelap. Dengan cepat aku segera bangkit, mengikat rambutku secara asal, benang-benang rambut kusut tergerai di wajahku. Aroma lezat masakan sudah tercium oleh hidungku, sepertinya ibu sudah mulai sibuk di dapur. Aku menggeser tubuhku untuk turun dari tempat tidur, namun belum sempat kakiku menyentuh lantai, tangan Mas Adnan dengan lembut menarikku kembali hingga aku berbaring di sampingnya, wajahnya yang tampan tersenyum manis menghiasi pagi itu. "Belum boleh pergi, masih pagi," bisikannya, membuatku tersenyum dan merasa hangat di hati."Gak enak mas, kayanya ibu udah sibuk di dapur," sahutku, mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Namun, Mas Adnan mengeratkan pelukannya, ia menyusupkan wajahnya di ceruk leherku, membuatku merasa merinding dengan jantung berdebar kencang.Ibu bisa masak sendiri, yang penting kamu istirahat dulu," gumamnya, napas hangatnya mengenai ku

  • Dimadu Saat Koma   Kehangatan Dibalik Air Mata

    Dara menangis seraya memegang nisan yang bertuliskan nama Karin. Aku dan Mas Adnan ikut berjongkok di sampingnya dan mencoba untuk tetap menenangkan Dara."Dala mau bilang sesuatu. Tapi kalau mama di dalam, kedengelan gak, ya?" gumamnya nampak bingung."Gak papa sayang, bilang aja. Insyaallah mama denger kok. Jangan lupa, doain mama juga ya, biar mama bisa masuk surga," ucap Mas Adnan lembut.Dara mengangguk seraya menyeka air matanya. Ia kemudian membenarkan posisi jongkoknya agar lebih dekat lagi dengan nisan Karin. Ia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya seolah ia ingin berbisik pada nisan tersebut."Mama, Dala udah ambil keputusan, Dala gak mau ninggalin bunda. Dala mau tinggal sama ayah dan bunda aja. Bukan Dala gak sayang mama, tapi... Kak Lila bilang yang lahilin Dala itu bunda, dan katanya lahilin itu sakiiiit banget, Dala jadi kasian sama bunda," ucap Dara terbata-bata.Aku lagi-lagi terkejut dengan kata-kata Dara barusan. Entah apa sebabnya dia sampai bicara seperti itu."K

  • Dimadu Saat Koma   Kepolosan Dara

    "Ayah, mama mana?" tanya Dara, suara kecilnya memecah kesunyian."Uhukk!" Aku dan Mas Adnan yang sedang menikmati makanan langsung terbatuk serentak, saling menatap dengan rasa tidak enak. Kami tahu saatnya Dara harus tahu, tapi aku masih bingung memilih kata-kata yang tepat."Sayang, sebenarnya mama ada di suatu tempat... mungkin Dara tidak bisa bertemu lagi dengan mama," Mas Adnan akhirnya berbicara, suaranya lembut dan hati-hati."Dimana yah? Jauh, ya?" tanya Dara polos, mata besarnya penuh rasa ingin tahu.Aku dan Mas Adnan tersenyum getir, lalu aku mengusap rambut Dara dengan lembut. "Iya, sayang. Mama ada di surga," jawabku, mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana."Mama pelgi kok gak bilang dulu sama Dala? Mama malah ya sama Dala?" gumam Dara, raut kecewanya terlihat jelas di wajahnya yang kecil. Aku merasa sakit hati melihatnya, kupeluk erat tubuhnya dan mencium pucuk kepalanya beberapa kali."Tapi Dara gak usah sedih. Ada ayah dan bunda yang akan selalu jagain D

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status