LOGINKakak, Done 3 bab buat hari ini. Buat besok, kalian sudah siap baca 4 bab sehari lagi, kan? Kalau nggak ada yang nungguin, ya 3 bab aja lagi deh sehari, wkwkwkw jangan lupa drop komen kalian, ya. Makasih.
Elvano bergegas naik ke lantai atas setelah mendengar desakan sang mama.Begitu masuk ke dalam kamar. Tatapan Elvano tertuju pada Kiran yang berbaring di ranjang masih memakai pakaian kerja.“Ki,” panggil Elvano pelan. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di tepian ranjang sambil menatap Kiran.Kiran menoleh ke Elvano, wajahnya memang sedikit pucat.“Ada apa?” tanya Kiran dengan suara malas.Elvano sedikit ragu bertanya, tetapi demi memastikan, Elvano lantas berkata, "Mama tanya, apa kamu sudah datang bulan?”Kiran menatap pada Elvano dengan kening berkerut dalam. Kiran diam beberapa detik, lalu perlahan bangkit dari tidurnya.Kini Kiran duduk bersandar headboard sambil menatap Elvano setelah mengingat siklus bulanannya. “Sepertinya memang belum datang. Harusnya tanggap sepuluh kemarin, ini sudah tanggal berapa?” Kiran segera mengecek kalender di ponselnya. Dia sudah terlambat datang bulan 5 hari.Mata Kiran membola lebar memandang Elvano, sampai dia berkata, “Apa Mama mengira kalau ak
Sampai di kantor, Kiran benar-benar tidak fokus bekerja. Badannya terasa melayang dan tidak bertenaga. Daripada memaksakan diri di balik meja kerjanya, Kiran melangkah pelan menuju sofa panjang di dalam ruangan Elvano, lalu merebahkan tubuhnya di sana.Elvano yang melihat istrinya mendadak berbaring langsung menghentikan pekerjaannya. Dia bangkit dan berjalan menghampiri sofa, lalu mendaratkan telapak tangannya di dahi Kiran."Kamu tidak demam, Ki. Tapi wajahmu pucat sekali," kata Elvano khawatir. "Beneran tidak mau ke dokter saja?"Kiran memejamkan mata sambil menggeleng pelan. "Enggak, El. Aku cuma kelelahan. Nanti juga hilang sendiri kalau dipake istirahat."“Tapi wajahmu agak pucat,” kata Elvano sambil menatap cemas.Kiran menggeleng pelan. Lalu dia membuka mata sedikit dan menatap suaminya. "El, aku mau buah. Tolong belikan buah segar, ya?"“Buah? Oke.” Elvano mengambil ponsel dari atas meja kerjanya, lalu kembali ke soda. "Aku pesankan sekarang," jawab Elvano cepat.Elvano lang
Elvano seketika menoleh dan menggeleng cepat. "Tidak! Aku belum izinin. Mana bisa aku kerja kalau tidak ada kamu yang dampingi? Bisa-bisa pekerjaanku berantakan semua."“Kalau kamu capek, kamu bisa hanya duduk di ruanganku. Entah kamu kerja atau tidak, yang penting bagiku kamu tetap di dekatku.” Elvano bicara dengan nada penuh keseriusan.Kiran tertawa geli mendengar jawaban panik suaminya. Dia merangkul lengan Elvano mesra sambil menyandarkan kepalanya. "Bercanda, El. Aku ‘kan hanya tanya, kenapa seserius itu, hm …." Senyum Kiran begitu lebar, apalagi saat merasakan usapan lembut tangan Elvano di pucuk kepalanya.“Aku pasti akan izinin kamu resign, tapi jangan sekarang. Aku masih ingin kamu menjadi asistenku, tidak ada staff yang bisa menhandle pekerjaanku dengan baik sepertimu.” Setelah bicara, Elvano mengecup pucuk kepala Kiran.Kiran menahan senyum mendengar ucapan Elvano, lalu dia berkata, “Sepertinya aku harus mengajukan kenaikan gaji, karena bosku ini, sangat menyukai kinerjak
Satu bulan kemudian.Hari acara pertunangan Noah dan Nindy pun tiba. Acara pertunangan itu diadakan sederhana di rumah keluarga Nindy atas permintaan kedua orang tuanya dan dihadiri kerabat dekat.Noah menatap Nindy yang tampak cantik dengan balutan gaun berenda dan make up sederhana yang sangat cantik.Setelah menyematkan cincin di jari Nindy juga sebaliknya, Noah mengecup lembut kening Nindy yang diikuti suara riuh tepuk tangan dari keluarga.“Masih tunangan, belum sah sebagai suami-istri, nantinya jangan kebablasan,” celetuk Aldo yang ikut hadir di acara itu.Elvano memukul pelan lengan Aldo yang bicara blak-blakan di depan banyak orang seperti ini.Mengundang tawa orang-orang yang mendengar perkataan Aldo, sampai membuat Nindy mengulum bibir sambil menunduk dengan kedua pipi merona.Setelah acara tukar cincin, keluarga dan tamu yang datang dipersilakan menikmati makanan yang sudah dihidangkan.Di sela-sela acara jamuan makan, Noah yang sedang berdiri menikmati hidangan tiba-tiba di
Nindy terkejut dan diam sambil mengunyah makanan di mulutnya ketika mendengar ucapan Kamila.Dia tidak tersinggung atau kesal karena belum apa-apa Kamila sudah mengatur soal pekerjaannya.Nindy justru mengulas senyum kecil lalu menjawab pelan. "Sebenarnya kerja juga capek, tapi aku juga tidak bisa kalau harus diam di rumah saja, Bibi."Kamila menatap Nindy lekat. "Kenapa? Kamu takut tidak punya penghasilan sendiri?"Nindy terkejut mendengar sambaran kalimat dari Kamila."Eh, bukan begitu, Bibi!" Nindy buru-buru menyanggah. Dia takut Kamila salah paham dan mengira dia sedang menuduh Noah tidak bisa mencukupi kebutuhannya kelak. Nindy pun buru-buru meluruskan alasannya. "Aku hanya sudah terbiasa bekerja. Kalaupun tidak kerja, aku maunya tetap ada kegiatan."Kamila tersenyum kecil mendengar balasan Nindy, lalu dia kembali bicara. "Kalau begitu resign saja. Nanti bikin kegiatan bersama Bibi. Banyak hal yang bisa dilakukan meski jadi ibu rumah tangga."Nindy seketika bingung dan panik menca
Nindy menggeleng sambil terus tersenyum. “Tidak, tidak untuk menyenangkan siapa pun, Bibi.”“Siapa yang tidak mengakui Noah tampan, tapi siapa juga yang berani mendekati pria dengan status tinggi sepertinya. Karena itu, meski tertarik padanya, aku mana berani mengakui itu.” Nindy meyakinkan kalau semua ucapannya benar-benar sebuah kejujuran yang dia miliki.Kamila diam beberapa detik mendengar ucapan Nindy, sampai senyum kecil terangkat di bibirnya.“Bibirmu manis sekali, hm ….” Tatapan Kamila berubah hangat ke Nindy. “Pantas saja Noah menyukaimu.”Meski masih ada senyum di bibirnya, tetapi Nindy tidak tahu apakah ucapan Kamila ini sebuah sindiran atau pujian untuknya.Sampai Kamila menggenggam telapak tangan Nindy, lalu menepuk-nepuk punggung tangan Nindy dengan lembut.“Aku senang kamu mau bersama Noah, setidaknya sebentar lagi dia akan menanggalkan status lajangnya di usianya ini.” Senyum Kamila merekah, begitu tulus dan hangat seperti saat pertama kali Nindy dan Kamila bertemu.Da







