MasukPunggung Kiran ditegakkan melihat Sabrina terkejut, apalagi wajahnya mendadak pucat.Setelah saling tatap sejenak dengan Elvano, Kiran kembali memandang Sabrina yang baru saja mengakhiri panggilan.“Sab, ada apa?” Kiran melihat kepanikan di wajah Sabrina.Sabrina menggigit bibir bawahnya, sebelum tatapannya tertuju pada Kiran.Dengan tatapan ragu, Sabrina bicara dengan suara lirih. “Ibu menghubungiku dan mengatakan kalau anak mantan suaminya datang meminta izin tinggal dengannya.”Bola mata Kiran membulat. “Tunggu, maksudnya? Anak mantan suami? Maksudnya anak lain dari ayahmu? Ayahmu yang pergi meninggalkanmu saat kecil karena berselingkuh?”Suara Kiran berat tertahan mengingat cerita yang pernah Sabrina katakan padanya.Sabrina mengangguk-angguk.“Entahlah, mau apa coba anak itu menemui ibuku? Sore ini mau tidak mau aku harus pulang dan memastikan sendiri. Jangan sampai dia datang hanya untuk menyakiti ibuku.” Jemari Sabrina mencengkram erat ponsel yang ada di tangannya.Kiran menoleh
Siang hari.Kiran masuk ke dalam ruang kerja Elvano setelah sebelumnya mengetuk pintu.Kiran berdiri di depan meja kerja Elvano sebelum bertanya, “El, siang ini tidak ada jadwal keluar perusahaan. Apa kamu mau dipesankan makanan?”Saat pandangan Elvano tertuju pada Kiran, tangannya bermasaan menutup berkas di atas meja.“Bagaimana kalau makan di luar?” tanya Elvano.Kiran tak sepakat.“Aku sudah lama tidak makan di kantin, aku mau makan di kantin perusahaan saja.” Senyum Kiran terangkat kecil setelah bicara, takut menolak ajakan Elvano, tetapi juga ingin dengan pilihannya sendiri.“Oke.” Elvano berdiri dari duduknya. “Kita ke kantin bersama.”Kiran mengangguk-angguk, senyumnya lebar mendengar Elvano menyetujui pilihannya.Mereka keluar dari ruangan bersama menuju kantin.Saat tiba di kantin.Semua tatapan langsung tertuju pada Elvano dan Kiran.Sebagai Presdir baru, tentu kedatangan Elvano di kantin sukses mencuri perhatian semua orang.Semua aktivitas makan para karyawan sampai terhe
Di rumah Bimantara.Yessica berdiri di depan cermin, mematut bayangan dirinya sambil merapikan setelan kerja yang sudah melekat di tubuhnya.Yessica terdiam, gerakan tangan yang mengangsur di permukaan pakaiannya perlahan turun ke sisi tubuhnya.Matanya menyorot begitu tajam, menembus ke pemikiran-pemikiran akan bayangan yang mungkin terjadi di masa depan.Yessica sudah memiliki semuanya.Tetapi semua ini, tak dia dapatkan begitu saja.Ada perbuatan yang harus dia bayar ketika Kiran kembali mendapat ingatan di masa kecilnya.“Tidak, aku tidak akan membiarkannya mendapat ingatannya lagi.”Yessica berpikir sangat keras.Adrian tidak bisa dia andalkan untuk mengikat Kiran.Noah sekarang juga mulai waspada padanya sejak kejadian di danau.Jadi, Yessica harus menjalankan rencana lainnya.Ketika Yessica masih termangu di depan cermin, suara ponsel mengejutkannya.Tatapannya berpindah ke atas meja, benda pipih itu terus bergetar.Melangkah pelan menghampiri meja, tangan Yessica kini menggapai
Noah dan Elvano duduk di depan teras rumah Kiran.Keduanya sama-sama diam, menatap lurus ke pagar kayu yang ada di sisi jalan.“Memang benar, selama ingatan Kiran belum kembali, kita tidak benar-benar bisa memastikan bagaimana sikap Yessica pada Kiran.” Elvano membuka suara setelah keheningan menyelimuti keduanya.Elvano menoleh pada Noah. Dia tatap Noah yang hanya diam.“Kesaksian teman-teman sekolahnya dulu bisa menjadi petunjuk jika feeling Kiran juga tidak salah. Apa kamu akan tetap membelanya?” Elvano kembali bicara.Noah mengembuskan napas kasar.“Membela tentu tidak jika Yessica memang sudah berbuat salah selama ini. Tapi untuk menyadarkannya, butuh lebih dari bukti-bukti yang sekarang dimiliki.” Noah akhirnya menoleh pada Elvano. “Aku akan meminta orang mengawasinya. Setiap sikap buruknya harus memiliki bukti kuat, dengan begini aku bisa meyakinkan orang tuaku untuk mengambil sikap.”Elvano mengalihkan pandangan ke depan. Bagaimanapun Yessica sudah terlalu lama tinggal bersam
Elvano duduk bersama Surya, Noah, dan Kiran. Dia mengajak semua orang ke ruang tamu agar bisa bicara dengan tenang.“Jadi, Kiran sudah mulai ingat masa kecilnya?” Noah memastikan, tatapannya penuh harap pada Kiran.“Tidak.” Kiran membalas cepat. “Aku hanya bermimpi, dan mimpi itu pun tidak terlalu aku ingat.”Kening Noah berkerut dalam.Tatapan Noah dialihkan pada Elvano. “Lalu, apa sebenarnya maksudmu ingin membicarakan soal Kiran?” Noah menatap penasaran.Elvano melirik pada Surya, sebelum dia berkata, “Aku dan Paman ingin tahu, bagaimana kejadian saat Kiran jatuh di sungai dulu? Mungkin saja, mimpi yang Kiran lihat, sebenarnya adalah masa lalunya?”Perlahan Noah menoleh pada Kiran yang duduk di samping Elvano.“Kamu bermimpi jatuh di sungai?” Noah memastikan.Kiran mengangguk, walau agak ragu, tetapi dia berkata, “Aku hanya ingat sedang melihat kupu-kupu, saat ingin berdiri, tiba-tiba ada yang mendorongku.”Mata Noah sedikit menyipit. Dia menarik ingatannya jauh ke kejadian saat Ki
Kiran tidak berani menebak.Namun, dilihat dari bagaimana cara Yessica bersikap yang membuat Kiran tak nyaman.Mungkin benar Yessica sebenarnya senang Kiran hilang.Ditambah, kejadian di danau. Kiran yakin Yessica sengaja?Kiran menatap ngeri pada Elvano karena pemikirannya sendiri. “El, apa menurutmu Yessica berniat membunuhku?”Elvano tersentak.Kalimat yang Kiran ucapkan benar-benar sangat menyeramkan.“Di danau, aku yakin Yessica ingin menenggelamkanku ke danau. Dia pasti tahu aku tidak bisa berenang, karena itu dia berniat menjatuhkanku ke air? Bisa saja seperti itu bukan?” Kiran mengungkap apa yang ada di benaknya, hal yang mengganggunya setelah kejadian di danau.“Aku juga merasa kejadian itu bukanlah sebuah candaan atau kebetulan.” Elvano diam sepersekian detik setelah bicara, sebelum kembali berkata, “Jika bukan karena kamu sigap mendorongnya lebih dulu. Sudah bisa dipastikan kamu yang jatuh ke danau.”Kiran menggigit bibir bawahnya.Pikirannya semakin bekerja ekstra.Jadi, s
Suasana mendadak tegang. Apalagi saat Kiran melihat Dania menatap tajam padanya. “Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Saya hanya–” “Aku tahu, mungkin kamu sulit percaya pada orang lain, apalagi posisimu sekarang bisa dibilang lebih tinggi dari staff lain di divisi pemasaran.” Dania memotong ucapan
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama







