로그인“Jangan ditahan,” bisik Salman ketika Annisa tampak menahan dirinya agar tidak mengeluarkan desahannya.Annisa memejamkan matanya saat ciuman Salman semakin dalam dan menuntut, perlahan ciuman itu menurun ke leher jenjang Annisa. Bahkan, tangan Salman bergerak cepat membuka kancing kemeja yang dikenakan Annisa.“Paman …” lirih Annisa pelan.“Iya,” jawab Salman terus mencumbu Annisa, ciumannya menyusuri telinga Annisa membuat Annisa semakin mengeratkan pelukannya.Salman begitu paham bagian-bagian sensitif yang bisa membangkitkan hasrat Annisa. Begitupun dengan Annisa yang selama ini sudah jarang disentuh oleh Ilham. Reflek seluruh bagian tubuhnya merespon ketika sentuhan lembut Salman mengenai kulitnya.Tanpa sadar, kemeja yang dikenakan oleh Annisa sudah terlepas, Salman terdiam menatap tubuh putih mulus Annisa yang begitu indah di depan matanya.Dua keindahan bagian atas tampak membusung memenuhi bra merah yang dikenakan Annisa. “Kamu sangat cantik,” puji Salman.Annisa masih memeja
“Tapi, Paman—““Aku hanya membantu kamu agar segera sembuh, Annisa,” potong Salman cepat.Annisa tidak bisa lagi membantah, tubuhnya terasa semakin dingin. Dan memang, ketika kulit Salman menyentuh kulitnya, ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Annisa bisa merasakan embusan nafas Salman, juga jantungnya yang berdetak cepat dan ia bisa mencium wangi tubuh Salman dalam jarak sedekat ini. Wangi yang cukup lembut tapi tegas, seperti sifat Salman.“Masih dingin?” tanya Salman setelah beberapa saat.Annisa tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.Salman mengeratkan pelukannya, tangannya mengelus pundak Annisa lembut. Pun dengan Annisa, ia membalas pelukan Salman.Saat ini, Annisa tidak lagi memikirkan hubungan antara Paman dan keponakan ipar juga model dan fotografer. Tubuhnya terasa begitu menggigil.Dari pelukan Salman, Annisa merasakan kehangatan. Pelan-pelan Annisa merasakan kehangatan mengaliri darahnya, mengantarkan rasa nyaman ke seluruh tubuhnya.Dalam hatinya
“Annisa!” panggil Salman.Lelaki itu berlari mendekat, mencoba menahan tubuh Annisa yang limbung. Hanya saja terlambat, Annisa sudah jatuh ke lantai.Salman meraih tubuh Annisa, mengangkatnya menuju sofa yang ada di studio. “Ada apa? Kamu sakit?” tanya Salman.Annisa tidak menjawab, ia mendengar tapi ia tidak kuat untuk menjawab. Lidahnya terasa kelu, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya lemah.Salman meraba kening Annisa, panas sekali. Ia mulai terlihat panik.“Annisa, kamu sakit? Kita ke dokter ya.”Salman benar-benar tidak tega melihat keadaan Annisa. Ia meraih kunci mobil dan siap menggendong Annisa. Pikirannya saat ini, apapun harus ia lakukan untuk membantu Annisa.“Paman…” suara Annisa lirih dan tangannya menahan tangan Salman.“Iya, Annisa.”“Tidak perlu ke rumah sakit, izinkan aku istirahat sebentar saja. Setelah agak baikan, kita bisa lanjutkan pemotretannya.” Akhirnya Annisa mengeluarkan suaranya, meskipun kelu dan lemah.Ia tidak ingin ke rumah sakit, ia tahu itu akan mere
"Kau berani ya?" tanya Dinda. "Kenapa takut?" Annisa yang kini sudah sepenuhnya terbangun menatap Dinda dengan tajam, entah kekuatan dari mana yang ia miliki. Biasanya, ia akan memilih diam dan menurut. "Baru bekerja sehari saja sudah sombong." "Aku bekerja sehari sudah bisa menyelamatkan keuangan butik," jawab Annisa yang membuat Dinda terdiam. Wajah Dinda memucat, ia tidak menyangka kalau ternyata Annisa tahu permasalahan di butik. Akhirnya, gadis itu melenggang pergi kembali ke kamarnya. Annisa menghela nafas berat. "Haacchim!" Annisa bersin-bersin, mungkin karena tubuhnya yang kedinginan akibat guyuran air oleh Ilham tadi. Tapi, sekalipun begitu, Annisa tetap memaksakan diri membersihkan semua yang berantakan. Saat ini, Annisa tahu dan sadar ia dimanfaatkan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya masih harus mengalah. Surat kepemilikan butik itu masih disimpan oleh Ilham. Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya selesai juga. Kepalanya terasa sangat sakit, be
"Ada apa, Mas?" tanya Annisa dengan setengah sadar. Matanya masih sangat mengantuk. Ia sudah lama tidak berlenggak lenggok di depan kamera, dan hari ini hari pertama ia kembali terkena cahaya kamera, tentu saja ia mengalami culture shock, sehingga ia merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa menggigil, tapi ngantuknya tidak bisa ditahan. "Hah? Kau tidak tahu apa salahmu?!" tanya Ilham berteriak. Ilham semakin kesal, apalagi Annisa terlihat hendak kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Aku salah apa?" Tanya Annisa. "Kau itu adalah istri, selayaknya sekalipun kau bekerja kau tetap melakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini! Kau bukan bos!" Bentak Ilham. Annisa bangun dan menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti." Mata Annisa menatap Ilham lekat, bagi Ilham itu adalah sinyal bahaya. Selama ini, Annisa tidak pernah berani menatapnya seperti itu. "Kau lihatlah, rumah ini berantakan. Kau pergi sejak pagi, orang maklum kalau kau tidak sempat beberes pagi hari. Tapi, saat pulang ke
"Apa yang kau katakan?" tanya Bu Rahma.Annisa tersenyum kecut. "Paman membeli ini untuk kalian, agar aku tidak perlu masak. Sebab, besok masih ada pemotretan.""Sombong! Kalau bukan karena Ilham, kau tidak akan kenal Salman!" ketus Bu Rahma."Iya, Ma."Annisa segera berlalu menuju kamarnya setelah meletakkan makanan itu diatas meja. Kata-kata Salman terngiang di kepalanya. 'Penjara'.Satu kata itu tidak bisa ia lupakan. Pernikahan mereka berdua sama-sama seperti penjara.Dan Annisa baru sadar itu sekarang, sebab ternyata selama ini bukan cinta, bukan pula sebuah ketaatan, melainkan Ilham ingin mengurung dirinya agar ia tidak tahu apa-apa.Ia tidak tahu keadaan butik yang sebenarnya, ia hanya menerima laporan lisan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, namun nyatanya keadaan butik sedang berdarah-darah.Ketika diimingi dengan uang milyaran rupiah, Ilham langsung membiarkan ia menjadi model."Kau mau kemana?" tanya Bu Rahma menghentikan langkah Annisa yang hampir masuk ke ka







