LOGINSuara gesekan sendok di cangkir kopi terdengar samar di kafe kecil dekat kampus.
Anita menatap jam tangannya. Sudah lewat dua puluh menit dari janji yang dibuat Dita. Di depannya, dua kursi di meja itu masih kosong kecuali secangkir latte yang mulai dingin. “Nit .…” Dita datang tergopoh-gopoh, wajahnya berseri-seri seperti seseorang yang baru saja menemukan harta karun. “Sorry, macet. Tapi—ya Tuhan, kamu akan sangat berterima kasih sama aku.” Anita menaikkan satu alis. “Aku akan berterima kasih sama kamu kalau kamu bawain uang satu tas.” Dita cengar-cengir. “Lebih dari itu. Aku bawain calon suami buat kamu.” Suaranya dibuat sepelan mungkin, tapi tetap cukup untuk membuat dua mahasiswa di meja sebelah melirik. “Dita!” Anita menatapnya tajam. “Tenang, Nit. Dia orang baik. Teman kuliah aku dulu. Kerja di perusahaan kontraktor, stabil, rajin ibadah, enggak suka dugem.” Dita menjelaskan cepat. Dan seolah sesuai aba-aba, seorang pria datang menghampiri. “Maaf, saya terlambat,” katanya sopan, tersenyum hangat. Perawakan pria itu tinggi, kulitnya sawo matang, berkacamata, dan sikapnya tenang—semacam versi ‘aman’ dari dunia pria. “Ini Raga,” ujar Dita bangga. “Teman kuliah aku, dan sekarang manajer proyek di Bandung Selatan.” Raga menunduk sopan. “Senang bertemu, kamu … Bu Anita.” Suaranya lembut tapi berwibawa, persis suara dosen bahasa Indonesia yang sedang membacakan sebuah novel. “Panggil saja Anita,” jawabnya datar. Mereka duduk. Dita pura-pura sibuk dengan ponselnya, memberi ruang untuk keduanya berbicara. Raga membuka percakapan dengan kalimat yang mengejutkan Anita. “Saya dengar dari Dita, Ibu—eh, kamu sedang mencari suami kontrak.” Anita meneguk kopinya, nyaris tersedak. “Iya betul,” gumamnya tanpa menatap wajah Raga, dia malu. Raga tersenyum kecil. “Saya enggak bermaksud menyinggung. Tapi saya tertarik mendengarnya. Maksudnya, menikah untuk syarat adopsi, bukan untuk cinta, ‘kan?” Anita mengangguk hati-hati. “Ya, tepatnya, menikah untuk legalitas hak asuh seorang anak.” “Anak kamu?” tanya Raga pelan. “Keponakan.” Raga menatapnya beberapa detik. “Saya paham. Tapi, kalau saya boleh tahu, apa yang kamu harapkan dari pernikahan itu?” Pertanyaan itu membuat Anita diam sejenak. “Aku cuma butuh status. Seseorang yang bisa menemaniku menjalani prosedur sosial dan administratif. Enggak lebih.” Raga mengangguk, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Saya bisa bantu, tapi… saya punya satu syarat.” Anita menatapnya, merasa waspada. “Apa?” Raga menatapnya lurus. “Selama menikah kontrak, saya ingin kita tetap tinggal serumah. Supaya terlihat realistis di mata orang lain.” Anita memutar cangkirnya pelan. “Tentu, karena nanti akan ada petugas yang mengecek apakah kita layak menjadi orang tua Nathan, tapi kita enggak tidur satu kamar.” “Begitu ya.” Raga tampak berpikir. “Seharusnya kita tidur satu kamar, kita harus membuat pernikahan ini terlihat nyata. Apalagi akan ada petugas yang mengecek kelayakan kita sebagai orang tua keponakan kamu, kita harus punya chemistry jangan sampai pernikahan kontrak kita terbongkar. Saya enggak mau dianggap menipu hukum.” Nada suaranya tenang, tapi entah kenapa Anita merasa risih. Ada sesuatu yang terlalu berlebihan, terlalu ‘bersyarat’ di antara kalimatnya. “Dan satu lagi,” lanjut Raga. “Saya enggak bisa janji enggak akan jatuh cinta sama kamu.” Raga tersenyum. Anita terbelalak. “Apa?” Raga menatapnya lembut, tapi terlalu cepat bagi Anita untuk merasa nyaman. “Saya enggak main-main. Saya udah lama enggak punya alasan untuk menikah. Tapi setelah dengar ceritamu, saya merasa mungkin takdir lagi ngasih aku kesempatan.” Anita meraih tasnya lalu bangkit dari kursi. “Takdir enggak seaneh itu, Raga. Dan aku enggak cari cinta. Terima kasih untuk waktunya.” Raga berusaha bangkit, tapi Dita buru-buru menahan. “Nit, tunggu dulu, dia—” “Sudahlah, Dit. Aku enggak bisa.” Anita melangkah pergi, meninggalkan dua pasang mata yang saling bertukar tatapan kecewa. Selalu seperti ini, Anita alergi jika ada pria yang mulai menyukainya. Di hari berikutnya, Anita benar-benar menepati niatnya. Dia mencoba semua cara yang masih masuk akal—dan beberapa yang bahkan nyaris di luar logika. Hari pertama, ia bergabung ke sebuah grup komunitas daring berjudul Single Professional Indonesia. Awalnya hanya berniat membaca, tapi setelah melihat beberapa profil yang mengaku “dewasa, serius, dan siap menikah,” Anita memutuskan menulis pengumuman singkat. “Mencari rekan laki-laki usia 27–35 untuk pernikahan kontrak selama 1 tahun 6 bulan. Tujuan: prosedur hukum hak asuh anak. Bukan untuk hubungan romantis.” Baru sepuluh menit, notifikasi pesannya sudah meledak. Sebagian besar isinya membuatnya menyesal pernah mengetikkan kalimat itu. “Kontraknya termasuk tidur bareng enggak?” “Kalau boleh tahu, mbak-nya cantik enggak?” “Saya tertarik, tapi nanti saya dapat apa?” Anita menutup ponselnya dengan wajah merah panas membara. “Manusia macam apa ini…,” desisnya frustrasi. Ia menghapus unggahannya seketika, lalu menutup laptop. Hari kedua, Dita menyarankan untuk ikut acara temu komunitas alumni kampus, yang kebetulan digelar di salah satu kafe ternama di Surabaya. Dita bahkan memaksa menemaninya, berdalih mungkin “ada kandidat normal di dunia nyata.” Tapi hasilnya tak jauh beda. Salah satu pria yang duduk di meja sebelah, baru sepuluh menit mengobrol, sudah dengan santai berkata, “Kalau cuma nikah kontrak, bisa sih. Tapi saya maunya bayaran dulu di depan. Tanda jadi gitu, biar enggak PHP.” Anita terdiam lama, memandangi pria itu dari ujung kepala sampai kaki, lalu bangkit sambil berkata datar, “Kalau mau cari duit, buka warung aja. Enggak usah jual martabat.” Dita sampai harus menarik tangannya keluar dari kafe sebelum tatapan semua orang beralih ke mereka. Hari ketiga dan keempat, dosen seniornya, Bu Mirna, mencoba membantu. Beliau mengenalkan Anita pada seorang pria—seorang pengusaha yang katanya “dewasa dan mapan.” Anita sempat berharap, mungkin kali ini ada titik terang. Namun begitu pertemuan dimulai, pria itu lebih sibuk memamerkan mobil dan apartemen barunya. Setiap kalimatnya selalu dimulai dengan kata “saya punya.” Dan puncaknya adalah ketika pria itu berkata, “Kalau kamu mau kontrak, boleh aja. Tapi ya… aku juga butuh keuntungan. Minimal, kamu harus mau ikut aku setiap ada acara.” Anita menatapnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. “Keuntungan?” katanya pelan. “Terima kasih. Tapi aku enggak jual diri.” Lalu ia berdiri dan pergi tanpa menoleh lagi. Hari kelima, ia mencoba biro jodoh daring yang katanya profesional. Setelah mengisi formulir panjang tentang data pribadi, pekerjaan dan tujuan pernikahan, ia dihubungi oleh seorang konsultan yang bersuara terlalu ceria untuk situasi seserius itu. “Oh, jadi ibu ingin menikah kontrak ya? Wah, unik sekali! Biasanya klien kami ingin yang permanen. Tapi bisa kok, kami punya paket Marriage Simulation 18 Months, cuma tiga puluh lima juta rupiah.” Anita memijat pelipis. “Terima kasih, Mbak. Tapi saya enggak sedang cari promo.” Menjelang hari keenam, Anita benar-benar kelelahan. Ia menatap layar ponsel berisi daftar nama-nama pria yang pernah dihubungi, sebagian belum dibalas, sebagian sudah ia blokir. Ada yang terlalu muda, mengajaknya nongkrong di co-working space. Ada yang terlalu agresif, mengirimkan pesan setiap jam. Ada pula yang bertanya tanpa malu, “Honor-nya berapa kalau jadi suami kontrak?” Setiap percakapan hanya menambah rasa getir di dada Anita. Bukan karena gagal mendapatkan pasangan, tapi karena kenyataan bahwa dunia ini lebih rumit dan dangkal daripada yang ia kira. Hari ketujuh mendekat dan waktu terasa semakin menekan dadanya membuat sesak. Ia duduk di meja makan, membuka laptop, membaca kembali email dari Dinas Sosial yang mengingatkannya tentang tenggat keputusan. Tangannya lemas, matanya menatap layar dengan pandangan kosong. “Jika dalam tujuh hari belum ada keputusan, hak asuh Nathan akan dialihkan ke panti asuhan.” Anita menutup laptop pelan, menunduk, lalu menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan. “Ya Tuhan…,” gumamnya lirih. “Apa memang harus begini?” Dalam keheningan malam, suara Nathan tiba-tiba terlintas di ingatannya—tawa kecil itu, suara yang memanggil mamanya dengan tatapan berbinar membuat hatinya mencelos. Ia mengingat kata-kata Yuli saat itu di rumah kedua orang tuanya. “Kalau Pak Rex mau menikah pura-pura, sebaiknya dengan bu Anita Rex saja. Jadi kalian berdua bisa merawat Nathan bersama.” Anita mengembuskan napas panjang, kepalanya bersandar di kursi. Matanya menatap langit-langit, bibirnya bergumam pelan tapi jelas, “Rex… ide itu gila. Tapi… mungkin cuma itu satu-satunya cara.”Bandung, lima tahun kemudian.Di suatu pagi, rumah putih gading itu tidak pernah benar-benar sunyi.Bukan karena suara televisi maupun suara musik dari radio.Tapi karena dua suara laki-laki kecil yang tidak pernah sepakat soal apa pun—kecuali satu hal yaitu siapa yang paling dekat dengan Mami.“Zhai curang!”“Enggak! Abang yang duluan!”Nathan—tujuh tahun, lebih tinggi, lebih logis, merasa paling benar—berdiri dengan tangan di pinggang.Zhaisan—lima tahun, rambutnya sedikit bergelombang seperti Rex waktu kecil—menggenggam mobil mainan seolah itu senjata pembelaan.Anita berdiri di dapur dengan apron luxury berbahan satin, berusaha menahan tawa.“Stop dulu,” katanya lembut tapi tegas. “Satu-satu cerita sama Mami, ada apa sebenarnya ini?”Nathan menunjuk adiknya.“Dia bilang Mami cuma punya satu anak.”Zhaisan menggeleng cepat.“Aku cuma bilang Mami paling sayang aku.”Anita pura-pura berpikir.“Hmm… Mami punya dua anak. Dua-duanya paling disayang.”Nathan menyipitkan m
Mobil berhenti perlahan di depan rumah putih kebanggaan mereka dan kali ini dengan satu napas tambahan di dalamnya.Pintu pagar yang terbuka pelan, seperti sebelumnya—seolah rumah itu memang menyambut anggota baru yang dinanti-nanti.Rex turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan hati-hati berlebihan. Ani turun dari tadi dan berdiri siap, tangannya refleks menahan napas ketika melihat box bayi diangkat keluar.“Pelan ya, Pak,” katanya otomatis, suaranya nyaris berbisik.“Pelan itu default sekarang,” jawab Rex tanpa bercanda. “Aku bahkan jalan kayak di sekolah yang sedang melaksanakan ujian Nasional.”Anita turun terakhir. Langkahnya masih pendek-pendek, satu tangan menopang perut, satu lagi menggenggam tas kecil. Begitu kakinya menginjak halaman, ia berhenti sebentar.Menghirup.Udara Bandung sore itu dingin dan bersih.Dan rumah itu—kini tidak lagi terasa seperti bangunan.Ia terasa seperti tujuan.Nathan melompat turun dari mo
Di kamar rumah baru itu, Anita terbangun dengan rasa nyeri yang tidak lagi bisa disangkal.Bukan nyeri tajam.Lebih seperti gelombang yang datang, pergi, lalu kembali dengan jeda yang makin pendek.“Pi,” panggilnya pelan.Rex yang sejak semalam setengah terjaga langsung bangkit. Rambutnya berantakan, kausnya kusut, matanya langsung fokus.“Kenapa? Kamu sakit? Perut?”Ia sudah meraih ponsel bahkan sebelum Anita menjawab.“Kontraksi,” ucap Anita singkat. Jujur. Tenang.Kata itu—kontraksi—jatuh seperti tombol panik.Rex berdiri terlalu cepat, hampir tersandung karpet.“Oke. Oke. Kita ke rumah sakit. Sekarang. Sekarang juga.”Ia mondar-mandir, mengambil tas yang sudah disiapkan sejak dua minggu lalu—kemudian membukanya lagi, memastikan isinya, menutupnya, membuka lagi.Anita memperhatikan suaminya dengan napas teratur, meski gelombang berikutnya datang dan membuat jemarinya menggenggam seprai.“Pi,” katanya lagi, lebih pel
Ruang pertemuan itu jauh lebih kecil dari ruang sidang pengadilan.Tidak ada palu.Tidak ada penonton.Hanya satu meja panjang, tiga kursi di satu sisi, dua kursi di sisi lain.Di balik meja, Deni dan Yuli duduk berdampingan, ditemani satu pejabat senior Dinas Sosial yang sejak awal hanya memperkenalkan diri sebagai Ibu Ratna. Tidak banyak bicara, lebih banyak mencatat.Anita duduk di kursi kiri.Rex di kanan.Nathan berada di ruang bermain kecil di samping—dipisahkan dinding kaca buram. Sesekali terdengar suara tawanya yang pelan, seperti latar yang kontras dengan ketegangan di ruangan ini.Map cokelat tebal tergeletak di hadapan Yuli.Di dalamnya terdiri dari laporan observasi rumah, laporan psikolog, catatan kunjungan mendadak, rekaman wawancara terpisah terutama tentang Anita.Yuli membuka map itu pelan.“Bu Anita,” katanya formal, suaranya datar tapi tidak dingin,“selama satu tahun enam bulan terakhir, kami melakukan observasi berkala terhadap pola pengasuhan Nathan.
Gerbang besi yang tinggi itu terbuka perlahan.Tidak berbunyi nyaring. Tidak dramatis. Hanya bergeser pelan, seperti memberi jalan bagi sesuatu yang memang sudah seharusnya masuk.Mobil berhenti tepat di depan rumah berwarna putih gading itu—rumah dua lantai dengan halaman luas yang rumputnya begitu rapih membuat iri tetangga. Matahari sore Bandung menyelinap di sela pepohonan, cahayanya jatuh lembut di jendela-jendela besar.Rex mematikan mesin mobil.“Sampai,” katanya sederhana.Anita menelan napas.Ada gugup dan takut. Tapi lebih seperti perasaan ketika berdiri di ambang sesuatu yang selama ini hanya berani dibayangkan.Nathan sudah lebih dulu membuka pintu, melompat turun dengan dinosaurus hijau di tangan.“Mbak, ini rumah kita.” Nathan memberitahu Ani. “Wah, bagus sekali,” sahut Ani takjub, memandang rumah baru yang besar dan mewah itu. Ani lantas turun dari kursi belakang, membawa tas kain besar berisi peralatan Nathan yang sengaja ia pegang sendiri.“Ya Tuhan … lua
Beberapa hari kemudian, rumah kontrakan itu terasa berbeda.Bukan karena isinya sudah banyak berkurang—melainkan karena setiap sudut kini punya kenangan yang sedang dikemas, dilipat, dan dipersiapkan untuk ditinggalkan dengan baik-baik.Pagi itu Bandung diselimuti kabut tipis. Udara dingin menyusup lewat jendela yang terbuka sedikit. Kardus-kardus cokelat sudah berjajar rapi di ruang tengah, diberi label tulisan tangan Ani dengan spidol hitam besar-besar:BUKU BU ANITAMAINAN NATHANDAPURPENTING – JANGAN DIBANTINGAni berdiri di tengah ruangan, tangan di pinggang, memandangi hasil kerjanya dengan ekspresi puas tapi juga sedikit sendu.“Di rumah ini banyak suka dukanya,” gumamnya. “Sekarang akan ditinggalkan padahal banyak sekali kenangan.”Anita yang sedang duduk di sofa pun tersenyum, melipat pakaian Nathan satu per satu. Perutnya belum terlalu terlihat besar, tapi geraknya sudah lebih pelan—lebih hat







