LOGIN
Anita Rajni Hanindya menatap gundukan tanah di depannya dengan perasaan campur aduk.
Air mata tak terbendung tapi dia tidak terisak, hanya diam dengan sorot mata kosong. Orang-orang mulai melantunkan ayat Al-Qur’an untuk mengiringi kepergian adik kandungnya. Hampir dua tahun Anira tidak pulang ke Bandung, semenjak dia harus merelakan Anwar-kekasihnya yang harus menikahi Ayu Dewi karena ternyata pria brengsek itu telah menghamili Ayu Dewi-adik kandung Anita sendiri. Anita hancur, apalagi setelah kedua orang tuanya malah memihak Ayu Dewi dan memintanya merelakan Anwar agar menjadi adik iparnya. Mana bisa? Dia dan Anwar telah menjalin kasih sejak SMP, meski jatuh bangun karena Anwar adalah anak orang terpandang yang tentunya keluarganya juga menginginkan Anwar menikah dengan wanita dari kalangan yang sederajat. Tapi sekarang pria itu juga sudah terbungkus kain putih dan dimakamkan di sebelah Ayu Dewi. Anwar dan Ayu Dewi meninggal karena kecelakaan mobil tunggal di jalan tol saat mereka hendak pergi liburan. “Sabar ya Anita …,” bisik bu Irma, tetangganya. Wanita paruh baya itu menangis tak tertahankan seolah ikut merasakan penderitaan Anita yang setahun lalu baru ditinggal kedua orang tuanya karena sakit lalu tahun ini harus kehilangan adik kandungnya, maka dengan begitu tinggal Anita sendiri di dunia ini. Sayangnya waktu kedua orang tuanya meninggal Anita tidak bisa pulang, dia sedang melanjutkan kuliah di London. Anita sangat cerdas, sejak kecil selalu jadi juara kelas dan kuliah S3-nya ke London adalah beasiswa, tidak sepeserpun kedua orang tuanya membiayai. Tidak jauh dari Anita berdiri, seorang pria juga tengah bersedih karena harus kehilangan sahabat sekaligus klien bisnisnya. Rex Alder Lazuardy terbang menggunakan helikopter dari Jakarta, rela meninggalkan rapat pagi ini demi untuk mengantar Anwar ke peristirahatan terakhirnya. “Ah brengsek lo, Anwar … proposal bisnis lo bagus banget padahal, gue enggak punya partner sekarang buat wujudin itu … karena hanya sama lo, baru gue percaya.” Rex membatin. “Permisi … permisi ….” Suara wanita terdengar lantang. Semua orang yang mengelilingi pusara Anwar terurai memberi jalan kepada seorang wanita paruh baya dan beberapa pria yang baru saja datang dengan pakaian mentereng, kontras dengan para pelayat kecuali Rex Alder Lazuardy tentunya. Wanita paruh baya itu menjadi pusat perhatian, dia berhenti di depan Anita. “Ini … dia kakaknya, serahkan saja anak itu sama dia … saya enggak mau darah keluarga kami tercemar orang miskin seperti mereka!” seru wanita itu sambil menunjuk Anira yang seketika mendapat gumaman tidak menyenangkan dari pelayat yang hadir. Lalu seorang pria dan wanita memakai pakaian dinas pemerintahan menatap Anita, yang wanitanya menggendong seorang bayi dengan perban di kepala. “Nathan … sini Nak, sama Ibu.” Bu Irma hendak menggendong Nathan tapi wanita dari dinas menjauhkannya. “Sebentar ya Bu, saya bicara dulu dengan keluarga korban.” Beliau menolak secara sopan. Anita terdiam, mengamati satu persatu orang-orang asing di hadapannya termasuk bayi tampan itu. “Saya serahkan Nathan sama kamu, Anita … Kamu urus yang bener, dia keponakan kamu …,” kata maminya Anwar. Anita menatap malas mami Linda, tidak ada lagi sopan santun nya bahkan dia sudah muak dengan kesombongan wanita itu. “Mami sudah bilang, jangan pacaran sama orang miskin nanti sial … tapi kakak kamu enggak percaya, begini ‘kan jadinya.” Mami Linda menyindir, bicara kepada dua adik-adik Anwar. “Permisi, Bu … ini pemakaman, Ibu kalau mau bikin onar silahkan ke lapangan sebelah sana.” Seorang pria paruh baya yang sangat dihormati di daerah itu angkat bicara. “Anda siapa?” Mami Linda bertanya dengan mata melotot kesal. “Saya ketua RT di sini,” jawab pak Ridwan tenang. “Jadi Anda yang memakamkan anak saya di sini tanpa persetujuan kami keluarganya?” “Miii ….” Rita, adiknya Anwar menarik tangan sang mami. “Betul, karena kami enggak tahu harus memakamkan Anwar di mana … kami tidak tahu keluarga Anwar.” Pak Ridwan menjelaskan. Mami Linda kehabisan kata, untung suaminya datang. “Maaf Pak, saya papinya Anwar … kami ingin anak kami dimakamkan di tempat yang lebih baik jadi tolong bantuannya untuk membongkar makam Anwar, saya juga bersama orang dari pemakaman yang akan membantu memindahkan.” Papi Firman lebih manusiawi. “Baik, Pak.” Tanpa drama, pak Ridwan pun menyanggupi. “Memangnya apa bedanya dimakamkan di sini dengan dimakamkan di pemakaman mahal kalian? Apa dimakamkan di sana anak kalian yang berzina dengan adik saya akan langsung masuk surga?” Suara Anita tercekat. “Astagfirullah … nyebut, Anita.” Bu Irma menasihati. Para pelayat pun berbisik-bisik, mereka tampak enggan beranjak dan menjadikan drama keluarga tersebut sebagai tontonan gratis “Saya mengerti kamu sakit hati karena Anwar berselingkuh dengan adik kamu, tapi enggak perlu membuka aib mereka … Ayu ‘kan adik kamu juga … dan lagi, kamu sama adik kamu mendekati anak kami pasti karena ingin hidup lebih baik, kan?” Pak Firman menatap Anita dari atas hingga bawa. Ternyata papi Firman sama saja dengan istrinya-Linda. “Sehina itu ‘kah kami di mata kalian?” Suara Anita bergetar. “Iya.” Dan mami Linda menjawab mantap.. “Memangnya kami juga enggak menganggap rendah kalian? Manusia seperti apa yang enggak mau mengakui cucunya? Dalam darah anak itu ada darah Anwar.” Anita menunjuk bayi dalam gendongan wanita berseragam dinas yang sedari tadi tertidur dengan mulut sedikit terbuka. “Halaaah, enggak usah banyak bacot … kita enggak peduli sama penilaian kalian.” Mami Linda mengibaskan tangannya. “Kamu urus dia, kami enggak mau punya keturunan darah campuran miskin.” Mami Linda menarik langkah melewati Anita sambil menyenggol bahunya membuat Anita mundur dan nyaris limbung, beruntung bu Irma berhasil menangkap Anita. Rombongan keluarga Anwar pun pergi sementara orang-orang dari pemakaman elit sedang membongkar makam Anwar dibantu tukang gali kubur di sana. Sedari tadi Rex hanya mengamati, dia sama sekali tidak tahu kalau Anwar menghamili adik dari kekasihnya. Yang Rex tahu kalau hubungan Anwar dengan Ayu-istrinya sangat harmonis dan bahagia meski Ayu memang banyak menuntut tapi Anwar mencintainya. Dan Rex tidak menyangka kalau kedua orang tua Anwar sangat sombong padahal dibanding dengan keluarga Lazuardy, kekayaan keluarga Anwar tidak sampai sepuluh persennya. “Bu Anita … bisa kita bicara?” Pria berpakaian dinas bertanya. “Tentang apa?” tanya Anira lelah. Saat itu Rex hendak melangkah meninggalkan pemakaman seperti yang lain. “Sebelum meninggal, pak Anwar menyebut nama Bu Anira dan pak Rex Alder Lazuardy sebagai orang tua angkat dari putranya.” Langkah Rex langsung berhenti. “Apa?!” seru Rex dan Anita bersamaan. Kedua orang dinas itu menoleh mencari asal suara Rex sementara Rex dan Anita saling memandang dengan sejuta tanya.Mobil melaju pelan meninggalkan area kampus.Rex menyetir dengan satu tangan, yang lain sesekali menepuk paha Nathan yang duduk di depan, tepat di pangkuan Anita.Bocah itu sibuk menunjuk kendaraan di luar jendela.“Mami … itu warna biru.”“Ih … Nathan pinter.” “Iya donk … ‘kan Mami yang kasih tahu, berarti Mami yang pinter.”Anita mengecup kepala Nathan.“Kalau itu warna apa?” Rex yang bertanya, menunjuk baliho di pinggir jalan.“Warna kuning!” Nathan menjawab lantang.“Yeaaay, Nathan pinter.” Kompak Anita dan Rex berujar demikian.Stevie yang duduk di kabin belakang mulai panas hatinya melihat keluarga cemara itu.Matanya tidak berhenti bergerak.Bukan sekadar melihat—melainkan memindai.Interior mobil itu sederhana, bersih, tidak mencolok. Tidak ada aroma parfum mahal berlebihan, tidak ada aksesoris pamer status. Hanya wangi ringan sabun bayi dan sedikit aroma kopi dari tumbler di cup holder.Stevie menelan ludah.Ini bukan mobil seorang Rex yang CEO dan anak Konglo
“Der, apa aku bisa pulang di jam makan siang nanti?” Rex bertanya tanpa menatap wajah sekretarisnya.Pria itu sedang sibuk menandatangani berkas.Deri terpekur sesaat.“Tapi Pak, ada meeting jam enam sore dengan Pak Deny.”Rex mendongak. “Iya, nanti aku balik lagi ke kantor setelah menjemput anak istriku dan mengantar mereka ke rumah.”“Oh bisa, Pak … mau saya bantu reservasi untuk makan siang?”Rex tersenyum. “Enggak usah, masakan istri saya lebih enak dan sehat.” “Baik, Pak.” Deri menganggukan kepala, meraih berkas yang sudah ditandatangani Rex kemudian undur diri dari ruangan sang CEO.Sepeninggalan Deri, Rex termenung sesaat masih memikirkan Stevie yang menjadi dosen tamu di universitas di mana Anita mengajar.“Kenapa dia jadi obsesi gini sama gue?” Rex bergumam, mengusak rambutnya kasar.Hanya satu yang Rex khawatirkan, Stevie mengganggu Anita dengan cara yang tidak bisa Rex bayangkan.Rex mengembuskan nafas panjang, dia meraih ponsel dan dompetnya kemudian bangkit da
Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit ketika pintu rumah terbuka perlahan.Rex masuk dengan langkah yang sudah ditahan—tidak lagi terburu, tidak juga ringan. Jasnya masih rapi, tapi bahunya turun sedikit, tanda lelah yang tidak perlu dijelaskan. Ia menutup pintu tanpa suara berlebih, menggantung jas di gantungan dekat pintu, lalu melepas sepatu dengan gerakan otomatis.Rumah itu sunyi.Sunyi yang nyaman.Wangi minyak telon.Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kecil Nathan yang berlarian. Hanya aroma jahe yang samar—hangat, menenangkan—mengalir dari arah dapur.Rex melongok ke ruang makan.Anita duduk di sana, mengenakan sweater tipis warna gading, rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh di pelipis. Di depannya dua cangkir teh jahe mengepul pelan. Laptopnya sudah tertutup, ponsel tergeletak terbalik di meja. Ia menoleh begitu menyadari kehadiran Rex.“Papi pulang,” ucapnya pelan, senyum kecil mengembang otomatis.Rex mendekat,
Siang di kampus selalu punya ritme yang berbeda.Tidak secepat pagi, tidak seberisik sore. Matahari berdiri tepat di atas gedung fakultas, membuat halaman tengah kampus terlihat terang—nyaris datar—seperti panggung yang siap mementaskan drama apa pun yang akan menjadi sorotan.Di ruang rapat kecil jurusan, beberapa dosen sudah berkumpul. Meja oval dipenuhi laptop, botol minum, dan catatan rapat yang tidak pernah benar-benar selesai meski rapatnya sering diulang.Anita duduk di sisi kanan meja, membuka laptopnya tanpa tergesa. Wajahnya tenang, profesional. Jika ada yang memperhatikan lebih lama, mungkin akan melihat satu hal kecil—ia lebih sering menarik napas dalam sebelum mengetik, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar ke permukaan.Pintu terbuka.Kepala jurusan masuk lebih dulu, diikuti oleh Stevie.Blazer krem itu masih sama. Potongannya tegas, jatuh rapi di bahu. Rambutnya disanggul rendah, sederhana tapi jelas bukan kebetulan. Sepatu hak rendahnya tidak berb
Pagi datang tanpa drama dan tumben sekali Bandung terasa lebih cerah dari biasanya padahal sekarang sedang musim penghujan.Atau mungkin hanya perasaan Anita yang sedikit lebih ringan setelah malam yang—jujur saja—membuatnya tidur nyenyak, sangat nyenyak.Anita berjalan menyusuri koridor kampus dengan map di tangan. Hari itu jadwalnya padat di mana dua kelas pagi, satu bimbingan mahasiswa, lalu rapat kecil jurusan. Rambutnya seperti biasa diikat rapi, blouse biru pucat dipadu blazer tipis—tampilan dosen yang sederhana tapi berwibawa.Ia tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi.Stevie berdiri di dekat papan pengumuman fakultas, mengenakan blazer krem dengan potongan sempurna, celana panjang senada, dan sepatu hak rendah. Tidak berlebihan. Tidak mencolok. Tapi aura kehadirannya langsung terasa—bukan karena status, melainkan karena kepercayaan diri yang sudah terbentuk sejak lama.Pandangan mereka bertemu.Tidak ada keterkejutan.Tidak ada kebencian.Hanya kesadaran bahwa per
Rex meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menekan punggung lebih dalam ke sandaran kursi kerja yang nyaman.Dia bukan berada di kantor tapi di rumah, tiba-tiba saja tadi papanya ingin melakukan rapat koordinasi dengan para CEO di anak perusahaan dan cabang melalui zoom meeting.Jadinya Rex harus bersembunyi dari Nathan di ruang kerja.Netranya melirik jam yang tergantung di dinding, waktu telah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit dan suara ocehan Nathan sudah tidak terdengar.Rex bangkit dari kursi kemudian berjalan ke luar ruang kerjanya.Di ruang televisi, Rex mendapati istrinya tengah berkutat dengan laptop.Televisi menyala namun tidak ada suaranya.Dan tidak ada Nathan bersama Anita seperti waktu dia tinggalkan untuk zoom meeting tadi memberinya keyakinan kalau Nathan sudah tidur.“Miii,” panggil Rex sembari mendekat.Anita yang duduk di lantai berkarpet kemudian menoleh.“Udah selesai meetingnya, Pi?” Dia pun bertanya.Panggilan







