Share

Bab 145

Penulis: Allina
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 11:47:12

Di sana, di samping keranda Emak, Shella masih duduk bersimpuh dengan posisi yang sama seperti saat aku tinggalkan tadi.

"Maksud Mbah si Shella?" tanyaku pelan, mataku terpaku pada sosok wanita kota itu.

"Iya, siapa lagi kalau bukan Neng geulis yang itu, dari tadi sore Mbah perhatiin dia nggak ada capeknya nemenin kamu," sambung Pak RT ikut menimpali pembicaraan. "Padahal kelihatan banget dia orang kaya, orang kota yang biasa hidup enak, tapi dia mau duduk di tiker pandan kasar, mau salaman sama warga yang tangannya kotor, bahkan tadi dia ikut bantu Paman Sudra beresin piring kotor."

"Sayang banget Emakmu nggak sempet lihat kamu nikah sama Neng itu, Le, padahal kalian itu serasi banget kalau dilihat-lihat," ucap Mbah Suratman dengan nada penyesalan yang tulus. "Yang satu gagah, yang satu ayu, persis kayak manten di gambar kalender."

"Iya, bener kata Mbah Suratman, Fli. Kelihatan banget mbaknya itu sayang setengah mati sama kamu," tambah Kang Ujang sambil membuang abu rokoknya ke tanah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 145

    Di sana, di samping keranda Emak, Shella masih duduk bersimpuh dengan posisi yang sama seperti saat aku tinggalkan tadi."Maksud Mbah si Shella?" tanyaku pelan, mataku terpaku pada sosok wanita kota itu."Iya, siapa lagi kalau bukan Neng geulis yang itu, dari tadi sore Mbah perhatiin dia nggak ada capeknya nemenin kamu," sambung Pak RT ikut menimpali pembicaraan. "Padahal kelihatan banget dia orang kaya, orang kota yang biasa hidup enak, tapi dia mau duduk di tiker pandan kasar, mau salaman sama warga yang tangannya kotor, bahkan tadi dia ikut bantu Paman Sudra beresin piring kotor.""Sayang banget Emakmu nggak sempet lihat kamu nikah sama Neng itu, Le, padahal kalian itu serasi banget kalau dilihat-lihat," ucap Mbah Suratman dengan nada penyesalan yang tulus. "Yang satu gagah, yang satu ayu, persis kayak manten di gambar kalender.""Iya, bener kata Mbah Suratman, Fli. Kelihatan banget mbaknya itu sayang setengah mati sama kamu," tambah Kang Ujang sambil membuang abu rokoknya ke tanah

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 144

    Jam dinding tua bertenaga baterai yang tergantung miring di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul dua dini hari lewat sedikit.Suasana di dalam rumah masih terasa ramai oleh gumaman doa yang tidak terputus, namun dadaku rasanya semakin sesak seolah oksigen di dalam ruangan itu perlahan habis disedot oleh kesedihan yang menggenang.Asap rokok kretek yang mengepul tebal di dalam ruangan bercampur dengan aroma kapur barus membuat kepalaku sedikit pening, memaksaku untuk segera mencari udara segar di luar sebelum aku benar-benar kehabisan napas.Aku bangkit perlahan dari posisi dudukku, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa mengganggu kekhusyukan para pelayat yang sedang membaca doa.Aku melangkahi kaki-kaki tetangga dengan sangat hati-hati, lalu berjalan menunduk menuju pintu depan yang terbuka lebar. Begitu kakiku menginjak lantai semen teras rumah yang dingin, angin malam yang membawa sisa-sisa uap hujan langsung menerpa wajahku yang sembap dan lengket.Di halaman depan y

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 143

    Pertanyaan frontal itu membuat jantungku berhenti berdetak selama satu detik, lidahku mendadak kelu dan kering.Aku bingung harus menjawab apa.Kalau aku bilang dia bosku, orang-orang pasti heran kenapa bos mau duduk di tikar kotor begini.Kalau aku bilang pacar, rasanya lancang sekali mengakui anak konglomerat sebagai calon istri sopir di depan mayat Emak."Anu, Bu... ini Shella, dia itu..." aku tergagap, mataku melirik panik ke arah Shella, takut dia tersinggung disebut calon istri orang kampung."Mamakmu pasti seneng banget kalau tahu kamu bawa pulang calon sebegini ayunya, Le. Pantesan Emakmu tenang perginya, ternyata anaknya sudah ada yang ngurusin, nemenin sampe kayak gini," potong Bu Yati tanpa menunggu penjelasanku, dia tersenyum lebar menampilkan giginya yang tinggal sedikit.Aku baru saja mau membuka mulut untuk meluruskan kesalahpahaman itu, tidak ingin Shella merasa tidak nyaman dengan anggapan tetangga.Namun, Shella justru melakukan hal yang tak terduga.Dia tidak menepi

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 142

    "Kenapa, Raf? Ada yang sakit?" tanyanya khawatir, tangannya langsung memegang dahiku."Nggak. Cuma mau bilang makasih. Kamu hebat banget ngadepin mereka," bisikku tulus, menggenggam tangannya yang ada di dahiku."Udah tugas aku, Sayang. Sekarang kamu fokus ngaji buat Emak ya. Jangan pikirin omongan orang," jawab Shella sambil tersenyum menenangkan, lalu dia mengambil buku Yasin yang tergeletak di meja dan membukakannya untukku.Jenazah Emak kini telah disemayamkan dengan tenang di ruang tengah rumah kami yang sempit dan berdinding anyaman bambu kusam.Sebuah keranda sederhana yang ditutupi kain hijau berenda emas diletakkan tepat di tengah ruangan, dikelilingi oleh para tetangga yang duduk bersila memenuhi setiap inci tikar pandan yang tergelar di lantai tanah yang sudah dipadatkan.Aroma kapur barus dan wewangian bunga melati yang baru ditabur mulai menyeruak ke seluruh penjuru ruangan, bercampur dengan aroma kopi hitam panas yang disajikan untuk para pelayat yang datang silih bergan

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 141

    Kami bertiga berjalan pelan menembus gerimis tipis menuju teras rumah, dengan posisi Shella berada di tengah memapah kami berdua laki-laki yang sedang rapuh. Kehadiran kami langsung menyita perhatian seluruh warga yang ada di sana.Mata para tetangga membelalak kaget melihat pemandangan yang sangat kontras ini. Mereka melihat mobil ambulans Alphard yang mewah mengkilap, mobil Fortuner hitam yang gagah, dan sosok wanita kota berkulit putih bersih yang memapah anak singkong sepertiku.Bisik-bisik tetangga mulai terdengar berdengung di antara suara jangkrik malam, mereka saling menyikut satu sama lain sambil menunjuk ke arah kami."Wih, liat tuh mobil jenazahnya. Itu kan mobil Alpard yang biasa dipake pejabat di TV," celetuk Pak RT yang berdiri paling depan sambil membetulkan letak pecinya yang miring."Iya, Pak RT. Mewah bener ya si Rafli pulang kampungnya. Itu mobil item di belakangnya juga gede banget," sahut Kang Ujang, pemuda desa yang biasa nongkrong di pos ronda."Eh, liat tuh cew

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 140

    "Paman takut, Le. Emakmu ngancem bakal pergi dari kampung kalau Paman bocorin rahasianya ke kamu," bela Paman Sudra lemah. "Paman cuma bisa bantu ngerawat sebisanya, beliin obat warung, mijitin punggungnya kalau lagi kambuh."Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan rasa malu dan penyesalan yang sudah tidak tertolong lagi ini."Maafin Rafli, Mak, Rafli nggak tau kalau pengorbanan Emak sampe segitunya..."Tangisanku pecah lagi di kursi belakang mobil mewah itu, kali ini bukan tangisan kehilangan, tapi tangisan penyesalan seorang anak yang merasa gagal total. Aku merasa sangat kotor, merasa tidak pantas duduk di mobil bagus ini, merasa tidak pantas memakai baju bersih ini.Shella yang sedari tadi diam mendengarkan semuanya dari kursi depan, perlahan mengangkat tangan kirinya dari persneling mobil. Tanpa menoleh ke belakang karena harus tetap fokus pada jalanan licin, dia mengarahkan tangannya ke celah antara dua kursi depan, menyodorkan telapak tangannya ke arahku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status