LOGINTak lama berselang setelah kami mendaki bukit kecil, sebuah bangunan kabin kayu sederhana mulai terlihat samar dari balik rimbunnya pepohonan pinus. Kabin kayu misterius tersebut memiliki arsitektur klasik zaman dulu.Tempat itu diterangi pencahayaan temaram dari sebuah lampu minyak tanah yang dibiarkan menyala di bagian teras depannya.Saat itu juga, aku langsung mengangkat kepalan tanganku ke udara. Itu adalah isyarat militer agar seluruh rombongan diam dan merendahkan postur tubuh mereka ke tanah yang lembap berbatu.Pandangan mataku yang setajam elang menyapu sekeliling area gelap, dari semak-semak hingga ke atap kabin. Aku harus memastikan tidak ada penjaga bayaran, anjing pelacak, atau sistem keamanan elektronik yang dipasang di luar sana."Kondisinya aman total, Bu. Nggak ada tanda-tanda pergerakan orang atau kamera CCTV di luar kabin," bisikku pelan ke arah Ibu Liora yang sedang berjongkok bersembunyi di balik pohon besar di sampingku.Setelah merasa yakin keadaan seratus pers
Karena melesat maju terlalu cepat tanpa halangan di sampingnya, mobil sedan hitam itu seketika kehilangan kendali secara total.“Mampus lu! Makan tuh beton jalanan, anjir!” umpatku buas saat melihat rencanaku membuahkan hasil yang telak.Mobil musuh itu oleng ke kiri dengan liar dan akhirnya menabrak pembatas jalan tol berbahan beton dengan kecepatan tinggi. Suara benturan logam saling beradu terdengar amat nyaring. Percikan api menyala terang di tengah kegelapan malam akibat gesekan besi dan aspal.Mobil pengejar pertama itu hancur berantakan dan terguling berkali-kali di tengah jalan raya, menyisakan kepulan asap hitam yang pekat.Setelah momentum itu tercipta dan menyisakan celah jarak yang lumayan jauh, aku kembali menginjak pedal gas dalam-dalam. Kendaraanku melesat meninggalkan sisa dua mobil pengejar di kejauhan malam.“Kita harus keluar dari jalan tol tolol ini, sebelum mereka manggil bantuan tambahan lewat radio!” putusku dengan napas terengah-engah.Aku langsung membanting s
Aku melangkah lebar dan melompat masuk ke balik kemudi utama. Aku membanting pintu mobil dengan keras dan menekan tombol starter seketika, membuat mesin V8 di bawah kap mobil mengaum buas dan menggetarkan sasis.Ibu Liora langsung membuka pintu depan dan duduk tegak di kursi penumpang tepat di sebelahku. Wajah wanita elegan itu sangat tegang, namun matanya memancarkan aura membunuh yang tajam.Sementara itu, Shella, Claudia, dan Sora berdesakan masuk ke barisan kursi belakang secara bersamaan. Mereka saling merapatkan tubuh dan menggeser posisi pinggul agar jok kulit tersebut muat menampung tiga orang sekaligus.Dari kaca spion tengah, ekor mataku menangkap posisi paha mulus Shella yang terbuka lebar menjepit tas ransel di pangkuannya. Pemandangan itu lagi-lagi membuat si Gatot berdenyut antusias tanpa tahu malu, tapi aku langsung membuang muka ke arah jalan.Kaki kananku menginjak pedal gas dalam-dalam tanpa ampun. Ban mobil SUV berukuran masif itu berdecit nyaring bergesekan dengan
"Ehh... sumpah, aku sampai agak pangling lihatnya," jawabku jujur, menelan ludah melihat transformasi radikal wanita di depanku.Claudia yang biasanya hobi memamerkan belahan dada dan paha mulusnya dalam balutan baju pesta ketat, kini terlihat sangat berbeda. Blazer putih gading berpotongan tegas itu membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna, memancarkan aura dominasi seorang pewaris perusahaan yang sesungguhnya.Kain celana bahan yang jatuh lurus ke mata kakinya justru membuat siluet pinggulnya terlihat semakin padat dan berisi. Penampilan tertutup ini anehnya malah memberikan daya tarik visual yang jauh lebih mematikan bagi kewarasanku."Berarti gue udah kelihatan kayak eksekutif muda yang siap bantai Mama di ruang rapat, kan?" tanya Claudia sambil berkacak pinggang, senyum congkak khasnya perlahan kembali menghiasi wajah cantiknya.Belum sempat aku memberikan pujian tambahan atau meredakan si Gatot yang mulai bereaksi tidak jelas di balik celana kargoku, sebuah gedoran keras meng
Pak Budi menghela nafas berat, kemudian menyalakan rokoknya. Sejenak, dia menghembuskan nafas, sebelum melanjutkan penjelasan akhirnya.“Nyonya Alika sering banget menangis sendirian di dalem ruangan kamar ini sambil memeluk guling tidur dengan pengerahan ukuran tenaga penuh. Beliau terus menerus menyalahkan kondisi kesehatan organ rahimnya yang selalu gagal menjaga wujud kelangsungan kehidupan sang janin."Suasana ruangan kamar remang-remang ini berubah menjadi semakin hening setelah mendengar penuturan sejarah medis tersebut. Adik-adik perempuanku berdiri mematung di atas permukaan lantai kayu mendengarkan fakta riwayat kesehatan mengenai ibu mereka. Aku terus menatap tajam ke arah dua bola mata Pak Budi menanti kelanjutan penggalan cerita masa lalunya malam ini."Terus apa letak garis hubungannya masalah keguguran rahim Mama Alika sama proses kelahiran raga bayiku dulu, Pak Budi?" tanyaku dengan memendam rasa penasaran yang amat sangat memuncak.Pak Budi menaruh lembaran kertas fot
Sekarang semua urusan masalah masa lalu itu udah ngebuka titik kebenarannya secara amat sangat jelas di depan retinaku.Semua rentetan kebingungan mengenai siapa sosok pria tua yang merawat rumput makam Ibu Sumiyati siang tadi akhirnya terjawab lunas total malam ini“Bapak bener-bener punya bentuk tindakan nilai kepedulian yang amat sangat luar biasa kuat buat menjaga kesejahteraan letak makam keluarga angkatku. Pertanyaan tentang identitas pihak misterius pengirim surat email tahunan ke alamat pesanku juga pasti terjawab pas sekarang. Bapak pasti merupakan agen yang selalu rutin ngirim laporan berkas pertumbuhan badanku ke daratan pulau terpencil sana tiap kali jadwal hari ulang tahunku datang.”“Tebakan hasil logika dari susunan pikiran Mas Rafli itu memiliki jumlah status kebenaran seratus persen pas tanpa ada kesalahan pemahaman,” balas Pak Budi sambil merapikan letak susunan kerah baju safarinya.Status perincian pekerjaan asli dari sosok tenaga sopir keluarga kami ini benar-bena







