Share

Bab 6

Penulis: Allina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 14:37:53

“Pu-putih, mulus, agak ramping, da-dan sedikit tepos! Ta-tapi, punggungnya bagus banget, sumpah, i-ini bidadari apa gimana? Tapi kok bidadari agak mungil kayak botol yakult?”

Nona Sora menunduk sedikit, satu kakinya dinaikkan ke atas kursi kecil berlapis beludru, sementara tangannya sibuk mengoleskan body lotion ke betisnya yang jenjang dan mulus bak pualam.

“Waduh Gusti… ini mata saya yang salah lihat atau memang bidadari lagi turun mandi? Kulitnya itu lho, merah-merah muda kayak bayi baru lahir, emang sih belahannya ga segede kakaknya, ta-tapi…”

Gerakan tangannya yang lambat dan sensual saat meratakan krim putih itu dari pergelangan kaki naik ke betis, lalu ke lutut, dan terus naik ke paha bagian belakang yang sedikit terekspos karena handuknya terangkat, benar-benar pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman ustad sekalipun, apalagi iman sopir sepertiku.

Aku terpaku di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu yang terbuka setengah.

Otakku memintaku untuk lari, tapi kakiku seolah dipaku ke lantai, dan mataku menolak berpaling dari pemandangan surga dunia di depan sana.

“Sumpah mati, iri kali aku sama krim putih yang lagi dia olesin itu. Krim itu beruntung banget bisa nempel, lumer, terus diratain tangan halusnya dari betis naik ke paha. Ah, sial, kenapa tangannya kenapa harus pelan banget sih geraknya?

Si Gatot yang tadi sempat tenang di perjalanan pulang, kini langsung bangun tegak, memberi hormat ala militer pada pemandangan indah di depannya.

Mungkin karena merasakan hembusan angin dingin dari pintu yang terbuka, atau mungkin insting wanitanya merasakan ada sepasang mata lapar yang sedang menelanjanginya, gerakan tangan Nona Sora tiba-tiba berhenti.

Dia menoleh perlahan ke arah cermin besar di depannya.

Dan di sana, di pantulan cermin yang sedikit berembun itu, mata kami bertemu. Mata bulat Nona Sora melebar kaget saat melihat sosok laki-laki berdiri di belakangnya dengan mulut ternganga.

"AAAA...!!!"

Mulut Nona Sora terbuka untuk menjerit.

Sadar kalau jeritan itu bisa memanggil Mbak Inem dan membuatku berakhir dipecat, refleksku kembali bekerja lebih cepat dari otakku.

Aku melompat masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu hingga tertutup kembali, lalu menerjang ke arah Nona Sora.

"Sssshhh!!! Jangan teriak, Nonaa, Ini saya, Ramli!" bisikku panik sambil membekap mulut mungilnya dengan telapak tanganku yang besar dan kasar.

Tubuh kami bertabrakan.

Nona Sora meronta kaget, membuat lilitan handuknya yang memang sudah longgar itu melorot sedikit di bagian dada, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus dan lembab.

Kami terkunci di dalam kamar mandi sempit yang penuh uap mawar.

Aku membekapnya dari belakang, sementara tubuh bagian depanku menempel rapat di punggungnya. Dan sialnya, si Gatot yang sedang keras-kerasnya itu menusuk tepat di bokongnya yang hanya terbalut handuk tipis.

Nona Sora berhenti meronta.

Matanya menatapku lewat pantulan cermin dengan napas memburu. Dia bisa merasakan dengan jelas benda keras yang mengancam di bagian belakang tubuhnya.

Tubuhnya menggeliat liar dalam kungkunganku, membuat gesekan antara tubuh kami semakin intens. Kulit punggungnya yang terekspos di atas garis handuk bergesekan dengan kancing seragamku, sementara bokongnya bergoyang gelisah tepat di area berbahaya.

Aku memejamkan mata, menahan desahan nikmat yang nyaris lolos dari tenggorokan.

Perlahan, aku membuka mata dan melihat pantulan kami di cermin besar yang berembun di depan sana. Dia melirik sedikit ke bawah, ke arah perutku yang menempel di punggungnya, lalu kembali menatap mataku.

Dia pasti merasakannya.

Dia pasti tahu ada sesuatu yang keras sedang menusuknya dari belakang.

Nona Sora mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pergelangan tanganku yang masih membekap mulutnya. Jari-jarinya yang halus dan hangat menggenggam tanganku, memberi isyarat lembut agar aku melepaskannya.

"J-jangan teriak ya, Non? Sumpah mati saya nggak niat ngapa-ngapain. Saya kira kamar mandinya kosong, saya cuma mau numpang mandi karena di belakang penuh," bisikku memohon tepat di samping telinganya, suaraku terdengar serak dan parau karena tenggorokan yang kering kerontang.

Nona Sora mengangguk pelan.

Begitu tanganku terlepas, Nona Sora tidak langsung berbalik.

"Kamu ngapain masuk sini?" tanyanya lirih.

"Anu, Non, i-itu, saya gerah banget habis nyuci mobil sama jemput Nona Claudia. Mau mandi di belakang, eh Mbak Inem lagi nyuci gorden. Saya pikir Nona Sora lagi kuliah di kamar atas, jadi saya inisiatif ke sini," jelasku terbata-bata.

"Mas Rafli, kamu tahu kan, kalau ini kamar mandi tamu? Kalau Mama atau Kak Shella tahu kamu di sini sama aku, nanti Mas Ramli dipecat gimana?"

"Non, tolong, jangan diaduin ya, saya masih butuh kerjaan ini buat pengobatan Emak di kampung," ratapku dengan wajah memelas paling maksimal.

"Boleh aja, aku nggak aduin," ucapnya pelan, lalu dia melangkah maju satu langkah kecil. Gerakan itu membuat ujung handuknya yang terselip di dada semakin longgar.

Dan benar saja, di depan mataku yang melotot nyaris keluar, lilitan handuk itu melorot turun sekitar lima sentimeter.

Pemandangan dua bukit putih yang menyembul malu-malu, dengan belahan yang dalam dan padat, terpampang jelas di depan mataku. “Mati aku, mati sumpah. Itu apa, yak! Itu beneran nggak sih? Putih, mulus, punel,  kayaknya pas digenggaman tanganku. Sialan! Jadi tegang lagi si Otongku yang pemalu!”

Aku menelan ludah kasar, jakunku naik turun tak terkendali. "Non, i-itu, handuknya…”

Nona Sora justru terkikik geli melihat kepanikanku, getaran tawanya membuat rambut basah Nona Sora turun, menutup bahunya yang mulus. "Kenapa? Kamu nggak suka lihat kayak gini? Atau kamu pura-pura polos aja, Mas?"

"Bukan nggak suka, Non! Suka banget… eh, maksudnya, nggak boleh lihat! Pamali kalau pelayan kayak saya lancang lihat punya majikan!" ralatku cepat, meski mata keranjangku sama sekali tidak mau berpaling dari pemandangan indah itu.

Si Gatot di bawah sana rasanya sudah mau meledak, berdenyut-denyut sakit karena dipaksa menahan hasrat di depan bidadari yang baru saja selesai mandi uap.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah ruang tengah, diikuti suara hak sepatu yang mengetuk lantai marmer.

Tak!

Tak!

Tak!

"Sora? Kamu di mana? Ini Kakak bawain buah yang kamu titip tadi," suara Nona Shella terdengar samar-samar, semakin lama semakin dekat ke arah kamar mandi tamu.

Wajah Nona Sora berubah panik seketika.

Kami berdua terjebak.

Kalau Nyonya Alika membuka pintu ini dan melihat kami berdua, tamatlah riwayatku sebagai manusia.

Nona Sora buru-buru menahan handuknya dengan satu tangan di dada, lalu matanya melirik ke sekeliling kamar mandi yang sempit itu. Tidak ada tempat sembunyi di kamar mandi ini, dan hanya ada shower box kaca transparan dan wastafel.

"Kunci pintunya!" perintah Nona Sora berbisik tajam.

Aku yang panik langsung memutar kunci slot pintu dengan tangan gemetar. Tepat sedetik kemudian, gagang pintu bergerak diputar dari luar.

Klik!

"Lho? Bentar? Siapa yang di kamar mandi tamu? Apa Sora ada di sana, yaa?” Nona Shella tampak kebingungan dan dia berdiri, tepat di depan pintu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Yudo Gunarto
asyik .. tegang ... hh tapi ... lanjutkan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 190

    "Jujur ya, Shell," aku berhenti gerak. "Ini agak seret. Kurang licin.""Seret?""Iya. Kulit ketemu kulit jadi perih lama-lama. Terus rasanya kurang ngejepit. Visualnya emang juara, tapi rasanya malah sakit, kurang pelicin.""Dasar banyak mau," gerutunya pelan. "Oke, aku kasih yang pasti enak. Awas kalau kamu komplain lagi."Shella mundur dikit, lalu natap batangku yang masih berdiri tegak. Perlahan, dia nundukin kepalanya. Rambut hitamnya jatuh nutupi sisi wajahnya. Dia buka mulut lebar-lebar, terus julurin lidahnya keluar.Tanpa aba-aba, Shella majuin wajahnya dan langsung lahap kepala Si Gatot dalam satu suapan besar."Oukh!" Aku kaget sampai punggungku melengkung ke belakang, tanganku reflek cengkeram sprei kasur.Rasanya berubah total.Dari yang tadinya kesat dan kering, sekarang jadi basah, anget, dan licin banget.Mulut Shella terasa sempit dan nyedot. Dia masukin kepala Si Gatot sampai ke tengah mulutnya, pipinya sampai kempot karena hisap kuat. Lidahnya di dalam sana langsung

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 189

    Satu kancing terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya.Dua kancing terbuka, memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda.Tiga kancing terbuka, dan piyama atasan itu meluncur turun dari bahunya, menyisakan pemandangan yang membuat darahku mendidih seketika."Baring di kasur, Raf. Sekarang," perintah Shella dengan nada dominan yang baru kali ini aku dengar, dia mendorong dadaku dengan kedua tangannya yang halus.Aku menurut, membiarkan tubuhku didorong mundur hingga bagian belakang lututku menabrak tepi tempat tidur, lalu aku menjatuhkan diriku ke atas kasur busa yang berdecit pelan.Shella tidak membuang waktu, dia segera naik ke atas kasur, merangkak di antara kedua kakiku seperti kucing liar yang sedang mengincar mangsanya."Biar aku yang kendaliin semuanya malem ini, kamu cukup nikmatin aja pelayanan dari adik tiri kamu ini," bisik Shella nakal, lalu tangannya bergerak lincah menarik celana kolorku ke bawah tanpa ragu sedikit pun.Tanpa banyak bicara lagi, Shella menundukkan ke

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 188

    Setelah tangisnya benar-benar reda, aku melepaskan genggaman tanganku, lalu mengubah posisi dudukku menjadi lebih santai namun serius."Sekarang, karena kamu udah ada di sini dan udah tenang, aku mau minta tolong satu hal yang sangat penting sama kamu," ucapku dengan nada suara yang berubah menjadi mode strategis. "Anggap aja ini tugas pertama kamu sebagai sekutu aku.""Tugas apa, Raf? Aku bakal lakuin apa aja asal bisa nebus rasa bersalah aku," tanya Shella antusias."Aku butuh kamu jadi mata-mata aku di dalem rumah induk," jawabku to the point. "Akses aku di rumah ini terbatas, aku nggak bisa sembarangan masuk ke ruang kerja Nyonya Alika atau ruang baca almarhum Pak Hermawan tanpa dicurigai. Tapi kamu bisa. Kamu punya akses bebas ke seluruh sudut rumah ini.""Mata-mata? Kamu mau aku cari apa?" Shella menegakkan punggungnya, siap menerima misi."Aku butuh kamu cari dokumen-dokumen penting yang mungkin disembunyiin Nyonya Alika. Cari tau di mana dia nyimpen sertifikat aset asli, cari

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 187

    Pukul sembilan malam, Nyonya Alika sudah masuk ke kamarnya dengan alasan sakit kepala dan butuh istirahat total, meninggalkan ketiga putrinya di ruang tengah untuk menikmati waktu santai tanpa pengawasan ketat sang ibu negara.Aku baru saja selesai membereskan dapur kotor di belakang ketika ponselku bergetar menerima pesan singkat dari grup chat orang rumah yang isinya perintah dari Nona Claudia.[Mas Rafli, bisa bawa naik popcorn caramel, keripik kentang, sama soda dingin yang banyak? Kita lagi nonton film, Mama udah tidur. Kalau Mas Rafli mau ikut, sini aja ga apa, Kak Shella yang minta Mas Rafli ikut, kok, jadi aman aja, kita juga seneng Mas Rafli bisa join ke sini.]Aku menghela napas panjang, melepas celemek dapurku, dan segera menyiapkan nampan besar berisi pesanan para majikan muda itu. Botol-botol soda dingin yang berembun, tiga mangkuk besar popcorn yang aromanya manis, dan beberapa bungkus keripik kentang impor sudah tersusun rapi di atas nampan.Begitu aku melangkah masuk k

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 186

    Shella memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang untuk menahan ledakan emosinya agar tidak memperkeruh suasana yang sudah panas. Dia sadar betul bahwa satu kata salah saja bisa membuat ibunya menggali lebih dalam, dan itu sangat berbahaya bagi misi kami."Demi Tuhan, Ma, nggak ada hubungan apa-apa. Mama jangan mulai nuduh yang enggak-enggak deh," jawab Shella dengan nada lelah yang sangat meyakinkan. "Sora cuma overthinking aja karena dia lagi capek kuliah, terus dia kaget karena aku tiba-tiba nanyain tugas dia. Dia nggak biasa diperhatiin, makanya dia curiga.""Tuh kan! Kak Shella selalu gitu! Selalu bilang aku overthinking!" potong Sora tidak terima, matanya kembali berkaca-kaca. "Aku tuh punya feeling, Ma! Aku ngerasa ada tembok gede yang misahin aku dari mereka berdua, padahal kita satu mobil!""Cukup, Sora! Hentikan omong kosong soal feeling dan tembok itu!" potong Nyonya Alika tegas, dia mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan. "Mama pusing dengarnya. Masalah

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 185

    Mata Shella bertemu dengan mataku di spion tengah. Aku melihat dia kehilangan kendali. Dia hendak mengatakan "saudara kita". Itu terlalu berbahaya. Sora belum siap, dan Nyonya Alika bisa menghancurkan kami jika Sora sampai bocor."Halah, sebenarnya aku itu korban curhat tukang bakso tadi, Non!" potongku cepat dengan suara lantang dan tegas, memutus kalimat fatal Shella sebelum terlambat.Sora dan Shella sama-sama menoleh kaget ke arahku."Hah? Maksudnya gimana, Mas?" tanya Sora bingung, alisnya bertaut."Iya, Non Sora. Tadi pas Nona masuk kampus, saya ngobrol sama tukang bakso di parkiran," lanjutku mengarang cerita dengan cepat, menyambungkan kisah bapak tadi sebagai alibi. "Tukang bakso itu cerita kalau hidup dia hancur karena nggak punya keluarga yang peduli. Makanya pas Non Shella saya bisikin tadi, Non Shella jadi sadar kalau kita harus baik sama semua orang, termasuk sopir. Gitu kan, Non Shella?"Shella terdiam sebentar, mencerna kode daruratku, menelan ludah, lalu mengangguk ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status