LOGIN“Pu-putih, mulus, agak ramping, da-dan sedikit tepos! Ta-tapi, punggungnya bagus banget, sumpah, i-ini bidadari apa gimana? Tapi kok bidadari agak mungil kayak botol yakult?”
Nona Sora menunduk sedikit, satu kakinya dinaikkan ke atas kursi kecil berlapis beludru, sementara tangannya sibuk mengoleskan body lotion ke betisnya yang jenjang dan mulus bak pualam.
“Waduh Gusti… ini mata saya yang salah lihat atau memang bidadari lagi turun mandi? Kulitnya itu lho, merah-merah muda kayak bayi baru lahir, emang sih belahannya ga segede kakaknya, ta-tapi…”
Gerakan tangannya yang lambat dan sensual saat meratakan krim putih itu dari pergelangan kaki naik ke betis, lalu ke lutut, dan terus naik ke paha bagian belakang yang sedikit terekspos karena handuknya terangkat, benar-benar pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman ustad sekalipun, apalagi iman sopir sepertiku.
Aku terpaku di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu yang terbuka setengah.
Otakku memintaku untuk lari, tapi kakiku seolah dipaku ke lantai, dan mataku menolak berpaling dari pemandangan surga dunia di depan sana.
“Sumpah mati, iri kali aku sama krim putih yang lagi dia olesin itu. Krim itu beruntung banget bisa nempel, lumer, terus diratain tangan halusnya dari betis naik ke paha. Ah, sial, kenapa tangannya kenapa harus pelan banget sih geraknya?
Si Gatot yang tadi sempat tenang di perjalanan pulang, kini langsung bangun tegak, memberi hormat ala militer pada pemandangan indah di depannya.
Mungkin karena merasakan hembusan angin dingin dari pintu yang terbuka, atau mungkin insting wanitanya merasakan ada sepasang mata lapar yang sedang menelanjanginya, gerakan tangan Nona Sora tiba-tiba berhenti.
Dia menoleh perlahan ke arah cermin besar di depannya.
Dan di sana, di pantulan cermin yang sedikit berembun itu, mata kami bertemu. Mata bulat Nona Sora melebar kaget saat melihat sosok laki-laki berdiri di belakangnya dengan mulut ternganga.
"AAAA...!!!"
Mulut Nona Sora terbuka untuk menjerit.
Sadar kalau jeritan itu bisa memanggil Mbak Inem dan membuatku berakhir dipecat, refleksku kembali bekerja lebih cepat dari otakku.
Aku melompat masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu hingga tertutup kembali, lalu menerjang ke arah Nona Sora.
"Sssshhh!!! Jangan teriak, Nonaa, Ini saya, Ramli!" bisikku panik sambil membekap mulut mungilnya dengan telapak tanganku yang besar dan kasar.
Tubuh kami bertabrakan.
Nona Sora meronta kaget, membuat lilitan handuknya yang memang sudah longgar itu melorot sedikit di bagian dada, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus dan lembab.
Kami terkunci di dalam kamar mandi sempit yang penuh uap mawar.
Aku membekapnya dari belakang, sementara tubuh bagian depanku menempel rapat di punggungnya. Dan sialnya, si Gatot yang sedang keras-kerasnya itu menusuk tepat di bokongnya yang hanya terbalut handuk tipis.
Nona Sora berhenti meronta.
Matanya menatapku lewat pantulan cermin dengan napas memburu. Dia bisa merasakan dengan jelas benda keras yang mengancam di bagian belakang tubuhnya.
Tubuhnya menggeliat liar dalam kungkunganku, membuat gesekan antara tubuh kami semakin intens. Kulit punggungnya yang terekspos di atas garis handuk bergesekan dengan kancing seragamku, sementara bokongnya bergoyang gelisah tepat di area berbahaya.
Aku memejamkan mata, menahan desahan nikmat yang nyaris lolos dari tenggorokan.
Perlahan, aku membuka mata dan melihat pantulan kami di cermin besar yang berembun di depan sana. Dia melirik sedikit ke bawah, ke arah perutku yang menempel di punggungnya, lalu kembali menatap mataku.
Dia pasti merasakannya.
Dia pasti tahu ada sesuatu yang keras sedang menusuknya dari belakang.
Nona Sora mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pergelangan tanganku yang masih membekap mulutnya. Jari-jarinya yang halus dan hangat menggenggam tanganku, memberi isyarat lembut agar aku melepaskannya.
"J-jangan teriak ya, Non? Sumpah mati saya nggak niat ngapa-ngapain. Saya kira kamar mandinya kosong, saya cuma mau numpang mandi karena di belakang penuh," bisikku memohon tepat di samping telinganya, suaraku terdengar serak dan parau karena tenggorokan yang kering kerontang.
Nona Sora mengangguk pelan.
Begitu tanganku terlepas, Nona Sora tidak langsung berbalik.
"Kamu ngapain masuk sini?" tanyanya lirih.
"Anu, Non, i-itu, saya gerah banget habis nyuci mobil sama jemput Nona Claudia. Mau mandi di belakang, eh Mbak Inem lagi nyuci gorden. Saya pikir Nona Sora lagi kuliah di kamar atas, jadi saya inisiatif ke sini," jelasku terbata-bata.
"Mas Rafli, kamu tahu kan, kalau ini kamar mandi tamu? Kalau Mama atau Kak Shella tahu kamu di sini sama aku, nanti Mas Ramli dipecat gimana?"
"Non, tolong, jangan diaduin ya, saya masih butuh kerjaan ini buat pengobatan Emak di kampung," ratapku dengan wajah memelas paling maksimal.
"Boleh aja, aku nggak aduin," ucapnya pelan, lalu dia melangkah maju satu langkah kecil. Gerakan itu membuat ujung handuknya yang terselip di dada semakin longgar.
Dan benar saja, di depan mataku yang melotot nyaris keluar, lilitan handuk itu melorot turun sekitar lima sentimeter.
Pemandangan dua bukit putih yang menyembul malu-malu, dengan belahan yang dalam dan padat, terpampang jelas di depan mataku. “Mati aku, mati sumpah. Itu apa, yak! Itu beneran nggak sih? Putih, mulus, punel, kayaknya pas digenggaman tanganku. Sialan! Jadi tegang lagi si Otongku yang pemalu!”
Aku menelan ludah kasar, jakunku naik turun tak terkendali. "Non, i-itu, handuknya…”
Nona Sora justru terkikik geli melihat kepanikanku, getaran tawanya membuat rambut basah Nona Sora turun, menutup bahunya yang mulus. "Kenapa? Kamu nggak suka lihat kayak gini? Atau kamu pura-pura polos aja, Mas?"
"Bukan nggak suka, Non! Suka banget… eh, maksudnya, nggak boleh lihat! Pamali kalau pelayan kayak saya lancang lihat punya majikan!" ralatku cepat, meski mata keranjangku sama sekali tidak mau berpaling dari pemandangan indah itu.
Si Gatot di bawah sana rasanya sudah mau meledak, berdenyut-denyut sakit karena dipaksa menahan hasrat di depan bidadari yang baru saja selesai mandi uap.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah ruang tengah, diikuti suara hak sepatu yang mengetuk lantai marmer.
Tak!
Tak!
Tak!
"Sora? Kamu di mana? Ini Kakak bawain buah yang kamu titip tadi," suara Nona Shella terdengar samar-samar, semakin lama semakin dekat ke arah kamar mandi tamu.
Wajah Nona Sora berubah panik seketika.
Kami berdua terjebak.
Kalau Nyonya Alika membuka pintu ini dan melihat kami berdua, tamatlah riwayatku sebagai manusia.
Nona Sora buru-buru menahan handuknya dengan satu tangan di dada, lalu matanya melirik ke sekeliling kamar mandi yang sempit itu. Tidak ada tempat sembunyi di kamar mandi ini, dan hanya ada shower box kaca transparan dan wastafel.
"Kunci pintunya!" perintah Nona Sora berbisik tajam.
Aku yang panik langsung memutar kunci slot pintu dengan tangan gemetar. Tepat sedetik kemudian, gagang pintu bergerak diputar dari luar.
Klik!
"Lho? Bentar? Siapa yang di kamar mandi tamu? Apa Sora ada di sana, yaa?” Nona Shella tampak kebingungan dan dia berdiri, tepat di depan pintu.
“Logikanya, fakta ini ga bisa diterima mentah-mentah, Shella. Kelakuan kasar wanita itu ke badanku selama puluhan tahun ini bener-bener berbanding terbalik seratus persen sama arti tulisan sayang di kertas ini. Aku bener-bener butuh dapet penjelasan pasti soal asal-usul status anak kandung dari mulut orang tua kita secepatnya. Lembaran foto ini murni ngasih bukti nyata kalau Nyonya Alika punya keterlibatan langsung sama proses pertumbuhanku dari umur bulan. Fakta ini beneran bikin kepala aku kerasa pusing banget mikirin semua hitungan kemungkinannya sekarang.”“Kamu simpan aja lembaran foto ini ke dalem saku celana kamu dulu, Mas Rafli.” Sora merapikan sisa tumpukan album lainnya di atas karpet.Tiba-tiba saja, semua aliran lampu penerangan di dalam rumah mewah ini padam secara amat sangat total. Kegelapan berwujud amat pekat langsung menyelimuti seluruh area ruangan tengah ini secara seketika. Suara langkah kaki berukuran berat mendadak terdengar bergerak amat jelas dari arah lantai
Sora tarik nafas dalam-dalam, sebelum melanjutkan kecurigaannya yang makin jelas.“Senyuman dua belah bibir Mama Alika di gambar ini beneran kelihatan murni penuh rasa kasih sayang seorang ibu lho. Wujud muka beliau bener-bener beda jauh banget sama wujud muka galak Mama Alika yang sering kita lihat marah-marah tiap hari di bangunan rumah ini. Beliau di dalem gambar foto ini kelihatan murni kayak sosok ibu yang amat sangat menyayangi badan anak kecil. Bayi cowok yang lagi digendong aman sama tangan Mama Alika ini siapa nama aslinya emangnya? Aku sama sekali belum pernah lihat wujud muka bayi cowok mungil ini di dalem lingkungan rumah kita.”Aku terus memfokuskan pandangan bola mataku untuk memperhatikan garis tarikan senyuman wanita di dalam lembaran foto tua tersebut.Mataku sama sekali tidak menemukan gurat kebencian atau bentuk kekejaman seperti yang biasa kulihat setiap hari dari raut muka perempuan paruh baya itu. Suasana interaksi obrolan di ruang tengah ini otomatis berubah men
Aku dan Shella segera melangkahkan alas sepatu keluar dari dalam ruang kabin kendaraan hitam ini. Kami berdua berjalan beriringan melewati area lantai teras bawah menuju arah letak bukaan pintu masuk rumah. Aku sengaja memilih jalur masuk ke dalam ruangan melalui pintu samping yang terhubung langsung dengan area wilayah dapur.“Wah, ada wujud bau harum masakan sup daging ayam yang langsung masuk menyengat saluran hidungku,” ucap Shella sambil menghirup udara ruangan dapur tersebut dalam-dalam.“Iya, aroma bumbu kuah ayam ini beneran bikin perut aku bunyi keroncongan minta diisi sepiring nasi putih sekarang,” sahutku menyetujui pernyataan lisan saudara perempuan tiriku itu.Kami berdua disambut secara langsung oleh aroma masakan lezat yang amat menggugah selera rasa lapar di bagian organ pencernaan ini.Aku melangkahkan kaki berjalan mendahului postur tubuh Shella melewati area lantai dapur bersih menuju arah ruangan tengah rumah. Mataku otomatis menangkap pemandangan dua orang perempu
Pada area tanah lahan parkir depan gerbang makam, aku baru saja membuka daun pintu mobil. Aku dan Shella langsung mendudukkan postur badan di atas bantalan kursi mobil secara amat bersamaan.“Akhirnya punggungku bisa nyandar empuk juga di kursi mobil ini.” Shella meregangkan kedua lengan tangannya ke atas.“Sabuk pengaman kamu tolong ditarik dan dipasang rapi ke lubang penguncinya ya, Shella.” Aku menarik sabuk pengaman milikku sendiri melintasi area dada.Kuambil anak kunci logam dari saku celana dan memutarnya di dalam lubang kemudi. Rafli menyalakan mesin mobil dan segera memasukkan tuas persneling ke gigi transmisi pertama. Kendaraan sedan hitam ini mulai melaju pelan meninggalkan area perkampungan asri untuk jadwal pulang ke rumah utama.“Jalanan aspal desa ini udah mulai kelihatan gelap gara-gara matahari mau terbenam total. Kamu pasti ngerasa capek banget habis ngelewatin semua rentetan jadwal kegiatan panjang kita hari ini. Kita berdua bakal langsung mandi air hangat aja pas u
Pada area daratan yang berbeda, posisi lututku masih terus menempel di atas tanah merah yang lumayan basah ini.“Semua urusan pelafalan doa kita udah selesai sore ini.” Aku berdiri meluruskan posisi kedua lutut kakiku.“Aku juga ngerasa lega banget sehabis ngirim bacaan surat doa barusan. Hati kamu pasti udah jauh lebih tenang sekarang kan? Ayo kita berdua langsung jalan kaki balik ke arah mobil sedan hitam kamu itu. Udara sore di kuburan ini makin kerasa dingin kena kulit lenganku.”Kutarik pergelangan tangan perempuan itu secara perlahan untuk melangkah menjauhi area gundukan tanah makam tersebut. Dia mengajak Shella kembali ke mobil sedan yang terparkir jauh di dekat area gerbang. Kami berjalan menyusuri jalan setapak tanah merah menuju arah letak aspal jalan raya.“Hati-hati pas nginjak tanah becek di sebelah situ ya, Shella.” Aku menunjuk sebuah genangan air cokelat di depan kami.“Iya, aku udah merhatiin letak genangan lumpur basah itu dari tadi kok. Aku bakal injak sisi tanah y
Di saat yang sama, Pak Budi berjalan cepat menuju mobilnya sambil memegang telinga kanannya. Pria berpakaian kemeja safari gelap itu terus menekan daun telinganya menggunakan dorongan ujung jari telunjuk kiri tanpa putus.Setelah mendapatkan saluran sinyal yang stabil, pria paruh baya itu mulai membuka tarikan kedua bibirnya untuk memproduksi suara.“Halo, apa sambungan suaraku dari alat komunikasi ini sudah masuk stabil ke dalam sistem perangkat markas besar di pulau sana?” ucap Pak Budi dengan suara sangat pelan melapor kepada seseorang di seberang sana.“Gelombang suara kamu sudah berhasil masuk ke telingaku dengan tingkat volume pendengaran yang amat sangat jernih, Budi.” Sebuah keluaran suara berat seorang pria dewasa langsung membalas dari balik perangkat alat pengeras suara mungil tersebut.“Saya mau ngasih laporan perkembangan situasi keamanan wilayah secara langsung dari area lapangan aspal desa pinggiran sore ini. Elang sudah berada dalam pantauan pengawasan kedua mata saya







