Share

Bab 5

Penulis: Allina
last update Tanggal publikasi: 2025-12-05 12:39:54

CIIIIIIT!

Mobil berhenti mendadak dengan jarak hanya beberapa sentimeter dari bodi bus yang gila itu. Guncangannya cukup keras karena pengereman darurat.

Tubuh Nona Claudia terlempar ke depan karena dia tidak memakai sabuk pengaman dengan benar, tapi untungnya airbag tidak meledak.

Namun, karena panik dan ketakutan setengah mati melihat bemper bus di depan matanya, Nona Claudia secara insting mencari pegangan.

Dan pegangan terdekat adalah aku.

"Mamaaa!!!" jeritnya sambil melemparkan tubuhnya ke arahku.

Kedua tangannya memeluk lengan kiriku erat-erat, wajahnya dibenamkan ke bahuku. Dan yang membuat napasku tercekat seketika bukan karena hampir tabrakan, melainkan sensasi bantalan empuk yang menghantam lengan atasku.

Dada Nona Claudia yang sintal dan padat di balik crop top ketat itu menekan telak otot bisepku. Rasanya begitu lembut, kenyal, dan hangat, apalagi guncangan mobil tadi membuat posisinya semakin menekan ke dalam, seolah dia berusaha menyatukan tubuhnya denganku saking takutnya mati muda.

"Non... Nona..." panggilku kaku, seluruh ototku menegang, termasuk otot di antara kedua pahaku yang langsung bereaksi keras terhadap stimulus dadakan ini.

"Sudah aman, Non. Nggak kena, kok, kita masih idup.”

Nona Claudia tidak melepaskan pelukannya. Dia justru semakin erat meremas lenganku, isak tangis ketakutan mulai terdengar.

Dari sudut pandangku yang menyamping, aku bisa melihat belahan dadanya yang tertekan di lenganku, kulitnya yang putih mulus terlihat begitu menggoda iman.

"Aduh, mati aku," batinku putus asa. "Kalau begini terus, bisa-bisa rem tangan mobil bukan satu-satunya batang yang menegang di mobil ini."

Detik demi detik berlalu, namun pelukan eratnya di lengan kiriku tak kunjung lepas.

Kalau saja situasi ini terjadi di kondisi normal, mungkin si Gatot sudah meledak kegirangan dan syukuran tujuh hari tujuh malam. Tapi masalahnya, nyawaku baru saja hampir melayang diseruduk bus kota.

"Non, Nona Claudia, Nona tidak apa-apa?" panggilku lagi, kali ini sedikit menggoyangkan lenganku pelan karena rasanya darah di tangan kiriku sudah mulai berhenti mengalir saking eratnya dia memeluk.

Perlahan, Nona Claudia mengangkat wajahnya dari bahuku.

Matanya yang sedari di rumah tadi menatap sinis dan penuh hinaan, kini terlihat bulat sempurna, basah oleh air mata, dan menyiratkan ketidakpercayaan.

Sadar akan posisinya yang terlalu intim dengan sopir kampung yang baru saja dia hina, Nona Claudia tersentak kaget. Dia langsung melepaskan pelukannya dan memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak pintu mobil.

"Lo... lo nggak apa-apaian gue kan?!" tuduhnya panik sambil menyilangkan tangan menutupi dadanya, mekanisme pertahanan diri tsundere-nya langsung aktif kembali.

Aku menghela napas panjang, berusaha menetralkan degup jantung dan rasa nyeri nikmat di bawah perut. "Ya ampun, Non. Tangan saya dari tadi di setir sama rem tangan. Nona sendiri yang loncat meluk saya kayak koala. Kalau saya lepas tangan buat apa-apain Nona, kita udah jadi rempeyek di kolong bus tadi. Mau Nona digeprek sama bemper bus?"

Nona Claudia terdiam, jelas sekali kalau dia ingin memakiku, tapi fakta bahwa aku baru saja menyelamatkan nyawanya dengan refleks tingkat dewa. Dia tahu betul, sopir amatir pasti akan panik dan membanting setir sembarangan atau malah telat ngerem.

Tapi aku, Rafli si anak desa, berhasil menghentikan mobil ini dengan presisi milimeter.

"Hmm... oke, thanks ya. Abis ini lo balik aja, awas aja kalau lo cerita-cerita soal gue teriak tadi ke Mama atau kakak gue. Sumpah, gue potong lidah lo!"

Sepanjang sisa perjalanan menuju kampus, Nona Claudia tak lagi banyak bicara atau main ponsel.

Sesekali aku menangkap basah dia sedang melirikku lewat ekor matanya, menatap lengan kiriku yang tadi jadi bantal daruratnya, lalu beralih menatap wajahku dengan tatapan menilai yang berbeda.

Setelah menurunkan Nona Claudia di lobi kampus, yang disambut tatapan heran teman-temannya karena dia turun dari mobil dengan wajah merah, aku langsung tancap gas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, tubuhku sudah basah kuyup oleh keringat. Seragamku yang sudah terasa lengket di punggung, rasanya tidak nyaman sekali.

"Gila, kerja di sini ujiannya berat banget. Fisik diuji, batin disiksa, 'si Gatot' diajak rollercoaster," gerutuku sambil memarkirkan mobil di garasi.

Aku berjalan menuju area belakang dengan langkah gontai, berniat mandi secepatnya untuk mendinginkan kepala dan tubuh yang rasanya mau meledak ini.

Namun, sesampainya di area servis belakang, aku mendapati pemandangan yang bikin elus dada.

Kamar mandi khusus pelayan yang letaknya di pojok dekat tempat cuci baju itu pintunya terbuka lebar, dan di dalamnya penuh tumpukan ember berisi rendaman gorden-gorden tebal milik Nyonya Alika.

"Waduh, Mbak Inem lagi nyuci gorden besar-besaran rupanya," keluhku.

Mbak Inem, asisten rumah tangga yang pulang-pergi, ternyata bekerja setiap hari Rabu untuk mencuci dan menjemur seluruh pakaian.

Mau menunggu Mbak Inem selesai, bisa-bisa aku jamuran. Lagipula, badanku sudah gatal dan lengket bukan main.

Tiba-tiba, otak udangku teringat sesuatu. Ada satu kamar mandi lagi di lantai bawah, letaknya di dekat dapur bersih dan ruang keluarga.

Itu kamar mandi tamu yang jarang dipakai.

"Aman lah ya, Nona Sora pasti lagi sibuk zoom meeting di kamar atas. Numpang mandi bentar doang nggak bakal ketahuan," pikirku polos, merasa ide itu adalah ide paling brilian sedunia.

Tanpa pikir panjang dan tanpa mengetuk karena yakin rumah kosong. Aku kemudian mendorong pintu itu sambil bersenandung pelan.

"Ah, enaknya mandi pas badang leng–“ Namun, kalimatku terputus di tengah jalan saat kulihat seorang gadis berdiri di depan westafel kaca dengan tubuh hanya dililit handuk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Yuti Handayani
asik semangat membaca ,habis paket beli lg
goodnovel comment avatar
Andi Hartono
ceritanya sangat menarik dan ingin melanjutkan membaca
goodnovel comment avatar
Andi Hartono
ceritanya bagus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 693 (TAMAT)

    Setelah perut terisi penuh nanti, agenda selanjutnya adalah menyapa langsung setiap tamu VVIP yang hadir merayakan lembaran baru kehidupan paling bersejarah bagi seluruh kongsi Keluarga Hermawan.Obrolan kami berdua mendadak disela oleh kedatangan Claudia dan Dion. Adik iparku itu langsung menarik dua kursi kosong di meja VIP kami dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Dion mengekor di belakangnya membawa dua piring penuh berisi beraneka ragam hidangan laut."Gila, makanan di sini enak-enak banget, Raf! Gue sampai nambah salmon panggangnya tiga kali," puji Claudia menerima piring dari tangan kekasihnya."Makan yang banyak, Clau. Biar tenaga lo kuat buat ngurusin perumahan cabang selatan besok Senin," ujarku menunjuk piringnya menggunakan garpu."Siap, Bos! Pokoknya habis acara nikahan ini, gue bakal langsung tancap gas ngejar target penjualan," sahut Claudia mengacungkan ibu jarinya mantap.Sora tiba-tiba muncul dari arah meja prasmanan pencuci mulut. Gadis berkacamata itu membawa mangkuk k

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 692

    Melihat putra kandungnya berhasil mencapai puncak kebahagiaan sempurna nyatanya sukses meruntuhkan seluruh pertahanan batin wanita hebat ini.Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan kelam masa lalu yang berani menampakkan diri di tengah perayaan kemenangan cinta agung ini."Ibu nangis lagi tuh, Raf. Samperin gih sebentar buat nenangin," bisik Shella menyikut pinggangku pelan.Aku segera menarik Shella mendekat ke arah wanita paruh baya yang telah melahirkanku itu."Udah dong, Bu, jangan nangis terus. Nanti riasan cantiknya luntur lho, masa ibunya pengantin kalah kinclong sama besan lain," bujukku merangkul pundak Ibu Liora dengan hangat."Ibu cuma kelewat bahagia, Nak. Rasanya kayak mimpi bisa lihat kamu segagah ini menggandeng wa

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 691

    Aku menerima gulungan kertas berpita itu dengan kening sedikit berkerut keheranan. Pasalnya, ini adalah kali pertama seorang kepala daerah mengirimkan utusan khusus menembus ring pengamanan acaraku."Wah, repot-repot banget Pak Gubernur sampai ngutus asisten pribadinya ke tengah karpet merah begini. Makasih banyak lho, Pak. Tolong sampaikan salam hormat saya balik buat beliau," balasku menjabat tangannya dengan erat."Pasti akan saya sampaikan, Pak Rafli. Mari, silakan dilanjutkan kembali jalannya menuju aula. Saya permisi undur diri dulu dari hadapan kalian," pamit asisten itu lalu melangkah menyingkir, membuka jalan lebar untuk kami berdua.Shella sontak memegang lengan kiriku semakin erat hingga kukunya sedikit menancap di balik kain jas."Buka cepat suratnya, Raf. Ja

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 690

    "AC-nya udah disetel mentok paling dingin ini, Sayang. Kamunya aja yang kelewat tegang mikirin ijab kabul. Santai aja, tarik napas dalam-dalam," hiburku mengusap punggung tangannya menggunakan ibu jari.Pandangan Shella kemudian beralih mengamati pemandangan di luar kaca jendela mobil. Dahinya perlahan berkerut tajam melihat deretan gedung pencakar langit yang baru saja kami lewati."Kok arah jalannya mengarah ke pusat pemerintahan kota Jakarta Pusat sih, Raf? Gedung hotel kita kan arahnya nggak lewat mari."Padahal, Shella sendiri yang mem-booking gedung hotel mewah di kawasan selatan jauh-jauh hari. Shella masih belum menyadari rute perjalanan yang mengarah menuju pusat pemerintahan kota Jakarta Pusat ini sengaja kubuat sebagai kejutan."Ada pengalihan arus lalu lintas dadakan pagi ini, Shel. Kata Bang Tigor, jalan raya arah selatan lagi ada perbaikan aspal yang ambles," ngelesku dengan wajah sedatar tembok."Masa iya sih dadakan banget? Kok Cindy nggak ngasih laporan apa-apa ke aku

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 689

    Tepat saat tawa mereka pecah, Ibu Liora melangkah masuk membawa nampan berisi secangkir teh kamomil hangat. Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya hijau botol yang membalut tubuhnya dengan sangat anggun."Diminum dulu tehnya, Sayang. Biar urat saraf kamu agak rileks sedikit ngadepin acara panjang nanti," ucap Ibu Liora menyodorkan cangkir teh itu ke arah Shella."Makasih banyak, Bu. Jantung Shella dari tadi subuh udah deg-degan nggak karuan rasanya sampai keringat dingin.""Wajar aja kalau kamu gugup. Semua calon pengantin pasti ngerasain hal yang sama kok. Tarik napas pelan-pelan aja biar nanti nggak kaku senyumnya pas difoto."Shella menuruti nasihat calon ibu mertuanya itu dengan sangat patuh. Selesai dirias, wajahnya sama sekali tidak berlebihan. Shella dirias sanga

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 688

    "Satu lagi, Ko," tambahku memberikan langkah taktis lanjutan. "Kirim juga tim teknisi rekanan kita dari divisi operasional langsung ke lokasi pemasok makanan. Biar teknisi kita yang bantu mindahin bahan baku dalam waktu singkat biar dagingnya nggak keburu busuk.""Ide yang sangat brilian. Tim teknisi akan segera meluncur ke lokasi mogoknya mobil vendor tersebut sekarang juga.""Bagus. Kabari saya lagi kalau urusan pemindahan dagingnya udah beres seratus persen. Saya mau lanjut fokus ngurusin pindahan keluarga ke lokasi vila."Sambungan telepon langsung kututup usai memastikan seluruh perintah tersampaikan dengan jelas. Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana dengan perasaan amat lega. Masalah teknis sekecil ini nyatanya bisa diselesaikan dengan sangat mudah berkat ketersediaan sumber daya perusahaan sendi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status