Masuk“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”
Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.
Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.
Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.
“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pantas hidup di lubang batu yang berbau amis darah.”
“Dia bukan upeti! Dia pasanganku!” teriak Cang Yan, lalu melangkah maju satu tindak, memaksa Fei Lian untuk mendongak sedikit.
“Pasangan?” Fei Lian tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam mulia.
“Kau bahkan belum memberinya tanda. Dia masih bersih. Dan aromanya... memanggilku dari ketinggian awan. Kau pikir kau bisa menyembunyikan nektar semanis ini di tengah lumpur?”
Lin Xiao menelan ludah. Ia merasa seperti objek pajangan yang sedang ditawar oleh dua kolektor gila. Di dunia asalnya, ia adalah pemimpin, pemberi perintah. Di sini, ia hanya dianggap sebagai ‘aroma’.
“Berhenti bicara seolah aku tidak ada di sini!” Lin Xiao memberanikan diri bersuara. Suaranya gemetar, tapi matanya menatap tajam ke arah Fei Lian. “Aku bukan milik siapa pun. Aku bukan upeti, dan aku bukan piala!”
Fei Lian beralih menatapnya. Tatapan itu begitu intens, seolah ia sedang membedah setiap inci kulit Lin Xiao. “Keberanian yang menarik. Kecil, rapuh, tapi punya taring. Aku semakin menyukaimu, Kecil.”
“Cang Yan,” bisik Lin Xiao sambil menarik ujung kulit binatang yang dikenakan pria serigala itu. “Dia tidak akan pergi dengan damai, kan?”
“Tidak selama dia masih bernapas,” jawab Cang Yan tanpa menoleh. “Lin Xiao, masuk ke dalam gubuk Tetua. Sekarang!”
Namun, Fei Lian bergerak lebih cepat daripada yang bisa ditangkap mata manusia. Dalam sekejap, angin puyuh kecil tercipta dari kepakan jubah emasnya. Ia melesat maju, tangan panjangnya terulur untuk menyambar pergelangan tangan Lin Xiao.
“Dia ikut denganku!” seru Fei Lian.
“Langkahi mayatku!” Cang Yan menerjang.
Kedua pria itu bertabrakan di tengah lapangan. Suara benturannya seperti dua bongkahan batu besar yang dihantamkan.
Cang Yan menggunakan kekuatan fisiknya yang masif untuk menahan dada Fei Lian, sementara Fei Lian menggunakan kecepatan dan kuku-kukunya yang tajam untuk menyayat lengan Cang Yan.
Lin Xiao terjatuh ke tanah akibat gelombang kejut dari pertarungan itu. Ia melihat kesempatan. Para anggota klan Serigala lainnya terlalu terpaku pada duel antara dua pemimpin klan terkuat itu. Mereka bersorak, menggeram, dan terdistraksi.
“Sistem!” panggil Lin Xiao dalam hati. “Beri aku arah keluar dari kerumunan ini!”
Lin Xiao merangkak di antara kaki-kaki penonton yang sedang beringas. Ia harus membuat mereka tetap sibuk satu sama lain.
“Cang Yan! Dia bilang klan Serigala hanyalah anjing peliharaan yang memakan sisa-sisa mangsa Elang!” teriak Lin Xiao sekuat tenaga dari pinggir kerumunan, untuk memprovokasi.
Cang Yan meraung, dan pukulannya semakin membabi buta. “Apa kau bilang?!”
“Dan Fei Lian!” Lin Xiao berteriak ke arah lain. “Cang Yan bilang sayapmu hanya cocok untuk dijadikan kipas di sarangnya!”
Provokasi itu bekerja seperti minyak yang disiram ke api. Keduanya meledak dalam amarah yang lebih gelap. Tanah di bawah mereka retak, dan debu beterbangan menutupi pandangan semua orang.
Dalam kekacauan itu, Lin Xiao berdiri dan berlari sekencang mungkin menuju arah yang berlawanan dengan pusat desa.
Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah. Ia hanya ingin menjauh dari aroma dominasi yang menyesakkan itu. Ia melewati deretan gubuk batu, melompati pagar kayu yang rusak, dan masuk ke dalam rimbunnya hutan yang mengelilingi pemukiman.
“Hah... hah...” Napasnya sesak. Paru-parunya yang lemah mulai memprotes.
Lin Xiao terus berlari hingga suara teriakan di desa mulai memudar. Namun, ia menyadari sesuatu yang aneh. Suasana hutan di sekitarnya berubah. Pohon-pohon di sini tidak lagi hijau cerah; batangnya hitam legam dengan lumut berwarna ungu tua yang merambat.
Kabut tipis mulai turun, tapi kabut ini tidak putih. Warnanya abu-abu gelap dan terasa berat saat menyentuh kulit. Yang paling mengerikan adalah baunya. Bau amis yang sangat kuat, seperti tumpukan daging yang membusuk di bawah sinar matahari selama berhari-hari.
Lin Xiao berhenti, kakinya gemetar. Ia menoleh ke belakang, tapi jalan yang tadi ia lalui sudah tertutup kabut tebal. Ia kehilangan arah.
“Sistem?” bisiknya dengan suara tercekat. “Di mana aku?”
Krasak.
Suara itu berasal dari balik pohon hitam di depannya. Sesuatu yang besar sedang menyeret sesuatu di atas tanah yang becek. Bau amis itu semakin menyengat, membuat Lin Xiao ingin muntah.
“Cang Yan?” panggilnya ragu. Tidak ada jawaban.
Hanya ada suara desisan panjang yang bukan berasal dari mamalia. Dari balik kabut, sepasang mata merah kecil bermunculan, jumlahnya bukan hanya dua, tapi belasan, bergerak rendah di atas tanah, mengepung posisi Lin Xiao yang berdiri sendirian di tengah kegelapan yang berbau kematian.
Lin Xiao mundur satu langkah, dan tumitnya menginjak sesuatu yang lunak namun keras. Saat ia menunduk, ia melihat tulang rusuk makhluk besar yang masih menyisakan sedikit daging busuk di atasnya.
Ia tidak lagi berada di wilayah klan. Ia berada di dapur para monster!
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







