Masuk“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”
Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.
Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.
Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.
“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.
“Cang Yan, lihat dia. Kulitnya terlalu tipis, tangannya terlalu kecil. Dia bahkan tidak bisa mengangkat busur, apalagi membedah kulit buruan. Dia hanya akan menjadi beban perut bagi klan kita.”
“Dia tidak bisa berburu! Lihat kain yang dia pakai, seperti sampah!” teriak seorang betina dari kerumunan. Namanya Mara, tubuhnya kekar dengan bekas luka cakaran di lengannya. “Apa gunanya betina secantik porselen jika dia mati kedinginan di musim gugur nanti? Dia tidak berguna!”
“Benar! Dia hanya akan menghabiskan jatah daging kami!” sahut yang lain.
Lin Xiao mengepalkan tangannya. Rasa malu dan marah bercampur aduk. Sebagai desainer yang biasa memimpin proyek bernilai jutaan yuan, ia tidak pernah merasa se-tidak berdaya ini.
“Aku bukan beban,” ucap Lin Xiao dengan pelan.
Tetua menoleh lalu tertawa mendengarnya. “Kau bicara? Di sini, hanya mereka yang berdarah yang punya hak bicara. Cang Yan, klan Elang Emas meminta upeti betina untuk perjanjian damai bulan depan. Serahkan dia, dan klan kita aman dari serangan udara mereka.”
Cang Yan menggeram rendah. Otot-otot di lengannya menegang, dan pembuluh darahnya menonjol keluar. Ia melangkah maju, dan memposisikan tubuhnya tepat di depan Lin Xiao, untuk menutupi wanita itu dari tatapan lapar para tetua.
“Dengarkan aku baik-baik, Tetua,” desis Cang Yan dan matanya kembali berkilat emas, tanda bahwa insting binatangnya sedang berada di puncak.
“Siapa pun yang berani menyerahkannya sebagai upeti, harus melangkahi mayatku terlebih dahulu. Dia adalah calon pasanganku. Tanda klanku akan segera ada di lehernya.”
“Kau gila, Cang Yan!” Mara berteriak, dengan wajah yang merah padam karena cemburu. “Kau adalah prajurit terbaik kami! Kau pantas mendapatkan betina yang bisa melahirkan serigala kuat, bukan benda rapuh ini!”
“Diam, Mara!” bentak Cang Yan. Lalu menoleh sedikit ke arah Lin Xiao, untuk memastikan wanita itu tetap di bawah bayang-bayangnya. “Kekuatan tidak selalu soal otot. Aku mencium sesuatu yang berbeda darinya. Sesuatu yang tidak dimiliki kalian semua.”
Tetua itu mengetukkan tongkat kayunya ke tanah dengan keras. “Kecocokan genetik atau aroma apa pun yang kau banggakan itu tidak penting jika klan ini kelaparan! Dia tidak punya keterampilan. Apa yang bisa dia lakukan selain berdiri di sana dan gemetar?”
Lin Xiao menarik napas dalam. Ia tahu ia harus bicara atau ia akan berakhir menjadi barang dagangan.
“Aku tahu cara membangun,” kata Lin Xiao dengan nada yang kini lebih lantang. Ia melangkah keluar dari belakang punggung Cang Yan, meski pria itu mencoba menahannya.
“Rumah-rumah kalian terlihat rapuh. Musim dingin akan membunuh bayi-bayi kalian karena angin masuk dari celah batu itu. Aku bisa membuat tempat tinggal yang menyimpan panas. Aku bisa mengatur aliran air agar kalian tidak perlu ke sungai setiap kali haus.”
Kerumunan itu terdiam sejenak, lalu tawa meledak.
“Membangun? Dengan tangan sekecil itu?” Mara mengejek. “Jangan membual, Betina!”
“Cukup!” potong Tetua. “Cang Yan, kau menantang hukum klan demi ego pribadimu. Jika kau ingin menyimpannya, kau harus menanggung jatah makannya sendiri. Dan jika klan Elang datang menagih—”
Tiba-tiba, suasana berubah drastis.
Tekanan udara di area terbuka itu mendadak turun. Seekor burung kecil yang hinggap di dahan dekat mereka terbang menjauh dengan panik. Lin Xiao merasakan getaran aneh di dadanya, sebuah peringatan insting yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Wusss!
Sebuah bayangan raksasa menutupi seluruh pemukiman, seolah-olah awan hitam mendadak menelan matahari. Suara kepakan sayap yang begitu kuat hingga merontokkan dedaunan dari pohon-pohon besar terdengar dari atas kepala mereka.
“Apa itu?” teriak Lin Xiao, menatap ke langit.
“Sialan... mereka datang lebih cepat!” maki Cang Yan lalu segera menyambar pinggang Lin Xiao dan menariknya mendekat ke dadanya.
Dari langit biru yang cerah, sesosok makhluk meluncur turun dengan kecepatan meteor. Itu adalah elang emas dengan rentang sayap yang sanggup menutupi tiga rumah sekaligus.
Debu berterbangan saat makhluk itu mendarat di tengah-tengah lingkaran klan, menciptakan kawah kecil di tanah.
Angin yang dihasilkan dari pendaratannya membuat para betina serigala terlempar mundur.
Cang Yan berdiri kokoh, menyembunyikan Lin Xiao di balik punggungnya. Tangannya meraba pisau tulang di pinggangnya.
Elang raksasa itu melipat sayapnya yang berkilau seperti logam mulia. Dalam satu gerakan yang cair dan anggun, bulu-bulu itu menyusut, bertransformasi menjadi seorang pria tinggi dengan rambut pirang panjang yang mengalir hingga ke pinggang. Matanya tajam, berwarna kuning terang dengan pupil vertikal yang menusuk.
Pria itu mengenakan jubah sutra emas yang tampak sangat kontras dengan kulit binatang kasar yang dipakai klan Serigala. Ia adalah Fei Lian, pemimpin klan langit.
Fei Lian mengabaikan Tetua Klan dan para prajurit serigala yang sudah bersiap menyerang. Pandangannya langsung terkunci pada sosok mungil yang bersembunyi di balik tubuh kekar Cang Yan. Ia menghirup udara dengan gerakan perlahan, lalu menyeringai tipis.
“Aroma yang sangat menarik,” suara Fei Lian begitu halus, seperti desiran angin di puncak gunung, tapi mengandung ancaman yang mutlak. “Jadi, ini betina yang kalian sembunyikan? Pantas saja berita tentang 'porselen hidup' ini sampai ke telingaku.”
“Pergi dari sini, Fei Lian! Perjanjian upeti masih bulan depan!” gertak Cang Yan.
Fei Lian melangkah maju dan kakinya nyaris tidak menyentuh tanah. “Aku tidak suka menunggu, Serigala. Dan setelah mencium baunya dari ketinggian seribu kaki... aku memutuskan bahwa dia tidak akan menjadi upeti untuk klanku.”
Ia berhenti tepat di depan Cang Yan, dan menatap Lin Xiao yang sedang gemetar namun tetap menatapnya dengan berani.
“Dia akan menjadi pasangan pribadiku,” lanjut Fei Lian dingin.
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







