Masuk“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”
Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.
Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.
“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”
“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”
Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit Mo Ye yang menyentuh punggungnya. Rasanya bukan lagi dingin seperti es, tapi dingin seperti kematian.
“Dia tidak membunuhku,” bisik Lin Xiao, suaranya gemetar namun yakin. “Dia sedang sekarat.”
“Lepaskan dia, Mo Ye!” raung Cang Yan, ia bersiap menerjang.
“Jangan!” Lin Xiao merentangkan tangannya, untuk melindungi pria ular yang kini bernapas pendek-pendek di belakangnya. “Cang Yan, dia kedinginan! Tubuhnya membeku karena kutukan atau apa pun itu. Dia butuh panas, bukan serangan!”
Fei Lian tertawa sinis, meski matanya menatap tajam ke arah tangan Lin Xiao yang menyentuh sisik hitam Mo Ye. “Dia makhluk berdarah dingin. Panas hanya akan membuatnya semakin menderita. Serahkan dia pada kami, dan biarkan hutan ini melenyapkannya.”
“Kalian semua salah,” desis Lin Xiao lalu menoleh ke arah Mo Ye yang matanya mulai meredup, iris peraknya nyaris tertutup selaput putih. “Sistem, beri aku instruksi api unggun darurat. Sekarang!”
Memproses instruksi. Kumpulkan kayu hitam dari pohon 'Ebon'. Gunakan batu api di sisi kiri gua. Hadiah Pengetahuan Tanaman Pangan digunakan untuk mengidentifikasi getah mudah terbakar.
Lin Xiao bergerak cepat. Dengan tangan gemetar, ia memungut dahan-dahan kering di sekitar mulut gua bawah tanah itu. Ia tidak peduli dengan tatapan ngeri dari dua pria di depannya.
“Apa yang kau lakukan, Betina?” tanya Cang Yan, suaranya kini penuh kebingungan. “Kau... kau ingin membuat api untuk si pembunuh ini?”
“Namanya Mo Ye!” bentak Lin Xiao lalu menghantamkan dua buah batu api dengan kasar. Percikan pertama pun muncul. “Dan iya, aku akan membantunya. Karena saat aku ketakutan, dia tidak mencabikku. Dia hanya memelukku.”
“Itu bukan pelukan, itu lilitan mangsa!” teriak Fei Lian, lalu turun dari dahan, dan berdiri hanya tiga meter dari Lin Xiao. “Kau menyentuh sesuatu yang menjijikkan bagi kami semua. Betina manapun akan lari darinya.”
Lin Xiao mengabaikan mereka. Api mulai menjilat tumpukan kayu, menciptakan cahaya oranye yang mengusir kabut hitam. Suhu di sekitar mereka naik sedikit demi sedikit. Lin Xiao kemudian melakukan sesuatu yang membuat napas Cang Yan dan Fei Lian tertahan.
Ia duduk di tanah yang dingin, menarik tubuh bagian atas Mo Ye yang pucat ke dalam pangkuannya. Tanpa ragu, Lin Xiao melingkarkan lengannya yang mungil ke leher pria ular itu, memeluknya erat, berusaha membagikan panas tubuh manusianya ke kulit yang membeku itu.
“Lin Xiao... jangan,” gumam Cang Yan, suaranya terdengar patah hati. “Kau merendahkan dirimu untuk monster itu.”
“Aku desainer, Cang Yan,” bisik Lin Xiao sambil mengusap rambut hitam Mo Ye yang basah oleh embun. “Aku tahu mana struktur yang rusak dan mana yang butuh perbaikan. Dia tidak rusak karena keinginannya sendiri.”
Mo Ye mengeluarkan suara desisan lemah. Lidah bercabangnya keluar sedikit, menyentuh leher Lin Xiao, tapi kali ini gerakannya sangat pelan, seolah sedang mencari perlindungan. Ekor raksasanya yang tadi melilit kuat kini mulai melemas dan bergerak-gerak kecil di sekitar api unggun, mencari sumber panas.
Ketiga pejantan itu terdiam. Cang Yan dan Fei Lian berdiri terpaku, tidak sanggup melangkah maju tapi juga tidak bisa pergi. Mereka menyaksikan pemandangan yang mustahil: seorang betina yang rapuh dan murni, memeluk kegelapan yang paling ditakuti di hutan itu dengan kasih sayang yang jujur.
“Kau benar-benar aneh,” gumam Fei Lian, dengan tatapan matanya menatap api dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada rasa cemburu yang membakar, tapi juga rasa hormat yang muncul secara terpaksa.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Cang Yan, langkahnya mendekat perlahan, kepalannya mengendur. “Dia bisa saja terbangun dan menelanmu saat tubuhnya hangat nanti.”
“Mungkin,” sahut Lin Xiao lalu menyandarkan kepalanya di bahu dingin Mo Ye. “Tapi untuk saat ini, dia hanya butuh seseorang agar tidak mati sendirian di kegelapan.”
Tiba-tiba, Lin Xiao merasakan getaran dari dada Mo Ye. Suhu tubuh pria ular itu melonjak drastis. Bukan lagi dingin, tapi mulai menghangat dengan frekuensi yang aneh.
Lin Xiao merasakan kepalanya pening. Sebuah gelombang emosi yang bukan miliknya tiba-tiba menghantam kesadarannya, rasa kesepian yang berabad-abad, amarah terhadap klan yang membuangnya, dan sebuah rasa haus yang mendalam akan sentuhan.
Mo Ye membuka matanya. Iris peraknya kini berkilat dengan cahaya yang sangat terang. Ia menatap Lin Xiao, lalu tangan pucatnya mencengkeram bahu Lin Xiao dengan kekuatan yang baru.
Ia tidak lagi tampak sekarat. Ia tampak seperti predator yang baru saja mendapatkan jiwa barunya.
“Sistem, apa yang terjadi?” tanya Lin Xiao panik.
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







