Masuk“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”
Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.
Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.
“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.
“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.
Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu menjadi semakin erat.
“Lepaskan aku! Aku tidak sengaja masuk ke sini!” teriak Lin Xiao, air mata ketakutan mulai mengaburkan pandangannya.
Dari balik kabut kelabu yang tebal, sesosok bayangan muncul. Ia tidak berdiri tegak seperti Cang Yan atau Fei Lian. Pria itu, jika ia bisa disebut pria, setengah bertelanjang dada dengan kulit yang sangat pucat, hampir transparan.
Bagian bawah tubuhnya masih berupa ekor ular raksasa yang panjangnya mungkin belasan meter, meliuk-liuk di antara batang pohon hitam.
Pria itu mendekat tanpa suara sedikit pun. Rambutnya hitam panjang, menutupi sebagian wajahnya yang tirus. Matanya tidak memiliki pupil bulat; hanya ada garis vertikal tipis di tengah iris berwarna perak yang dingin.
“Kau... kau Mo Ye?” tanya Lin Xiao dengan napas terputus-putus.
Pria itu tidak menjawab. Ia tidak menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi. Mo Ye hanya memiringkan kepalanya, menatap Lin Xiao seolah sedang mempelajari spesimen langka yang jatuh ke sarangnya.
Ia mengulurkan tangannya yang berjari panjang dan kuku hitam runcing, menyentuh pipi Lin Xiao yang kotor oleh lumpur.
“Dingin...” gumam Lin Xiao saat kulit mereka bersentuhan. Pria ini tidak memiliki suhu tubuh layaknya manusia.
Mo Ye menarik tangannya, lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Lin Xiao. Lidah bercabangnya yang tipis dan berwarna merah gelap keluar, menyapu lembut permukaan kulit leher Lin Xiao.
“Ah! Jangan!” Lin Xiao mengerang sembari mencoba memalingkan wajahnya. Rasa geli yang aneh sekaligus ngeri menjalar ke seluruh sarafnya saat lidah itu mencicipi keringat dan feromon di kulitnya.
Mo Ye mengeluarkan suara desisan puas. Ia mengendus garis rahang Lin Xiao, lalu lidahnya kembali beraksi, kali ini di dekat telinga Lin Xiao, seolah sedang melakukan "pemeriksaan" menyeluruh untuk memastikan kualitas mangsanya.
“Berhenti... kumohon, berhenti,” bisik Lin Xiao, tangannya mencoba mendorong bahu Mo Ye yang licin.
Mo Ye tidak berhenti. Tangan pucatnya mulai merayap turun ke bahu Lin Xiao, menyibakkan kain compang-camping yang tersisa. Ia tidak tampak seperti ingin memakan Lin Xiao, tapi lebih seperti seorang pemangsa yang sedang menandai wilayah barunya.
Ekor raksasanya kini melingkari pinggang Lin Xiao, lalu mengangkat tubuh wanita itu sedikit dari tanah hingga kaki Lin Xiao menggantung.
“Kau... kau ingin membunuhku?” Lin Xiao menatap mata perak itu, mencari secercah kemanusiaan di sana.
Mo Ye hanya menatapnya balik dengan intensitas yang mengerikan. Ia membuka mulutnya sedikit, memperlihatkan taring ganda yang melengkung dan berkilat karena racun.
Namun, alih-alih menggigit, ia hanya menempelkan keningnya ke kening Lin Xiao. Suara desisannya berubah menjadi getaran yang terasa di tengkorak Lin Xiao.
“Lagi? Kenapa semua orang di dunia ini terobsesi dengan aromaku?” batin Lin Xiao frustrasi.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang keras dan geraman serigala terdengar dari kejauhan, tepat di perbatasan kabut hitam.
“Lin Xiao! Keluar dari sana!” suara Cang Yan bergema, penuh dengan kemarahan sekaligus kecemasan yang nyata.
“Fei Lian, kau gila jika masuk ke sana!” teriak suara lain, yang Lin Xiao kenali sebagai suara Tetua klan Serigala. “Itu wilayah Mo Ye! Jika kau masuk, racunnya akan membusukkan sayapmu sebelum kau sempat menyentuh tanah!”
Lin Xiao menoleh ke arah suara itu. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet emas Fei Lian yang berputar-putar di atas batas kabut, dan sosok perak Cang Yan yang berdiri terpaku di tepi hutan hitam.
Keduanya tampak ragu, dan wajah mereka penuh dengan ketakutan yang belum pernah Lin Xiao lihat sebelumnya.
“Cang Yan! Tolong!” teriak Lin Xiao.
Namun, Cang Yan tidak melompat masuk. Ia mencengkeram tanah dengan cakarnya, menatap kabut tebal itu dengan gigi yang beradu.
Ia tahu siapa yang ada di dalam sana. Mo Ye bukan sekadar buangan; ia adalah monster yang bahkan predator puncak pun enggan hadapi di wilayah kekuasaannya sendiri.
“Dia berada di tangan si Ular Terkutuk itu,” gumam Fei Lian dari udara, suaranya terdengar getir. “Tidak ada yang pernah keluar hidup-hidup dari lilitan Mo Ye.”
Mo Ye mendengar teriakan itu. Ia lalu menoleh ke arah perbatasan, dan matanya berkilat penuh kemenangan yang sunyi.
Ia kembali menatap Lin Xiao, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik tubuh Lin Xiao lebih dalam ke tengah hutan kabut, menjauh dari cahaya dan suara klan-klan yang mengejarnya.
Lilitan ekornya terasa semakin posesif, seolah ia sedang membungkus harta karun yang paling berharga di dunia.
“Mereka tidak akan datang,” desis Mo Ye, untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suara yang hampir menyerupai kata-kata, meski sangat samar. “Sekarang... kau hanya milikku.”
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







