LOGIN“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”
Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.
Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”
“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”
Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke arah Fei Lian yang masih mengawasi dari udara dengan wajah tegang.
“Cang Yan, cukup!” seru Lin Xiao. “Dia setuju untuk tidak menyerang desa. Itu kesepakatan yang paling masuk akal sekarang. Kita tidak bisa memenangkan pertarungan ini tanpa korban.”
Cang Yan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. “Kau tidak tahu apa yang kau janjikan, Lin Xiao. Ular ini tidak memiliki konsep batas.”
“Dan aku memiliki konsep bertahan hidup,” sahut Lin Xiao tegas. “Mo Ye, kau punya kata-kataku. Sekarang, biarkan kami kembali.”
Mo Ye menatap Lin Xiao lama, lalu perlahan lilitan ekornya di pinggang Lin Xiao terlepas. Ia menghilang ke dalam kegelapan gua bawah tanahnya tanpa suara, meninggalkan aroma dingin yang perlahan memudar.
Kepulangan Lin Xiao ke desa klan Serigala disambut dengan keheningan yang mencekam, yang kemudian pecah menjadi sorak-sorai yang tidak nyaman. Kabar bahwa seorang betina rapuh berhasil keluar hidup-hidup dari hutan kabut hitam dan bahkan 'menjinakkan' sang monster ular tersebar lebih cepat daripada api.
“Dia pahlawan kita!” teriak salah satu prajurit, meski matanya menunjukkan ketakutan saat melihat Lin Xiao lewat.
“Dia menaklukkan Mo Ye... bagaimana mungkin?” bisik para betina di sudut-sudut gubuk.
Lin Xiao berjalan dengan kepala tegak, meski kakinya terasa seperti akan patah. Cang Yan berjalan tepat di belakangnya, memberikan proteksi fisik yang mutlak, sementara Fei Lian telah menghilang ke arah pegunungan, mungkin untuk melaporkan kejadian ini pada klannya sendiri.
Begitu sampai di gubuk pribadinya yang baru dibangun setengah jadi, Lin Xiao segera menutup pintu kayu kasar itu. Ia jatuh terduduk di atas tumpukan kulit binatang.
“Pahlawan?” gumam Lin Xiao sinis. “Aku hanya mencoba untuk tidak dimakan.”
Ia merasakan perih di punggungnya. Rasa panas yang membakar itu kembali. Dengan tangan gemetar, ia melepas sisa kain di bahunya dan mencoba melihat ke arah cermin perunggu kecil yang ia temukan di desa. Di cermin yang buram itu, ia melihatnya.
Sebuah tato bercahaya muncul tepat di antara tulang belikatnya. Bentuknya seperti bunga dengan lima kelopak yang belum mekar sempurna. Satu kelopak sudah berwarna perak redup, warna mata Mo Ye.
“Apa-apaan ini?” Lin Xiao menyentuh tanda itu, dan rasa setruman kecil menjalar ke ujung jarinya. “Lima penjaga? Jadi Mo Ye hanya satu dari mereka?”
Malam semakin larut. Desa sudah mulai sepi, hanya menyisakan suara jangkrik hutan dan deru angin. Lin Xiao mencoba untuk tidur, namun firasatnya mengatakan bahwa ketenangan ini adalah ilusi. Ia bangkit, bermaksud untuk mengambil air minum di sudut gua pribadinya yang tersambung dengan ruang tidurnya.
Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang tidur yang hanya diterangi oleh satu obor kecil, ia membeku.
Di atas tempat tidurnya yang dialasi bulu harimau putih, sesosok makhluk sedang berbaring dengan posisi yang sangat santai. Itu adalah seorang pria dengan telinga rubah berwarna merah menyala yang menyembul dari rambut pirang keemasannya. Sembilan ekor berbulu tebal melambai perlahan di belakangnya, menutupi sebagian besar ranjang.
Pria itu membuka mata tawanya yang sipit, menatap Lin Xiao dengan binar jenaka sekaligus licik.
“Siapa kau?” Lin Xiao meraih sebilah pisau tulang yang tergeletak di meja kayu. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Cang Yan menjaga pintu di luar!”
Pria rubah itu terkekeh, suaranya halus seperti sutra dan sangat merdu. “Serigala bodoh itu terlalu sibuk mencium bau musuh di luar. Dia tidak sadar bahwa rubah tidak butuh pintu untuk masuk ke sarang betina secantik ini.”
Ia duduk, lalu memperlihatkan jubah sutranya yang tersingkap, dan memamerkan dada bidang yang ramping. “Namaku Lu En. Dan aku sudah menunggumu cukup lama, Xiao-Xiao.”
“Xiao-Xiao? Jangan berani memanggilku dengan nama itu!” gertak Lin Xiao, meski tangannya gemetar memegang pisau. “Keluar dari sini sekarang, atau aku akan berteriak!”
Lu En melompat turun dari tempat tidur dengan gerakan yang sangat ringan. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Lin Xiao, ujung jarinya menahan tangan Lin Xiao yang memegang pisau.
“Jangan berteriak,” bisik Lu En, wajahnya mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Bau harum bunga melati dan cendana menguar dari tubuhnya. “Aku tidak datang untuk menyakitimu. Aku datang untuk memberikan apa yang sangat kau butuhkan.”
“Aku tidak butuh apa-apa darimu!”
“Benarkah?” Lu En melirik ke arah punggung Lin Xiao. “Tanda itu... kelopak keduanya mulai berdenyut, bukan? Kau butuh aku untuk menyeimbangkan energi panas yang diberikan ular itu, atau tubuhmu akan meledak sebelum fajar.”
“Lepaskan dia, Rubah Licik, sebelum aku mencabut sembilan ekormu satu per satu!”Geraman Cang Yan membuat dinding gua bergetar, menjatuhkan debu-debu halus dari langit-langit batu. Namun, Lu En tidak bergerak. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Lin Xiao, jemarinya yang lentur merayap di sepanjang tengkuk Lin Xiao, memberikan pijatan halus yang memicu sensasi panas dingin di sekujur saraf wanita itu.“Kenapa terburu-buru, Serigala?” suara Lu En rendah, hampir seperti denguran kucing. Ia bahkan mengabaikan tombak Cang Yan yang hanya berjarak beberapa inci dari punggungnya. “Betina ini sedang menikmati sentuhanku. Bukankah begitu, Xiao-Xiao?”Lin Xiao merasakan kepalanya berdenyut. Aroma cendana dari tubuh Lu En terasa seperti kabut yang membungkus logikanya. Tangan Lu En bergerak ke bahunya, memijat otot yang tegang dengan teknik yang sangat presisi. Setiap tekanan jarinya seolah menghapus rasa lelah, namun di saat yang sama, membuat kesadaran Lin Xiao melayang.“Kau... apa yang ka
“Kau bisa pergi dengan nyawamu, Serigala, tapi jangan pernah berpikir untuk menutup jalan antara guaku dan betina ini.”Suara Mo Ye kini terdengar lebih jernih, meski masih memiliki desis predator yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia berdiri tegak, ekor hitamnya meluncur di atas tanah yang menghangat, menciptakan pola lingkaran di sekitar Lin Xiao. Matanya yang perak menatap tajam ke arah Cang Yan yang masih bersiaga dengan otot-otot tegang.Cang Yan menggeram, taringnya berkilat di bawah cahaya api unggun. “Kau memintanya untuk menjadi sanderamu selamanya? Itu tidak akan terjadi, Mo Ye!”“Bukan sandera,” potong Mo Ye, tangannya yang pucat mengusap rambut Lin Xiao dengan gerakan yang sangat intim. “Dia menghangatkanku. Dia memberiku napas. Aku hanya akan datang untuk mengambil apa yang sudah dia berikan. Setuju, atau kita lihat berapa banyak anggota klanmu yang bisa bertahan dari racun kabutku malam ini.”Lin Xiao merasakan tekanan di bahunya. Kemudian menoleh ke arah Cang Yan, lalu ke
“Tetaplah di sana. Jika kau melangkah satu senti lagi, aku akan membiarkannya menggigit leherku!”Suara Lin Xiao melengking di antara pepohonan hitam yang membeku. Ia berdiri di tengah-tengah lingkaran ketegangan yang nyaris meledak. Di depannya, Cang Yan dan Fei Lian akhirnya berani menembus kabut, dengan raut wajah mereka penuh amarah dan kecemasan.Namun, di belakang Lin Xiao, sosok Mo Ye melingkar pelan. Ekor hitam raksasanya masih melilit pinggang Lin Xiao, tapi kepalanya terkulai di bahu wanita itu.“Lin Xiao, apa kau gila?” teriak Cang Yan, lalu cakarnya mencengkeram tanah hingga bebatuan hancur. “Dia itu monster! Dia buangan klan yang terkutuk! Kau akan mati karena racunnya sebelum matahari terbenam!”“Dia benar, Kecil,” Fei Lian menimpali dari dahan pohon di atas mereka, dan sayap emasnya bergetar hebat. “Ular tidak punya perasaan. Dia hanya akan melilitmu sampai tulangmu hancur. Kemarilah, aku akan membawamu ke langit yang hangat.”Lin Xiao tidak bergerak. Ia merasakan kulit
“Jangan bergerak, atau sesuatu yang lebih tajam dari pisau akan menembus kulitmu.”Suara itu bukan berasal dari mulut manusia, melainkan bisikan yang berdesis, merambat di udara yang lembap dan berbau amis. Lin Xiao membeku. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa mencekik kerongkongannya.Ia baru saja melangkah mundur saat merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan luar biasa kuat melilit pergelangan kaki kanannya. Lilitan itu tidak kasar, namun tekanannya konsisten, mengunci pergerakannya di atas tanah hitam yang becek.“S-siapa di sana?” suara Lin Xiao bergetar hebat lalu menundukkan kepalanya dan melihat sisik-sisik hitam legam yang berkilat basah di bawah cahaya redup hutan kabut. Itu bukan akar pohon. Itu adalah bagian dari tubuh makhluk hidup yang sangat besar.“Sistem! Beri aku analisis! Apa ini?” jeritnya dalam hati.Lilitan itu semakin naik, kini melingkari betisnya hingga ke paha. Lin Xiao mencoba meronta, namun setiap gerakan yang ia buat justru memicu lilitan itu m
“Lepaskan dia, atau aku akan merobek sayapmu dari punggungmu, Fei Lian!”Geraman Cang Yan bukan lagi suara manusia. Itu adalah getaran rendah yang keluar dari tenggorokan seekor predator yang sedang menjaga wilayahnya.Ia berdiri dengan kaki kokoh, dengan otot-otot lengannya mengeras hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba. Di belakangnya, Lin Xiao mencengkeram kain compang-campingnya, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari.Fei Lian, pria dengan rambut pirang pucat yang berkilau, hanya menanggapi dengan senyum tipis yang meremehkan. Mata kuningnya yang tajam tidak sedikit pun melirik ke arah Cang Yan; fokusnya terkunci sepenuhnya pada wajah pucat Lin Xiao.“Serigala tanah selalu begitu kasar,” suara Fei Lian halus, namun membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat.“Klan Elang tidak datang untuk berperang, Cang Yan. Aku datang untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik langit. Betina seindah ini tidak pant
“Jangan berani-berani menyentuhnya, Tua Bangka. Dia betinaku!”Suara Cang Yan menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang mengelilingi pusat pemukiman klan Serigala Perak. Suasana yang tadinya bising oleh bisikan-bisikan sinis mendadak senyap. Angin hutan yang membawa bau daging panggang dan tanah basah seolah berhenti berembus.Lin Xiao berdiri gemetar di samping pria itu. Matanya menyapu sekeliling, dan hatinya mencelos. Di ingatannya yang masih segar, ia terbiasa dengan lantai marmer yang mengilap, pendingin ruangan yang tenang, dan estetika minimalis yang bersih. Namun, apa yang ada di depannya sekarang adalah kebiadaban yang nyata.Rumah-rumah di sini hanyalah tumpukan batu dan kayu kasar yang diikat dengan akar pohon. Bau kotoran hewan dan amis darah segar menusuk hidungnya. Tidak ada kehalusan, tidak ada simetri. Hanya ada kekuatan kasar.“Betinamu?” seorang pria tua dengan jubah kulit beruang, sang Tetua Klan melangkah maju. Wajahnya penuh kerutan sedalam parit.“Cang Y







