LOGINMenikah minggu depan?!
Kalau saja bisa, Ryn ingin menepuk bahu bosnya dan berkata, ‘Pak, Bapak lupa minum obat atau memang dari lahir begini?’
Namun, tentu saja kalimat itu hanya berani hidup di dalam pikirannya. Di luar, Ryn masih berdiri dengan wajah sopan dan senyum paling aman di dunia.
Pun, Ryn juga merasa semua ucapan bosnya terdengar seperti dialog teater yang gila. Jauh dari bagaimana Kylar biasa bicara.
Jihan tertawa kecil, suara tawanya tipis dan tajam seperti gesekan kaca. “Terus mana cincinnya? Jangan ngawur kamu!”
Ryn merasakan udara berubah dingin.
Oh. Ini bukan sekadar drama perjodohan. Ini perang keluarga kelas premium.
Kylar mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu standar.
“Cincin itu aksesoris,” kata Kylar tanpa ekspresi. “Yang penting keputusan. Dan aku sudah ambil keputusan.”
Jihan mengerjap. “Kylar–”
Perempuan itu ingin melawan, tapi tidak bisa. Akhirnya, dia kembali menatap Ryn sekali lagi. “Kamu! Kamu ini siapa sebenarnya?”
Ryn hampir refleks memperkenalkan diri lengkap dengan NIK, jabatan, dan slip gaji terakhir. Namun Kylar lebih cepat.
“Sudah kubilang dia calon istriku.”
Ryn menelan ludah keras mendengar itu.
Jihan tampak seperti orang yang baru saja dipukul oleh kenyataan. “Kamu jangan bercanda, Kylar!”
Kylar memiringkan kepala, tatapannya setenang air. “Kalau aku sudah melamarnya, berarti aku serius. Kenapa masih diperdebatkan?”
Ryn ingin batuk. Ingin protes. Ingin menjelaskan bahwa dia tidak ikut audisi jadi calon istri CEO. Namun, dia memilih diam. Karena satu kata saja dari mulutnya bisa mengubah seluruh arah hidupnya, dan mungkin juga gajinya.
Jihan menatap Kylar lama. Lalu, pelan, bibirnya melengkung. Bukan senyum, lebih mirip peringatan.
“Kalau begitu,” ucap Jihan manis tapi berbahaya, “kita lihat saja seberapa lama perempuan ini bertahan. Dan jangan kamu pikir keluargaku akan diam melihat semua ini.”
Ryn merasakan punggungnya merinding. Nada bicara itu terlalu lembut untuk sebuah ancaman, dan justru karena itulah terasa lebih mengerikan.
“Silakan. Aku malah berharap kamu mencoba,” tantang Kylar tidak bergeming.
Dan kali ini, Ryn benar-benar sadar, bosnya tidak sedang main-main. Ini bukan akting. Ini keputusan yang akan menyeret namanya masuk ke tengah keluarga Ashwara.
Begitu Jihan melangkah menjauh, Ryn langsung menegakkan punggungnya.
“Pak, maaf, saya permisi,” pamit Ryn dengan senyum karyawan yang sudah dilatih bertahan hidup.
“Mau ke mana?” Kylar menoleh. “Kita belum selesai.”
“Kalau soal tadi, saya minta maaf. Saya minta maaf karena bolos di jam kerja. Dan saya juga minta maaf karena sudah menguping pembicaraan Bapak,” cicit Ryn.
Lebih baik minta maaf duluan daripada dipecat. Itu hukum tidak tertulis dunia kerja. Walaupun idealnya, Kylar juga seharusnya minta maaf karena dengan santainya mengakui Ryn sebagai tunangannya.
Namun, ada satu peraturan lain yang juga tidak tertulis di hampir semua perusahaan, yaitu bos selalu benar, dan karyawan selalu salah.
Kylar menatap Ryn dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk disebut ramah. “Saya maafkan. Tapi dengan satu syarat.”
Tentu saja ada syarat. Hidup tidak pernah gratis.
“Syarat apa, Pak?” tanya Ryn. Nadanya masih terjaga, meski bahunya menegang tipis.
Kylar tidak langsung menjawab. Dia hanya mengunci Ryn dalam tatapan hitam yang stabil. Tatapan orang yang sudah memutuskan hasil akhir sebelum rapat dimulai.
“Kita menikah.”
Ryn terdiam beberapa detik. Waktu yang cukup untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar, tidak sedang bermimpi, dan tidak berada di tempat lain selain kantor.
Lalu tawa kecil lolos dari bibir berlipstik nude itu. Refleks murni. Tidak profesional, tapi manusiawi.
Kylar menatapnya. “Memang lucu?”
“Maaf, Pak. Saya kira Bapak sedang bercanda,” jawab Ryn cepat. Tawanya menguap begitu saja saat dia melihat wajah Kylar. Tidak ada senyum. Tidak ada jeda malu.
Dan di titik itu, Ryn tahu, ini bukan lelucon, tapi keputusan. Dia langsung menundukkan kepalanya. Dari luar dia boleh tampak tenang. Tapi, dari dalam, kesabarannya sedang diuji oleh Tuhan, semesta, dan sistem korporasi.
“Saya serius,” ungkap Kylar tenang, tidak, lebih tepatnya tegas dan serius.
Ryn mendadak berkedip cepat melihat perubahan bosnya. Dia langsung mengangguk kecil. Refleks bawahan yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk tidak membantah duluan. “M–maaf, Pak.”
“Ikut ke ruangan saya. Sekarang,” tandas Kylar. Lalu dia berlalu begitu saja, tanpa menunggu persetujuan, seolah keputusan Ryn tidak termasuk variabel yang perlu dipertimbangkan.
__
“Kita menikah kontrak selama dua tahun. Saya pikir kita berdua membutuhkan pernikahan ini.”
Kylar menyandarkan punggungnya, lalu memulai seolah sedang membuka presentasi. Tidak ada nada main-main, tidak ada dramatisasi. Hanya nada orang yang terbiasa membuat keputusan dan menganggap semua orang cukup cerdas untuk mengikuti.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang kerja CEO, di lantai yang sama dengan rooftop.
“Tidak, Pak. Saya tidak butuh,” jawab Ryn, berusaha tenang.
“Yakin?” Kylar bertanya ringan.
Tapi di telinga Ryn, itu terdengar mengintimidasi.
Ryn tahu betul maksudnya. Bosnya ini tidak sedang meragukan jawaban Ryn semata. Kylar sedang menyinggung hal yang sejak pagi sudah menempel di kepalanya, yaitu pernikahan calon mantan suami dan sahabatnya.
Beginilah nasib bekerja di Ashwara Culinary Group. Arus listrik saja kalah cepat dibanding gosip.
Andy memang bekerja di kantor pusat Ashwara Group. Secara teori, drama pribadinya seharusnya berhenti di sana. Namun teori jarang bertahan lama di perusahaan sebesar ini, apalagi jika melibatkan mantan calon pengantin, sahabat yang menikah, dan kisah gagal yang terlalu menarik untuk dibiarkan tenggelam.
Kylar tentu tahu. Bukan karena ikut nimbrung di pantry, melainkan karena hampir tidak ada kabar yang benar-benar lolos dari radar Bosszilla.
Apalagi Acha dan Ryn berada di gedung yang sama. Tentu saja gosip akan secepat kilat menyebar.
Ryn menelan ludah. “Yakin, Pak.”
Namun, keyakinan itu juga tipis. Ryn masih ingat wajah Acha tadi pagi saat menyerahkan undangan dengan senyum tipis yang terlalu puas untuk disebut tulus. Seolah Acha menang bukan hanya karena menikah, tapi karena menikah dengan pria yang seharusnya menjadi milik Ryn.
Bohong kalau Ryn tidak ingin membalas. Bohong juga kalau dia tidak sakit hati.
Empat tahun Ryn bersama Andy. Sementara Acha adalah sahabatnya sejak SMA. Orang yang dulu tahu semua kebiasaan Ryn, semua ketakutan Ryn, bahkan semua lelucon receh Ryn. Sekarang orang itu yang menikah dengan Andy.
Dan Ryn yang ditinggal, masih harus kerja seperti biasa, senyum seperti biasa, pura-pura baik-baik saja seperti biasa.
“Kalau yakin,” suara Kylar kembali masuk, memotong lamunan Ryn tanpa ampun, “kenapa kamu belum pergi?”
“Maaf, Pak. Orang tua saya sedang sakit,” cicit Ryn. Dia tahu Kylar sudah tahu keadaan itu. Toh pria itu juga yang mengantarnya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Tapi ini di kantor, di forum seperti ini, tentu dia harus menjelaskannya secara formal.Kylar menyilangkan tangan di dada. “Semua orang di ruangan ini juga punya urusan masing-masing di luar kantor.”Tidak ada yang berani bersuara.“Kalau setiap orang pergi saat meeting masih berjalan,” lanjut Kylar, “rapat ini tidak akan pernah selesai.”Ryn terdiam.“Ini laporan kuartal. Dan kamu bagian dari tim yang mengerjakannya.” Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru terlalu profesional. Namun tetap saja membuat Ryn merasa seperti sedang ditegur. “Kalau semua orang masih di sini, kamu juga tetap di sini.”Semua orang nyaris menahan napas dalam ketegangan. Beberapa bertukar kode lewat isyarat mata. Sisanya berdoa dalam hati agar Kylar dibukakan pintu hatinya dan dilapangkan jalan pikirannya.Ryn akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Pak
Di ujung meja, Leon yang sejak tadi sudah siap dengan dokumen meeting akhirnya menghela napas. “Udah-udah. Kita cepetan ke ruang meeting,” kata Leon sambil berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau Pak Kylar datang duluan dan lihat kalian masih gosip di sini, bisa-bisa kena semprot semua.”Kalimat itu langsung membuat mereka bergerak lebih cepat. Laptop diambil, tablet dibawa, dan mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.Meeting sore itu memang penting. Mereka akan membahas review final laporan kuartal, memastikan semua angka yang akan diserahkan ke direksi sudah bersih dan tidak ada selisih.Begitu pintu ruang meeting dibuka, ruangan itu masih kosong.Leon langsung mengambil tempat di sisi kiri meja panjang, sementara Ryn duduk di dekat layar presentasi. Lala dan Agis memilih duduk berdampingan seperti biasa.Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.Kylar masuk lebih dulu. Setelan jasnya masih rapi seperti biasanya, langkahnya tenang tapi membuat ruangan l
Pertanyaan semacam ini dijawab salah bisa bahaya. Tidak dijawab, lebih bahaya lagi.Apalagi yang bertanya istrinya sendiri.Kylar menghela napas kecil, lalu menjawab santai, “Ya pernah dong. Suami kamu ini normal, Ryn.”Ryn langsung terdiam. Ekspresinya berubah dalam sepersekian detik. Alisnya naik, matanya menyipit, dan mulutnya sedikit mengerucut seperti orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat tidak menyenangkan.Kylar hampir tertawa melihat perubahan wajah itu. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat Ryn cemburu justru terasa menyenangkan.“Siapa?” tanya Ryn cepat.“Hm …” Kylar mengangkat bahu ringan, pura-pura berpikir. “Mas!”“Ada lah.”Ryn langsung menyilangkan tangan di dada. “Kalau ‘ada lah’ jawabannya? Berarti lebih dari satu dong?”Kylar akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Ini kenapa jadi interogasi?”“Karena kamu jawabnya mencurigakan!” tukas Ryn.Kylar memperhatikan wajah Ryn beberapa detik. Ada kesal di sana, ada cemburu juga, meskipun jelas Ryn berusa
“Tumben jemput aku?” tanya Ryn agak keras karena suara angin dan helm fullface yang mereka pakai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar suaranya bisa terdengar.Kylar tertawa kecil di depan. “Takut diambil alih orang lain kalau aku nggak jemput.”Ryn langsung tahu maksudnya. “Masih dendam aja sama Papi,” katanya sambil menepuk ringan punggung Kylar.Kylar menggeleng sedikit, walau gerakannya hampir tidak terlihat karena helm.“Bukan dendam. Cuma masih inget aja,” jawab Kylar santai.Di dalam kepalanya, Kylar sebenarnya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ayahnya dengan santai menawarkan tumpangan pada Ryn berkali-kali. Dan yang membuatnya tidak suka bukan soal tumpangannya, tapi karena Ryn terlihat nyaman menerimanya.Kylar memperlambat motor sedikit ketika lampu lalu lintas berubah merah.“Kamu udah makan?” tanyanya kemudian.“Belum,” jawab Ryn. “Terakhir itu minum kopi yang kamu kirim tadi sore.”Kylar melirik kaca spion sebentar, seolah ingin memastikan Ryn baik-baik s
“Mas Naufal baru pulang juga?”Lala menyapa lebih dulu ketika mereka keluar dari lift dan melewati lobi kantor. Naufal baru saja keluar dari toilet pria di ujung koridor, masih merapikan jam tangannya ketika melihat mereka berdua.“Iya, kebetulan baru beres,” jawab Naufal santai. Dia lalu menoleh ke Ryn dan Lala yang berjalan beriringan menuju pintu depan. “Kalian baru pulang juga? Pasti lembur ya karena laporan kuartal.”“Biasa, Mas. Mode zombie. Pergi paling pagi, pulang paling malam. Biasanya jam delapan malam udah tiduran di kamar. Sekarang malah masih di kantor,” keluh Ryn dramatis. Dia mengibaskan tangannya seolah benar-benar kelelahan.Lala langsung terkikik. “Kasihan suami Cici. Biasanya jam segini pasti lagi dikelonin.”“Eh jangan gitu! Malu ada Mas Naufal,” protes Ryn cepat sambil pura-pura menutup wajahnya.Naufal menahan senyum kecil. Namun, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Lala sudah melanjutkan topik lain.“Btw, Mas Naufal nggak bareng sama Pak Kylar?”“Pak Kylar suda
Ryn langsung menoleh. “Kenapa?”Kylar menatapnya dengan ekspresi datar yang sengaja dibuat serius, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting. “Karena ternyata istriku jauh lebih berbahaya.”Ryn mendengus kecil, tapi kemudian dia menoleh lagi dengan tatapan sedikit lebih usil.“Tapi bener kamu memang nggak ada perasaan apa-apa sama Dara?” tanyanya ringan.Pertanyaan itu terdengar santai, hampir seperti candaan. Padahal Ryn sendiri sudah tahu jawabannya. Hanya saja, kadang perempuan memang butuh sedikit validasi, meskipun logikanya sudah lebih dulu percaya.“Kamu ini lagi cari masalah ya pagi-pagi?”Kylar berhenti berjalan. Dia menoleh perlahan ke arah Ryn, matanya menyipit sedikit seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya serius atau hanya mencari gara-gara.Ryn mengangkat bahu santai. “Nanya doang!”Kylar menatapnya beberapa detik lagi, lalu akhirnya tertawa pelan. Dia kembali melanjutkan langkahnya di lintasan.“Kalau aku tertarik sama dia,” katanya sa







