Share

Bab 3: Kita Menikah Hari Ini!

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2026-01-28 11:32:47

Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.

“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.

Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.

Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.

“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.

Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?

“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”

Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.

Ryn sedikit terkejut.

“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.

Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!

Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”

Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”

Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?

Bagus, ide yang bagus, Ryn!

Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”

Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.

Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.

Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.

[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]

Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.

Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.

Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.

[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]

Napas Ryn tercekat.

Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.

Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.

Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.

Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.

Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.

“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”

Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.

Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.

Ryn menarik napas dalam.

Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”

Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.

“Cek e-mail kamu,” suruhnya.

Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.

Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.

Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.

Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang. 

Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.

Soal perasaan? Itu tidak sulit.

Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.

Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?

Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.

Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.

Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”

Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.

“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.

Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil. 

Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”

Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”

“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.

Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”

Kylar bersandar lagi. “Gampang.”

Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.

Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.

“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.

Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”

Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.

“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”

“Saya.”

Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”

Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.

“Dengan wanita di depanmu itu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 113: Kepribadian Ganda

    “Maaf, Pak. Orang tua saya sedang sakit,” cicit Ryn. Dia tahu Kylar sudah tahu keadaan itu. Toh pria itu juga yang mengantarnya ke rumah sakit beberapa hari lalu. Tapi ini di kantor, di forum seperti ini, tentu dia harus menjelaskannya secara formal.Kylar menyilangkan tangan di dada. “Semua orang di ruangan ini juga punya urusan masing-masing di luar kantor.”Tidak ada yang berani bersuara.“Kalau setiap orang pergi saat meeting masih berjalan,” lanjut Kylar, “rapat ini tidak akan pernah selesai.”Ryn terdiam.“Ini laporan kuartal. Dan kamu bagian dari tim yang mengerjakannya.” Kalimat itu tidak terdengar marah. Justru terlalu profesional. Namun tetap saja membuat Ryn merasa seperti sedang ditegur. “Kalau semua orang masih di sini, kamu juga tetap di sini.”Semua orang nyaris menahan napas dalam ketegangan. Beberapa bertukar kode lewat isyarat mata. Sisanya berdoa dalam hati agar Kylar dibukakan pintu hatinya dan dilapangkan jalan pikirannya.Ryn akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Pak

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 112: Meeting Dengan Bosszilla

    Di ujung meja, Leon yang sejak tadi sudah siap dengan dokumen meeting akhirnya menghela napas. “Udah-udah. Kita cepetan ke ruang meeting,” kata Leon sambil berdiri. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Kalau Pak Kylar datang duluan dan lihat kalian masih gosip di sini, bisa-bisa kena semprot semua.”Kalimat itu langsung membuat mereka bergerak lebih cepat. Laptop diambil, tablet dibawa, dan mereka berjalan bersama menuju ruang meeting.Meeting sore itu memang penting. Mereka akan membahas review final laporan kuartal, memastikan semua angka yang akan diserahkan ke direksi sudah bersih dan tidak ada selisih.Begitu pintu ruang meeting dibuka, ruangan itu masih kosong.Leon langsung mengambil tempat di sisi kiri meja panjang, sementara Ryn duduk di dekat layar presentasi. Lala dan Agis memilih duduk berdampingan seperti biasa.Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.Kylar masuk lebih dulu. Setelan jasnya masih rapi seperti biasanya, langkahnya tenang tapi membuat ruangan l

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 111: Karma

    Pertanyaan semacam ini dijawab salah bisa bahaya. Tidak dijawab, lebih bahaya lagi.Apalagi yang bertanya istrinya sendiri.Kylar menghela napas kecil, lalu menjawab santai, “Ya pernah dong. Suami kamu ini normal, Ryn.”Ryn langsung terdiam. Ekspresinya berubah dalam sepersekian detik. Alisnya naik, matanya menyipit, dan mulutnya sedikit mengerucut seperti orang yang baru saja menemukan informasi yang sangat tidak menyenangkan.Kylar hampir tertawa melihat perubahan wajah itu. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat Ryn cemburu justru terasa menyenangkan.“Siapa?” tanya Ryn cepat.“Hm …” Kylar mengangkat bahu ringan, pura-pura berpikir. “Mas!”“Ada lah.”Ryn langsung menyilangkan tangan di dada. “Kalau ‘ada lah’ jawabannya? Berarti lebih dari satu dong?”Kylar akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Ini kenapa jadi interogasi?”“Karena kamu jawabnya mencurigakan!” tukas Ryn.Kylar memperhatikan wajah Ryn beberapa detik. Ada kesal di sana, ada cemburu juga, meskipun jelas Ryn berusa

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 110: Gawat!

    “Tumben jemput aku?” tanya Ryn agak keras karena suara angin dan helm fullface yang mereka pakai. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar suaranya bisa terdengar.Kylar tertawa kecil di depan. “Takut diambil alih orang lain kalau aku nggak jemput.”Ryn langsung tahu maksudnya. “Masih dendam aja sama Papi,” katanya sambil menepuk ringan punggung Kylar.Kylar menggeleng sedikit, walau gerakannya hampir tidak terlihat karena helm.“Bukan dendam. Cuma masih inget aja,” jawab Kylar santai.Di dalam kepalanya, Kylar sebenarnya masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ayahnya dengan santai menawarkan tumpangan pada Ryn berkali-kali. Dan yang membuatnya tidak suka bukan soal tumpangannya, tapi karena Ryn terlihat nyaman menerimanya.Kylar memperlambat motor sedikit ketika lampu lalu lintas berubah merah.“Kamu udah makan?” tanyanya kemudian.“Belum,” jawab Ryn. “Terakhir itu minum kopi yang kamu kirim tadi sore.”Kylar melirik kaca spion sebentar, seolah ingin memastikan Ryn baik-baik s

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 109: Suami Ryn

    “Mas Naufal baru pulang juga?”Lala menyapa lebih dulu ketika mereka keluar dari lift dan melewati lobi kantor. Naufal baru saja keluar dari toilet pria di ujung koridor, masih merapikan jam tangannya ketika melihat mereka berdua.“Iya, kebetulan baru beres,” jawab Naufal santai. Dia lalu menoleh ke Ryn dan Lala yang berjalan beriringan menuju pintu depan. “Kalian baru pulang juga? Pasti lembur ya karena laporan kuartal.”“Biasa, Mas. Mode zombie. Pergi paling pagi, pulang paling malam. Biasanya jam delapan malam udah tiduran di kamar. Sekarang malah masih di kantor,” keluh Ryn dramatis. Dia mengibaskan tangannya seolah benar-benar kelelahan.Lala langsung terkikik. “Kasihan suami Cici. Biasanya jam segini pasti lagi dikelonin.”“Eh jangan gitu! Malu ada Mas Naufal,” protes Ryn cepat sambil pura-pura menutup wajahnya.Naufal menahan senyum kecil. Namun, sebelum dia sempat berkata apa-apa, Lala sudah melanjutkan topik lain.“Btw, Mas Naufal nggak bareng sama Pak Kylar?”“Pak Kylar suda

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 108: Kiriman

    Ryn langsung menoleh. “Kenapa?”Kylar menatapnya dengan ekspresi datar yang sengaja dibuat serius, seolah sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting. “Karena ternyata istriku jauh lebih berbahaya.”Ryn mendengus kecil, tapi kemudian dia menoleh lagi dengan tatapan sedikit lebih usil.“Tapi bener kamu memang nggak ada perasaan apa-apa sama Dara?” tanyanya ringan.Pertanyaan itu terdengar santai, hampir seperti candaan. Padahal Ryn sendiri sudah tahu jawabannya. Hanya saja, kadang perempuan memang butuh sedikit validasi, meskipun logikanya sudah lebih dulu percaya.“Kamu ini lagi cari masalah ya pagi-pagi?”Kylar berhenti berjalan. Dia menoleh perlahan ke arah Ryn, matanya menyipit sedikit seperti seseorang yang sedang menilai apakah lawan bicaranya serius atau hanya mencari gara-gara.Ryn mengangkat bahu santai. “Nanya doang!”Kylar menatapnya beberapa detik lagi, lalu akhirnya tertawa pelan. Dia kembali melanjutkan langkahnya di lintasan.“Kalau aku tertarik sama dia,” katanya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status