LOGINRyn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.
“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.
Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.
Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.
“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.
Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?
“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”
Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.
Ryn sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.
Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!
Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”
Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”
Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?
Bagus, ide yang bagus, Ryn!
Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”
Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.
Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.
Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.
[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]
Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.
Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.
Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.
[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]
Napas Ryn tercekat.
Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.
Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.
Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.
Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.
“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”
Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.
Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.
Ryn menarik napas dalam.
Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”
Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.
“Cek e-mail kamu,” suruhnya.
Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.
Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.
Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.
Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.
Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.
Soal perasaan? Itu tidak sulit.
Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.
Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?
Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.
Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.
Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”
Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.
“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.
Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.
Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”
Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”
“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.
Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”
Kylar bersandar lagi. “Gampang.”
Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.
“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.
Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”
Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.
“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”
“Saya.”
Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”
Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.
“Dengan wanita di depanmu itu.”
“N–nggak perlu, Ky. Aku percaya kamu nggak gay. Beneran,” sahut Ryn cepat. Suaranya sedikit bergetar, dan dia membenci fakta bahwa Kylar pasti menyadarinya.Ryn mencoba bangkit sedikit. Sekadar menggeser posisi. Mencari ruang bernapas. Namun, gerakannya terpotong karena telapak tangan Kylar menekan bahu Ryn turun. Tekanannya tidak keras, tidak kasar, tapi cukup untuk membuat keseimbangan Ryn goyah.Ryn tersentak. Refleks, tangannya mencengkeram lengan atas Kylar. Bukan untuk melawan, melainkan menahan diri agar tidak jatuh sendirian.Tarikan itu kecil. Spontan. Namun, cukup membuat posisi Kylar ikut terdorong ke depan.Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dipikirkan, tubuh Ryn kembali jatuh ke sofa. Dan Kylar yang tertarik olehnya, ikut kehilangan tumpuan.Mereka terjatuh bersamaan.Ryn terlentang di sofa. Kylar tertahan di atasnya, satu lengannya masih menopang tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih. Jarak di antara mereka kini nyaris tidak ada.Ryn membeku.“Jangan kab
“Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.Ini mode akting. Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”Serius? Tidak ada opsi kasur?Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.“Baik, Pak. Saya–”“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari
“Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan un
“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’. Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.Kylar menoleh sekilas. “Serius.”Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.“Kalau nanti orang kantor tanya ten
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.Ryn sedikit terkejut.“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!







