Share

Bab 4: Pernikahan Kilat

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2026-01-28 11:35:46

“Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.

Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.

Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’. 

Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.

Kylar menoleh sekilas. “Serius.”

Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. 

Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.

Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.

“Kalau nanti orang kantor tanya tentang suami saya bagaimana?” tanya Ryn. Dia tidak mungkin menyebut nama Kylar sebagai suaminya. Di Ashwara Culinary Group, menikah dengan orang sekantor jelas dilarang.

Kylar menoleh, tatapannya dingin tapi fokus. “Jawab saja dengan seseorang.”

Ryn melotot. “Pak, itu malah bikin penasaran.”

“Itu bagus,” kata Kylar datar dan langsung membuat Ryn semakin membelalakkan matanya.

“Bagus apanya, yang ada gosipnya malah makin lebar,” gerutu Ryn spontan, pelan nyaris seperti bisikan karena kesal dengan jawaban bosnya.

“Setidaknya, target gosipnya sudah berpindah,” balas Kylar santai, matanya fokus pada ponsel.

Mendengar itu, Ryn menatap Kylar tak percaya.

Dia mendengarnya?

Ryn memejamkan mata sebentar. Menyebalkan.

Tapi, setelah dipikir-pikir, ucapan Kylar ada benarnya juga. Akhirnya, gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Makin merasa kesal karena ucapan bosnya yang menyebalkan itu terasa masuk akal.

“Sekarang ke rumah kamu dulu. Ambil barang, sekalian minta izin. Lalu ke rumah saya,” ucap Kylar tiba-tiba.

Dan saat kalimat itu jatuh, Ryn sadar satu hal, mental yang dia pikir sudah dia siapkan, ternyata sama sekali belum siap. Dia bukan hanya menikah. Dia juga akan tinggal satu atap dengan Kylar Ashwara Putra.

Kylar baru melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Kita beli cincin dan foto pernikahan dulu.”

Ryn mematung. “Foto?”

Untuk apa?

Ryn kira hanya dengan buku nikah dan tanda tangan saja selesai.

Kylar mengangguk singkat. “Kalau kita cuma punya status tanpa bukti visual, keluarga saya akan mencium kebohongan.”

Tanpa menunggu jawaban, Kylar sudah berjalan menuju mobil yang menunggu di parkiran.

Ryn berdiri di tempatnya beberapa detik, memegang buku nikah seperti memegang bukti bahwa hidupnya baru saja belok tajam tanpa sein.

Lalu, dengan napas berat, dia menyusul. Karena apa pun yang baru saja terjadi, dia sudah resmi terjebak.

__

“Okay! Masnya berdiri di kanan, Mbaknya di sampingnya. Nah, bagus. Senyum!” Fotografer memberi arahan.

Setelah membeli cincin, dan memilih gaun pengantin dengan proses secepat kilat, Kylar langsung menyeret Ryn ke studio foto. Kata ‘menyeret’ di sini bukan kiasan, karena Ryn benar-benar merasa hidupnya dibawa lari tanpa sempat negosiasi.

Ryn berdiri dengan gaun putih yang masih terasa asing di tubuhnya. Tangannya bingung mau ditaruh di mana. Di depan? Di samping? Di pinggang? Akhirnya dia pilih yang paling aman: di sisi gaun, pura-pura menahan kain.

Kylar berdiri di sebelahnya seperti orang yang datang ke rapat penting, bukan sesi foto pernikahan dadakan.

“Sekarang pose yang romantis ya. Mas rangkul pinggang Mbaknya.” Fotografer memberi arahan lagi.

Ryn refleks menahan napas.

Oke. Ini dia. Momen yang tidak ada di kontrak. Atau mungkin ada, tapi Ryn belum sempat membacanya dengan mental siap.

Ryn baru mau melangkah sepersekian sentimeter menjauh, ketika Kylar lebih cepat. Tangannya langsung mendarat di pinggang Ryn.

Ryn mencoba menggeser tubuh pelan. Sengaja pelan supaya tidak terlihat seperti menolak. Kylar mengikuti gerakannya, merapat lagi.

Ryn menggeser lagi. Kylar merapat lagi.

Fotografer malah makin semangat. “Wah, natural banget! Bagus! Terus gitu ya, dekat-dekat!”

Kylar menunduk sedikit, suaranya rendah. “Kamu itu kenapa? Kamu mau foto ini kelihatan seperti saya maksa kamu?”

Ryn membeku sepersekian detik, tapi tidak sempat protes karena fotografer langsung menembak kamera bertubi-tubi.

“YESSS! Bagus! Nah, senyum! One … two … three!”

Klik. Klik. Klik.

Ryn memaksa senyum, tapi rahangnya mulai pegal. Di sisi lain, Kylar justru terlihat nyaman. Sangat nyaman.

Saat fotografer sibuk mengecek hasil, Ryn melihat tangan Kylar masih berada di pinggangnya. “Pak Kylar, tangan Bapak bisa turun sekarang.”

Kylar menatapnya, datar. “Kenapa? Kamu takut?”

Ryn menahan senyum. “Saya takut dituduh melecehkan bos.”

Kylar mengangkat alis. “Sekarang saya suami kamu.”

Ryn hanya bisa menarik napas, karena dia tahu, tidak ada kalimat bantahan untuk itu.

Begitu sesi itu selesai, Ryn mundur setengah langkah, dan merapikan gaunnya.

“Saya ganti gaun dulu ya, Pak,” ujar Ryn sopan, yang dibalas mengangguk singkat.

Ryn berbalik menuju ruang ganti dengan langkah cepat, tapi ujung sepatu Kylar menginjak ekor gaunnya.

“Aaaa!”

Ryn tersentak. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpeleset sedikit, dan selama sepersekian detik, dia benar-benar yakin akan jatuh dengan cara paling memalukan di depan seluruh studio.

Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Kylar sudah menahan punggungnya.

Ryn berhenti tepat di ambang jatuh. Tubuhnya miring, terjebak di antara udara, dada Kylar, dan jarak di antara mereka mendadak terlalu dekat untuk ukuran hubungan kontrak.

Kylar menunduk sedikit. Ryn mendongak. Dan untuk sesaat, semuanya terasa sunyi, meski studio masih ramai.

Wajah Kylar terlihat jelas dari jarak itu.

Ryn baru sadar, bosnya bukan hanya menyebalkan. Bosnya juga tampan dengan cara yang tidak perlu, seolah Tuhan sengaja menambah fitur bonus supaya hidupnya makin sulit.

“Kamu itu kenapa?” tanya Kylar.

Ryn menelan ludah, lalu menggeleng pelan. “M–Maaf, Pak.”

Dia cepat-cepat berdiri tegak lagi, menjauh setengah langkah, lalu mengembalikan jarak aman sebelum otaknya mulai berkata macam-macam.

Kenapa Kylar Ashwara Putra terlihat sangat tampan dari jarak sedekat itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 8: Pembuktian

    “N–nggak perlu, Ky. Aku percaya kamu nggak gay. Beneran,” sahut Ryn cepat. Suaranya sedikit bergetar, dan dia membenci fakta bahwa Kylar pasti menyadarinya.Ryn mencoba bangkit sedikit. Sekadar menggeser posisi. Mencari ruang bernapas. Namun, gerakannya terpotong karena telapak tangan Kylar menekan bahu Ryn turun. Tekanannya tidak keras, tidak kasar, tapi cukup untuk membuat keseimbangan Ryn goyah.Ryn tersentak. Refleks, tangannya mencengkeram lengan atas Kylar. Bukan untuk melawan, melainkan menahan diri agar tidak jatuh sendirian.Tarikan itu kecil. Spontan. Namun, cukup membuat posisi Kylar ikut terdorong ke depan.Dalam satu detik yang terlalu cepat untuk dipikirkan, tubuh Ryn kembali jatuh ke sofa. Dan Kylar yang tertarik olehnya, ikut kehilangan tumpuan.Mereka terjatuh bersamaan.Ryn terlentang di sofa. Kylar tertahan di atasnya, satu lengannya masih menopang tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih. Jarak di antara mereka kini nyaris tidak ada.Ryn membeku.“Jangan kab

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 7: Bermain Peran

    “Kalau nggak sukses, nggak mungkin keramas pagi-pagi, Bu,” sahut Kylar, seperti tidak terlihat kaget dengan ucapan Ratna.“Uhuk–uhuk!”Ryn langsung batuk. Jadi ini maksud komentar Ratna soal rambut basah tadi?!“Kalau makan pelan-pelan, Sayang,” tegur Kylar lembut, sambil menyodorkan gelas air ke arah Ryn.Ketika mata mereka bertemu, Ryn langsung paham.Ini mode akting. Dan mendengar panggilan itu, bukannya tersentuh, Ryn malah merasa geli sekaligus ngeri. Kylar terlalu mulus, terlalu meyakinkan. Dia tidak menyangka jika bosnya yang seperti Godzilla ini ternyata bisa berakting dengan sangat sempurna.“Saya senang dengarnya.” Ratna menatap mereka bergantian, lalu pandangannya turun sebentar ke blazer abu yang dikenakan Ryn, lalu ke jas Kylar. “Pengantin baru memang begitu, ya? Baju saja harus serasi.”Ryn menunduk refleks. Dan baru di situ dia sadar. Warna baju mereka senada!Ratna tersenyum kecil, masih sopan, tapi jelas puas. “Saya jadi makin yakin, Tuan bukan cuma bawa ‘istri’ untuk

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 6: Malam Pertama

    “Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”Serius? Tidak ada opsi kasur?Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.“Baik, Pak. Saya–”“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 5: Bermuka Dua

    “Saya Kylar, suaminya Ryn.”Kylar mengucapkannya lugas, tanpa banyak gaya, tapi entah bagaimana terdengar hangat.Dini dan Yanto yang duduk di seberang mereka, di ruang tamu rumah kontrakan keluarga angkat Ryn, langsung membelalakkan mata.Sementara Ryn hanya diam. Duduk manis di sebelah Kylar. Tadi, di perjalanan setelah mereka foto pernikahan, Kylar bilang dia yang akan bicara. Dan Ryn mencoba percaya pada pria ini.“Maksudnya bagaimana?!” suara Dini meninggi, langsung memecah ruangan. “Bukannya kamu mau menikah sama Andy? Jangan macam-macam kamu, Ryn!”Ryn menarik napas pelan, menahan refleks untuk menjawab dengan nada yang sama.“Aku sama Andy sudah putus, Ma,” ujar Ryn singkat.“Putus?” Dini mencibir, seolah kata itu penghinaan. “Putus atau diputusin?”Ryn menelan kalimat yang ingin keluar. Dia menatap lantai, menahan diri agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.Yanto yang duduk menyandar di kursi, dengan wajah lelah dan mata yang terlalu sering merah karena begadang bukan un

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 4: Pernikahan Kilat

    “Ini serius kita sudah menikah, Pak?” tanya Ryn tidak percaya sambil memegang buku nikah erat-erat di depan halaman KUA.Setelah Naufal mengurus dokumen itu dengan perasaan heran dan bingung, Kylar benar-benar langsung membawa Ryn ke kantor KUA. Bahkan, penghulu dan petugas lain juga telah lengkap di sana, padahal seharusnya kantor itu sudah tutup.Di kepala Ryn, hanya ada satu kalimat, ‘bosnya benar-benar gila’. Kylar berdiri di sampingnya, rapi, tenang, dan sama sekali tidak tampak seperti pria yang baru saja mengganti status hidup seseorang dalam waktu kurang dari dua jam.Kylar menoleh sekilas. “Serius.”Ryn menatap buku nikah itu lagi, seperti berharap tulisan di dalamnya mendadak berubah jadi struk belanja minimarket. Perempuan itu mulai melirik halaman KUA yang mulai sepi. Motor lewat, orang-orang keluar masuk, semuanya tampak normal.Tidak ada yang tahu Ryn baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya disiapkan enam bulan, bukan enam menit.“Kalau nanti orang kantor tanya ten

  • Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun   Bab 3: Kita Menikah Hari Ini!

    Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.Ryn sedikit terkejut.“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status