LOGINSelamat membaca dan semoga suka dengan 2 bab kita, MyRe. IG:@deasta18
Apa tamparannya tidak kuat? Nicolas menghela napas panjang lalu memilih memalingkan wajah agar tidak melihat Kiara. Setelah itu, dia kembali bersuara. "Sekalipun kau membayar uang sewah makam orang tuaku, aku sama sekali tidak tersentuh! Uang harammu untuk membayar sewa makam orang tuaku, tidak membuatku bangga padamu. Malah semakin muak!" "Siapa yang ingin membuatmu bangga, Pak Nicolas yang terhormat?! Hanya anak yang menyayangi orang tuanya lah yang ingin membanggakan orang tuanya, sedangkan aku tidak," jawab Kiara enteng. "Kau!" Nicolas melotot marah, mengepalkan tangan karena tersinggung mendengar ucapan putrinya. "Aku rela melakukan apapun untuk bisa membayar sewa makam Kakek dan Nenek, bukan semata-mata untuk membuatmu bangga. Aku melakukannya aku menyayangi mereka, makam itu … tempat terakhir kakek dan nenek, juga tempatku pulang," Kiara diam sejenak saat air matanya berhasil jatuh, "aku sudah tidak punya rumah untuk pulang, hanya makam kakek dan nenek. Jika aku tidak
Bahkan sampai sekarang, di titik Zaiden memiliki kekuatan dan kekuasaan sendiri, papanya masih menjadi bayangan yang diam-diam selalu melindunginya. Sedangkan Kiara … anak perempuan yang harus berjuang untuk hidupnya dan harus menghadapi kebencian ayahnya juga. Bagaimana bisa dia sangat kuat? "Aku akan menemui keluarga Gilbert," ucap Zaiden tiba-tiba, "sampai sekarang Angsa tidak menghubungiku." "Ya, Tuan." Marcus menganggukkan kepala secara pelan, "kurasa ada sesuatu yang terjadi pada Nona Kiara." "Kita ke sana hari ini juga." "Baik, Tuan." **** "Mau aku suap?" tanya Naomi sambil menatap tangan Kiara yang gemetaran. Saat ini mereka sedang makan di pinggir jalan. Kiara baru bebas dari sebuah gudang, tempat ia dikurung selama 3 malam di rumah ayahnya sendiri. Selama tiga hari itu, Kiara tidak pernah makan karena ayahnya tidak memberikan makan dan tidak mengizinkan siapapun memberinya makanan. Tapi tadi pagi, seorang maid lama di keluarganya diam-diam memberikannya roti dan
"Apa kita susul saja ke keluarganya, Mas?" ucap Shazia, cemas telah terjadi sesuatu pada calon menantunya, "aku takut terjadi sesuatu pada Kiara, Mas," tambah Shazia sambil memeluk lengan suaminya. "Kurasa tidak perlu, Tante," sahut Mira dari tempatnya, "sekalipun dia berasal dari keluarga Gilbert, tapi perilakunya sangat aneh." "Iya, Tante." Winter menyetujui pada perkataan Mira. Meskipun selama ini Mira ia anggap rival, akan tetapi kali ini dia sependapat dengan Mira, "jika dia memang dari keluarga Gilbert, kenapa namanya tidak pernah terdengar? Keluarga Gilbert itu … cukup berkuasa dan ternama." "Kau meragukan penyelidikan ayahmu sendiri?!" dingin Arland pada putrinya. "Sayang, jangan ikut campur," peringat Monika pada Winter, "dan mengenai Kiara, Ayah sendiri yang menyelidikinya. Tidak mungkin Ayah salah informasi." "Mah, aku tidak meragukan Ayah. Hanya saja … ini aneh. Jangan-jangan dia anak buangan lagi, oleh sebab itu namanya tidak pernah didengar. Setahuku … putr
Kiara menatap sosok sang pemimpin keluarga Malik dan istrinya, dengan penuh binar. Kiara langsung berlari ke arah mereka lalu bersembunyi di belakang tubuh Shazia. "Ibu, tolong selamatkan aku," pinta Kiara panik, langsung menyembunyikan wajah di belakang pundak saat Zaiden datang dengan raut muka marah. "Zaiden!" peringat Shazia pada putranya. "Kiara Angsa istriku, Maa. Ada yang salah?" ucap Zaiden sambil mendekat ke arah Kiara. Kiara menjauh saat Zaiden menghampirinya. "Ibu, to-tolong," pinta Kiara cepat saya Zaiden kembali mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Tak sampai di sana, pria itu itu melotot seram padanya–memperingarinya untuk tidak melawan. "Zaiden!" pekik Shazia setengah marah, memukul tangan putranya cukup kuat lalu memaksa Zaidan agar melepas cengkeramannya dari pergelangan tangan Kiara. "Zaiden, kau ingin Papa hajar, Humm?" ancam Rayden, melayangkan tatapan membunuh ke arah putranya. "Ck." Zaiden berdecak pelan sambil melirik kesal pada papanya, "kalia
Kiara sontak melebarkan mata, menatap semakin kaget dan panik pada sang big boss yang masih memeluk pinggangnya. Sedangkan semua orang, mereka refleks berdiri saking kaget dan tak percayanya dengan apa yang Zaiden katakan. Hanya Rayden yang tetap duduk, meraih cangkir kopi lalu menyeruput dengan khidmat–mengamati putranya yang terlihat senang dan Kiara yang terlihat panik. Shazia juga mengamati keduanya dengan ekspresi kaget. "Sayang, kamu se …-" Zaiden memotong cepat, "Ya, Maa. Aku ingin menikahi Kiara Angsa." "Tidak!" Kiara refleks menolak, melepas kuat pelukan Zaiden di pinggangnya lalu buru-buru menjauh dari pria berwajah dingin tersebut. Dengan wajah panik dan gugup setengah mati, Kiara menatap bergantian Shazia dan Rayden. "Ibu, Tuan …-" Kiara berhenti sejenak, kembali mundur karena Zaiden mendekat padanya, "ja-jangan salah paham. A-aku tidak ada hubungan dengan Tuan Zaiden. Maksudku … cuma mantan Big Boss. Aku sudah dipecat dan sekarang kami tidak punya hubungan apa-a
"Akhirnya kamu pulang, Sayang," ucap Shazia, mendekat lalu memeluk putranya. Bukan hanya itu, dia juga mencium ke-dua pipi sang putra secara bergantian–membuat pria di belakangnya langsung menatap tajam ke arah Zaiden. "Sepertinya putra Mama kelelahan." Setelah memeluk putranya, Shazia mengamati ekspresi Zaiden yang terasa dingin. Namun, Shazia tak mengambil pusing. Mungkin putranya hanya kelelahan. "Pergilah beristirahat. Nanti, jam makan malam, kamu turun yah, Sayang. Soalnya ada yang Mama dan Papa ingin bicarakan denganmu." "Baik, Maa," jawab Zaiden singkat. Dia senyum tipis pada mamanya lalu segera pergi ke kamarnya. Tiba di kamarnya, Zaiden langsung menelpon Marcus–di mana Marcus tak ikut pulang karena ia perintahkan mencari Kiara. 'Masih belum ketemu, Tuan,' ucap Marcus di seberang sana. "Humm." Zaiden berdehem singkat lalu secara mematikan sambungan telepon. Karena masih ada amarah yang tersisa dalam dirinya, Zaiden memilih berendam. Setelah itu, dia beristiraha







