Share

6

Author: Alfylla
last update Last Updated: 2025-12-01 11:33:42

Savira duduk termenung di pinggir ranjang. Matanya melihat sekeliling, pada kamarnya yang sudah didekorasi dengan indah. Seulas senyum miris terukir di bibirnya, tak menyangka kalau nasibnya akan semenyedihkan ini.

Savira sudah selesai membersihkan tubuh dan kini memakai piyama polos berwarna biru muda. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang, yang jelas Savira memikirkan nasibnya ke depan. Abian memakai namanya sendiri saat akad tadi, bukan memakai nama Xavier. Dan itu berarti, pernikahan dia dan Abian sah di mata agama. Yang berarti juga, sekarang Savira sudah sah menjadi istri Abian.

Savira memejamkan mata dengan erat. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing lagi sekarang. Mungkin, dia butuh istirahat malam ini. Masalah status dia dan Abian, bisalah dipikirkan lagi besok.

Savira menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang lalu menarik selimut tebal miliknya yang hangat. Saat hendak membaringkan tubuh, ponselnya yang berada di atas laci bergetar pelan. Karena penasaran, Savira mengambilnya. Dan keningnya berkerut ketika melihat ada DM masuk dari akun yang tak dia kenal.

"Xavier tidak pernah mencintaimu, Savira. Kamu saja yang terlalu bodoh menganggap Xavier memiliki perasaan padamu. Sekarang, dia sedang tidur lelap bersamaku. Ngomong-ngomong, Tante Wanda juga merestui hubungan kami."

Rasa perih dan sesak di dada langsung terasa oleh Savira setelah membaca pesan tersebut. Air mata mengalir membasahi pipinya saat dia melihat satu persatu foto yang dikirimkan oleh akun tersebut. Dengan cepat Savira menutup mulutnya, berusaha menahan isak tangisnya sendiri.

Lihatlah. Saat dia kelimpungan di sini karena Xavier pergi, tapi pria itu malah asyik senang-senang dengan perempuan lain, bahkan sampai tidur bersama.

Tangan Savira yang memegang ponsel terlihat gemetar, hingga ponsel tersebut jatuh dari tangannya. Pada akhirnya, tangis Savira pecah. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ini sangat menyakitkan. Xavier sudah terlalu dalam menyakitinya. Xavier dan wanita itu sudah sangat keterlaluan padanya.

***

Saat pagi datang, Chandra langsung menemui Savira di kamarnya. Dia begitu kaget melihat keadaan putrinya yang bangun dengan mata bengkak karena menangis semalaman.

"Ra, kamu sudah tahu sendiri bagaimana kenyataan tentang Xavier dari ayahnya. Tak ada gunanya masih mengharapkan dia kembali padamu," ujar Chandra dengan suara pelan. Savira terdiam dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Dia tak memiliki semangat untuk menjalani hari seperti biasanya. Hati dan fisiknya terasa sangat lelah setelah semua yang terjadi. Dia butuh istirahat panjang.

"Tentang Abian, Papa tidak tahu harus mengambil langkah apa. Papa juga salah karena membiarkan dia melakukan ijab kabul dengan namanya sendiri kemarin." Chandra berucap. Savira masih diam saat mendengar itu. Dia juga tidak tahu harus berkata apa pada ayahnya sekarang.

"Secara agama, kamu dan Abian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Namun pernikahan kalian belum tercatat di KUA. Mungkin, Papa akan meminta Abian datang ke sini dan menjatuhkan talak padamu. Apa kamu setuju?" Chandra bertanya. Savira masih diam, tak memberikan jawaban. Bagaimana bisa dia menjawab saat pikirannya pun terbang entah kemana.

"Papa yakin Abian akan setuju dengan rencana Papa ini. Tugasnya menggantikan Xavier dan menghindarkan keluarga kita dari rasa malu sudah selesai." Chandra terus berbicara walau Savira tidak merespon apapun. Chandra tentu tidak tahu kalau semalam Savira mendapatkan informasi menyakitkan langsung dari orang yang sudah tega menghancurkan hatinya.

Setelah beberapa menit, Chandra tak kunjung mendapatkan jawaban dari Savira. Dia lalu berdiri, hendak pergi dari kamar Savira. Namun sebelum Chandra benar-benar pergi, Savira bersuara.

"Panggil saja ayahnya Xavier ke sini, Pa. Aku ingin bertanya sesuatu padanya."

***

Pukul dua siang, Abian datang lagi ke rumah Chandra dan Nina atas panggilan dari Chandra sendiri. Abian tak tahu tujuan apa dia dipanggil, namun dia yakin kalau yang akan di bahas adalah tentang apa yang terjadi di hari kemarin.

Hari ini, rumah Chandra tidak seramai hari kemarin. Anggota keluarga yang menginap sudah pulang, dan tinggal keluarga inti saja. Abian pun datang ke sana sendirian saja, tanpa ditemani ibu maupun adiknya.

Abian dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu bersama Chandra. Jelas yang akan dibahas Chandra adalah tentang ijab kabul yang dilakukan kemarin. Dan Abian sudah bisa menebaknya sejak awal.

"Savira ingin bertanya sesuatu pada Anda, Pak Abian." Chandra berkata. Abian sedikit kaget juga bingung saat mendengar itu. Namun tak lama kemudian, Savira muncul dan duduk di samping ayahnya. Matanya masih terlihat bengkak, membuat Abian merasa sangat bersalah. Sudah pasti mata bengkak itu terjadi karena Savira masih menangisi kelakuan Xavier yang sangat jahat.

"Savira, saya minta maaf atas kelakuan Xavier yang sudah sangat jahat padamu. Saya juga tidak menyangka dia sampai tega seperti itu." Abian memulai pembicaraan dengan permintaan maaf secara langsung pada Savira.

"Om tidak perlu meminta maaf karena bukan Om yang salah. Aku yakin, Om juga tidak menginginkan ini semua terjadi," timpal Savira dengan nada suara yang tenang. Mendengar nada suara Savira, Chandra merasa lega. Mungkin keadaan Savira sekarang sudah jauh lebih baik.

"Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Apa Om tahu alasan Tante Wanda tidak merestui hubunganku dengan Xavier? Jika diingat-ingat lagi, sepertinya Tante Wanda sangat membenciku dan tak pernah bersikap baik padaku." Savira akhirnya melontarkan pertanyaan yang memang ingin dia tanyakan pada Abian.

"Saya tidak tahu tentang itu, Savira. Saya hanya tahu jika kehidupan Xavier semakin kacau karena tak ada arahan apapun dari ibunya." Abian menjawab. Savira terdiam beberapa saat setelah mendengar itu. Dia kemudian berusaha mengingat hari-hari yang dia lewatkan bersama Xavier. Apakah Xavier pernah cerita tentang Abian? Tidak. Xavier selalu bilang kalau Abian tidak pantas menjadi seorang ayah. Entah alasan apa yang membuat Xavier berkata seperti itu.

"Terima kasih atas jawabannya, Om. Aku hanya ingin menanyakan itu saja," ucap Savira. Abian pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Setelah suasana hening untuk beberapa saat, akhirnya Chandra mulai membahas tentang status Abian dan Savira sekarang. Chandra mengatakan secara detail rencana yang sudah dia susun pada Savira maupun Abian, yaitu agar Abian segera menjatuhkan talak saja pada Savira agar semuanya cepat selesai.

"Tentu. Saya akan melakukannya." Abian berucap, menyetujui perkataan Chandra.

"Apa Om sudah memiliki seseorang?" Savira bertanya, membuat Abian dan Chandra merasa heran. Abian pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Savira. Dan yang Savira katakan selanjutnya, berhasil membuat Abian juga Chandra terkejut bukan main.

"Bagaimana kalau kita berusaha menjalaninya saja? Tuhan tak mungkin memberikan izin kita menjadi suami istri jika ini bukan garis takdirku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Calon Mertua   40

    Savira duduk di atas ranjang dengan Aira yang berada dalam gendongannya. Savira baru saja selesai menyusui Aira. ASI-nya memang baru keluar sedikit, tapi perawat bilang Savira harus sering menyusukannya agar ASI-nya terangsang dan bisa cepat keluar. Setelah menyusu, Aira tidur lelap dalam gendongan sang ibu. Savira pun tak bisa mengalihkan tatapannya walau hanya sesaat dari Aira. Dia merasa kagum melihat malaikat kecilnya yang cantik dan mungil tersebut. "Cantik sepertimu." Abian berucap seraya berdiri di samping ranjang. Matanya ikut tertuju pada putri kecilnya yang sedang tidur. Senyum Abian pun terus terukir di bibirnya. Memberikan tanda kalau dia sangat bahagia dengan kelahiran putrinya ke dunia ini. Saat keduanya sedang sibuk memandangi Aira yang tidur pulas, tiba-tiba pintu kamar inap Savira terbuka. Tatapan Abian dan Savira pun spontan mengarah ke arah pintu. Dan ternyata, Xavier lah yang datang berkunjung. "Xavier? Kapan kamu tiba?" Abian bertanya seraya menghampiri putran

  • Dinikahi Calon Mertua   39

    Jam menunjukkan pukul 11 siang, dan sekarang Savira berada di sebuah kamar inap VIP rumah sakit. Dia tidak sendirian di sana, karena ada Abian yang menemani. Selain Abian, orang tua Savira juga turut hadir di sana. "Operasinya dilakukan jam berapa?" Chandra bertanya pada Abian seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam satu siang nanti," jawab Abian. Dia kini duduk di samping ranjang pasien, dengan tangan yang terus menggenggam tangan Savira. Sementara Savira berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sudah memakai baju pasien. "Papa dan Mama sebaiknya pulang saja. Masih dua jam lagi sampai waktu untuk operasi nanti," ucap Savira pada kedua orang tuanya. Keadaan dia sebenarnya sehat-sehat saja sekarang, tak terlihat mengkhawatirkan. Namun sebagai orang tua, Chandra dan Nina tetap saja merasa khawatir. "Tak apa. Kami akan ikut menunggu di sini," balas Nina. Savira tersenyum mendengar itu. Sebenarnya, keadaan dia dan calon anaknya sehat-sehat saja. Namun set

  • Dinikahi Calon Mertua   38

    Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Xavier akhirnya berkunjung lagi ke rumah ayahnya. Dia datang sendirian ke sana atas keinginannya sendiri. Kedatangannya pun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Xavier berdiri di depan pintu rumah ayahnya dan menekan bel. Dia menunggu selama beberapa saat di sana hingga akhirnya pintu terbuka. Terlihat lah sosok Savira dengan perutnya yang memperlihatkan kehamilannya. Savira pun terlihat terkejut dengan kedatangan Xavier. "Apa kedatanganku mengganggumu dan Papa?" Xavier bertanya dengan suara pelan. Savira mengerjap lalu menggelengkan kepala. "Tidak kok. Maaf aku terkejut dengan kedatanganmu. Ayo masuk," ucap Savira. Dia membuka pintu dengan lebar, mempersilakan Xavier untuk masuk. Setelah itu dia menutup pintunya lagi dengan rapat. "Mas Bian sedang di kamar mandi. Tak akan lama kok," ucap Savira. Xavier mengangguk pelan. Dia lalu duduk di sofa ruang tamu dengan mata melihat sekeliling. Tak banyak yang berubah di rumah itu, sejak dia menin

  • Dinikahi Calon Mertua   37

    Savira berjalan membawa dua gelas air putih dan satu air botol kemasan menuju ruang keluarga di apartemen Xavier. Abian memesan makanan untuk mereka bertiga, dan kebetulan makanan mereka sudah datang. Benar saja perkiraan Savira, kedatangan Abian ke sana membuat perasaan Xavier sedikit membaik. "Apa gelas di dapur habis?" Xavier bertanya saat melihat Savira memilih minum dari botol kemasan ketimbang memakai gelas. Ya, Xavier memang belum tahu tentang keadaan Savira sekarang. "Enggak. Gelas di dapur masih banyak kok," jawab Savira. Dia menutup botol kemasan itu dengan rapat agar airnya tidak tumpah. "Savira mual kalau minum memakai gelas," ucap Abian, memberikan jawaban pada Xavier. Savira dan Xavier menengok serentak ke arah Abian. Tatapan Savira terlihat terkejut, sedangkan Xavier terlihat bingung. Dan Abian mengabaikan tatapan dari keduanya. "Tak lama lagi kamu akan punya adik, Xavier." Abian berucap dengan tenang dan santai. Xavier terdiam beberapa saat, berusaha mencerna perka

  • Dinikahi Calon Mertua   36

    Savira duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menyala, memutar sebuah film. Savira menonton film di ruang keluarga tidak sendirian, karena selalu ada Abian yang setia menemaninya di mana pun dan kapan pun. "Kabar Xavier bagaimana, Mas?" Savira bertanya seraya menengok ke arah Abian yang sedang menikmati kopi miliknya. "Keadaan dia kurang baik sekarang," jawab Abian dengan jujur. Dia tak merasa cemburu atau curiga saat Savira menanyakan tentang Xavier. Karena Abian percaya, Savira akan selalu setia padanya. Bentuk perhatian Savira pada Xavier sekarang hanya karena mereka sudah menjadi keluarga. Abian tahu itu. "Dia sakit?" tanya Savira lagi. Dia lalu bergerak mendekat ke arah Abian. "Bisa dibilang begitu." Abian memberikan jawaban yang kurang Savira pahami. "Xavier sudah tahu semuanya tentang Wanda sekarang. Minggu kemarin, dia menemukan banyak rahasia yang selama ini Wanda simpan. Xavier langsung drop setelah itu," lanjut Abian, memberikan sebuah penjelasan. Savira membela

  • Dinikahi Calon Mertua   35

    Hari sudah sore dan sudah waktunya pulang kerja. Sebagian teman sepekerjaan Xavier sudah pulang, namun dia masih diam di kantor dengan perasaan campur aduk. Dia memang tidak memergoki langsung ibunya. Namun mengetahui ibunya masuk ke hotel dengan dua pria, sudah bisa dijelaskan apa yang terjadi di sana. Kalau memang urusannya hanya sekedar obrolan, bisa kan memilih cafe atau restoran. Namun hotel, entahlah. Xavier belum mendapatkan kabar lagi dari ibunya. Walaupun ibunya malam ini pulang, entah kenapa Xavier enggan untuk bertemu. Dia belum memiliki bukti kuat untuk menghakimi kelakuan bejat ibunya. Namun Xavier takut tak bisa menahan emosinya sendiri jika langsung bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya tersebut. "Tuan Xavier, sudah waktunya untuk pulang. Mari saya antar," ucap Reza menghampiri Xavier yang terlihat merenung. Xavier sampai kaget sendiri mendengar suara Reza. "Aku belum ingin pulang," ucap Xavier dengan suara pelan. Reza terdiam mendengar itu. Sebagai seseor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status