로그인Dua hari berturut-turut, Savira terus menangis dan merenung. Hal tersebut membuat keadaannya jadi kurang baik ketika hari pernikahan tiba.
Selama dirias, Savira merasakan sakit di kepala. Mungkin hal tersebut karena dia terus saja menangis, masih belum sepenuhnya menerima kenyataan tentang Xavier yang meninggalkannya. Keadaannya yang kurang sehat bisa dilihat oleh MUA yang meriasnya. "Sepertinya keadaan calon pengantin kurang baik." Asisten MUA menginfokan hal tersebut pada keluarga. Chandra dan Nina bergegas melihat keadaan Savira yang masih di rias oleh MUA. Savira terlihat memaksakan senyuman walau kepalanya terasa sangat berat sekarang. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing," ucap Savira, berusaha untuk tidak membuat keluarganya khawatir. Akhirnya Nina pun memberikan obat pada Savira. "Mas, mungkin seharusnya kita tidak memaksakan keadaan. Kondisi Savira jauh dari kata baik." Nina berkata pada suaminya. Semua orang sudah berdandan rapi untuk ikut merayakan pernikahan Savira. Namun jelas, keadaan calon pengantin tidak dalam kondisi yang baik. "Kita tak bisa membatalkannya begitu saja. Sudah banyak tamu yang datang juga untuk menyaksikan akad pernikahan." Chandra membalas. Nina memasang ekspresi khawatir karena mengingat keadaan anaknya sendiri. "Yang terpenting adalah melaksanakan akad pernikahan. Banyak keluarga kita yang dari luar kota sengaja datang lebih awal karena ingin menyaksikan. Untuk resepsi, kita bisa membuat alasan jika keadaan Savira tak kunjung membaik," ujar Chandra. Nina menghela nafas pelan mendengar itu. Tak menyangka, keadaan akan jadi serumit ini. *** Savira duduk di samping Abian dengan tatapan kosong. Pikirannya terbang entah kemana, yang jelas sekarang dia tidak fokus dengan sekitar. Savira masih berharap kalau semua ini adalah mimpi. Dia masih berharap kalau Xavier akan datang padanya sekarang. "Saya terima nikah dan kawinnya Savira Angeline Wijaya binti Chandra Wijaya ...." Savira tak bisa mendengar kelanjutan ijab kabul yang dilakukan oleh Abian di sampingnya. Dengan perlahan, Savira melihat ke arah Abian lewat ujung matanya. Savira tak menyangka, bahwa pria yang harusnya jadi ayah mertuanya kini malah menjadi suaminya. Lelucon macam apa ini? "Sah!" Sahutan keras orang-orang di sekitarnya membuat Savira tersadar dari lamunan. Dia mengerjap pelan, lalu kembali melihat ke arah Abian yang ternyata sedang melihat ke arahnya juga. Tatapan Abian seolah mengatakan maaf atas semua yang terjadi hari ini, atas semua kekacauan yang dibuat oleh Xavier. Savira berusaha fokus dan mengikuti setiap perkataan dari penghulu yang duduk di hadapan dia dan Abian. Tangannya sedikit gemetar saat meraih tangan Abian dan mencium punggung tangannya. Ini semua terasa sangat tak benar bagi Savira. Setelah itu, giliran Abian yang mencium kening Savira. Suasana yang terjadi antara mereka berdua sangat canggung, namun orang-orang yang melihat malah tersipu malu. Jelas sebagian dari mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah proses akad selesai, Savira dan Abian pun berjalan beriringan untuk naik ke atas pelaminan. Kepala Savira tiba-tiba terasa berat lagi sekarang padahal dia sudah minum obat tadi. Secara tak sadar, Savira mencengkram lengan Abian dengan kuat untuk berpegangan. Dia berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kesadarannya. "Kamu baik-baik saja?" Abian bertanya setelah merasakan tangan Savira yang mencengkram lengannya dengan cukup kuat. "I-iya." Savira menjawab dengan pelan. Walau dengan tatapan kosong dan penuh luka, Savira tetap memaksakan diri untuk tersenyum karena banyak mata yang melihat ke arah mereka sekarang. Savira tidak mau egois dan memikirkan dirinya sendiri. Dia tahu sebesar apa perjuangan orang tuanya untuk menyiapkan semua ini. Banyak tamu penting yang tidak tahu masalah yang sedang dia hadapi sekarang. Jadi, Savira berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Walau ya, suasananya sangat amat canggung antara dirinya dan Abian sekarang. Untuk sekarang, yang Savira inginkan adalah hari cepat berlalu. Dia ingin semua ini cepat berakhir. Hari pernikahannya tidak menjadi hari yang paling membahagiakan bagi dirinya. Dia, merasa tersiksa. *** Secara agama, Abian dan Savira sudah sah menjadi pasangan suami istri. Namun pernikahan mereka tidak tercatat di kantor KUA, karena yang awal didaftarkan adalah nama Xavier dan Savira. Abian juga sudah mengajukan pembatalan pernikahan atas nama Xavier dan Savira ke KUA. Selesai acara resepsi, Abian jelas pulang ke rumahnya sendiri. Dan sebelum pergi bersama keluarganya, dia kembali meminta maaf pada Chandra atas semua kekacauan yang sudah diperbuat oleh Xavier. Chandra merasa sudah tak ada gunanya juga meluapkan amarah pada Abian. Yang penting, Abian sudah bertanggung jawab dan membantu mereka terhindar dari rasa malu di hadapan para tamu dan keluarga besar. "Jadi, selanjutnya bagaimana? Secara agama Savira sudah sah menjadi istri Abian." Nina berkata pada suaminya. Satu masalah sudah terselesaikan, tinggal memikirkan masalah selanjutnya. "Kita tunggu saja sampai keadaan sedikit lebih tenang. Biarkan Savira menenangkan diri lebih dulu. Setelah keadaannya membaik, kita akan bertanya padanya." Chandra membalas. Hal tersebut membuat Nina bingung. "Mas, sudah jelas Savira tak menginginkan ini. Mas langsung saja minta Abian jatuhkan talak pada Savira." Nina berkata. "Pernikahan bukan sesuatu yang pantas untuk dipermainkan. Kita tunggu dulu sampai keadaan Savira membaik dan kita tanyakan padanya apa yang dia inginkan. Pernikahan ini tak akan terjadi jika Tuhan tak memberikan izin." Nina terdiam mendengar kata-kata suaminya barusan. Dia paham apa yang suaminya maksud, namun tetap saja membiarkan Abian dan Savira berstatus suami istri terasa tidak benar. Pernikahan mereka terjadi hanya untuk menutupi masalah yang terjadi saja. "Seharusnya Abian tetap menggunakan nama Xavier saat akad tadi agar pernikahan mereka tidak sah." Nina berucap lagi. Chandra menatap istrinya beberapa saat, namun tak membalas perkataan Nina barusan. Pikirannya kalut memikirkan apa yang akan terjadi di hari pernikahan Savira. Hingga Chandra setuju saja agar Abian menggunakan namanya sendiri saat akad yang membuat Abian dan Savira sah menjadi suami istri dalam hukum agama. Chandra sendiri bingung harus mengambil tindakan apa selanjutnya. Yang jelas, dia tak bisa mengambil tindakan tanpa persetujuan dari Savira.Savira duduk di atas ranjang dengan Aira yang berada dalam gendongannya. Savira baru saja selesai menyusui Aira. ASI-nya memang baru keluar sedikit, tapi perawat bilang Savira harus sering menyusukannya agar ASI-nya terangsang dan bisa cepat keluar. Setelah menyusu, Aira tidur lelap dalam gendongan sang ibu. Savira pun tak bisa mengalihkan tatapannya walau hanya sesaat dari Aira. Dia merasa kagum melihat malaikat kecilnya yang cantik dan mungil tersebut. "Cantik sepertimu." Abian berucap seraya berdiri di samping ranjang. Matanya ikut tertuju pada putri kecilnya yang sedang tidur. Senyum Abian pun terus terukir di bibirnya. Memberikan tanda kalau dia sangat bahagia dengan kelahiran putrinya ke dunia ini. Saat keduanya sedang sibuk memandangi Aira yang tidur pulas, tiba-tiba pintu kamar inap Savira terbuka. Tatapan Abian dan Savira pun spontan mengarah ke arah pintu. Dan ternyata, Xavier lah yang datang berkunjung. "Xavier? Kapan kamu tiba?" Abian bertanya seraya menghampiri putran
Jam menunjukkan pukul 11 siang, dan sekarang Savira berada di sebuah kamar inap VIP rumah sakit. Dia tidak sendirian di sana, karena ada Abian yang menemani. Selain Abian, orang tua Savira juga turut hadir di sana. "Operasinya dilakukan jam berapa?" Chandra bertanya pada Abian seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam satu siang nanti," jawab Abian. Dia kini duduk di samping ranjang pasien, dengan tangan yang terus menggenggam tangan Savira. Sementara Savira berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang sudah memakai baju pasien. "Papa dan Mama sebaiknya pulang saja. Masih dua jam lagi sampai waktu untuk operasi nanti," ucap Savira pada kedua orang tuanya. Keadaan dia sebenarnya sehat-sehat saja sekarang, tak terlihat mengkhawatirkan. Namun sebagai orang tua, Chandra dan Nina tetap saja merasa khawatir. "Tak apa. Kami akan ikut menunggu di sini," balas Nina. Savira tersenyum mendengar itu. Sebenarnya, keadaan dia dan calon anaknya sehat-sehat saja. Namun set
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Xavier akhirnya berkunjung lagi ke rumah ayahnya. Dia datang sendirian ke sana atas keinginannya sendiri. Kedatangannya pun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Xavier berdiri di depan pintu rumah ayahnya dan menekan bel. Dia menunggu selama beberapa saat di sana hingga akhirnya pintu terbuka. Terlihat lah sosok Savira dengan perutnya yang memperlihatkan kehamilannya. Savira pun terlihat terkejut dengan kedatangan Xavier. "Apa kedatanganku mengganggumu dan Papa?" Xavier bertanya dengan suara pelan. Savira mengerjap lalu menggelengkan kepala. "Tidak kok. Maaf aku terkejut dengan kedatanganmu. Ayo masuk," ucap Savira. Dia membuka pintu dengan lebar, mempersilakan Xavier untuk masuk. Setelah itu dia menutup pintunya lagi dengan rapat. "Mas Bian sedang di kamar mandi. Tak akan lama kok," ucap Savira. Xavier mengangguk pelan. Dia lalu duduk di sofa ruang tamu dengan mata melihat sekeliling. Tak banyak yang berubah di rumah itu, sejak dia menin
Savira berjalan membawa dua gelas air putih dan satu air botol kemasan menuju ruang keluarga di apartemen Xavier. Abian memesan makanan untuk mereka bertiga, dan kebetulan makanan mereka sudah datang. Benar saja perkiraan Savira, kedatangan Abian ke sana membuat perasaan Xavier sedikit membaik. "Apa gelas di dapur habis?" Xavier bertanya saat melihat Savira memilih minum dari botol kemasan ketimbang memakai gelas. Ya, Xavier memang belum tahu tentang keadaan Savira sekarang. "Enggak. Gelas di dapur masih banyak kok," jawab Savira. Dia menutup botol kemasan itu dengan rapat agar airnya tidak tumpah. "Savira mual kalau minum memakai gelas," ucap Abian, memberikan jawaban pada Xavier. Savira dan Xavier menengok serentak ke arah Abian. Tatapan Savira terlihat terkejut, sedangkan Xavier terlihat bingung. Dan Abian mengabaikan tatapan dari keduanya. "Tak lama lagi kamu akan punya adik, Xavier." Abian berucap dengan tenang dan santai. Xavier terdiam beberapa saat, berusaha mencerna perka
Savira duduk di ruang keluarga dengan televisi yang menyala, memutar sebuah film. Savira menonton film di ruang keluarga tidak sendirian, karena selalu ada Abian yang setia menemaninya di mana pun dan kapan pun. "Kabar Xavier bagaimana, Mas?" Savira bertanya seraya menengok ke arah Abian yang sedang menikmati kopi miliknya. "Keadaan dia kurang baik sekarang," jawab Abian dengan jujur. Dia tak merasa cemburu atau curiga saat Savira menanyakan tentang Xavier. Karena Abian percaya, Savira akan selalu setia padanya. Bentuk perhatian Savira pada Xavier sekarang hanya karena mereka sudah menjadi keluarga. Abian tahu itu. "Dia sakit?" tanya Savira lagi. Dia lalu bergerak mendekat ke arah Abian. "Bisa dibilang begitu." Abian memberikan jawaban yang kurang Savira pahami. "Xavier sudah tahu semuanya tentang Wanda sekarang. Minggu kemarin, dia menemukan banyak rahasia yang selama ini Wanda simpan. Xavier langsung drop setelah itu," lanjut Abian, memberikan sebuah penjelasan. Savira membela
Hari sudah sore dan sudah waktunya pulang kerja. Sebagian teman sepekerjaan Xavier sudah pulang, namun dia masih diam di kantor dengan perasaan campur aduk. Dia memang tidak memergoki langsung ibunya. Namun mengetahui ibunya masuk ke hotel dengan dua pria, sudah bisa dijelaskan apa yang terjadi di sana. Kalau memang urusannya hanya sekedar obrolan, bisa kan memilih cafe atau restoran. Namun hotel, entahlah. Xavier belum mendapatkan kabar lagi dari ibunya. Walaupun ibunya malam ini pulang, entah kenapa Xavier enggan untuk bertemu. Dia belum memiliki bukti kuat untuk menghakimi kelakuan bejat ibunya. Namun Xavier takut tak bisa menahan emosinya sendiri jika langsung bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya tersebut. "Tuan Xavier, sudah waktunya untuk pulang. Mari saya antar," ucap Reza menghampiri Xavier yang terlihat merenung. Xavier sampai kaget sendiri mendengar suara Reza. "Aku belum ingin pulang," ucap Xavier dengan suara pelan. Reza terdiam mendengar itu. Sebagai seseor







