MasukKeesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu.
Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa. Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan. Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang. "Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya. Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya." "Ooh, ya udah aku mau istirahat dulu. Kamu jangan lupa istirahat dulu ya... bye!" Mendengar itu, Siti jadi ingat kalau ini sudah masuk jam istirhat kantor. Ia langsung mengikuti Febi yang menuju kantin. Di sana, ia duduk bersama Febi yang terbiasa dikucilkan teman sekantornya. Mungkin karena penampilan dan fakta bahwa Febi anak cupu. "Kakak terbiasa kek gini setiap hari, maksudnya sendirian?" Febi mengangguk sambil tersenyum tipis. "Hem... aku awalnya sedih, tapi lama-lama terbiasa." Situasinya tak baik memang, tapi Febi mungkin sudah di fase tak perduli dengan kesendiriannya. Sebenarnya sama dengan Siti. Latarbelakang Siti dan Febi sama, sama-sama anak pertama dan membantu orangtuanya menghidupi adik-adik. Mereka gampang akrab karena relate dengan hidup masing-masing. "Kamu sidang kapan?" tanya Febi. Siti tersadar dari lamunannya, kemudian meletakkan sendok di tangannya. Ia seolah mengingat-ingat, kapan jadwal sidangnya. "Kata Dosbing sih pekan depan, tapi gak tau kapan, belum kebagian jadwal. Jadi kalo ada yang mundur, aku ngisi posisinya." "Padet ya..." Siti mengangguk-angguk. Ia jadi teringat dengan Victor lagi, andai ia punya uang. Mungkin mudah baginya membeli jadwal dan tidak menjadi cadangan terus. Dari obrolan itu, Febi menyarankan agar Siti mengambil cuti selama dua hari. Siti perlu persiapan dengan posisi waktu yang lebih luas. Maka Siti pun menyetujuinya. "Kalo jadwalku udah keluar, aku kasih tau, Kakak." ••• Usai sidang, Siti merasa lega luar biasa. Senyum tergambar di wajahnya dan ia merasa setengah bebannya sudah lepas darinya. Hasilnya memang tidak maksimal, tapi Siti cukup puas. Ia bisa bertahan sampai hari ini saja sudah merupakan anugrah terindah dari Tuhan. "Wiiih 3,3 nih... boleh juga," komentar suara dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Victor. Siti tak berbalik atau menoleh, ia lebih memilih terus melanjutkan jalannya. Sementara Victor diam-diam berjalan di sebelah Siti, sambil sesekali menanggapi panggilan para cewek kampus yang menyukainya. "Btw, gue akhir-akhir ini sibuk di kantor pusat sama Abang gue, jadi gak bisa ngobrol. Kalo sekarang gimana?" tanya Victor. Siti melengos. "Kayaknya udah gak perlu dibicarakan deh, gak penting juga. Lagian kita udah ngomongin ini di telpon waktu itu." Victor menghela napas, ia sebenarnya butuh bicara secara langsung dengan gadis itu. "Ayolah, setengah jam doang." Siti menghentikan langkahnya, mengeryit dan kemudian mengangguk. Ia hanya takut dicap menggoda Pangeran Kampus itu. Fakta bahwa mereka sering adu mulut harusnya bisa menyelamatkannya dari gosip murahan itu. "30 menit, ya. Gak lebih." Victor mengacungkan jempolnya dan berjalan lebih dulu dengan semangat. Jujur saja, Siti merasa iri dengan sikap ceria Victor. Ingin bisa selalu tampil seceria dia. . Sampai di cafe, Victor dan Siti langsung memesan kopi dan cemilan. "Mau ngomong yang gimana lagi?" tanya Siti sembari menunggu pesanan. Victor merapatkan mulutnya sejenak, sebelum menjawab. Ia seperti ragu. "Gue masih harus jelasin sekali lagi ke elu tentang Bokap gue. Dia gak pernah melakukan hal kayak gitu sebelumnya." "Kata lu dia gila," balas Siti. "Gila kerja dan yah... dia selalu gila kalo masalah bisnis. Tapi enggak tentang masalah sosial, Ti." "Maksudunya?" "Dia gak pernah nanggepin cewek dengan serius. Biasanya kalo gue udah bilang gak cocok, dia kayak langsung gak sama cewek itu lagi. Dia juga menghindari para cewek, jadi kalo kemungkinannya dia becanda sama lu... keknya mustahil deh. Dia gak asik orangnya, anjir!" "Bisa gitu ya. Lu anak kesayangan?" Victor menggeleng, "Gak juga... mungkin karena gue yang paling perduli aja tentang hubungan dia sama para cewek itu." Kemudian pesanan mereka datang. Keduanya saling diam sejenak, sampai Siti kepikiran sesuatu. Ia menegakkan duduknya dan menatap Victor dengan serius. Victor yang awalnya santai, jadi ikut tegang seketika. "Tapi Vic, bukannya apa-apa ya. Gue punya pikiran agak lain tentang Bokap lu," ujar Siti. "Apa?" Victor agak penasaran. Orang seperti Siti yang biasanya cuek, mendadak memikirkan hal tentang ayahnya. "Lu gak naksir beneran ama Bokap gue kan? Dia cakep sih emang, tapi dia bukan tipe elu kan?" Siti mendelik, "Apaan sih, bukanlh! Gila kali. Gue cuma lagi mikir aja. Mungkin ya ini... mungkin aja." Ucapan menggantung itu semakin membuat Victor penasaran. "Mungkin apa?" "Lu gak curiga kalau dia ternyata emang gak tertarik ama cewek?" tanya Siti. Deg! Victor terpaku di tempat seolah tertohok.Siti membuka mata setelah seharian pingsan. Namun di sana tidak ada siapa-siapa, selain Evi--pembantu rumah. Evi yang melihat pergerakan dari nyonya Kingsley pun langsung berdiri dari duduknya dan merasa sangat bahagia. Ia pun memencet tombol untuk memanggil perawat dan juga langsung menawarkan Siti untuk minum. "Nyonya, apakah haus?" Siti pun langsung mengangguk. Evi kemudian memberikan Siti minum. Tak lama, Dokter datang dan memeriksa Siti singkat dengan bantuan para perawat. Dokter menyampaikan kalau Siti sudah mulai membaik dan butuh waktu 2 hari sampai 3 hari agar mereka bisa memastikan kembali apakah Siti bisa pulang atau tidak. Setelah dokter dan perawat pergi pun, Siti melihat ke arah Evi dan bertanya, "Mbak Evi, Kieran mana?" tanyanya. Evi pun terlihat berpikir sejenak. "Tadi sih Tuan menyampaikan untuk saya menjaga Nyonya. Kalau bangun saya kabari Beliau. Saya sudah kabari beliau, tapi beliau tidak menceritakan di mana sekarang beliau," jawab Evi agak muter-muter. Tap
Brak! Victor, Julian, dan Edric keluar dari pintu tersebut dan langsung menerjang orang-orang yang menghalangi mereka. "Minggir woy!" teriak Edric yang paling belakang. "Minggir bangsat! Lo pada ngapain?!" bentak Victor. Tak hanya itu, ia mendorong dua gadis yang menahan Siti yang sudah hampir pingsan itu. "Aaaa!" para gadis itu terjatuh. Sementara dua yang lain terlihat saling merapat dan ketakutan melihat tiga putra Kingsleu datang. Tak hanya itu, saat Victor dan Julian mengngkat Siti, Kieran datang dengan panik. "Ada apa ini?" tanya Kieran. "Siti--" Edric belum selesai bicara karena keempat gadis itu akan kabur. Ia kemudian menghadang dan menangkap dua dari mereka, tapi yang dua lain berhasil lari. Julian menyerahkan pegangannya pada Siti ke ayahnya. "Siti?!" ujar Kieran shock. Victor lalu menyerahkan gendongannya pada sang ayah sepenuhnya. "Aku akan urus mereka, Pih." "Oke." Kieran tak bisa memikirkan hal lain sekarang. Ia langsung bergegas
"Gak tau gue, mereka terlalu bahaya menurut feeling gue," ujar Victor. Ia membawa kacang entah dari mana, yang juga dicemili oleh Edric. "Memang Maminya Julian tinggal di US juga?" tanya Siti. "Enggak, pindah-pindah dia," jawab Victor secara alami. Posisi Victor ada di tengah dan Edric di sisi kanan Victor, dan Siti di sebelah kirinya. Edric juga menjelaskan, "Secara gak langsung, dia itu emang bosenan pada banyak hal termasuk pas nikah sama Papi. Mereka cerai karena si Tante bosen aja." Siti manggut-manggut. "Oh gitu, tapi Julian keliatan sayang banget sama dia." "Mungkin karena Emak kandung," ujar Victor. "Em... tapi aku masih bingung. Edric pernah serumah sama Maminya Julian berarti?" tanya Siti. Edric mengangguk, "Dari sejak gue dibawa ke Mansion udah ada dia," balasnya. Di situ Siti mulai bingung lagi. Kalau dilihat dari timeline lahirnya Julian yang jaraknya cukup jauh dengan Edric, kemudian Edric yang sudah bertemu dengan ibu Julian di mansion, kemudia
Pintu kamar itu didobrak dan langsung terbuka kencang. Kieran dan Siti spontan memisahkan diri. Kieran spontan menutupi tubuh Siti dengan selimut yang sebenarnya belum ada yang terbuka sepenuhnya. Tapi wajah Kieran terlihat sangat tidak senang. "Apa yang kalian lakukan?!" geram Kieran. Ia benar-benar marah pada orang-orang yang mengganggu aktivitasnya. Di ambang pintu telah berdiri Putri Wijaya dan dua pria dengan penampilan bodyguard. "Om, kalian lagi ngapain?" tanya Putri tidak menyangka. "Ya mau ngeseks lah sama istri," jawab Kieran enteng. Plak! Siti langsung menggeplak lengan bisep suaminya, saking tak terkontrolnya mulutnya itu. "Mas!" bisiknya. Putri terluhat gelisah seperti tak percaya pada sesuatu, tapi terlanjut melihat kenyataannya. "Tapi Om, bukannya kamu--" "Dasar brengsek, ganggu privasi orang! Keluar!" Di titik itu, Putri yang sebenarnya dari keluarga terkuat di Ibukota pun tak berdaya. Ia langsung berlari sambil menangis, sementara kedua body
"Siti, kamu tenang saja. Aku punya rencana," potong Kieran. "Saya juga, Pak... eh saya, aku maksudnya Mas, hehe!" Kieran terkekeh melihat Siti yang saking semangatnya sampai lupa panggilan mereka. Ia menggenggam tangan Siti dengan tangan kirinya, dan mengelus pipinya dengan tangan kanannya. "Sayang, maksudku... aku udah siap dengan keadaan ini. Pada dasarnya aku udah bisa menhadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun." "Tapi Mas, itu... aku sempet liat seorang pelayan memasukkan obat ke dalam gelas yang kemudian di kasih ke kamu. Kamu tadi minum?" tanya Siti. Kini giliran Siti yang menggenggam tangan suaminya, ia begitu takut dengan apa yang akan mereka hadapi. "Aku--" "Mas, serius kamu gak minum dari gelas itu kan?" Kieran menghela napas, ia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman. "Itu..." gumamnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri. "Panas banget, Sayang. Lemes." Siti mendelik, ia panik. Sementara Kieran terus menggosok-gosok dadanya sendiri. Ia berusaha m
"Hai, Om! Apakabar?!" Wanita itu langsung datang dan merangkul lengan Kieran dengan sangat percaya diri. Kieran terpaku sejenak karrna terkejut dan mengingat-ingat siapa sosok yang dengan lancang menyentuhnya itu. Ia langsung menyingkirkan tangan wanita itu dan menjaga jarak lebih jauh darinya. "Who are you?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Hai Om, ini aku. Putri Wijaya, masa Om lupa sih?" Putri dari keluarga Wijaya itu tersenyum lebar dan sangat excited bertemu dengan Kieran. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran sebagai formalitas. Padahal ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran hanya sebagai formalitas. Padahal, ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. Mungkin beberapa pria akan senang dengan wanita yang atraktif, tapi Kieran sudah terlalu trauma dengan wanita-wanita yang terlalu aktif mengejar pria. Hal itulah yang ia suka dari Siti. Siti terlalu tenang dari segi usia, Siti muda namun dewasa dan penuh profesionalitas.
Siti dengan lunglai masuk ke dalam mobil di jok belakang. Saking fokusnya pada dunianya sendiri, Siti tak menyadari kalo di sebelahnya ada Kieran yang sedang menatapnya. "Kamu abis ditampar?" tanyanya. Siti berjingkat kaget, "Bapak?!" "Ck, Bapak lagi..." kesal Kieran. Ia tak suka Siti mem
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda
Siti mendapat tatapan menusuk dari para wali murid di sana. Bagaimana tidak, para ibu-ibu sudah berdandan cantik demi bertemu si Duda Hot bernama Kieran. Tiba-tiba si target kegenitan mereka malah diwakili oleh seorang gadis muda yang manis. Mereka tentu kesal, ingin sekali mengusirnya. Namun dar







