Teilen

4. Tak Terjadi Apa-apa

last update Zuletzt aktualisiert: 15.01.2026 05:27:22

Keesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu.

Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa.

Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan.

Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang.

"Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya.

Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya."

"Ooh, ya udah aku mau istirahat dulu. Kamu jangan lupa istirahat dulu ya... bye!"

Mendengar itu, Siti jadi ingat kalau ini sudah masuk jam istirhat kantor.

Ia langsung mengikuti Febi yang menuju kantin.

Di sana, ia duduk bersama Febi yang terbiasa dikucilkan teman sekantornya. Mungkin karena penampilan dan fakta bahwa Febi anak cupu.

"Kakak terbiasa kek gini setiap hari, maksudnya sendirian?"

Febi mengangguk sambil tersenyum tipis. "Hem... aku awalnya sedih, tapi lama-lama terbiasa."

Situasinya tak baik memang, tapi Febi mungkin sudah di fase tak perduli dengan kesendiriannya. Sebenarnya sama dengan Siti.

Latarbelakang Siti dan Febi sama, sama-sama anak pertama dan membantu orangtuanya menghidupi adik-adik. Mereka gampang akrab karena relate dengan hidup masing-masing.

"Kamu sidang kapan?" tanya Febi.

Siti tersadar dari lamunannya, kemudian meletakkan sendok di tangannya. Ia seolah mengingat-ingat, kapan jadwal sidangnya.

"Kata Dosbing sih pekan depan, tapi gak tau kapan, belum kebagian jadwal. Jadi kalo ada yang mundur, aku ngisi posisinya."

"Padet ya..."

Siti mengangguk-angguk. Ia jadi teringat dengan Victor lagi, andai ia punya uang. Mungkin mudah baginya membeli jadwal dan tidak menjadi cadangan terus.

Dari obrolan itu, Febi menyarankan agar Siti mengambil cuti selama dua hari. Siti perlu persiapan dengan posisi waktu yang lebih luas. Maka Siti pun menyetujuinya.

"Kalo jadwalku udah keluar, aku kasih tau, Kakak."

•••

Usai sidang, Siti merasa lega luar biasa. Senyum tergambar di wajahnya dan ia merasa setengah bebannya sudah lepas darinya.

Hasilnya memang tidak maksimal, tapi Siti cukup puas. Ia bisa bertahan sampai hari ini saja sudah merupakan anugrah terindah dari Tuhan.

"Wiiih 3,3 nih... boleh juga," komentar suara dari belakang.

Siapa lagi kalau bukan Victor. Siti tak berbalik atau menoleh, ia lebih memilih terus melanjutkan jalannya.

Sementara Victor diam-diam berjalan di sebelah Siti, sambil sesekali menanggapi panggilan para cewek kampus yang menyukainya.

"Btw, gue akhir-akhir ini sibuk di kantor pusat sama Abang gue, jadi gak bisa ngobrol. Kalo sekarang gimana?" tanya Victor.

Siti melengos. "Kayaknya udah gak perlu dibicarakan deh, gak penting juga. Lagian kita udah ngomongin ini di telpon waktu itu."

Victor menghela napas, ia sebenarnya butuh bicara secara langsung dengan gadis itu.

"Ayolah, setengah jam doang."

Siti menghentikan langkahnya, mengeryit dan kemudian mengangguk. Ia hanya takut dicap menggoda Pangeran Kampus itu.

Fakta bahwa mereka sering adu mulut harusnya bisa menyelamatkannya dari gosip murahan itu.

"30 menit, ya. Gak lebih."

Victor mengacungkan jempolnya dan berjalan lebih dulu dengan semangat.

Jujur saja, Siti merasa iri dengan sikap ceria Victor. Ingin bisa selalu tampil seceria dia.

.

Sampai di cafe, Victor dan Siti langsung memesan kopi dan cemilan.

"Mau ngomong yang gimana lagi?" tanya Siti sembari menunggu pesanan.

Victor merapatkan mulutnya sejenak, sebelum menjawab. Ia seperti ragu.

"Gue masih harus jelasin sekali lagi ke elu tentang Bokap gue. Dia gak pernah melakukan hal kayak gitu sebelumnya."

"Kata lu dia gila," balas Siti.

"Gila kerja dan yah... dia selalu gila kalo masalah bisnis. Tapi enggak tentang masalah sosial, Ti."

"Maksudunya?"

"Dia gak pernah nanggepin cewek dengan serius. Biasanya kalo gue udah bilang gak cocok, dia kayak langsung gak sama cewek itu lagi. Dia juga menghindari para cewek, jadi kalo kemungkinannya dia becanda sama lu... keknya mustahil deh. Dia gak asik orangnya, anjir!"

"Bisa gitu ya. Lu anak kesayangan?"

Victor menggeleng, "Gak juga... mungkin karena gue yang paling perduli aja tentang hubungan dia sama para cewek itu."

Kemudian pesanan mereka datang. Keduanya saling diam sejenak, sampai Siti kepikiran sesuatu. Ia menegakkan duduknya dan menatap Victor dengan serius.

Victor yang awalnya santai, jadi ikut tegang seketika.

"Tapi Vic, bukannya apa-apa ya. Gue punya pikiran agak lain tentang Bokap lu," ujar Siti.

"Apa?"

Victor agak penasaran. Orang seperti Siti yang biasanya cuek, mendadak memikirkan hal tentang ayahnya.

"Lu gak naksir beneran ama Bokap gue kan? Dia cakep sih emang, tapi dia bukan tipe elu kan?"

Siti mendelik, "Apaan sih, bukanlh! Gila kali. Gue cuma lagi mikir aja. Mungkin ya ini... mungkin aja."

Ucapan menggantung itu semakin membuat Victor penasaran.

"Mungkin apa?"

"Lu gak curiga kalau dia ternyata emang gak tertarik ama cewek?" tanya Siti.

Deg!

Victor terpaku di tempat seolah tertohok.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   8. Dilabrak Anak si Duda

    Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan fokus tadi," balas Kieran sebelum memeluk ibunya dengan hangat. Clara--ibu kandung Kieran pun mencium kening dan pipi anaknya dengan penuh kerinduan. Sejak kematian suaminya dua tahun lalu, mereka baru bertemu lagi. Kieran sangat sibuk dan kesehatan Clara sudah tidak stabil. Program kesehatan yang ia ikuti nyatanya tak bisa menahan fakta bahwa tubuhnya sudah tua. Usia 80 tahun, usia yang begitu riskan untuknya. Sementara itu Kieran mempekerjakan Suster dan penjaga di rumah sang ibu. Sayangnya mereka tentu tak bisa menahan perasaan kesepian yang hinggap. Mereka pun duduk dengan basa-basi seperti menanyakan kabarnya dan kabar anak-anak Kieran. "Apa yang kamu pikirkan sejak tadi,

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   7. Negosiasi Pernikahan

    Kieran sebenarnya tau, tapi berusaha terlihat sangat terkejut. "Maksud kamu apa, Siti?" tanyanya balik. Siti menatap ekspresi Kieran, ia jadi frustasi. Kepanikan menjalar di wajahnya. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya di bawah meja. "Saya--" "Oke oke... saya paham," potong Kieran merasa iba, karena gadis itu sudah panik. "Tapi kenapa kamu berniat menanyakan perjanjian pernikahan itu lagi? Kamu sudah menolaknya." Kieran ingin memperjelasnya. Apalagi setelah ini, ia harus bertemu seseorang lagi, jadi tak bisa berlama-lama. "Itu... Tuan, saya ... saya akan menikah dengan Anda. Saya berubah pikiran, dan saya pikir itu bukan ide yang buruk." Wajah Kieran yang biasanya datar, menjadi lebih tegang. Ia jelas terkejut. Melihat reaksi itu, Siti menunduk lagi. Ia takut kalau Kieran marah padanya. "Saya tau ini aneh, tapi beri saya kesempatan," lirih Siti agak bergetar. Kieran hanya diam selama beberapa menit, membuat suasana semakin tegang. Siti merasa ingin kencing di ce

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   6. "Kieran"

    Tak ada solusi. Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya. Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu. Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta. Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis. Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu. Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma. Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   5. Pulang Kampung

    Keadaan tegang itu hanya berlaku sebentar, Victor langsung tertawa seolah itu hal paling lucu yang pernah ia dengar hari itu. "Hahaha!" Sementara Siti bingung, bagian mana yang lucu. "Gue ama sodara-sodara gue juga pernah mikir gitu, tapi... gue punya rahasia buat membantah pernyataan itu." "Apa?" tanya Siti. "Intinya gue ama sodara gue udah pada curiga kalau dia mungkin you know-lah, belok. Tapi faktanya, dia lurus-lurus aja kok. Entah karena terlalu higienis atau apa, dia gak pernah nyentuh wanita di luar sana." "Tau dari mana lo? Emang lu tiap hari dan tiap waktu nempelin dia?" tanya Siti. "Bukan gue, Abang gue kan asisten dia. Lu inget kan orang yang buntutin dia terus dan ada sama kita di ruangan Bokap gue?" Siti mengangguk-angguk mengerti. Jadi terjawab siapa pria yang agak mirip dengan Kieran juga Victor, lalu mengikutinya terus. "Terus, maksud lo yang membuktikan kalau dia straight?" tanya Siti lagi. Ia sebenarnya tidak merasa itu penting, tapi dirinya

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   4. Tak Terjadi Apa-apa

    Keesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu. Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa. Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan. Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang. "Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya. Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya." "Ooh

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   3. Penawaran Gila

    "Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu." "Apa maksud Anda?" tanya Siti. "Maaf sebelumnya Pak, tapi saya hanya karyawan biasa dan hanya seorang Host Live. Saya bukan orang yang tepat untuk kerjasama dengan orang hebat seperti, Bapak... Tuan." Siti berkali-kali melirik ke arah Victor yang hanya mengangkat bahu--tidak tau apa-apa. Namun di tengah kebingungan itu, Kieran tiba-tiba mendorong sebuah map dengan judul: 'Proposal Pernikahan' "Menikahlah denganku, Siti." Siti seperti hampir pingsan mendengar ucapan itu. "Mohon maaf, Pak, ini gak masuk akal.""Gak masuk akal bagaimana?""Menikah... ini--"Kata-kata Siti terpotong oleh Victor yang heboh. "Buset, Pih! Tiba-tiba banget ngelamar Siti! Gak gak boleh," ucapnya berdiri di depan keduanya. "Iya Pak, ini gak boleh!"Meskipun ada rasa panik, tapi Siti tetap menyadari posisinya. Menikah dengan sang CEO, rasanya seperti ia memimpikan menikah dengan aktor kesukaannya. "Pih... plea

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status