เข้าสู่ระบบKeadaan tegang itu hanya berlaku sebentar, Victor langsung tertawa seolah itu hal paling lucu yang pernah ia dengar hari itu.
"Hahaha!" Sementara Siti bingung, bagian mana yang lucu. "Gue ama sodara-sodara gue juga pernah mikir gitu, tapi... gue punya rahasia buat membantah pernyataan itu." "Apa?" tanya Siti. "Intinya gue ama sodara gue udah pada curiga kalau dia mungkin you know-lah, belok. Tapi faktanya, dia lurus-lurus aja kok. Entah karena terlalu higienis atau apa, dia gak pernah nyentuh wanita di luar sana." "Tau dari mana lo? Emang lu tiap hari dan tiap waktu nempelin dia?" tanya Siti. "Bukan gue, Abang gue kan asisten dia. Lu inget kan orang yang buntutin dia terus dan ada sama kita di ruangan Bokap gue?" Siti mengangguk-angguk mengerti. Jadi terjawab siapa pria yang agak mirip dengan Kieran juga Victor, lalu mengikutinya terus. "Terus, maksud lo yang membuktikan kalau dia straight?" tanya Siti lagi. Ia sebenarnya tidak merasa itu penting, tapi dirinya tipe yang kalau sudah diberi clue harus tau sampai akhir. "Intinya meskipun dia gak main ama cewek, dia main solo sambil liat video ***, artisnya juga cewek cowok." Siti terdiam sejenak, shock bukan main. "Lo yakin ini gak papa diceritain ke gue?" "Ya seperti kata lo waktu itu, kalo lu mau cerita ke orang juga orang gak bakal percaya kan." Siti mengangguk setuju. "Tapi... siapa anak kurangajar yang ngintip Bapaknya kek gitu." "Abang gue gak sengaja liat, pas perjalanan bisnis dan posisi dia mau ngomong sesuatu. Untung Bokap gak tau sih kalo Abang gue liat, jadi mereka gak ada di fase canggung." Mendengar gosip tentang Kieran dari anaknya sendiri, rasanya sangat aneh. Siti juga terkekeh mengingat situasinya sendiri. ••• Dua hari kemudian, usai sidang. Siti pulang kampung dan mengambil cuti selama sebulan. Rasanya sudah lama ia tak pulang kampung. Naik kereta dan mengambil gerbong kelas ekonomi. Meski pegal harus bersandar di tempat duduk kaku, Siti tetap bisa tidur. Namun saat ia terbangun dan hampir sampai di stasiun tujuan. Ia teringat sesuatu. Rahasia yang dikatakan Victor begitu mengejutkannya. Ia rasa Victor begitu oversharing. Bahkan topik sensitif terkait ayahnya sendiri. Sebenarnya Siti merasa tak seharusnya mendengar itu, mengingat hubungannya dengan Victor yang biasanya berlawanan. Pembicaraan mereka terlalu pribadi. Mana ada orang yang menceritakan tentang drama keluarganya pada musuhnya, selain Victor. Victor ini bodoh atau polos sebenarnya. Tapi kemudian, Siti menggeleng. Mana mungkin orang seperti Victor polos. Lihat saja tatto di tangan dan lehernya. Ia juga sering ganti warna rambut, dan wanita. Namun Siti juga mengingat bagaimana Victor langsung jadi anak baik saat melihat ayahnya. Bahkan mendengar suaranya saja ia langsung ciut. Tanpa sadar, Siti mengetik nama Kieran Kingsley di laman pencarian. Saat menemukan informasi umum tentangnya, sontak ia terbelalak. Kieran yang melamarnya waktu itu adalah orang yang sangat luar biasa. Selain apa yang disombongkan Victor, Kieran jauh lebih luar biasa. #Profil Kieran Alexander Kingsley# Kieran Alexander Kingsley adalah seorang pengusaha asal Inggris yang kini telah menetap dan membangun basis kekuatannya di Jakarta, Indonesia. Di usianya yang ke-38, ia dikenal sebagai sosok pebisnis yang sangat disegani karena memiliki koneksi politik dan bisnis yang luar biasa kuat di tanah air. Meski memiliki latar belakang pendidikan kelas dunia dari Oxford dan Harvard, serta garis keturunan bangsawan Inggris, Kieran memilih untuk menjalankan roda bisnisnya dari jantung ibu kota Indonesia. Sebagai CEO King Corp sekaligus pemiliknya, ia mengendalikan lebih dari 50 perusahaan besar di berbagai belahan dunia—mulai dari bisnis pesawat hingga fashion & beauty industri—langsung dari posisinya di Jakarta. Singkatnya, Kieran bukan sekadar warga asing yang tinggal di sini, melainkan tokoh kunci dalam dunia bisnis internasional yang menjadikan Indonesia sebagai markas strategisnya. Sebentar, Siti sampai tak bisa membayangkan betapa kuat posisi Kieran. Itu membuatnya sangat merinding. Belum lagi rincian terkait asetnya yang memiliki berbagai bentuk, mulai dari saham, harta barang mahal, tempat tinggal, dan harta lainnya. Tak hanya di Indonesia, tapi di luar negeri yang notebennya negara maju juga. Melihat barang-barang yang Victor miliki saja sudah membuat Siti merinding. Lalu bagaimana kekayaan Kieran itu. "Gila sih. Tapi bentar, terus maksudnya dia ngajakin aku nikah tuh buat apa? Kalo becanda, kenapa Victor bilang serius?" Siti makin bingung dengan situasinya. Namun karena tidak ada masalah yang menimpanya, lebih baik ia melupakannya saja seperti saran dari Victor. . Sesampainya di stasiun tujuan. Siti langsung pulang ke rumah yang menempuh jarak selama 45 menit perjalanan dari kota ke kampungnya. Maka sampailah Siti di depan rumah. Senang rasanya bisa menghirup udara bersih itu lagi. "Alhamdulillah!" gumamnya. Ia menyeret kopernya menuju ke jalan setapak rumahnya. Akan tetapi sebelum sampai di rumahnya, ia melihat ada ribut-ribut di depan sana. Segera ia mempercepat langkahnya dan terkejut saat melihat apa yang terjadi. Rumahnya sudah dikerumuni orang, dikelilingi tali kuning dari kepolisian, dan Siti melihat adik-adiknya saling berpelukan menangis. Sementara sang ibu sedang duduk di tanah memegang kaki salah seorang pria bertubuh besar sambil menangis. "Tolong jangan usir kami! Ini harta satu-satunya yang kami miliki." Siti langsung melempar koper dan tasnya ke sembarang arah. Kemudian ia berlari mendekat. Barang-barang di rumah itu juga sudah dilempar dengan kasar keluar, sampai banyak yang rusak. Siti kemudian meraih pundak ibunya, hingga tangan ibunya terlepas dari kaki pria itu. "Mak! Apa yang terjadi?!" tanyanya panik. Melihat situasinya, Siti sebenarnya sudah bisa membaca kalau mungkin mereka diusir. Tapi ia tak tau apa alasannya. "Nduk, akhirnya kamu pulang! Huuuuu," tangis Ningsih--ibu Siti pecah lagi. Ia menangis meraung, bercerita kalau mereka diusir karena sertifikat yang dipinjamkanya pada teman lamanya nunggak di Bank. "Astaghfirullah, Mak. Kenapa bisa sertifikat itu ada di tangan teman, Mamak?!" tanya Siti balik. "Ini bukan saatnya membahas hal ini. Mari kita selesaikan dengan tuntas," ujar si ketua para preman itu. Mungkin dialah pegawai bank yang sebenarnya, dan menggunakan preman untuk mengusir mereka. Siti merasa beban berat lain menimpa pundaknya. Ia ingin pulang dan melepas penat. Tapi kini malah menemui maslah yang lebih besar lagi.Siti membuka mata setelah seharian pingsan. Namun di sana tidak ada siapa-siapa, selain Evi--pembantu rumah. Evi yang melihat pergerakan dari nyonya Kingsley pun langsung berdiri dari duduknya dan merasa sangat bahagia. Ia pun memencet tombol untuk memanggil perawat dan juga langsung menawarkan Siti untuk minum. "Nyonya, apakah haus?" Siti pun langsung mengangguk. Evi kemudian memberikan Siti minum. Tak lama, Dokter datang dan memeriksa Siti singkat dengan bantuan para perawat. Dokter menyampaikan kalau Siti sudah mulai membaik dan butuh waktu 2 hari sampai 3 hari agar mereka bisa memastikan kembali apakah Siti bisa pulang atau tidak. Setelah dokter dan perawat pergi pun, Siti melihat ke arah Evi dan bertanya, "Mbak Evi, Kieran mana?" tanyanya. Evi pun terlihat berpikir sejenak. "Tadi sih Tuan menyampaikan untuk saya menjaga Nyonya. Kalau bangun saya kabari Beliau. Saya sudah kabari beliau, tapi beliau tidak menceritakan di mana sekarang beliau," jawab Evi agak muter-muter. Tap
Brak! Victor, Julian, dan Edric keluar dari pintu tersebut dan langsung menerjang orang-orang yang menghalangi mereka. "Minggir woy!" teriak Edric yang paling belakang. "Minggir bangsat! Lo pada ngapain?!" bentak Victor. Tak hanya itu, ia mendorong dua gadis yang menahan Siti yang sudah hampir pingsan itu. "Aaaa!" para gadis itu terjatuh. Sementara dua yang lain terlihat saling merapat dan ketakutan melihat tiga putra Kingsleu datang. Tak hanya itu, saat Victor dan Julian mengngkat Siti, Kieran datang dengan panik. "Ada apa ini?" tanya Kieran. "Siti--" Edric belum selesai bicara karena keempat gadis itu akan kabur. Ia kemudian menghadang dan menangkap dua dari mereka, tapi yang dua lain berhasil lari. Julian menyerahkan pegangannya pada Siti ke ayahnya. "Siti?!" ujar Kieran shock. Victor lalu menyerahkan gendongannya pada sang ayah sepenuhnya. "Aku akan urus mereka, Pih." "Oke." Kieran tak bisa memikirkan hal lain sekarang. Ia langsung bergegas
"Gak tau gue, mereka terlalu bahaya menurut feeling gue," ujar Victor. Ia membawa kacang entah dari mana, yang juga dicemili oleh Edric. "Memang Maminya Julian tinggal di US juga?" tanya Siti. "Enggak, pindah-pindah dia," jawab Victor secara alami. Posisi Victor ada di tengah dan Edric di sisi kanan Victor, dan Siti di sebelah kirinya. Edric juga menjelaskan, "Secara gak langsung, dia itu emang bosenan pada banyak hal termasuk pas nikah sama Papi. Mereka cerai karena si Tante bosen aja." Siti manggut-manggut. "Oh gitu, tapi Julian keliatan sayang banget sama dia." "Mungkin karena Emak kandung," ujar Victor. "Em... tapi aku masih bingung. Edric pernah serumah sama Maminya Julian berarti?" tanya Siti. Edric mengangguk, "Dari sejak gue dibawa ke Mansion udah ada dia," balasnya. Di situ Siti mulai bingung lagi. Kalau dilihat dari timeline lahirnya Julian yang jaraknya cukup jauh dengan Edric, kemudian Edric yang sudah bertemu dengan ibu Julian di mansion, kemudia
Pintu kamar itu didobrak dan langsung terbuka kencang. Kieran dan Siti spontan memisahkan diri. Kieran spontan menutupi tubuh Siti dengan selimut yang sebenarnya belum ada yang terbuka sepenuhnya. Tapi wajah Kieran terlihat sangat tidak senang. "Apa yang kalian lakukan?!" geram Kieran. Ia benar-benar marah pada orang-orang yang mengganggu aktivitasnya. Di ambang pintu telah berdiri Putri Wijaya dan dua pria dengan penampilan bodyguard. "Om, kalian lagi ngapain?" tanya Putri tidak menyangka. "Ya mau ngeseks lah sama istri," jawab Kieran enteng. Plak! Siti langsung menggeplak lengan bisep suaminya, saking tak terkontrolnya mulutnya itu. "Mas!" bisiknya. Putri terluhat gelisah seperti tak percaya pada sesuatu, tapi terlanjut melihat kenyataannya. "Tapi Om, bukannya kamu--" "Dasar brengsek, ganggu privasi orang! Keluar!" Di titik itu, Putri yang sebenarnya dari keluarga terkuat di Ibukota pun tak berdaya. Ia langsung berlari sambil menangis, sementara kedua body
"Siti, kamu tenang saja. Aku punya rencana," potong Kieran. "Saya juga, Pak... eh saya, aku maksudnya Mas, hehe!" Kieran terkekeh melihat Siti yang saking semangatnya sampai lupa panggilan mereka. Ia menggenggam tangan Siti dengan tangan kirinya, dan mengelus pipinya dengan tangan kanannya. "Sayang, maksudku... aku udah siap dengan keadaan ini. Pada dasarnya aku udah bisa menhadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun." "Tapi Mas, itu... aku sempet liat seorang pelayan memasukkan obat ke dalam gelas yang kemudian di kasih ke kamu. Kamu tadi minum?" tanya Siti. Kini giliran Siti yang menggenggam tangan suaminya, ia begitu takut dengan apa yang akan mereka hadapi. "Aku--" "Mas, serius kamu gak minum dari gelas itu kan?" Kieran menghela napas, ia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman. "Itu..." gumamnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri. "Panas banget, Sayang. Lemes." Siti mendelik, ia panik. Sementara Kieran terus menggosok-gosok dadanya sendiri. Ia berusaha m
"Hai, Om! Apakabar?!" Wanita itu langsung datang dan merangkul lengan Kieran dengan sangat percaya diri. Kieran terpaku sejenak karrna terkejut dan mengingat-ingat siapa sosok yang dengan lancang menyentuhnya itu. Ia langsung menyingkirkan tangan wanita itu dan menjaga jarak lebih jauh darinya. "Who are you?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Hai Om, ini aku. Putri Wijaya, masa Om lupa sih?" Putri dari keluarga Wijaya itu tersenyum lebar dan sangat excited bertemu dengan Kieran. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran sebagai formalitas. Padahal ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran hanya sebagai formalitas. Padahal, ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. Mungkin beberapa pria akan senang dengan wanita yang atraktif, tapi Kieran sudah terlalu trauma dengan wanita-wanita yang terlalu aktif mengejar pria. Hal itulah yang ia suka dari Siti. Siti terlalu tenang dari segi usia, Siti muda namun dewasa dan penuh profesionalitas.
"Ini toko perhiasan K. Jewelry?" Kieran hanya mengangguk cuek. Ia kemudian menawarkan lengannya untuk dipegang Siti. Siti yang kebingungan pun hanya melihat tangan itu tanpa respon. Sementara Kieran yang greget, langsung menarik tangan Siti dan mengajaknya masuk. "Kita mau ngapain, Pak?" "
Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan
Siti terkejut dengan jawaban Kieran yang sangat yakin, bisa-bisanya ia sesantai itu. "Enggak, Pih! Papi cuma bercanda kan?" tanya Edric serius. Sementara itu Clara ikut maju dan menggenggam tangan sang cucu. "Ed, kamu baru pulang sekolah. Kita duduk dulu," ujar Clara. Siti dan Kieran unt
Kieran hampir saja buka mulut, tapi Keiron langsung memberi tatapan peringatan pada sang adik. Selain Kieran, Keiron ai sulung juga begitu disegani oleh adik-adiknya, jadi adik-adiknya tak berani membantah. Meski Edric kelihatan ingin berdiri, ia menahannya. Hal itu membuat Siti tambah yakin, kala







