ANMELDEN"Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu."
"Apa maksud Anda?" tanya Siti. "Maaf sebelumnya Pak, tapi saya hanya karyawan biasa dan hanya seorang Host Live. Saya bukan orang yang tepat untuk kerjasama dengan orang hebat seperti, Bapak... Tuan." Siti berkali-kali melirik ke arah Victor yang hanya mengangkat bahu--tidak tau apa-apa. Namun di tengah kebingungan itu, Kieran tiba-tiba mendorong sebuah map dengan judul: 'Proposal Pernikahan' "Menikahlah denganku, Siti." Siti seperti hampir pingsan mendengar ucapan itu. "Mohon maaf, Pak, ini gak masuk akal." "Gak masuk akal bagaimana?" "Menikah... ini--" Kata-kata Siti terpotong oleh Victor yang heboh. "Buset, Pih! Tiba-tiba banget ngelamar Siti! Gak gak boleh," ucapnya berdiri di depan keduanya. "Iya Pak, ini gak boleh!" Meskipun ada rasa panik, tapi Siti tetap menyadari posisinya. Menikah dengan sang CEO, rasanya seperti ia memimpikan menikah dengan aktor kesukaannya. "Pih... please, bilang kalo ini cuma bercanda!" ujar Victor lagi. Sementara pemuda yang hanya diam itu, tampak memijat pelipisnya. Pusing mungkin. Victor sampai menggoyang-goyangkan lengan bisep sang ayah, sambil merengek agak ayahnya menjelaskan. "Diam kamu, Victor!" ujar Kieran pelan. Ia menatap Victor dengan tegas, dan Victor kembali menciut di hadapannya. "Papi lagi tanya Siti, bukan minta pendapatmu. Biar dia yang menjawab," lanjutnya. Kemudian ia beralih menatap Siti yang kebingungan hebat. Ia pun bertanya lagi pada Siti, "Kamu mau?" "Ti--" Siti memejamkan mata untuk meyakinkan diri. "Tidak, Pak. Mohon maaf... saya tidak bisa." Kieran menyandarkan punggungnya ke sofa dan bertanya. "Hem... kamu menolak karena usia saya sudah tua, kan?" Siti langsung menggeleng. Ia tak mungkin mengaku meski sebenarnya alasan utamanya itu. Sangat tidak masuk akal jika ia dan pria di depannya menikahinya. "Bukankah itu wajar, Pak? Maksudnya Anda dan saya, sangat tidak masuk akal.jika kita menikah. Victor, anak kedua Anda bahkan seusia saya," jelas Siti hati-hati. Victor mengangguk mantab. "Betul, Pih. Dia seusia aku, gimana caritanya kita dapet ibu tiri seusia anak kedua Papi ini?" Victor sangat panik sejak ayahnya menawarkan pernikahan. Sebelumnya sang ayah bahkan tidak menceritakan semua rencana itu padanya. Ia tahu tak perlu tahu semua rencana sang ayah. Namun ini berkaitan dengannya dan dengan teman debatnya di kampus. Ia merasa malu dan ingin menyembunyikan wajahnya di manapun. Kieran sendiri yang menjadi sumber rasa malu Victor, hanya tersenyum tenang. Ia seolah sudah bersiap dengan penolakan tersebut. "Kamu benar, dan yakini menolaknya?" Siti agak ragu, tapi ia segera mengangguk. "Iya Pak, mohon maaf saya menolak." Kieran pun mengangguk, lalu berkata. "Baiklah, kamu boleh keluar." Tidak ada wajah kecewa atau malu di wajah Kieran, tapi Siti merasa was-was. Ia pun pamit dengan sopan. . Siti pulang ke rumah dengan pikiran yang terus beradu. Mengingat bagaimana seorang CEO mengajukan pernikahan padanya. Sambil mencuci piring, ia terus memikirkan kemungkinan pria kaya, tampan dan usianya cukup tua untuknya itu mengajaknya menikah. Jika itu kemauan Victor, juga tidak mungkin. Victor saja terlihat takut pada ayahnya sendiri. Meski ia dan Victor sering berdebat dan saling mengatai satu sama lain, ia tahu bagaimana pemuda itu. Victor hanya bercanda soal tawaran menjadi ibu tiri, tapi Kieran seolah merealisasikannya. Tak lama setelah ia selesai bersih-bersih dan bisa bersantai sejenak. Ada telpon masuk dari Victor. Siti mengeryitkan keningnya. "Dari mana dia dapat nomorku?" Namun kalau dipikir-pikir, Victor mungkin sudah memilikinya. Hanya karena hubungan mereka tak baik, makanya tak pernah digunakan. Atau Victor mengancam Febi agar memberi kontaknya. "Bodo amatlah," gumamnya. Ia mengangkat telpon dari pemuda tengil itu. "Lama amat ngangkat telponnya!" geram dari sebrang sana. "Yeu... udah untung gue angkat. Cepetan mau ngomong apa?!" balas Siti tak kalah kesal. "Soal tadilah, apalagi? Bokap gue gila kayaknya, jadi lo gak usah GR!" Siti tertawa kecil mendengarnya. "Siapa juga yang GR, dih! Gue juga masih shock. Lagian kesambet apa sih Bokap lu tiba-tiba ngajak gue nikah?" "Gak tau gue, intinya dia udah gila sih." Hening sejenak menyelimuti mereka berdua. "Lu telpon gue cuma mau ngomong kek gitu?" tanya Siti kemudian. Victor terdengar menghela napas. Siti seolah bisa melihat ekspresi dari sebrang sana, mungkin sedang frustasi. Lagipula siapa yang tak setres ketika melihat ayahnya akan menikahi orang yang hampir setiap hari berdebat dengannya, seumuran lagi. "Gue gak mau ada yang tau tentang ini selain kita." "Iya tau. Gue bukan ember kek elo ya." "Lo--" "Lagian kalo gue cerita ke orang juga paling gue dikira orang gila." Victor berdecak. "Ck... iya juga. Lu pasti bakal tambah dibully sih." "Gak usah sok suci deh lo. Yang tiap hari ngebully gue, ya elu!" Tawa terdengar dari sebrang sana, sebelum akhirnya mereka mengakhiri permbicaraan dengan perdebatan pula. Siti sangat bingung di situasi ini. Ekspresi Kieran jelas menunjukkan kalau ia sedang serius, tidak bercanda. Lalu map dengan tulisan 'Perjanjian Pernikahan', jelas disusun rapih, bukan untuk bercanda pastinya. Ia kemudian mengetik di aplikasi AI untuk bertanya mengenai keresahannya itu. AI memberi jawaban tentang banyak kemungkinan, terutama saat ia menyebutkan tentang reaksi Victor. AI jelas mendukung pernyataan Victor. Itu tidak mungkin kalau Kieran menawarinya sebuah pernikahan dalam keadaan waras. Siti kemudian teringat. Orang kaya ujiannya bukan lagi tentang ekonomi, tapi kesehatan fisik dan mental, biasanya. Mungkin Kieran termasuk yang kena mental.Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan fokus tadi," balas Kieran sebelum memeluk ibunya dengan hangat. Clara--ibu kandung Kieran pun mencium kening dan pipi anaknya dengan penuh kerinduan. Sejak kematian suaminya dua tahun lalu, mereka baru bertemu lagi. Kieran sangat sibuk dan kesehatan Clara sudah tidak stabil. Program kesehatan yang ia ikuti nyatanya tak bisa menahan fakta bahwa tubuhnya sudah tua. Usia 80 tahun, usia yang begitu riskan untuknya. Sementara itu Kieran mempekerjakan Suster dan penjaga di rumah sang ibu. Sayangnya mereka tentu tak bisa menahan perasaan kesepian yang hinggap. Mereka pun duduk dengan basa-basi seperti menanyakan kabarnya dan kabar anak-anak Kieran. "Apa yang kamu pikirkan sejak tadi,
Kieran sebenarnya tau, tapi berusaha terlihat sangat terkejut. "Maksud kamu apa, Siti?" tanyanya balik. Siti menatap ekspresi Kieran, ia jadi frustasi. Kepanikan menjalar di wajahnya. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya di bawah meja. "Saya--" "Oke oke... saya paham," potong Kieran merasa iba, karena gadis itu sudah panik. "Tapi kenapa kamu berniat menanyakan perjanjian pernikahan itu lagi? Kamu sudah menolaknya." Kieran ingin memperjelasnya. Apalagi setelah ini, ia harus bertemu seseorang lagi, jadi tak bisa berlama-lama. "Itu... Tuan, saya ... saya akan menikah dengan Anda. Saya berubah pikiran, dan saya pikir itu bukan ide yang buruk." Wajah Kieran yang biasanya datar, menjadi lebih tegang. Ia jelas terkejut. Melihat reaksi itu, Siti menunduk lagi. Ia takut kalau Kieran marah padanya. "Saya tau ini aneh, tapi beri saya kesempatan," lirih Siti agak bergetar. Kieran hanya diam selama beberapa menit, membuat suasana semakin tegang. Siti merasa ingin kencing di ce
Tak ada solusi. Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya. Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu. Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta. Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis. Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu. Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma. Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia
Keadaan tegang itu hanya berlaku sebentar, Victor langsung tertawa seolah itu hal paling lucu yang pernah ia dengar hari itu. "Hahaha!" Sementara Siti bingung, bagian mana yang lucu. "Gue ama sodara-sodara gue juga pernah mikir gitu, tapi... gue punya rahasia buat membantah pernyataan itu." "Apa?" tanya Siti. "Intinya gue ama sodara gue udah pada curiga kalau dia mungkin you know-lah, belok. Tapi faktanya, dia lurus-lurus aja kok. Entah karena terlalu higienis atau apa, dia gak pernah nyentuh wanita di luar sana." "Tau dari mana lo? Emang lu tiap hari dan tiap waktu nempelin dia?" tanya Siti. "Bukan gue, Abang gue kan asisten dia. Lu inget kan orang yang buntutin dia terus dan ada sama kita di ruangan Bokap gue?" Siti mengangguk-angguk mengerti. Jadi terjawab siapa pria yang agak mirip dengan Kieran juga Victor, lalu mengikutinya terus. "Terus, maksud lo yang membuktikan kalau dia straight?" tanya Siti lagi. Ia sebenarnya tidak merasa itu penting, tapi dirinya
Keesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu. Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa. Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan. Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang. "Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya. Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya." "Ooh
"Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu." "Apa maksud Anda?" tanya Siti. "Maaf sebelumnya Pak, tapi saya hanya karyawan biasa dan hanya seorang Host Live. Saya bukan orang yang tepat untuk kerjasama dengan orang hebat seperti, Bapak... Tuan." Siti berkali-kali melirik ke arah Victor yang hanya mengangkat bahu--tidak tau apa-apa. Namun di tengah kebingungan itu, Kieran tiba-tiba mendorong sebuah map dengan judul: 'Proposal Pernikahan' "Menikahlah denganku, Siti." Siti seperti hampir pingsan mendengar ucapan itu. "Mohon maaf, Pak, ini gak masuk akal.""Gak masuk akal bagaimana?""Menikah... ini--"Kata-kata Siti terpotong oleh Victor yang heboh. "Buset, Pih! Tiba-tiba banget ngelamar Siti! Gak gak boleh," ucapnya berdiri di depan keduanya. "Iya Pak, ini gak boleh!"Meskipun ada rasa panik, tapi Siti tetap menyadari posisinya. Menikah dengan sang CEO, rasanya seperti ia memimpikan menikah dengan aktor kesukaannya. "Pih... plea







