MasukBelum sempat Victor menikmati suasana hangat di ruang keluarga lebih lama, suara decitan pintu utama mansion yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang.Langkah kaki tegas terdengar menggema di lorong foyer, disusul sosok Kieran Kingsley yang melangkah masuk sambil melonggarkan dasi di lehernya. Pria paruh baya itu baru saja tiba dari penerbangan luar kota, namun auranya tetap mendominasi dan berwibawa.Sontak, semua orang di ruang keluarga berdiri untuk menyambutnya."Papi," sapa Keiron dan Victor hampir bersamaan, diikuti anggukan hormat dari Salsa dan Siti.Febi yang berada di sebelah Victor langsung ikut berdiri, merapikan long dress serta pashminanya dengan tangan sedikit bergetar. Wajahnya menunduk dalam, rasa canggung dan gugup kembali menyerangnya begitu berhadapan langsung dengan kepala keluarga Kingsley.Kieran menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. Tatapan tajam namun teduh dari mata pria itu mendarat pada Febi, lalu beralih menatap anak bungsu kesayangannya yan
Mobil Victor melaju membelah gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, memasuki pelataran luas mansion keluarga Kingsley."Vic, sumpah... aku takut," cicit Febi dengan suara bergetar di kursi penumpang. Tangannya memeluk tas erat-erat. "Keluarga kamu itu... pengusaha besar. Aku gak enak malam-malam begini nyelonong masuk.""Tenang aja," sahut Victor santai sambil mematikan mesin mobil. "Keluarga gue gak pernah makan orang. Paling banter lu cuma digodain mereka.""Tapi, Victor--""Gak ada tapi-tapi. Ayo turun," potong Victor cepat, langsung keluar dan membukakan pintu untuk Febi.Febi menahan kakinya di dalam mobil. Pikirannya melayang pada penampilannya yang agak kusut pasca-insiden di kantor polisi tadi. Rasa tidak percaya diri kembali menusuk dada gadis itu.Melihat Febi yang membeku, Victor menghela napas pendek. Ia meraih lembut jemari Febi yang terbalut outer lengan panjang, lalu menariknya keluar secara perlahan namun bertenaga."Victor, ih! Pelan-pelan!" pekik Febi setengah be
Mobil mewah hitam milik Victor membelah keheningan malam ibu kota, melaju membelah gemerlap lampu jalanan menuju sebuah kedai kopi sepi di pinggiran kota.Di kursi penumpang, Feby duduk termenung menatap keluar jendela. Hijab pashmina dan long dress-nya masih tampak anggun, namun raut wajahnya menyimpam beban emosional yang amat berat.Begitu mereka duduk di sudut kedai kopi yang remang dan privat, dua cangkir cappuccino hangat tersaji di atas meja. Keheningan sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat sebelum Feby akhirnya membuka suara.Feby menunduk, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Vic...""Kenapa, Feb?" sahut Victor lembut, menatap gadis di depannya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.Feby menghela napas panjang yang terasa sangat sesak. Mata berairnya perlahan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Victor."Kamu tahu kan... siapa aku sebenarnya?" suara Feby bergetar, sarat akan rasa insecure yang mendalam. "Aku bukan cewek baik-baik dari keluarga ter
"Vic udah, Vic! Victorius Kingsley!!!" teriakan Febi akhirnya.Perasaan hangat dari pelukan Febi dan isak tangis gadis itu perlahan menurunkan kadar adrenalin beracun di dalam darah Victor. Tangannya yang terkepal rapat dan berdarah perlahan melemas.Ia melepaskan cengkeramannya pada kerah pria yang sudah pingsan bersimbah darah tersebut.Victor berbalik cepat, mencengkeram kedua bahu Febi dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajah Febi dari atas ke bawah, memastikan tidak ada luka sedikit pun di tubuh gadis itu."Lu gak apa-apa? Ada yang sakit? Lu kena pukul dimana?" tanya Victor panik, suaranya bergetar hebat penuh kecemasan.Febi menggeleng cepat di balik balutan pashminanya, air mata mengalir membasahi pipinya. "Gak ada... aku gak apa-apa, Vic. Kamu... kamu datang tepat waktu..."Keributan besar di siang bolong itu tentu s
"Aku takut, Edric. Jujur, aku takut banget sama Ayah," aku Vega, matanya mulai berkaca-kaca namun senyumnya tidak pudar. "Tapi... aku juga gak mau kamu pergi. Aku mau coba... bareng kamu."Mata Edric membelalak seketika. "Lu serius?!"Vega mengangguk pelan, merona merah di kedua pipinya. "Iya. Tapi janji, kamu gak boleh nekat lagi kek kemarin. Harus pakai cara yang benar."Seringai khas Edric yang selama beberapa hari ini hilang mendadak terpancar lebar di wajah tampannya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Tanpa sadar, Edric meraup kedua tangan Vega dan menggenggamnya erat."Janji," jawab Edric mantap dengan mata berbinar. "Mulai hari ini, lu resmi jadi cewek gue. Dan gue gak bakal biarkan siapa pun bikin lu merasa takut lagi."Vega tertawa kecil, membiarkan tangannya digenggam hangat oleh Edric.•••Suasana kafe berinterior wood-vintage di kawasan Jakarta Selatan terasa sangat tenang. Alunan musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan. Victor duduk di meja dekat jendela
Pagi hari yang cerah menyinari ruang makan utama keluarga Kingsley. Kilauan cahaya matahari menembus jendela kaca raksasa, memperlihatkan meja makan panjang yang dipenuhi aneka hidangan sarapan. Namun, fokus seluruh anggota keluarga pagi itu mendadak teralih sepenuhnya saat Victor melangkah masuk ke ruangan.Anak ketiga Kingsley itu terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat dari kesehariannya. Biasanya, Victor hanya mengenakan kaus polos agak longgar yang memperlihatkan sekilas tato gaya gothic di leher bagian kanan serta guratan tato bergaris tegas di punggung tangan kanannya.Ditambah gaya rambut wolf cut bertekstur messy yang selalu dibiarkan sedikit berantakan, penampilan Victor memang selalu paling kental dengan aura 'preman berkelas' dibanding saudara-saudaranya.Tapi pagi ini, gaya bad boy khas Victor berpadu sempurna dengan sentuhan rapi. Rambut wolf cut-nya ditata sedikit wavy dan bervolume, dipadu dengan kemeja kasual bahan linen berwarna krem yang digulung rapi hingga s







