LOGINTak ada solusi.
Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya. Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu. Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta. Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis. Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu. Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma. Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia segera menyewa untuk dua minggu. Namun tetangganya itu merelakan untuk tinggal sementara, tak perlu bayar. Agar keluarganya bisa fokus mencari tempat tinggal baru. Kepala Desa, tetangga, bahkan para orang kaya di desa juga angkat tangan masalah itu. Siapa yang bisa membantu untuk urusan uang yang tidak sedikit. Sementara dalam dokumen pinjam meminjam itu, ada tanda tangan Ningsih. Di mana Bank berhak mengambil jaminan yang dimiliki penjamin--Ningsih. Siti terus memikirkan solusi, apakah ia bisa mengambil rumah itu lagi. Namun dengan apa ia akan mendapatkan uang 200 juta secepatnya. Tentu saja, maling bukanlah gayanya. Atau berpikir menjadi Ani-ani seperti teman SD-nya? Ia terus berpikir, dan melakukan hal yang bisa ia lakukan untuk memperjuangkan rumah itu. Meminta surat dari balai desa, meminta perpanjangan, mencari sepasang penipu itu, dan lain sebagainya. Tentu saja hasilnya nihil. Sepasang penipu itu jelas sudah kabur. Usut punya usut, mereka memang sudah terlilit hutang sejak lama dan menipu banyak orang. Kemudian bank menyarankan agar menggunakan sertifikat rumah orang lain agar mereka tak dipenjara. Bank meski katanya 'membantu', mereka juga punya kepentingan, yakni mengambil uang kembali dari peminjam, serta keuntungannya berupa bunga. Jadi melihat bahwa nasabah mereka memiliki banyak hutang dan tidak berpotensi membayar, mereka mengajarkan solusi jahat pada mereka. Maka Ningsih sekeluarga adalah korbannya. Itulah yang dinamakan politik dalam ekonomi yang harus diketahui oleh semua orang, termasuk orang tua. Ningsih menjadi korban, juga ada sebabnya. Ketidaktahuan bisa membunuh seseorang dan itu fakta. Siti menghela napas berat, dan kembali mengingat. Apa yang bisa ia harapkan dari ibunya yang hanya lulusan SD dan bukan tipikal pembelajar. Hingga akhirnya karena saking mumetnya dengan situasi ini, Siti memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia sudah mencoba mendapatkan keadilan sendirian bersama keluarga, kerabat dan tetangganya. Namun tidak juga membuahkan hasil. "Mak, aku akan mencari solusi ke Jakarta. Mamak jaga adek-adek aja." "Tapi Nduk, apa yang akan kamu lakukan? Uang dua ratus juta itu gak sedikit." Siti menghela napas. "Ayu tau, Bu. Tapi hanya ini jalan satu-satunya, Ayu akan berusaha sampai akhir. Ibu doakan saja." Ningsih menangis melihat putri petamanya harus mengalami itu semua. Ia merasa gagal jadi orang tua. Bahkan dua hari lalu, ada bos hidung belang yang menawar Siti sebagai istri keempatnya. Tentu Siti dan Ningsih menolaknya. Untung saja Ningsih bukan tipe orang tua gila. Ia tetap mempertahankan harga diri meski sudah tidak memiliki apa-apa lagi. "Hati-hati, Nak." Siti melangkah pergi, menuju ke kota. Belum genap dua minggu ia libur, ia harus kembali ke Jakarta. Ia tak menyangka akan bertemu ujian semacam itu. Meski ia paham bahwa di manapun pasti ada keadilan. Tapi kalau urusannya sudah dengan si miskin dan si kaya atau si berkuasa dan rakyat jelata, hasilnya pasti yang kecil akan kalah. Keadilan seolah pilih-pilih orang untuk bernaung. Siti menyentuh kaca kereta. Menatap kosong ke arah luar sana. Sebelum ia membeli tiket, ia sudah menghubungi Victor terlebih dahulu. Ia meminta bantuan Victor untuk membantunya bertemu sang ayah. Awalnya Victor menolak, tentu saja. Namun Siti buru-buru menjelaskan kalau ia sungguh ingin bicara dengannya. Di situlah Siti janjian dengan Kieran di sebuah restoran besok. ••• Hari pertemuan Siti dengan Kieran tiba. Perasaannya campur aduk, antara takut dan malu. Takut jika Kieran marah, juga malu karena sudah menolak tawarannya. Tapi kini meminta bantuannya. Siti memang sengaja datang lebih dulu, jadi ia bisa mempersiapkan diri. Untunglah Kieran memesan ruang privat, jadi mereka bisa lebih nyaman di sana. Lima belas menit kemudian, Kieran pun datang. Semerbak wanginya sudah tercium bahkan saat ia membuka pintu. Siti langsung berdiri, terkesiap. "Halo, Siti! Udah lama?" sapanya menyalami Siti. Siti pun menerima uluran tangan itu sambil tersenyum. "Halo, Tuan Kingsley. Saya baru saja sampai." Kieran terlihat begitu santai. Ia duduk di kursi yang ada di sebrang Siti, menatap Siti dengan santai pula. Menawarkan pesanan dan memaksanya memesan sesuatu. Wajah Siti terlihat sangat pucat, dan Kieran memberikan air putih padanya. Kieran tidak diikuti siapapun sekarang, bahkan Kakak Victor. "Relax aja, Siti. Saya gak akan bersikap buruk padamu," ujar Kieran. Ia prihatin melihat bagaimana penampilan Siti sekarang. Ia yang biasanya terlihat fresh, sekarang seperti mayat hidup. Bibirnya seperti orang sakit, hanya mengenakan dress panjang hitam, kemeja kotak-kotak hitam putih, dan hijab abu-abu. Seperti biasa, stylish. Tapi tetap wajahnya yang tanpa make-up itu membuat vibe yang keluar memprihatinkan. "Terima kasih Pak, sudah mau datang. Saya minta maaf karena sudah menyita waktu Anda." Kieran menggeleng. "Tidak usah dipikirkan Siti, sekarang saya ingin dengar. Kenapa tiba-tiba ingin bertemu?" Suara Kieran sangat lembut dan tenang. Siti jadi merasa agak lega karena apa yang ia takutkan tak akan terjadi. "Maaf ya, Pak, sebelumnya. Saya ingin bertanya mengenai kontrak pernikahan itu. Anu..." Kieran masih menunggu. Ia sebenarnya sudah bisa menduga kalau Siti akan membahas kontrak itu lagi. Namun arahnya ke mana, ia tidak tau. "Itu... saya..." Kieran jadi makin penasaran. Gadis itu benar-benar membuatnya bingung. Sementara Siti mencoba bersiap mengatakan maksudnya. Ia memejamkan mata dan perlahan berkata. "Apakah kontrak itu masih berlaku?" "Hm?"Siti membuka mata setelah seharian pingsan. Namun di sana tidak ada siapa-siapa, selain Evi--pembantu rumah. Evi yang melihat pergerakan dari nyonya Kingsley pun langsung berdiri dari duduknya dan merasa sangat bahagia. Ia pun memencet tombol untuk memanggil perawat dan juga langsung menawarkan Siti untuk minum. "Nyonya, apakah haus?" Siti pun langsung mengangguk. Evi kemudian memberikan Siti minum. Tak lama, Dokter datang dan memeriksa Siti singkat dengan bantuan para perawat. Dokter menyampaikan kalau Siti sudah mulai membaik dan butuh waktu 2 hari sampai 3 hari agar mereka bisa memastikan kembali apakah Siti bisa pulang atau tidak. Setelah dokter dan perawat pergi pun, Siti melihat ke arah Evi dan bertanya, "Mbak Evi, Kieran mana?" tanyanya. Evi pun terlihat berpikir sejenak. "Tadi sih Tuan menyampaikan untuk saya menjaga Nyonya. Kalau bangun saya kabari Beliau. Saya sudah kabari beliau, tapi beliau tidak menceritakan di mana sekarang beliau," jawab Evi agak muter-muter. Tap
Brak! Victor, Julian, dan Edric keluar dari pintu tersebut dan langsung menerjang orang-orang yang menghalangi mereka. "Minggir woy!" teriak Edric yang paling belakang. "Minggir bangsat! Lo pada ngapain?!" bentak Victor. Tak hanya itu, ia mendorong dua gadis yang menahan Siti yang sudah hampir pingsan itu. "Aaaa!" para gadis itu terjatuh. Sementara dua yang lain terlihat saling merapat dan ketakutan melihat tiga putra Kingsleu datang. Tak hanya itu, saat Victor dan Julian mengngkat Siti, Kieran datang dengan panik. "Ada apa ini?" tanya Kieran. "Siti--" Edric belum selesai bicara karena keempat gadis itu akan kabur. Ia kemudian menghadang dan menangkap dua dari mereka, tapi yang dua lain berhasil lari. Julian menyerahkan pegangannya pada Siti ke ayahnya. "Siti?!" ujar Kieran shock. Victor lalu menyerahkan gendongannya pada sang ayah sepenuhnya. "Aku akan urus mereka, Pih." "Oke." Kieran tak bisa memikirkan hal lain sekarang. Ia langsung bergegas
"Gak tau gue, mereka terlalu bahaya menurut feeling gue," ujar Victor. Ia membawa kacang entah dari mana, yang juga dicemili oleh Edric. "Memang Maminya Julian tinggal di US juga?" tanya Siti. "Enggak, pindah-pindah dia," jawab Victor secara alami. Posisi Victor ada di tengah dan Edric di sisi kanan Victor, dan Siti di sebelah kirinya. Edric juga menjelaskan, "Secara gak langsung, dia itu emang bosenan pada banyak hal termasuk pas nikah sama Papi. Mereka cerai karena si Tante bosen aja." Siti manggut-manggut. "Oh gitu, tapi Julian keliatan sayang banget sama dia." "Mungkin karena Emak kandung," ujar Victor. "Em... tapi aku masih bingung. Edric pernah serumah sama Maminya Julian berarti?" tanya Siti. Edric mengangguk, "Dari sejak gue dibawa ke Mansion udah ada dia," balasnya. Di situ Siti mulai bingung lagi. Kalau dilihat dari timeline lahirnya Julian yang jaraknya cukup jauh dengan Edric, kemudian Edric yang sudah bertemu dengan ibu Julian di mansion, kemudia
Pintu kamar itu didobrak dan langsung terbuka kencang. Kieran dan Siti spontan memisahkan diri. Kieran spontan menutupi tubuh Siti dengan selimut yang sebenarnya belum ada yang terbuka sepenuhnya. Tapi wajah Kieran terlihat sangat tidak senang. "Apa yang kalian lakukan?!" geram Kieran. Ia benar-benar marah pada orang-orang yang mengganggu aktivitasnya. Di ambang pintu telah berdiri Putri Wijaya dan dua pria dengan penampilan bodyguard. "Om, kalian lagi ngapain?" tanya Putri tidak menyangka. "Ya mau ngeseks lah sama istri," jawab Kieran enteng. Plak! Siti langsung menggeplak lengan bisep suaminya, saking tak terkontrolnya mulutnya itu. "Mas!" bisiknya. Putri terluhat gelisah seperti tak percaya pada sesuatu, tapi terlanjut melihat kenyataannya. "Tapi Om, bukannya kamu--" "Dasar brengsek, ganggu privasi orang! Keluar!" Di titik itu, Putri yang sebenarnya dari keluarga terkuat di Ibukota pun tak berdaya. Ia langsung berlari sambil menangis, sementara kedua body
"Siti, kamu tenang saja. Aku punya rencana," potong Kieran. "Saya juga, Pak... eh saya, aku maksudnya Mas, hehe!" Kieran terkekeh melihat Siti yang saking semangatnya sampai lupa panggilan mereka. Ia menggenggam tangan Siti dengan tangan kirinya, dan mengelus pipinya dengan tangan kanannya. "Sayang, maksudku... aku udah siap dengan keadaan ini. Pada dasarnya aku udah bisa menhadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun." "Tapi Mas, itu... aku sempet liat seorang pelayan memasukkan obat ke dalam gelas yang kemudian di kasih ke kamu. Kamu tadi minum?" tanya Siti. Kini giliran Siti yang menggenggam tangan suaminya, ia begitu takut dengan apa yang akan mereka hadapi. "Aku--" "Mas, serius kamu gak minum dari gelas itu kan?" Kieran menghela napas, ia merasa tubuhnya sudah tidak nyaman. "Itu..." gumamnya sambil menggaruk tengkuknya sendiri. "Panas banget, Sayang. Lemes." Siti mendelik, ia panik. Sementara Kieran terus menggosok-gosok dadanya sendiri. Ia berusaha m
"Hai, Om! Apakabar?!" Wanita itu langsung datang dan merangkul lengan Kieran dengan sangat percaya diri. Kieran terpaku sejenak karrna terkejut dan mengingat-ingat siapa sosok yang dengan lancang menyentuhnya itu. Ia langsung menyingkirkan tangan wanita itu dan menjaga jarak lebih jauh darinya. "Who are you?" tanyanya dengan tatapan tajam. "Hai Om, ini aku. Putri Wijaya, masa Om lupa sih?" Putri dari keluarga Wijaya itu tersenyum lebar dan sangat excited bertemu dengan Kieran. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran sebagai formalitas. Padahal ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. "Oh, ya. Ingat," gumam Kieran hanya sebagai formalitas. Padahal, ia hanya mengingat wanita itu sebagai wanita gila. Mungkin beberapa pria akan senang dengan wanita yang atraktif, tapi Kieran sudah terlalu trauma dengan wanita-wanita yang terlalu aktif mengejar pria. Hal itulah yang ia suka dari Siti. Siti terlalu tenang dari segi usia, Siti muda namun dewasa dan penuh profesionalitas.
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole
Siti dengan lunglai masuk ke dalam mobil di jok belakang. Saking fokusnya pada dunianya sendiri, Siti tak menyadari kalo di sebelahnya ada Kieran yang sedang menatapnya. "Kamu abis ditampar?" tanyanya. Siti berjingkat kaget, "Bapak?!" "Ck, Bapak lagi..." kesal Kieran. Ia tak suka Siti mem
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda
Siti mendapat tatapan menusuk dari para wali murid di sana. Bagaimana tidak, para ibu-ibu sudah berdandan cantik demi bertemu si Duda Hot bernama Kieran. Tiba-tiba si target kegenitan mereka malah diwakili oleh seorang gadis muda yang manis. Mereka tentu kesal, ingin sekali mengusirnya. Namun dar







