Share

6. "Kieran"

Author: Blue Rose
last update publish date: 2026-01-15 23:08:50

Tak ada solusi.

Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya.

Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu.

Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta.

Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis.

Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu.

Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma.

Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia segera menyewa untuk dua minggu. Namun tetangganya itu merelakan untuk tinggal sementara, tak perlu bayar. Agar keluarganya bisa fokus mencari tempat tinggal baru.

Kepala Desa, tetangga, bahkan para orang kaya di desa juga angkat tangan masalah itu. Siapa yang bisa membantu untuk urusan uang yang tidak sedikit. Sementara dalam dokumen pinjam meminjam itu, ada tanda tangan Ningsih. Di mana Bank berhak mengambil jaminan yang dimiliki penjamin--Ningsih.

Siti terus memikirkan solusi, apakah ia bisa mengambil rumah itu lagi. Namun dengan apa ia akan mendapatkan uang 200 juta secepatnya.

Tentu saja, maling bukanlah gayanya. Atau berpikir menjadi Ani-ani seperti teman SD-nya?

Ia terus berpikir, dan melakukan hal yang bisa ia lakukan untuk memperjuangkan rumah itu. Meminta surat dari balai desa, meminta perpanjangan, mencari sepasang penipu itu, dan lain sebagainya.

Tentu saja hasilnya nihil. Sepasang penipu itu jelas sudah kabur. Usut punya usut, mereka memang sudah terlilit hutang sejak lama dan menipu banyak orang. Kemudian bank menyarankan agar menggunakan sertifikat rumah orang lain agar mereka tak dipenjara.

Bank meski katanya 'membantu', mereka juga punya kepentingan, yakni mengambil uang kembali dari peminjam, serta keuntungannya berupa bunga. Jadi melihat bahwa nasabah mereka memiliki banyak hutang dan tidak berpotensi membayar, mereka mengajarkan solusi jahat pada mereka. Maka Ningsih sekeluarga adalah korbannya.

Itulah yang dinamakan politik dalam ekonomi yang harus diketahui oleh semua orang, termasuk orang tua. Ningsih menjadi korban, juga ada sebabnya. Ketidaktahuan bisa membunuh seseorang dan itu fakta.

Siti menghela napas berat, dan kembali mengingat. Apa yang bisa ia harapkan dari ibunya yang hanya lulusan SD dan bukan tipikal pembelajar.

Hingga akhirnya karena saking mumetnya dengan situasi ini, Siti memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia sudah mencoba mendapatkan keadilan sendirian bersama keluarga, kerabat dan tetangganya. Namun tidak juga membuahkan hasil.

"Mak, aku akan mencari solusi ke Jakarta. Mamak jaga adek-adek aja."

"Tapi Nduk, apa yang akan kamu lakukan? Uang dua ratus juta itu gak sedikit."

Siti menghela napas. "Ayu tau, Bu. Tapi hanya ini jalan satu-satunya, Ayu akan berusaha sampai akhir. Ibu doakan saja."

Ningsih menangis melihat putri petamanya harus mengalami itu semua. Ia merasa gagal jadi orang tua. Bahkan dua hari lalu, ada bos hidung belang yang menawar Siti sebagai istri keempatnya.

Tentu Siti dan Ningsih menolaknya. Untung saja Ningsih bukan tipe orang tua gila. Ia tetap mempertahankan harga diri meski sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

"Hati-hati, Nak."

Siti melangkah pergi, menuju ke kota. Belum genap dua minggu ia libur, ia harus kembali ke Jakarta.

Ia tak menyangka akan bertemu ujian semacam itu.

Meski ia paham bahwa di manapun pasti ada keadilan. Tapi kalau urusannya sudah dengan si miskin dan si kaya atau si berkuasa dan rakyat jelata, hasilnya pasti yang kecil akan kalah. Keadilan seolah pilih-pilih orang untuk bernaung.

Siti menyentuh kaca kereta. Menatap kosong ke arah luar sana.

Sebelum ia membeli tiket, ia sudah menghubungi Victor terlebih dahulu. Ia meminta bantuan Victor untuk membantunya bertemu sang ayah.

Awalnya Victor menolak, tentu saja. Namun Siti buru-buru menjelaskan kalau ia sungguh ingin bicara dengannya.

Di situlah Siti janjian dengan Kieran di sebuah restoran besok.

•••

Hari pertemuan Siti dengan Kieran tiba. Perasaannya campur aduk, antara takut dan malu. Takut jika Kieran marah, juga malu karena sudah menolak tawarannya. Tapi kini meminta bantuannya.

Siti memang sengaja datang lebih dulu, jadi ia bisa mempersiapkan diri. Untunglah Kieran memesan ruang privat, jadi mereka bisa lebih nyaman di sana.

Lima belas menit kemudian, Kieran pun datang. Semerbak wanginya sudah tercium bahkan saat ia membuka pintu.

Siti langsung berdiri, terkesiap.

"Halo, Siti! Udah lama?" sapanya menyalami Siti.

Siti pun menerima uluran tangan itu sambil tersenyum. "Halo, Tuan Kingsley. Saya baru saja sampai."

Kieran terlihat begitu santai. Ia duduk di kursi yang ada di sebrang Siti, menatap Siti dengan santai pula. Menawarkan pesanan dan memaksanya memesan sesuatu.

Wajah Siti terlihat sangat pucat, dan Kieran memberikan air putih padanya.

Kieran tidak diikuti siapapun sekarang, bahkan Kakak Victor.

"Relax aja, Siti. Saya gak akan bersikap buruk padamu," ujar Kieran.

Ia prihatin melihat bagaimana penampilan Siti sekarang. Ia yang biasanya terlihat fresh, sekarang seperti mayat hidup.

Bibirnya seperti orang sakit, hanya mengenakan dress panjang hitam, kemeja kotak-kotak hitam putih, dan hijab abu-abu. Seperti biasa, stylish. Tapi tetap wajahnya yang tanpa make-up itu membuat vibe yang keluar memprihatinkan.

"Terima kasih Pak, sudah mau datang. Saya minta maaf karena sudah menyita waktu Anda."

Kieran menggeleng. "Tidak usah dipikirkan Siti, sekarang saya ingin dengar. Kenapa tiba-tiba ingin bertemu?"

Suara Kieran sangat lembut dan tenang. Siti jadi merasa agak lega karena apa yang ia takutkan tak akan terjadi.

"Maaf ya, Pak, sebelumnya. Saya ingin bertanya mengenai kontrak pernikahan itu. Anu..."

Kieran masih menunggu. Ia sebenarnya sudah bisa menduga kalau Siti akan membahas kontrak itu lagi. Namun arahnya ke mana, ia tidak tau.

"Itu... saya..."

Kieran jadi makin penasaran. Gadis itu benar-benar membuatnya bingung.

Sementara Siti mencoba bersiap mengatakan maksudnya. Ia memejamkan mata dan perlahan berkata.

"Apakah kontrak itu masih berlaku?"

"Hm?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   219. Kantor Polisi

    "Vic udah, Vic! Victorius Kingsley!!!" teriakan Febi akhirnya.Perasaan hangat dari pelukan Febi dan isak tangis gadis itu perlahan menurunkan kadar adrenalin beracun di dalam darah Victor. Tangannya yang terkepal rapat dan berdarah perlahan melemas.Ia melepaskan cengkeramannya pada kerah pria yang sudah pingsan bersimbah darah tersebut.Victor berbalik cepat, mencengkeram kedua bahu Febi dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajah Febi dari atas ke bawah, memastikan tidak ada luka sedikit pun di tubuh gadis itu."Lu gak apa-apa? Ada yang sakit? Lu kena pukul dimana?" tanya Victor panik, suaranya bergetar hebat penuh kecemasan.Febi menggeleng cepat di balik balutan pashminanya, air mata mengalir membasahi pipinya. "Gak ada... aku gak apa-apa, Vic. Kamu... kamu datang tepat waktu..."Keributan besar di siang bolong itu tentu s

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   218. Bertemu Febi

    "Aku takut, Edric. Jujur, aku takut banget sama Ayah," aku Vega, matanya mulai berkaca-kaca namun senyumnya tidak pudar. "Tapi... aku juga gak mau kamu pergi. Aku mau coba... bareng kamu."Mata Edric membelalak seketika. "Lu serius?!"Vega mengangguk pelan, merona merah di kedua pipinya. "Iya. Tapi janji, kamu gak boleh nekat lagi kek kemarin. Harus pakai cara yang benar."Seringai khas Edric yang selama beberapa hari ini hilang mendadak terpancar lebar di wajah tampannya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Tanpa sadar, Edric meraup kedua tangan Vega dan menggenggamnya erat."Janji," jawab Edric mantap dengan mata berbinar. "Mulai hari ini, lu resmi jadi cewek gue. Dan gue gak bakal biarkan siapa pun bikin lu merasa takut lagi."Vega tertawa kecil, membiarkan tangannya digenggam hangat oleh Edric.•••Suasana kafe berinterior wood-vintage di kawasan Jakarta Selatan terasa sangat tenang. Alunan musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan. Victor duduk di meja dekat jendel

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   217. Jadian?

    Pagi hari yang cerah menyinari ruang makan utama keluarga Kingsley. Kilauan cahaya matahari menembus jendela kaca raksasa, memperlihatkan meja makan panjang yang dipenuhi aneka hidangan sarapan. Namun, fokus seluruh anggota keluarga pagi itu mendadak teralih sepenuhnya saat Victor melangkah masuk ke ruangan.Anak ketiga Kingsley itu terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat dari kesehariannya. Biasanya, Victor hanya mengenakan kaus polos agak longgar yang memperlihatkan sekilas tato gaya gothic di leher bagian kanan serta guratan tato bergaris tegas di punggung tangan kanannya.Ditambah gaya rambut wolf cut bertekstur messy yang selalu dibiarkan sedikit berantakan, penampilan Victor memang selalu paling kental dengan aura 'preman berkelas' dibanding saudara-saudaranya.Tapi pagi ini, gaya bad boy khas Victor berpadu sempurna dengan sentuhan rapi. Rambut wolf cut-nya ditata sedikit wavy dan bervolume, dipadu dengan kemeja kasual bahan linen berwarna krem yang digulung rapi hingga s

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   216. Tidak Memancing tapi Dapat Ikan

    Di sudut lain kantin, Vega duduk di kursi kayu. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada mangkok bakso di depannya.Sikap dingin Edric yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat sepanjang hari ini justru membuat dadanya sesak oleh rasa tidak nyaman yang terus menumpuk. Padahal sebelumnya ia sempat merasa risih dengan semua rayuan Edric yang sok keren itu. Teman di sebelah Vega, Aby, menyenggol lengannya. "Ga, lu sadar gak sih? Si Edric dari tadi gak ngelirik lu sama sekali. Biasanya kan dia paling heboh kalau lu ada di kantin."Vega menunduk, meremas kuat rok kainnya di bawah meja. "Mungkin dia udah sadar...""Sadar apaan?""Sadar kalau gue cuma bikin susah hidup dia," cicit Vega, suaranya terdengar serak.Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menggerogoti pikiran Vega. Bayangan kejadian di malam resepsi kembali berputar hebat di otaknya. Malam itu, Edric diamuk dan ditunjuk-tunjuk oleh ayahnya di depan banyak orang penting. Edric dipanggil 'bajingan kecil' dan diper

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   215. Dewasa oleh Keadaan

    Siang itu, Victor duduk di dalam mobilnya yang terparkir di bawah pohon rindang, menatap layar ponsel yang menyala. Lampu hijau pada obrolan pribadinya baru saja bertambah setelah Siti mengirimkan pesan singkat lima menit lalu. Siti ||| "Gue udah izin sama Febi. Dia bilang gak apa-apa kalau lu mau nge-chat. Good luck, Calon Doktor!”Jari-jari Victor bergetar tipis. Cowok jangkung yang biasanya tenang menghadapi ujian kualifikasi S3 itu kini merasa detak jantungnya berpacu jauh lebih kencang. Setelah menghembuskan napas panjang, ia menekan kolom obrolan dan mengetik pesan pertama.Victor ||| "Hai, Feb. Ini Victor. Sory kalau tiba-tiba, gue dapet nomor lu dari Siti."Tidak butuh waktu lama, tanda dua centang biru langsung terlihat. Jantung Victor rasanya mau melompat keluar.Febi ||| "Hai, Vic. Gak apa-apa kok, Mbak Siti udah cerita tadi."Victor ||| "Lu apa kabar, Feb? Lagi sibuk apa sekarang?"Febi ||| "Kabar baik, Vic. Sekarang sibuk kerja aja di studio desain kawasan Selatan. Lu sen

  • Dinikahi Duda dengan 4 Anak Bujang   215. Mami Rasa Sahabat

    Mendengar nama itu terucap dari bibir Siti, tubuh Victor mendadak kaku. Matanya terpejak sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas pasrah yang sangat panjang."Tuh kan, bener!" tebak Siti mantap."Gak usah keras-keras ngomongnya, Siti..." bisik Victor panik, melirik cemas ke arah pintu kaca rumah takut terdengar orang lain."Ya elah, sepian ini tamannya," balas Siti santai. "Jadi gimana? Lu jujur aja deh sama gue. Udah mau beres S3 begini, lu masih belum bisa move on dari Febi?"Victor menyandarkan kepalanya ke sandaran kayu bangku taman, menatap langit biru di atas mereka. Raut wajah galau yang ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya runtuh sepenuhnya di hadapan Siti."Gimana bisa gampang lupa, Ti..." ujar Victor pelan, suaranya terdengar emosional. "Gue tahu dulu awal hubungan kita rumit. Dia memang pernah ada di pihak Dexter, tapi selama kerja sama gue, dia tulus. Dia tanggung jawab, dia gak pernah manfaatin gue kayak cewek la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status