ANMELDENKieran sebenarnya tau, tapi berusaha terlihat sangat terkejut.
"Maksud kamu apa, Siti?" tanyanya balik. Siti menatap ekspresi Kieran, ia jadi frustasi. Kepanikan menjalar di wajahnya. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya di bawah meja. "Saya--" "Oke oke... saya paham," potong Kieran merasa iba, karena gadis itu sudah panik. "Tapi kenapa kamu berniat menanyakan perjanjian pernikahan itu lagi? Kamu sudah menolaknya." Kieran ingin memperjelasnya. Apalagi setelah ini, ia harus bertemu seseorang lagi, jadi tak bisa berlama-lama. "Itu... Tuan, saya ... saya akan menikah dengan Anda. Saya berubah pikiran, dan saya pikir itu bukan ide yang buruk." Wajah Kieran yang biasanya datar, menjadi lebih tegang. Ia jelas terkejut. Melihat reaksi itu, Siti menunduk lagi. Ia takut kalau Kieran marah padanya. "Saya tau ini aneh, tapi beri saya kesempatan," lirih Siti agak bergetar. Kieran hanya diam selama beberapa menit, membuat suasana semakin tegang. Siti merasa ingin kencing di celana kalau otaknya tidak bekerja. Kieran menghela napas pelan. "Jelaskan situasinya, kenapa kamu berubah pikiran. Saya perlu tau, Siti." Siti bingung akan jujur atau tidak. Tapi ia pernah dengar kalau tidak ada rahasia yang bisa lepas dari para konglomerat. Mereka akan tahu dengan mudah. "Jujur akan memperlancar negosiasi kita. Saya gak punya banyak waktu," lanjut Kieran melirik jam tangan mahalnya. "Itu... saya tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi saya butuh banyak uang," jawab Siti akhirnya. Tak ada gunanya menyembunyikan semuanya dari Kieran. "Untuk?" Siti menatap Kieran agak bingung. Perlukah ia menceritakan seluruh situasinya. Hingga beberapa saat, Kieran membuka ponselnya yang bisa dilipat dan dibuka lagi jadi tablet. Siti merasa sepertinya ia tak bisa membiarkan Kieran menunggu lama, ia terlihat begitu sibuk. "Rumah keluarga saya disita bank." "Oooh keluarga yang punya hutang," gumam Kieran. Sisi menyebalkan yang persis seperti Victor, ternyata Kieran juga memilikinya. Namun kali ini Siti tak bisa melawan, Kieran bukan Victor, dan ia membutuhkan bantuannya secepat mungkin. "Iya... lebih tepatnya, orangtua saya ditipu." "Ditipu ya... keluargamu meminjamkan sertifikat tanah untuk hutang bank orang lain?" Siti agak terkejut, bagaimana Kieran tau. Lalu Kieran sendiri, melirik ke arah Siti dan menyeringai. "Banyak yang datang padaku dengan kasus yang sama," jelas Kieran tanpa menoleh. Ia masih fokus pada tabletnya. Siti jadi merasa malu, bagaimanapun itu kebodohan ibunya memang. Ia juga semakin gugup karena Kieran hanya diam. Dalam hati Siti terus menimbang apa yang akan Kieran lakuan dan sampaikan padanya. "Iya, seperti itu, Pak. Situasinya kompleks, tapi saya tidak tau harus bagaimana." "Oke, tunggu dulu," balas Kieran sambil memekai kacamata miliknya. Tiba-tiba saja aura Kieran semakin keren dan ketampanannya meningkat. Siti terus menegur dirinya dalam hati, kalau ini bukan saatnya terpesona oleh ketampanan pria matang itu. Kieran sedang fokus mencari sesuatu di tabletnya. Dan tak lama menemukannya, lalu menggeser tabletnya di atas meja ke arah Siti. Siti menerima tablet itu dan melihat itu, di sana ada file P*F dengan judul 'Kontrak Perjanjian Pernikahan'. Kemampuan membaca Siti cukup baik. Ia memang suka membaca, jadi sekali baca ia langsung bisa memahami isinya. Perjanjian pernikahan yang persis seperti di drama-drama. Namun ada bagian yang Siti belum siap melakukannya. Kieran terlihat menunggu, memainkan ponselnya dengan santai dan mengetukkan jari telunjuknya di atas meja. Suasana itu makin menegangkan bagi Siti, ia ragu ingin mengajukan negosiasi kalau begini. Sesekali Kieran melirik ke arah Siti dan melihat kebingungan di sana. "Tanya saja kalau bingung," ujar Kieran. "Em... sebagian besar saya paham, tapi saya jadi kepikiran sesuatu, Pak." "Katakan aja." Siti menelan ludahnya sendiri sebelum berkata. "Em... alih-alih pernikahan ini, apakah tidak ada solusi lain, Pak? Seperti mungkin saya akan bekerja untuk Anda, sampai hutang saya terbayar." Kieran tertawa kecil mendengar itu. Ruangan yang awalnya terasa dingin, berubah pecah oleh sedikit kehangatan. Siti tak tau apa artinya. Tapi ia tak berpikir itu akan benar-benar baik. "Kamu kira saya tidak memiliki anak buah yang saya bayar 200 juta perenam bulan?" tanya Kieran balik. Siti menunduk lagi. Sepetinya itu penawaran bodoh. "Gini saja, saya perjelas dulu, Siti. Sepertinya kamu salah paham," ujar Kieran. Sekarang ia menatap Siti dengan lebih tegas dan fokus. "Saya akan dengan mudah mendapatkan karyawan yang loyal, tapi untuk masalah pernikahan. Saya butuh persetujuan dari anak-anak saya." Siti menahan napasnya. Ternyata seperti itu situasinya, bukan tentang bagaimana ia membayar hutang atau tidak. Tapi Aron juga membutuhkan pernikahan tersebut. Ia bisa memahami situasinya dengan cepat. Namun ia merasa ide untuk meneruskan perjanjian pernikahan itu terasa sangat tidak masuk akal. "Tapi kenapa harus saya, Pak? Maksudnya... saya hanya gadis biasa," ujar Siti ragu. Kieran berdiri dan merapihkan pakaiannya. Ia mendekati Siti yang semakin gugup. "Victor," jawab Kieran santai. Ia mendekat ke tempat duduk Siti dan mengambil tablet miliknya. Belum ada tanda tangan di sana dan Siti tampak ragu. Siti tak tau harus bagaimana, tapi ia kemudian ikut berdiri menghadap Kieran. "Victor terlihat cocok denganmu. Persetujuan darinya saja sudah cukup." Siti pun paham situasinya. Jadi bercandaan Victor saat itu dianggap serius oleh Kieran. "Tapi Pak, Victor saja tidak setuju dengan saya. Dia dan saya sempat bertemu membicarakan tentang ajakan Anda untuk menikah, lalu dia jujur tentang kegilaan Anda." Siti langsung menutup mulutnya sendiri. "Itu..." Kieran tersenyum miring. "Dia gak salah, saya memang gila. Jadi, mau menikah dengan saya atau tidak?" Siti terkejut bukan main, ia langsung berkata. "Pak... saya..." "Kalau tidak mau, tinggal jujur saja Siti, saya tak punya banyak waktu atau energi untuk memeksa seseorang." Siti tak bergerak, sementara Kieran terlihat bersiap pergi. Ini pilihan yang berat, dan ia bingung harus memilih yang mana. "Lebih baik kamu pulang saja untuk memikirkannya, dan kita akan bertemu lagi besok. Jam 11.00 WIB, di sini."Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan fokus tadi," balas Kieran sebelum memeluk ibunya dengan hangat. Clara--ibu kandung Kieran pun mencium kening dan pipi anaknya dengan penuh kerinduan. Sejak kematian suaminya dua tahun lalu, mereka baru bertemu lagi. Kieran sangat sibuk dan kesehatan Clara sudah tidak stabil. Program kesehatan yang ia ikuti nyatanya tak bisa menahan fakta bahwa tubuhnya sudah tua. Usia 80 tahun, usia yang begitu riskan untuknya. Sementara itu Kieran mempekerjakan Suster dan penjaga di rumah sang ibu. Sayangnya mereka tentu tak bisa menahan perasaan kesepian yang hinggap. Mereka pun duduk dengan basa-basi seperti menanyakan kabarnya dan kabar anak-anak Kieran. "Apa yang kamu pikirkan sejak tadi,
Kieran sebenarnya tau, tapi berusaha terlihat sangat terkejut. "Maksud kamu apa, Siti?" tanyanya balik. Siti menatap ekspresi Kieran, ia jadi frustasi. Kepanikan menjalar di wajahnya. Tanpa sadar ia memainkan jemarinya di bawah meja. "Saya--" "Oke oke... saya paham," potong Kieran merasa iba, karena gadis itu sudah panik. "Tapi kenapa kamu berniat menanyakan perjanjian pernikahan itu lagi? Kamu sudah menolaknya." Kieran ingin memperjelasnya. Apalagi setelah ini, ia harus bertemu seseorang lagi, jadi tak bisa berlama-lama. "Itu... Tuan, saya ... saya akan menikah dengan Anda. Saya berubah pikiran, dan saya pikir itu bukan ide yang buruk." Wajah Kieran yang biasanya datar, menjadi lebih tegang. Ia jelas terkejut. Melihat reaksi itu, Siti menunduk lagi. Ia takut kalau Kieran marah padanya. "Saya tau ini aneh, tapi beri saya kesempatan," lirih Siti agak bergetar. Kieran hanya diam selama beberapa menit, membuat suasana semakin tegang. Siti merasa ingin kencing di ce
Tak ada solusi. Siti dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke tempat tetangga. Rumah itu sudah menjadi milik bank, dan mereka harus merelakannya. Ibunya masih terus menyalahkan dirinya sendiri. Saking kasihannya pada para penipu itu, Ningsih tak berpikir kalau bisa saja ia ditipu. Benar saja. Setelah dua tahun jalan, tidak ada sepeserpun uang masuk ke bank. Padahal sepasang teman lama ibunya itu meminjam dua ratus juta. Bank tentu menerima pengajuan hutang itu karena jaminannya adalah rumah yang menjanjikan. Luas tanah dan bangunannya bisa bernilai dua miliar. Lokasinya dekat dengan jalan utama desa dan masjid. Begitu strategis. Namun sayang, pemiliknya yang tidak cerdas membuat semua itu lenyap dalam waktu dua tahun. Tanah yang diperjuangkan Ningsih dan almarhum suaminya itu, jatuh ke tangan manusia biadab itu. Di situasi ini, Siti tak bisa memikirkan hal lain selain solusi. Menyalahkan ibunya pun percuma. Untung ada rumah kosong milik tetangganya, sehingga ia
Keadaan tegang itu hanya berlaku sebentar, Victor langsung tertawa seolah itu hal paling lucu yang pernah ia dengar hari itu. "Hahaha!" Sementara Siti bingung, bagian mana yang lucu. "Gue ama sodara-sodara gue juga pernah mikir gitu, tapi... gue punya rahasia buat membantah pernyataan itu." "Apa?" tanya Siti. "Intinya gue ama sodara gue udah pada curiga kalau dia mungkin you know-lah, belok. Tapi faktanya, dia lurus-lurus aja kok. Entah karena terlalu higienis atau apa, dia gak pernah nyentuh wanita di luar sana." "Tau dari mana lo? Emang lu tiap hari dan tiap waktu nempelin dia?" tanya Siti. "Bukan gue, Abang gue kan asisten dia. Lu inget kan orang yang buntutin dia terus dan ada sama kita di ruangan Bokap gue?" Siti mengangguk-angguk mengerti. Jadi terjawab siapa pria yang agak mirip dengan Kieran juga Victor, lalu mengikutinya terus. "Terus, maksud lo yang membuktikan kalau dia straight?" tanya Siti lagi. Ia sebenarnya tidak merasa itu penting, tapi dirinya
Keesokan harinya, Siti sempat mengira kalau Kieran akan memaksanya. Seperti yang ia lihat di drama korea dan china, ia sangat akrab dengan adegan seperti pemaksaan atau pernikahan kontrak. Namun faktanya, tidak ada yang terjadi pagi itu. Sampai ia selesai melalukan Live Streaming, tidak ada tanda-tanda Bos Besar itu datang ke kantor. Sementara Victor, ia tidak masuk kantor hari ini. Padahal Siti sudah meminta bertemu dengannya, tapi ia sok sibuk entah karena apa. Ia dengar dari orang-orang kampus, bahwa Victor sudah lulus sidang kloter pertama. Banyak yang berspekulasi kalau Victor lulus cepat jalur uang. Entah itu benar atau tidak, karena Victor lebih suka disalahfahami daripada repot-repot menjelaskan. Tapi kalau memang benar, Siti tak heran juga. Semua bisa Victor miliki dan lakukan dengan uang. "Kenapa lu kayak nungguin seseorang?" tanya Febi yang tiba-tiba di sampingnya. Siti langsung menggeleng. "Gak ada, Kak. Aku mau gantiin shift si Hanum, gabut rasanya." "Ooh
"Oke singkat saja, karena kita sudah saling kenal. Saya akan menawarkan sesuatu padamu." "Apa maksud Anda?" tanya Siti. "Maaf sebelumnya Pak, tapi saya hanya karyawan biasa dan hanya seorang Host Live. Saya bukan orang yang tepat untuk kerjasama dengan orang hebat seperti, Bapak... Tuan." Siti berkali-kali melirik ke arah Victor yang hanya mengangkat bahu--tidak tau apa-apa. Namun di tengah kebingungan itu, Kieran tiba-tiba mendorong sebuah map dengan judul: 'Proposal Pernikahan' "Menikahlah denganku, Siti." Siti seperti hampir pingsan mendengar ucapan itu. "Mohon maaf, Pak, ini gak masuk akal.""Gak masuk akal bagaimana?""Menikah... ini--"Kata-kata Siti terpotong oleh Victor yang heboh. "Buset, Pih! Tiba-tiba banget ngelamar Siti! Gak gak boleh," ucapnya berdiri di depan keduanya. "Iya Pak, ini gak boleh!"Meskipun ada rasa panik, tapi Siti tetap menyadari posisinya. Menikah dengan sang CEO, rasanya seperti ia memimpikan menikah dengan aktor kesukaannya. "Pih... plea







