LOGINSesampainya di depan kamar utama, Bram membuka pintu. “Masuklah.”
Evelyn tetap berdiri di ambang pintu. “Kalau cuma mau mengancamku lagi, mending nggak usah.” “Masuk.” “Nggak.” Bram menoleh. Matanya menatap Evelyn dengan tatapan yang membuat tubuh merinding. “Kau ingin berbicara tentang kebebasan, bukan? Kalau begitu masuk. Kita bicara.” Evelyn menatapnya dengan curiga. Akhirnya, Evelyn melangkah masuk.Sepuluh menit kemudian, pintu ruang makan terbuka pelan. Evelyn melangkah masuk.Para tamu menoleh serentak.“Maaf atas kekacauan tadi.” kata Evelyn tenang. Ia duduk kembali di kursinya.Ibu Wijaya menatap menantunya dengan mata menyipit. “Sudah selesai bersembunyi di dapur, Evelyn? Kami hampir mengira kau lari keluar rumah karena malu.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya nggak lari ke mana pun, Bu. Saya cuma pergi untuk memperbaiki kesalahan saya, bukan menghindarinya.”Seorang pelayan datang membawa lobster kedua di atas nampan perak, meletakkannya perlahan di hadapan Evelyn. Seluruh mata di meja itu menunggu untuk melihat apakah ia akan mengulangi kekacauan yang sama.Evelyn mengambil alat penjepit dengan tangan yang jauh lebih mantap dari sebelumnya. Ia mengingat setiap kata yang diajarkan Mbok Yati di dapur.Krak.Ibu Ratnasari mengangkat alisnya, jelas terkejut dengan perubahan itu. “Cepat sekali belajarnya. Ba
Di kamar Rara, gadis kecil itu sedang duduk di tepi tempat tidur, memandangi Evelyn yang tergesa-gesa memilah beberapa lembar catatan di tangannya.“Kak Evelyn kenapa buru-buru begitu?” tanya Rara, memperhatikan wajah kakaknya yang tegang.Evelyn berhenti sejenak, mencoba tersenyum. “Kakak ada acara malam ini, Ra. Ibu Wijaya mengundang beberapa tamu untuk makan malam.”“Aku boleh ikut nggak?” tanya Rara penuh harap.Evelyn menggenggam tangan adiknya. “Nggak, Ra. Malam ini kamu harus tetap di kamar ya, jangan keluar dulu. Nanti Kakak yang antar makan malam kamu ke sini.”Rara mengerutkan dahi, kecewa. “Kenapa? Apa aku ada salah?”Evelyn mengusap rambut adiknya. “Enggak, kamu nggak salah apa-apa. Cuma malam ini tamunya orang-orang penting, dan Kakak harus fokus melayani mereka.”Rara mengangguk pelan. “Iya, Kak. Aku ngerti kok.”Evelyn memeluk adiknya sebentar sebelum berdiri dan berjalan keluar kamar.~~
Evelyn menahan napas, jari-jarinya meremas tangan Rara lebih erat. “Aku nggak butuh semua orang untuk menerimaku, Bu. Aku cuma butuh keluargaku bahagia di rumah yang sekarang aku tinggali.”Ibu Wijaya mendengus, senyum sinis merekah di bibirnya. “Keluarga? Kau pikir kalian berdua adalah keluarga? Kau dan adikmu cuma beban.”Evelyn merasakan darahnya mendidih, tapi ia tidak membiarkan amarahnya meledak. “Keluarga Tanumihardja nggak menganggap kami beban.”Wajah Ibu Wijaya memerah, urat di pelipisnya menonjol. “Kau berani—”“Aku nggak berani apa-apa, Bu.” Evelyn memotong, suaranya mulai meninggi.Rara mulai menangis pelan di samping Evelyn. “Kak, jangan berantem.”Evelyn langsung berlutut di samping Rara, mengusap air matanya. “Maaf, Ra. Kakak cuma bicara.”Ibu Wijaya berbalik dan melangkah pergi.“Kenapa Nyonya Wijaya bisa nggak suka sama kita? Kita kan nggak jahat ke dia.” kata Rara, mengerutkan keningnya.
Ibu Tanumihardja menoleh penasaran ke arah jendela, alisnya terangkat. “Suara siapa itu, Nyonya Evelyn? Anak-anak?”Ibu Wijaya langsung tegang.“Ah, itu hanya—” Ibu Wijaya mulai, suaranya meninggi, siap melontarkan alasan untuk menutupi keberadaan Rara.“Itu adik saya, Bu.” Evelyn memotong dengan suara tenang, tidak membiarkan Ibu Wijaya menyelesaikan kebohongannya. Ia menatap Ibu Tanumihardja dengan senyum tulus. “Namanya Rara. Dia sedang dalam masa pemulihan setelah operasi jantung, jadi kami membiarkannya bermain di taman sambil diawasi.”Pak Tanumihardja yang tadinya sibuk dengan tehnya, kini menaruh cangkirnya dan menatap Evelyn. “Operasi jantung untuk anak seusia itu? Pasti berat sekali.”Evelyn mengangguk. “Iya, Pak. Dokter bilang proses pemulihan bisa memakan waktu hingga satu tahun penuh.”“Anak yang kuat, saya bisa membayangkan betapa sulitnya bagi Anda sebagai kakak.” Ibu Tanumihardja bergumam, matanya berbinar.
Di depan kamar Rara, Evelyn menemukan Ibu Wijaya berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya. Rara duduk di ranjang dengan wajah ketakutan.“Bu, ada apa?” tanya Evelyn buru-buru masuk, tubuhnya berada di antara Ibu Wijaya dan Rara. “Kenapa Ibu masuk ke kamar Rara tanpa memberitahuku dulu?”Ibu Wijaya menoleh. “Aku nggak perlu izin masuk ke rumah yang juga rumahku, Evelyn. Apalagi memeriksa kondisi anak yang dibawa masuk ke sini tanpa persetujuanku.”“Ibu—”“Diam dulu!” potong Ibu Wijaya dengan suara meninggi. “Aku baru saja memeriksa kondisi anak ini dan aku memutuskan, dia harus dikembalikan ke rumah sakit hari ini juga.”“Kenapa? Dokter bilang kondisinya sudah stabil. Dia cuma perlu istirahat dan pengawasan ringan.” suara Evelyn bergetar. Ibu Wijaya mendekat. “Bukan soal kesehatannya, Evelyn. Aku baru mendapat kabar dari asistenku besok pagi ada kunjungan dari keluarga Tanumihardja. Aku nggak mau mereka melihat a
Mobil berhenti di halaman mansion menjelang sore.Rara menempelkan wajahnya ke kaca jendela mobil, kagum melihat gerbang besi yang menjulang tinggi.“Kakak tinggal di rumah sebesar ini?” bisik Rara takjub.“Iya, Ra.” Evelyn tersenyum. Ia membantu Rara turun dari mobil.Rara berdiri diam beberapa saat, menatap sekeliling dengan mata yang masih tidak percaya.“Ayo, kita masuk.”Belum sempat mereka melangkah, suara sepatu hak tinggi terdengar dari pintu utama. Ibu Wijaya berdiri di ambang pintu, matanya langsung menyipit begitu melihat anak kecil yang digandeng Evelyn.“Siapa ini?” tanya Ibu Wijaya tajam, membuat Rara refleks bersembunyi di balik lengan Evelyn.Evelyn berusaha tenang. “Adikku, Bu. Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan butuh masa pemulihan.”Ibu Wijaya turun dari teras, mengamati Rara dari ujung rambutnya yang kusut hingga ujung sepatu rumah sakit.“Kenapa anak ini ada di sini?







