MasukPagi ini baru pukul setengah tujuh, matahari baru saja menyembul di balik gedung-gedung tinggi, dan Bram sudah berdiri di depan pintu ruang makan dengan penampilan yang sempurna.
“Ikut aku ke kantor hari ini.” Evelyn yang baru selesai menaruh cangkir teh di atas meja dapur langsung menoleh tidak percaya. “Apa?” tanyanya, masih berpikir bahwa ia salah dengar. Bram berdiri di ambang pintu ruang makan. Seluruh penampilannya menunjukkanSementara di luar kamar, langkah kaki Ibu Wijaya tidak menuju kamarnya. Wanita itu justru berjalan lurus ke ruang kerja Bram di ujung koridor. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.“Bram.”Bram mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya, pena di tangannya berhenti bergerak. “Ada apa, Bu?”“Aku ingin bicara tentang Kevin.” Ibu Wijaya menutup pintu di belakangnya.Bram menutup map di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap ibunya yang berdiri di ambang pintu.“Ada apa dengan Kevin?” tanya Bram.Ibu Wijaya masuk tanpa dipersilakan. “Adikmu semakin tidak tahu batas, Bram.”Bram tetap duduk, tidak bergeming oleh kemarahan ibunya. “Kenapa? Apa yang Kevin lakukan?”“Ia membelikan buku dan mainan untuk anak itu tanpa seizinku. Ketika aku menegurnya, ia berani berkata bahwa aku salah. Ia berani mengatakan bahwa ibunya sendiri keterlaluan.”“Mereka adalah bagian dari keluarga ini sekarang,
Namun Clarissa tidak langsung bergerak. Ia tetap duduk di sofa, matanya menatap Bram. “Bram, kalau nanti ada waktu... boleh kita makan siang bersama?” Tatapan Ibu Wijaya langsung berpindah kepada Bram. Bram menjawab tanpa ragu, suaranya datar dan tegas. “Kalau untuk urusan pekerjaan, silakan hubungi sekretarisku.” Senyum Clarissa membeku, tidak menyangka akan dijawab dengan cara itu. “Maksudku sebagai teman lama, Bram.” “Aku sudah menikah, Clarissa. Terlalu banyak hal yang harus kujaga. Aku yakin kau mengerti.” Ibu Wijaya menggenggam sandaran kursi erat, wajahnya tegang. Pak Surya yang merasakan ketegangan segera berbalik lebih dulu. “Ayo, Clarissa.” Clarissa mengulurkan tangannya pada Evelyn. “Senang bertemu dengan kalian.” Evelyn membalas dengan senyum sopan, tangannya menjabat tangan Clarissa. “Hati-hati di jalan, Clarissa. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Keesokan harinya, saat matahari mulai condong ke barat, mobil hitam Bram Wijaya masuk melewati gerbang besi mansion.Evelyn baru saja turun ketika Bram berjalan lebih dulu tanpa menoleh. Beberapa langkah di belakangnya, Evelyn mengikuti.Belum sempat mereka masuk, Pak Budi muncul dengan langkah tergesa-gesa. “Tuan Bram, ada pak Surya bersama putrinya. Mereka meminta bertemu secara pribadi dengan Tuan dan Nyonya.”Bram mengangguk singkat. “Persilakan ke ruang tamu, saya akan menyusul setelah berganti pakaian.”Pak Budi tampak ragu, kakinya tidak langsung bergerak. “Mereka bersikeras ingin bertemu langsung dengan Nyonya juga, Tuan. Mereka bilang ada beberapa hal penting yang ingin dibahas dengan Nyonya secara langsung.”Bram akhirnya menoleh ke arah Evelyn. “Kau ikut, Evelyn.”Evelyn sedikit terkejut, alisnya terangkat. “Aku? Bukankah—”“Mulai hari ini, setiap tamu penting keluarga akan mengenalmu sebagai Nyonya Wijaya. Tu
Suasana di rumah kaca mewah itu terasa seperti ruang sidang. Dinding kaca memperlihatkan taman mawar, tapi keindahan itu terasa palsu di hadapan selusin pasang mata yang menatap Evelyn sejak ia melangkah masuk. Ibu Wijaya menyambutnya dengan senyum manis. Dari kursi kehormatan di ujung meja, ibu mertuanya mengangkat tangan mengundang Evelyn mendekat.“Ah, akhirnya menantuku datang. Evelyn, kemarilah. Jangan biarkan para Nyonya ini menunggu terlalu lama.” ucap ibu Wijaya Evelyn membungkuk sopan. “Selamat siang, Ibu. Selamat siang, para Nyonya. Maaf jika saya sedikit terlambat.”Ia duduk di kursi yang telah disediakan, tepat di samping Ibu Wijaya.Ibu Wijaya beralih ke para tamu, tiba-tiba bertutur dalam bahasa Prancis, sengaja memamerkan kemampuannya.“Mesdames, voici la femme de Bram. Elle est encore en train d'apprendre nos coutumes, alors soyez indulgentes.” (Nyonya, inilah istri Bram. Dia masih belajar adat istiadat kita, ja
Evelyn memandang Bram dengan tatapan penuh tanya. “Mereka bergerak?”“Mereka sedang mengecek pemilik kendaraan berdasarkan pelat nomor itu. Butuh beberapa menit untuk mengakses database.” Bram menatap layar yang masih menampilkan gambar pelat nomor. “Sementara itu, kita tunggu.”Evelyn kembali duduk di kursinya, tetapi matanya tidak pernah lepas dari ponsel Bram yang tergeletak di atas meja.Tak lama kemudian, ponsel Bram bergetar di atas meja. Bram segera meraihnya dan mengangkat. “Ya.”Beberapa detik ia hanya mendengarkan. Matanya berubah semakin tajam. Alisnya naik sedikit, lalu mengerut. “Kirim lokasinya.”Telepon ditutup dengan gerakan cepat, Bram menoleh kepada Evelyn. “Mobil itu pakai identitas palsu, tapi mereka berhasil mengikuti” Bram mengambil tablet dari atas meja dan membuka peta digital.“Ke mana tepatnya?” Evelyn berdiri dan menghampiri Bram, matanya menyusuri peta di layar tablet.Bram menunjukkan titik m
Evelyn berbalik menuju meja kecil untuk mengambil buku kontak. Tanpa ragu, ia menghubungi nomor Keamanan Swasta.“Selamat malam, saya Evelyn Wijaya dari Wijaya Mansion.” ucapnya, suaranya tetap tenang.“Selamat malam, Nyonya Evelyn. Ada yang bisa kami bantu?” tanya pria di seberang sana.“Ada pencurian pusaka keluarga di mansion.” jawab Evelyn singkat.“Baik, kami sampai dalam dua puluh menit.” sahut suara di telepon itu cepat.“Jangan bocorkan informasi ini ke siapa pun.” tegas Evelyn.“Baik, Nyonya. Informasi ini aman bersama kami.” balas pria itu patuh.Telepon ditutup.~~~Evelyn kembali menekan deretan angka, kali ini nomor Bram.Evelyn langsung bicara. “Bram, ada masalah di mansion.” ucapnya dingin.“Hm.” gumam Bram dari balik telepon, terdengar tidak tertarik.“Kau harus pulang sekarang.” lanjut Evelyn.“Hanya karena itu kau meneleponku? Nggak, aku sedang sibuk







