تسجيل الدخولDi ruang makan, Kevin masih duduk di kursinya dengan ekspresi kesal. Dia memainkan sendoknya di atas meja, tidak lagi menikmati sarapannya.“Ibu,” kata Kevin akhirnya, menatap ibunya, “kenapa Ibu selalu ikut campur? Aku cuma mau bersikap baik pada dia.”Ibu Wijaya menatap putra bungsunya dengan tatapan tajam. “Kevin, kau sudah dewasa. Evelyn bukanlah wanita yang tepat untuk kau dekat-dekati.”“Kenapa? Karena dia nggak berasal dari keluarga terpandang?” suara Kevin mulai meninggi.“Dia butuh belajar, bukan bermain-main dengan adik iparnya. Dan kamu—” dia menunjuk Kevin dengan jarinya, “kamu harus ingat posisimu. Jangan membuat gosip yang nggak perlu.”Kevin mengepalkan tangannya di bawah meja. Lalu pergi meninggalkan meja makan.~~~Di kamarnya, Evelyn mengganti pakaiannya dengan cepat. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Evelyn membuka pintu dan menemukan Kevin berdiri di lorong, tangannya di saku, ekspresi
Tok. Tok. Tok.“Nyonya Evelyn, Ibu Wijaya memanggil di ruang keluarga.” suara pelayan dari balik pintu terdengar sopan tapi tegas.Evelyn menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. Wanita itu selalu punya timing sempurna untuk menghancurkan momen apa pun. Evelyn merapikan rambutnya yang berantakan dan membuka pintu.Pelayan itu menunduk hormat. “Ikuti saya, Nyonya.”Evelyn mengikuti tanpa suara.Di ruang keluarga, Ibu Wijaya sudah duduk di sofa utama.Evelyn masuk dengan langkah pelan. “Ibu memanggilku?”Ibu Wijaya mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menyusuri Evelyn dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Duduk, Evelyn.”Evelyn duduk di kursi di seberang Ibu Wijaya, tangannya meremas ujung roknya.Ibu Wijaya menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkirnya kembali. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu?”Evelyn menggeleng pelan.Ibu Wijaya menghela napas panjang. “Aku melihat caramu makan ma
Kevin mengulurkan tangannya dengan gerakan ramah. “Halo, aku Kevin. Adik Bram. Senang akhirnya bertemu. Bram sama sekali nggak memberitahuku bahwa dia menikah. Aku bahkan sama sekali nggak diundang.” Evelyn tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Kevin. “Halo, aku Evelyn. Senang bertemu juga.” Kevin menggenggam tangannya sebentar, lalu melepaskannya dengan ramah. “Kamu jauh lebih cantik dari yang kubayangkan. Kak Bram, kenapa kau nggak pernah mengirim fotonya?” “Nggak perlu.” jawab Bram datar. “Masuklah ke dalam, kau pasti lelah.” Bram melangkah masuk ke mansion, meninggalkan Kevin dan Evelyn di halaman. Kevin menatap punggung kakaknya, lalu berbisik pada Evelyn, “Dia selalu begitu, tapi aku sudah terbiasa. Yuk, masuk.” Evelyn mengangguk canggung, mereka berjalan masuk bersama. Bram sudah ke atas ke ruang kerjanya. Begitu Evelyn dan Kevin memasuki ruang keluarga, I
Pagi ini baru pukul setengah tujuh, matahari baru saja menyembul di balik gedung-gedung tinggi, dan Bram sudah berdiri di depan pintu ruang makan dengan penampilan yang sempurna. “Ikut aku ke kantor hari ini.” Evelyn yang baru selesai menaruh cangkir teh di atas meja dapur langsung menoleh tidak percaya. “Apa?” tanyanya, masih berpikir bahwa ia salah dengar. Bram berdiri di ambang pintu ruang makan. Seluruh penampilannya menunjukkan seorang pria yang sudah siap menghadapi hari, sementara Evelyn masih mengenakan daster dengan rambut yang belum sempat ia sisir. “Ikut aku ke kantor.” ulang Bram. “Aku nggak mau.” Evelyn langsung menolak tanpa pikir panjang. Ia menoleh kembali ke cangkir tehnya yang masih mengepul, berharap Bram akan pergi begitu saja. “Itu perintah, Evelyn.” Suara Bram sedikit lebih tegas kali ini. Evelyn menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehn
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. “Kenapa diam?” Suara Bram memecah keheningan tanpa menoleh. Evelyn tertawa lirih. “Masih tanya kenapa? Aku kehilangan hidupku, Bram. Kamu tahu rasanya seperti apa? Seperti burung di dalam sangkar emas. Semua orang bilang beruntung, tapi aku cuma mau terbang.” Bram tetap menatap jalan, jari-jarinya menggenggam setir dengan erat. “Kamu masih istriku.” “Aku bukan istrimu.” Jawaban itu keluar begitu cepat dengan tajam. “Aku cuma tanda tangan di atas kertas.” “Kamu kan sudah memilih.” Evelyn menoleh tajam. “Memilih? Aku dipaksa! Kalau waktu itu aku menolak, Rara mungkin sudah meninggal! Kalau aku tahu pernikahan ini akan menghancurkanku seperti ini, aku akan memilih cara lain.” Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi, tanda mereka semakin mendekati mansion yang menjadi penjara bagi Evelyn. Begitu turun, Evelyn langsung ber
Kain pel itu jatuh ke lantai. Evelyn berdiri di tengah ruangan yang luas, napasnya memburu. Saat itu juga, Bram turun dari lantai dua, ia baru saja pulang dari kantor dan belum sempat mengganti pakaian. Tatapannya tertuju pada ember dan kain pel yang tergeletak dekat kaki Evelyn. “Kenapa berhenti?” suara Bram datar, tanpa nada. Evelyn menoleh tajam. “Pekerjaan gila! Gimana aku bisa bersihin keseluruhan sendirian? Aku nggak mau jadi budak kalian!” Bram mendekat. “Nggak ada yang menyuruhmu menjadi budak.” “Oh ya? Tapi kenapa aku dikasih pekerjaan yang nggak ngotak?” Evelyn tertawa hambar, suaranya meninggi. “Itu kan cuma pekerjaan rumah, bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin berguna?” “Pekerjaan rumah?” Evelyn mendengus. Tangannya menunjuk ke segala penjuru ruangan. “Rumah ini luasnya lebih besar daripada apartemen yang kutinggali seumur hidup! Nggak mungkin satu orang menger







