Masuk“Bisa!” Suara Ibu Wijaya menggema lagi. “Bisa kalau dari awal ada batas yang jelas!” Ia menunjuk Evelyn dengan tajam. “Dia lupa batasnya! Dia lupa bahwa dia masuk ke keluarga ini sebagai menantu, bukan sebagai penerus!”Evelyn mengangkat kepala. “Aku tidak pernah lupa batasnya, Ibu.”“Kau lupa!” Ibu Wijaya memotong dengan suara yang lebih keras lagi. “Jawab pertanyaanku! Kau masuk ke rumah ini sebagai apa? Jawab, Evelyn!”Evelyn menelan ludah. “Sebagai istri Bram.”“Bagus. Aku mengajarimu supaya ketika kau berdiri di samping Bram, orang-orang tidak berkata bahwa Direktur Utama Grup Wijaya menikahi perempuan yang tidak tahu etika. Aku mengajarimu agar kau menjaga nama keluarga, bukan agar suatu hari media mulai menulis kau adalah wajah keluarga ini!”Bram melangkah maju. “Bu, artikel ini bukan salah Evelyn.”“Kau membelanya?” Ibu Wijaya menatap putranya dengan mata yang melebar.“Aku tidak membela siapa pun, aku hanya mengatakan fakta.” jawab Bram.Ibu Wijaya tertawa pahit. “Fakta bahw
Pak Surya menutup map itu sebelum berdiri dari kursi. “Kalau begitu saya pamit, Bram. Saya sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Sisanya terserah kalian.”Bram berdiri dari kursinya. “Saya antar sampai pintu.”“Tidak perlu.” Pak Surya tersenyum tipis. “Saya masih hafal jalan keluar mansion ini. Lagipula, saya tahu kalian berdua masih perlu banyak berdiskusi.”Ia berjalan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Bram dan Evelyn.Beberapa detik kemudian Evelyn izin pamit juga. “A-aku ingin menemui Rara.”Bram mengangguk sekali.~~~Di lorong lantai dua, Pak Surya berpapasan dengan Ibu Wijaya yang sedang berjalan dari arah kamarnya. Senyumnya langsung terukir di wajahnya begitu melihat tamu keluarga lamanya.“Oh, Pak Surya. Kebetulan sekali.” Ibu Wijaya tersenyum sopan, tangannya terulur untuk berjabat. “Bagaimana rapat hari ini? Saya dengar ada pertemuan penting dengan Bram dan Evelyn.”Pak Surya menjabat tangannya dengan hangat. “Cukup baik, Nyonya.”“Syukurlah.” Ibu Wijaya menga
Menjelang siang, saat Evelyn masih berdiskusi dengan kepala koki, ponselnya berdering nyaring di atas meja dapur. Nama Maya terpampang di layar dan Evelyn mengangkat panggilan dengan cepat.“Nyonya, maaf mengganggu di tengah kesibukan Nyonya. Tuan Bram meminta pertemuan dengan seluruh kepala divisi. Beliau mengatakan ini penting dan harus dilakukan sekarang.”Evelyn melihat jam di pergelangan tangannya, lalu menatap meja dapur yang berantakan. Ada banyak keputusan yang masih harus dibuat.“Maya, aku tidak bisa datang sekarang.”Di ujung telepon terdengar hening beberapa detik, seolah Maya sedang mencerna jawaban yang tidak ia duga. “Saya mengerti, Nyonya. Tapi Tuan Bram meminta seluruh kepala divisi hadir.”“Aku akan menghubungi beliau sendiri untuk menjelaskan situasinya, Maya. Tolong sampaikan kepada seluruh kepala divisi bahwa aku akan hadir jika memungkinkan, tapi saat ini aku masih dalam rapat yang tidak bisa ditinggalkan.”“Baik, Nyonya. Saya akan menyampaikan pesan Nyonya.”Tel
Evelyn mengangguk pelan, mencoba menjelaskan. “Aku akan menjadwalkan ulang besok pagi. Aku akan memastikan semua keputusan diambil sebelum—”“Besok para pemasok sudah mulai bekerja, Evelyn.” Ibu Wijaya memotong dengan suara yang tegas. “Mereka membutuhkan keputusan hari ini. Kalau menu terlambat ditentukan, beberapa bahan tidak bisa dipesan tepat waktu, penataan meja ikut terlambat, dan seluruh jadwal dapur berubah. Ini bukan hanya soal makan malam keluarga, ini soal koordinasi yang melibatkan puluhan orang.”Meja makan kembali sunyi.Ibu Wijaya lebih dulu meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan di antara mereka. Kevin mengantar Rara kembali ke kamarnya.Bram memanggil Evelyn. “Evelyn, ikut denganku.” Ia berjalan tanpa menunggu jawaban dan Evelyn mengikutinya.Mereka masuk ke ruang kerja dengan pintu tertutup di belakang mereka. Bram berjalan menuju mejanya, sementara Evelyn berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang penuh penyesalan.Evelyn langsung berkata sebelum Bram sempat
“Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men
Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu







