Share

8. Ponsel Pelayan

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-07-08 09:36:58

Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu.

Dari mobil, Sinta turun anggun.

Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek.

“Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya.

“Di ruang kerja, Nona.”

Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu.

Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   25. Amarah

    Pagi itu, Evelyn baru saja menyesap teh jahe hangat di ruang makan ketika suara mobil berhenti mendadak di halaman depan, disusul dengan bunyi pintu mobil dibanting keras. Langkah kaki tegas dan cepat terdengar di atas kerikil, lalu pintu utama mansion terbuka lebar tanpa permisi.Ibu Wijaya melangkah masuk membawa amarah dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tingginya. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, matanya menyapu seisi ruang tamu.“BRAM!” Suara itu menggema hingga ke lantai dua.Bram yang baru saja turun dari tangga menghentikan langkahnya di anak tangga terbawah. Wajahnya tetap tenang.“Ada apa, Bu?” tanya Bram datar, tangannya masih di saku celana.“Ada apa katamu?” Ibu Wijaya mendekat dengan langkah pendek dan cepat, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah dada Bram. “Bu Ratna meneleponku tadi malam menangis tersedu-sedu! Katanya dia dipecat tanpa peringatan! Siapa yang memberi izin memecat kepala rumah tanggaku? Siapa yan

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   24. Berhasil

    Mobil melaju di jalanan. Evelyn duduk di kursi belakang bersama Bram, sebuah tablet menyala di pangkuannya. Jari-jarinya menggulir ke atas dan ke bawah.“Aku nggak ngerti bagian ini.” kata Evelyn akhirnya, menunjuk salah satu kolom. Ia menoleh ke samping, berharap mendapatkan penjelasan dari pria yang duduk di sebelahnya.Akhirnya Bram mengalihkan pandangan ke tablet di pangkuan Evelyn. “Itu perhitungan modal awal.”Evelyn mengerutkan kening. “Aku nggak paham. Bukankah kita sudah punya dana darurat?”“Ini proyek baru, Evelyn. Semuanya dimulai dari nol. Kalau kamu nggak bisa memahami perbedaannya, kita dalam masalah besar.”“Masalah besar? Kamu sendiri yang memaksaku melakukan ini!” Suara Evelyn mulai meninggi, tangannya menggenggam tablet erat sampai buku-buku jarinya memutih. “Kenapa aku harus tahu semua ini? Bukankah kamu yang akan bicara dengan Pak Hartono?”Bram menoleh pelan, matanya menatap Evelyn tajam dan dingin. “Kamu ya

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   23. Taring

    Evelyn berbalik dan menatap Bram. “Puas, Tuan Suami? Atau kamu mau menambahkan aturan konyol apa lagi hari ini?”Bram melangkah masuk. “Kamu baru saja memusuhi kepala rumah tanggaku yang paling senior.”“Dia bukan kepala rumah tanggamu, Bram. Dia mata-mata ibumu dan aku nggak punya waktu berurusan dengan pengkhianat di bawah atapku sendiri.” balas Evelyn ketus. Ia berjalan melewati Bram menuju tangga.Bram tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.“Lepasin.” desis Evelyn, menatap tangan Bram.Bram menarik Evelyn lebih dekat.“Kamu marah, ya?” tanya Bram.Dengan kasar, Evelyn merentangkan tangan Bram dari pergelangannya. “Jangan sentuh aku kalau kamu nggak mau tanganmu patah. Aku marah karena aku muak diperlakukan seperti barang dagangan olehmu dan keluargamu!”“Kamu bukan barang dagangan, Evelyn. Kamu istriku dan mulai sekarang tunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah Nyonya Besar yang pantas berdiri di sampingku. J

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   22. Peralihan

    Keesokan paginya, mansion Wijaya sudah ramai sejak pukul tujuh pagi. Beberapa pelayan mondar-mandir mengangkat koper-koper Ibu Wijaya dan Kevin ke dalam mobil yang sudah terparkir.Evelyn baru turun tangga, rambutnya masih basah karena baru selesai mandi. “Ibu mau pergi?”Ibu Wijaya menoleh singkat, matanya yang tajam meneliti penampilan Evelyn dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu ia mendengus kecil melihat kondisi menantunya yang kusut. “Bukan urusanmu.”Beliau kembali memeriksa daftar barang bawaan di tangannya. “Dengarkan aku baik-baik, Evelyn. Mulai hari ini, aku memang nggak tinggal di mansion ini bukan berarti kamu bebas berbuat semaumu. Aku akan datang kapan pun aku mau. Kalau sekali saja kudengar kamu bermalas-malasan, bersiaplah menerima pelajaran dariku.”Evelyn menghela napas panjang “Baik, Bu.”“Hm.” Ibu Wijaya mendengus pelan.“Jangan terlalu memanjakannya, Bram.” pesan Ibu Wijaya.“Iya, Bu.”I

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   21. Menjauh

    Di ruang makan, Kevin masih duduk di kursinya dengan ekspresi kesal. Dia memainkan sendoknya di atas meja, tidak lagi menikmati sarapannya.“Ibu,” kata Kevin akhirnya, menatap ibunya, “kenapa Ibu selalu ikut campur? Aku cuma mau bersikap baik pada dia.”Ibu Wijaya menatap putra bungsunya dengan tatapan tajam. “Kevin, kau sudah dewasa. Evelyn bukanlah wanita yang tepat untuk kau dekat-dekati.”“Kenapa? Karena dia nggak berasal dari keluarga terpandang?” suara Kevin mulai meninggi.“Dia butuh belajar, bukan bermain-main dengan adik iparnya. Dan kamu—” dia menunjuk Kevin dengan jarinya, “kamu harus ingat posisimu. Jangan membuat gosip yang nggak perlu.”Kevin mengepalkan tangannya di bawah meja. Lalu pergi meninggalkan meja makan.~~~Di kamarnya, Evelyn mengganti pakaiannya dengan cepat. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan. Evelyn membuka pintu dan menemukan Kevin berdiri di lorong, tangannya di saku, ekspresi

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   20. Tata Krama

    Tok. Tok. Tok.“Nyonya Evelyn, Ibu Wijaya memanggil di ruang keluarga.” suara pelayan dari balik pintu terdengar sopan tapi tegas.Evelyn menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. Wanita itu selalu punya timing sempurna untuk menghancurkan momen apa pun. Evelyn merapikan rambutnya yang berantakan dan membuka pintu.Pelayan itu menunduk hormat. “Ikuti saya, Nyonya.”Evelyn mengikuti tanpa suara.Di ruang keluarga, Ibu Wijaya sudah duduk di sofa utama.Evelyn masuk dengan langkah pelan. “Ibu memanggilku?”Ibu Wijaya mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menyusuri Evelyn dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Duduk, Evelyn.”Evelyn duduk di kursi di seberang Ibu Wijaya, tangannya meremas ujung roknya.Ibu Wijaya menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkirnya kembali. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu?”Evelyn menggeleng pelan.Ibu Wijaya menghela napas panjang. “Aku melihat caramu makan ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status