Share

7. Resmi

Penulis: bluaeya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 17:21:25

Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja.

Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan.

“Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.”

Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”

Evelyn menunduk malu.

Setelah semua tamu pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   55. Wibawa

    Evelyn mengangguk pelan, mencoba menjelaskan. “Aku akan menjadwalkan ulang besok pagi. Aku akan memastikan semua keputusan diambil sebelum—”“Besok para pemasok sudah mulai bekerja, Evelyn.” Ibu Wijaya memotong dengan suara yang tegas. “Mereka membutuhkan keputusan hari ini. Kalau menu terlambat ditentukan, beberapa bahan tidak bisa dipesan tepat waktu, penataan meja ikut terlambat, dan seluruh jadwal dapur berubah. Ini bukan hanya soal makan malam keluarga, ini soal koordinasi yang melibatkan puluhan orang.”Meja makan kembali sunyi.Ibu Wijaya lebih dulu meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan di antara mereka. Kevin mengantar Rara kembali ke kamarnya.Bram memanggil Evelyn. “Evelyn, ikut denganku.” Ia berjalan tanpa menunggu jawaban dan Evelyn mengikutinya.Mereka masuk ke ruang kerja dengan pintu tertutup di belakang mereka. Bram berjalan menuju mejanya, sementara Evelyn berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang penuh penyesalan.Evelyn langsung berkata sebelum Bram sempat

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   54. Batal

    “Mulai minggu depan, seluruh tamu keluarga yang ingin bertemu Evelyn harus dijadwalkan lebih dulu. Di luar jam kerjanya.” Bram menatap ibunya. “Jika ada tamu yang datang mendadak dan bukan urusan darurat, maka merekalah yang harus menyesuaikan. Evelyn tidak bisa terus-menerus ditarik ke dua arah.”Ibu Wijaya langsung menyela, suaranya naik satu oktaf. “Kalau tamunya mendadak? Kalau ada tamu penting yang datang tanpa pemberitahuan?”“Kalau mendadak dan tidak darurat, Bu, berarti mereka yang menyesuaikan. Kita bisa meminta mereka datang di lain waktu, atau kita bisa menjadwalkan pertemuan di tempat yang lebih netral.”Evelyn berdiri diam beberapa saat, lalu ketika Bram berjalan menuju ruang kerjanya, ia pun mengejarnya.“Bram.”Pria itu menoleh.“Kau tidak perlu membuat aturan baru.” Evelyn menggenggam tangannya sendiri, mencari kata-kata yang tepat. “Aku bisa mengatur jadwalku sendiri. Aku tidak ingin kau berselisih dengan Ibu hanya karena aku.”Bram menatapnya beberapa detik, lalu men

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   53. Telepon

    Keesokan paginya pukul sembilan tepat, mobil Bram berhenti di depan pintu masuk utama.Evelyn menarik napas dalam-dalam, merapikan blazer yang ia kenakan dan melangkah keluar. Bram mengikuti di sampingnya.Di lobi, Pak Surya dan Clarissa sudah menunggu. Clarissa berdiri di samping ayahnya, ia membawa map yang sudah direvisi.Pak Surya maju lebih dulu, tangannya terulur untuk menjabat Bram. “Terima kasih sudah memajukan jadwal, Bram.”Bram menjabat tangannya. “Silakan, Pak Surya.” Mereka masuk ke ruangan.Ruangan itu lebih kecil dari ruang rapat utama, hanya cukup untuk meja bundar dengan enam kursi di sekelilingnya. Clarissa langsung membagikan proposal yang telah direvisi kepada semua orang di meja dengan salinan tambahan untuk Maya. Evelyn membuka halaman pertama, membaca setiap baris, memeriksa setiap angka, membandingkan revisi dengan proposal awal. Evelyn membalik halaman terakhir, lalu menutup map itu dan meletakkannya di atas meja. Ia menatap Clarissa dengan mata yang tulu

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   52. Aturan

    Malam tiba.Seluruh penghuni utama berkumpul di ruang keluarga, duduk di sofa-sofa, menunggu apa yang akan disampaikan Ibu Wijaya.Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Di hadapannya, sebuah map terbuka sudah ia siapkan sebelumnya.Bram duduk di sebelah Evelyn di sofa utama. Kevin memilih duduk di sofa panjang bersama Rara.Ibu Wijaya membuka map itu. “Aku tidak akan berbicara lama. Rumah ini semakin ramai, tamu keluar masuk tanpa jadwal yang jelas, kegiatan bertambah, dan karena itu mulai hari ini ada beberapa aturan baru yang harus dipatuhi penghuni mansion.”Kevin mengembuskan napas pelan.Ibu Wijaya membaca poin pertama. “Setiap tamu yang datang ke mansion wajib melalui persetujuanku terlebih dahulu, tidak ada tamu yang boleh masuk ke ruang tamu utama tanpa seizinku.”Bram menyela dengan suara datar tapi tegas. “Tidak.”Ibu Wijaya menoleh, alisnya terangkat karena terkejut dengan interupsi putranya. “Apa maksudmu, Bram?”“Kalau tamu datang untuk urusan pekerjaan Evelyn, mereka tetap

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   51. Rencana

    Di mansion, sore itu Kak Sari sedang membantu Rara menyiram tanaman di taman belakang.Dari balkon lantai dua, Ibu Wijaya memperhatikan mereka dalam diam. Tangannya menggenggam erat pagar balkon.Tatapannya beralih ke halaman depan mansion yang kini lebih sering dipenuhi mobil-mobil tamu dan semua itu datang untuk menemui Evelyn.Ia menyadari, perlahan Evelyn mulai memiliki tempat di keluarga Wijaya. Semakin banyak orang yang datang ke mansion bukan lagi untuk menemui Bram, melainkan untuk bertemu Nyonya Evelyn Wijaya.Kemudian, ia berbalik memasuki kamarnya. Ia menarik napas panjang dan menekan bel kecil di atas meja.Bel itu berbunyi, tak lama setelah itu langkah kaki Pak Budi terdengar mendekati pintu. Ia mengetuk pelan sebelum masuk dengan sikap hormat. “Anda memanggil saya, Nyonya?”Ibu Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”Pak Budi tetap berdiri dengan tegak, tangannya di belakang punggung. “Saya lebih nyaman berdiri, Nyonya. Terima kasih.”Ibu Wijaya tidak mempermasalah

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   50. Keras

    Sesampainya di mansion, suasana sore yang tenang langsung menyambut mereka. Pak Budi yang sudah menunggu di pintu membukakan pintu.“Selamat sore, Tuan. Nyonya.”“Rara di mana?” tanya Evelyn, sudah tidak sabar untuk melihat adiknya.“Sedang belajar membaca bersama Kak Sari di ruang belajar kecil, Nyonya.”Evelyn langsung menuju ruang belajar di ujung koridor. Di sana, ia menemukan Rara duduk di meja kecil dengan buku terbuka di hadapannya. Kak Sari duduk di sampingnya, sesekali membetulkan posisi buku.Rara menoleh dan senyumnya langsung melebar. “Kak Evelyn!” Ia langsung berlari meninggalkan bukunya, memeluk kakaknya dengan erat. “Lihat, aku sudah bisa membaca satu halaman sendiri!”Evelyn tersenyum bangga, membalas pelukan adiknya. “Hebat sekali, Ra.”Kevin yang duduk di sofa di sudut ruangan, ikut bertepuk tangan. “Nah, sebentar lagi kamu bisa baca buku cerita sendiri.”Rara menggeleng cepat, matanya membulat. “Nggak mau, maunya tetap dibacain Kak Kevin.”Kevin tertawa, mengacak ra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status