MasukMenjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga
Tangannya langsung kehilangan tenaga. Otot-ototnya ketakutan. Perlahan, ia menoleh.Bram berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Jas hitamnya masih rapi. Tatapannya dingin menusuk seolah ia sudah tahu rencana Evelyn.“Evelyn.” Suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menangkap calon istrinya melarikan diri. “Turun.”Evelyn menggeleng cepat, matanya liar mencari jalan keluar. “Nggak.”“Turun.”“Aku nggak akan menikah sama kamu!” Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. “Aku lebih baik mati daripada menjadi istri orang seperti kamu!”Bram menghela napas pelan, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. “Jangan mempersulit keadaan, Evelyn. Turun dari sana sebelum kamu terluka.”“Yang mempersulit hidupku itu kamu!” Dengan nekat, Evelyn mencoba melompat ke sisi luar pagar. Kaki-kakinya mendorong dinding dengan sekuat tenaga.Namun baru beberapa langkah, sepatu kets murah yang dipakainya tergelincir. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.“
Beberapa menit kemudian, Evelyn melangkah keluar.Gaun itu pas di tubuh Evelyn. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuat wajahnya anggun. Tanpa riasan pun, ia terlihat seperti bidadari yang turun dari lukisan.Para asisten yang sudah terbiasa melihat gaun-gaun mahal saling bertukar pandang dengan mata membulat. Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar.“Cantik sekali... seperti putri dari dongeng....”“Gaun itu benar-benar cocok untuknya....”“Seperti bukan orang yang sama....”Namun Tante Wijaya justru mendengus sinis. “Cantik?” Ia tertawa kecil. “Gaun mahal memang bisa mengubah penampilan, tapi nggak bisa mengubah asal-usul. Ingat itu. Kamu boleh memakai sutra dan berlian, tapi darahmu tetaplah darah miskin.”Evelyn mengepalkan kedua tangannya di balik rok gaun. Sebelum sempat menjawab, suara tepuk tangan terdengar dari pintu masuk.“Cantik sekali.”Semua orang menoleh serentak.Seorang wanita berjalan masuk dengan senyum sempurna. Gaun merah menyala memeluk tubuh lang







